وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
Dan ketika datang kepada mereka Kitab dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, dan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang yang kufur, maka ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka kenali, mereka kufur kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang kufur.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِwa-lammaa jaa'ahum kitaabun min 'indi llaahi mushaddiqun li-maa ma'ahum wa-kaanuu min qablu yastaftihuuna 'alaa lladziina kafaruu fa-lammaa jaa'ahum maa 'arafuu kafaruu bihidan ketika datang kepada mereka Kitab dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, dan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang yang kufur, maka ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka kenali, mereka kufur kepadanya
- فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَfa-la'natu llaahi 'alaa l-kaafiriinamaka laknat Allah atas orang-orang yang kufur
Terjemahan per kata (26 kata)
- وَلَمَّاwa-lammaadan ketika
- جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
- كِتَابٌkitaabunKitab
- مِنْmindari
- عِنْدِ'indisisi
- اللَّهِllaahiAllah
- مُصَدِّقٌmushaddiqunyang membenarkan
- لِمَاli-maabagi apa yang
- مَعَهُمْma'ahumbersama mereka
- وَكَانُواwa-kaanuudan mereka selalu
- مِنْmindari
- قَبْلُqablusebelumnya
- يَسْتَفْتِحُونَyastaftihuunamemohon kemenangan
- عَلَى'alaaatas
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
- مَاmaaapa yang
- عَرَفُوا'arafuumereka kenali
- كَفَرُواkafaruukufur
- بِهِbihipadanya
- فَلَعْنَةُfa-la'natumaka laknat
- اللَّهِllaahiAllah
- عَلَى'alaaatas
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
Inti bacaan
Ingat satu hal yang lama kauminta lalu akhirnya datang (pekerjaan, jawaban, orang) tapi datang dalam bentuk yang tak kaubayangkan, dan diam-diam kau kecewa. Tuliskan apa persisnya yang meleset dari bayanganmu. Yang tidak cocok sering bukan pemberiannya, melainkan gambar yang sudah terlanjur kaususun sebelum ia tiba; yang perlu kaulepaskan gambarnya.
Penjelasan pilihan kata
"Mereka memohon kemenangan" (يَسْتَفْتِحُونَ, yastaftihuuna), dari akar yang berarti membuka dlm bentuk yang jarang, hanya muncul di 3 ayat: di sini, di 8:19 "in tastaftihuu faqad jaa'akumu l-fathu" (إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ, jika kalian meminta keputusan, sungguh keputusan itu telah datang), dan di 14:15 "wastaftahuu wakhaaba kullu jabbaarin 'aniidin" (وَاسْتَفْتَحُوا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ, mereka memohon kemenangan, dan kecewalah setiap orang yang sewenang-wenang). Ketiga ayat sama-sama membalik permohonan itu menjadi lawan dari yang diharapkan pemohonnya, di 8:19 keputusan yang diminta justru berbalik menimpa yang memintanya, di 14:15 permohonan itu berujung kecewa bagi yang sewenang-wenang, dan di sini permohonan kemenangan yang dulu mereka pakai untuk mengancam orang kafir justru berakhir dengan mereka sendiri yang kufur.
"Maka laknat Allah atas orang-orang yang kufur" (فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ, fa-la'natu llaahi 'alaa l-kaafiriina) memakai kata benda laknat (لَعْنَةُ, la'natu) dari akar yang berarti mengusir dari rahmat, bukan kata kerja seperti yang dipakai di 2:88. Rumusan yang sama persis muncul lagi di 2:161, tapi dengan tambahan, "'alayhim la'natu llaahi wal-malaa'ikati wan-naasi ajma'iina" (عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ, atas mereka laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia). Laknat yang di sini disebut datang dari Allah saja, di ayat lain itu diperluas mencakup malaikat dan seluruh manusia, sebuah eskalasi cakupan pada rumusan yang sama.
"Apa yang telah mereka kenali" (مَا عَرَفُوا, maa 'arafuu), dari akar yang berarti mengenal, ditaruh tepat sebelum "mereka kufur kepadanya" (كَفَرُوا بِهِ, kafaruu bihi). Susunan ini menaruh pengenalan lebih dulu, baru penolakan sesudahnya, bukan penolakan karena tidak tahu atau tidak mengenali, melainkan penolakan yang terjadi justru sesudah pengenalan itu sendiri terjadi.
"Membenarkan apa yang ada pada mereka" (مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ, mushaddiqun limaa ma'ahum), dari akar yang berarti benar dan jujur, adalah rumusan yang dipakai berulang di banyak ayat lain untuk menggambarkan kitab yang turun belakangan sebagai pembenar kitab yang turun sebelumnya, bukan pembatal atau lawannya. Rumusan ini muncul di sini sebagai latar yang membuat penolakan berikutnya terasa lebih tajam, sebab yang ditolak bukan sesuatu yang asing atau bertentangan dengan yang sudah mereka pegang, melainkan sesuatu yang justru membenarkannya. Rumusan pembenar ini tercatat di sekitar 17 ayat sepanjang mushaf, jauh lebih sering dipakai dibanding bentuk permohonan kemenangan yang langka tadi, menandakan bahwa gagasan "kitab pembenar" adalah tema yang sengaja diulang-ulang, bukan disebut sekali lalu ditinggalkan.
