بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ

Buruk sekali apa yang mereka beli dengannya bagi diri mereka: bahwa mereka kufur pada apa yang diturunkan Allah, karena kedengkian bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Maka mereka kembali menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan bagi orang-orang yang kufur ada azab yang menghinakan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِbi'samaa sytaraw bihi anfusahum an yakfuruu bi-maa anzala llaahu baghyan an yunazzila llaahu min fadhlihi 'alaa man yasyaa'u min 'ibaadihiburuk sekali apa yang mereka beli dengannya bagi diri mereka: bahwa mereka kufur pada apa yang diturunkan Allah, karena kedengkian bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya
  2. فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍfa-baa'uu bi-ghadhabin 'alaa ghadhabinmaka mereka kembali menanggung kemurkaan demi kemurkaan
  3. وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌwa-li-l-kaafiriina 'adzaabun muhiinundan bagi orang-orang yang kufur ada azab yang menghinakan

Terjemahan per kata (27 kata)

  1. بِئْسَمَاbi'samaaburuk sekali apa yang
  2. اشْتَرَوْاsytarawmembeli
  3. بِهِbihidengannya
  4. أَنْفُسَهُمْanfusahumdiri mereka sendiri
  5. أَنْanbahwa
  6. يَكْفُرُواyakfuruumereka kufur
  7. بِمَاbi-maapada apa yang
  8. أَنْزَلَanzalamenurunkan
  9. اللَّهُllaahuAllah
  10. بَغْيًاbaghyankarena kedengkian
  11. أَنْanbahwa
  12. يُنَزِّلَyunazzilamenurunkan
  13. اللَّهُllaahuAllah
  14. مِنْmindari
  15. فَضْلِهِfadhlihikarunia-Nya
  16. عَلَىٰ'alaaatas
  17. مَنْmanorang yang
  18. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  19. مِنْmindari
  20. عِبَادِهِ'ibaadihihamba-hamba-Nya
  21. فَبَاءُواfa-baa'uumaka mereka kembali membawa
  22. بِغَضَبٍbi-ghadhabindengan kemurkaan
  23. عَلَىٰ'alaaatas
  24. غَضَبٍghadhabinkemurkaan
  25. وَلِلْكَافِرِينَwa-li-l-kaafiriinadan bagi orang-orang yang kufur
  26. عَذَابٌ'adzaabunazab
  27. مُهِينٌmuhiinunyang menghinakan

Inti bacaan

Motif penolakan diungkap eksplisit: kedengkian (baghy) karena karunia Allah turun kepada 'siapa yang Dia kehendaki', bukan kepada kelompok tertentu secara eksklusif. Konkretnya: menolak kebaikan/keberhasilan orang lain karena iri bahwa itu 'seharusnya' menjadi milik kelompokku sendiri adalah pola yang dikutuk keras di sini, kedengkian terhadap keberhasilan pihak lain adalah racun yang dikenali sejak lama.

Penjelasan pilihan kata

"Buruk sekali apa yang mereka beli dengannya bagi diri mereka" (بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ, bi'samaa sytaraw bihi anfusahum), memakai bentuk membeli-untuk-diri-sendiri (اشْتَرَوْا, isytaraw) dari akar yang berarti menjual dan membeli. Rumusan hampir sama persis muncul lagi di 2:102, menutup ayat itu, "dan buruk sekali apa yang mereka jual dengannya diri mereka" (وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ, wa-labi'sa maa syaraw bihi anfusahum), memakai bentuk dasar (شَرَوْا, syaraw) tanpa awalan tambahan. Rumusan celaan yang sama, dengan hanya satu huruf tambahan yang berbeda, dipakai untuk dua pelanggaran yang berlainan, di sini kufur karena dengki, di 2:102 mempelajari sihir, menandai keduanya sebagai bentuk yang sama dari "menjual diri" dengan harga yang rendah, meski wujud pelanggarannya tampak sama sekali tidak berkaitan satu sama lain.

Akar yang sama, yang berarti menjual dan membeli, juga dipakai lebih awal di 2:16, "mereka membeli kesesatan dengan petunjuk" (اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ, isytarawu dh-dhalaalata bil-hudaa). Metafora jual-beli untuk transaksi rohani yang merugi ini bukan kiasan sekali pakai, melainkan pola yang dipakai berulang di rangkaian awal surah ini untuk menggambarkan pilihan yang tampak seperti tukar-menukar, tapi sebenarnya kerugian bagi yang memilihnya sendiri, sebab yang dilepaskan jauh lebih bernilai daripada yang didapat sebagai gantinya.

"Karena kedengkian" (بَغْيًا, baghyan), dari akar yang berarti melampaui dan mencari, tidak menyasar apa yang diturunkan Allah sebagai isinya, melainkan menyasar kepada siapa karunia itu diturunkan. Kedengkian ini bukan soal isi wahyu yang dipersoalkan, melainkan soal penerimanya, sebuah dengki yang tertuju pada pilihan Allah sendiri tentang siapa yang layak menerima, bukan pada apa yang dipilih-Nya untuk diturunkan.