Tafsiran
Ayat ini membangun sebuah ironi yang bertingkat. Sebelum kitab itu datang, mereka memakai kedatangannya sebagai senjata harapan, memohon kemenangan atas orang-orang kufur dengan mengandalkan janji kedatangannya. Begitu yang dijanjikan itu benar-benar datang, senjata yang sama justru berbalik menohok yang memegangnya sendiri, karena yang datang tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan, sehingga mereka kufur kepada sesuatu yang dulu mereka nanti-nantikan.
Struktur "apa yang telah mereka kenali, mereka kufur kepadanya" menegaskan bahwa penolakan ini bukan lahir dari ketidaktahuan. Kalimat itu meletakkan pengenalan sebelum penolakan secara berurutan, sehingga yang tergambar bukan orang yang menolak karena belum paham, melainkan orang yang menolak sesuatu yang justru sudah mereka kenali kebenarannya lebih dulu.
Penutup ayat, laknat Allah atas orang-orang yang kufur, ditempatkan sebagai vonis yang berdiri sendiri, terpisah dari narasi sebelumnya seperti sebuah pengumuman. Bentuk rumusan yang sama, dengan cakupan yang diperluas mencakup malaikat dan seluruh manusia, muncul lagi kelak di 2:161, menempatkan vonis di ayat ini sebagai bentuk paling ringkasnya, bukan bentuk yang berdiri terpisah dari pola yang lebih luas dalam surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Sesuatu yang dulu dipakai sebagai sumber harapan dan kepercayaan diri, dijadikan andalan untuk mengalahkan pihak lain, justru berbalik menjadi sebab kekalahan sendiri ketika yang diharapkan itu benar-benar tiba dalam wujud yang tidak sesuai bayangan. Mengandalkan sesuatu yang belum tiba wujud aslinya menyimpan risiko bahwa harapan itu bisa berbalik arah begitu wujud aslinya benar-benar hadir. Kekalahan yang datang bukan dari kekuatan lawan, melainkan dari harapan sendiri yang berbalik arah begitu wujud aslinya tiba. Konkretnya: harapan atau doa yang dipanjatkan bisa berbalik ditolak ketika benar-benar terkabul dalam bentuk yang tak sesuai ekspektasi, kejujuran untuk menerima jawaban doa meski datang dalam wujud yang tak terduga adalah ujian nyata dari ayat ini.
- Susunan kalimat ayat ini menaruh pengenalan lebih dulu, baru penolakan sesudahnya, menyingkap bahwa penolakan yang digambarkan bukan berasal dari ketidaktahuan. Ini sebuah gambaran yang lebih berat daripada sekadar tidak paham, sebab yang ditolak adalah sesuatu yang sudah dikenali kebenarannya lebih dulu, bukan sesuatu yang masih asing atau meragukan.
- Kata yang sama untuk memohon kemenangan dipakai di tiga ayat berbeda, dan ketiganya berakhir dengan permohonan itu berbalik menimpa atau mengecewakan pemohonnya sendiri, bukan mengantarkan mereka pada kemenangan yang dibayangkan. Pola yang berulang tiga kali ini menyingkap bahwa memohon sesuatu yang belum jelas wujudnya berisiko lebih besar daripada yang terasa saat memohonnya. Berulangnya pola ini di tiga tempat berbeda menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan sesaat, melainkan sesuatu yang berulang dalam pola pengutusan dan penantian sepanjang mushaf.
- Vonis penutup ayat ini, laknat Allah atas orang-orang yang kufur, ternyata bukan rumusan yang berdiri sendiri, sebab bentuk yang sama muncul lagi kelak dengan cakupan yang jauh lebih luas, mencakup malaikat dan seluruh manusia. Membaca satu rumusan sebagai bagian dari rumusan yang lebih luas di ayat lain sering menyingkap bahwa yang tampak seperti vonis tunggal sebenarnya bagian dari pola yang lebih besar.
- Ayat ini tidak menyebut isi kitab yang membuat mereka menolaknya, melainkan hanya bahwa ia datang dan mereka mengenalinya lalu tetap kufur. Ini menyisakan kesan bahwa yang dipersoalkan bukan semata isi kandungannya, melainkan sesuatu di luar isi itu sendiri, sejalan dengan pola penolakan yang sudah tergambar di ayat-ayat sebelumnya dalam rangkaian ini.
- Ironi tajam: mereka yang sebelumnya berharap kemenangan lewat kedatangan Kitab baru, justru menolaknya begitu ia benar-benar datang dan mereka mengenalinya. Memohon kemenangan dengan mengandalkan kedatangan sesuatu dari luar diri sendiri, tanpa kepastian penuh atas wujud sebenarnya kelak, adalah bentuk harapan yang rapuh. Begitu yang dinanti benar-benar datang dan bentuknya berbeda dari yang dibayangkan, harapan yang sama bisa berubah arah menjadi penolakan, sebuah peringatan tentang menaruh harapan pada sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami wujudnya. Kitab yang datang ini bahkan disebut sebagai pembenar dari apa yang sudah mereka pegang sebelumnya, bukan sesuatu yang bertentangan dengannya, membuat penolakan yang terjadi kemudian terasa lebih berat lagi.