Penutup ayat menggandakan kata murka (غَضَبٍ, ghadhabin) dua kali dalam satu susunan, "kemurkaan demi kemurkaan" (بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ, bighadhabin 'alaa ghadhabin), sesuatu yang tidak dijumpai di ayat lain yang memakai kata kerja serupa untuk menanggung murka. Ayat lain yang memakai kata kerja yang sama untuk menanggung kemurkaan menyebut murka itu sekali saja, dengan menyebut sumbernya secara langsung, "kemurkaan dari Allah" (بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ, bighadhabin mina llaahi) di 2:61 dan 3:112. Di sini murka itu disebut dua kali tanpa menyebut sumbernya secara terpisah, seolah murka yang satu menumpuk di atas murka yang lain, bukan sekadar satu murka yang datang dari satu sumber. Akar yang berarti melampaui dan mencari itu sendiri terpakai luas di 90 ayat, tapi penerapannya di sini, dengki terhadap pilihan penerima wahyu, adalah bentuk yang khas menyasar keputusan Allah sendiri, bukan sekadar dengki antar sesama manusia yang lebih umum dijumpai.

Tafsiran

Ayat ini membingkai penolakan mereka sebagai sebuah transaksi yang merugi, bukan sekadar kesalahan pilihan yang terjadi begitu saja. Memakai kata "membeli" untuk menggambarkan tindakan kufur menyiratkan bahwa ada sesuatu yang mereka dapatkan sebagai gantinya, sesuatu yang mereka anggap sepadan untuk ditukar dengan iman, padahal yang didapat justru jauh lebih rendah nilainya daripada yang dilepaskan demi mendapatkannya.

Sebab kedengkian yang disebutkan di sini bukan soal isi kitab yang diturunkan, melainkan soal kepada siapa karunia itu jatuh. Ini menyingkap sebuah pola penolakan yang berbeda dari yang sudah digambarkan pada ayat-ayat sebelumnya dalam rangkaian ini, bukan lagi penolakan karena tidak mengenali kebenarannya atau karena isinya dianggap keliru, melainkan penolakan yang lahir semata dari keberatan terhadap siapa yang dipilih untuk menerimanya.

Penggandaan kata murka di penutup ayat ini, dibandingkan dengan rumusan serupa di 2:61 dan 3:112 yang hanya menyebutnya sekali dengan sumber yang disebut langsung, menempatkan pelanggaran di ayat ini sebagai sesuatu yang ditanggapi lebih berat, kemurkaan yang menumpuk lapis demi lapis, bukan kemurkaan tunggal yang datang dari satu sebab dan berhenti di situ saja.

Renungan dan Hikmah

  • Menyebut penolakan sebagai sebuah pembelian menyiratkan ada sesuatu yang dianggap didapat sebagai gantinya, bukan sekadar kesalahan yang terjadi begitu saja tanpa pertimbangan sadar. Melihat sebuah pilihan buruk sebagai transaksi yang disengaja, bukan kekeliruan yang tak disadari, mengubah cara menilai tanggung jawab di baliknya, sebab yang melakukan transaksi tahu ada sesuatu yang dilepaskan untuk mendapat gantinya yang dianggap lebih menguntungkan.
  • Rumusan celaan yang hampir sama persis dipakai lagi di ayat lain untuk pelanggaran yang wujudnya sama sekali berbeda, kufur karena dengki di satu tempat, mempelajari sihir di tempat lain. Kesamaan rumusan pada dua pelanggaran yang tampak tidak berkaitan ini menyingkap bahwa yang dinilai bukan bentuk luar pelanggarannya, melainkan pola dasar yang sama, menukar sesuatu yang bernilai tinggi dengan sesuatu yang bernilai rendah tanpa memandang wujud luar dari tukar-menukar itu sendiri.
  • Kedengkian yang disebut ayat ini tertuju bukan pada apa yang diturunkan, melainkan pada siapa yang menerimanya. Ini sebuah bentuk keberatan yang lebih halus dari sekadar menolak isi sebuah kebenaran, sebab yang dipersoalkan adalah keputusan tentang siapa yang layak menerima karunia, bukan kandungan karunia itu sendiri, sebuah dengki yang mengarah kepada pemberi keputusan, bukan kepada keputusannya. Kata untuk kedengkian itu (بَغْيًا) muncul di enam ayat, dan di lima di antaranya ia menerangkan perpecahan yang terjadi sesudah pengetahuan datang, bukan sebelumnya (2:213, 3:19, 42:14, 45:17, dan 10:90). Apa yang membuat pengetahuan justru menjadi bahan bakar perpecahan? Sebaran kata ini menunjukkan polanya: yang diperebutkan bukan isi pengetahuannya, melainkan siapa yang berhak memegangnya.
  • Penggandaan kata murka pada penutup ayat ini, berbeda dari rumusan serupa di ayat lain yang hanya menyebutnya sekali, menandai bahwa pelanggaran yang digambarkan di sini ditanggapi secara lebih berat. Perbedaan kecil dalam susunan kata, mengulang satu kata dua kali alih-alih menyebut sumbernya sekali, bisa menjadi penanda perbedaan besar dalam bagaimana sebuah pelanggaran dinilai dan ditanggapi oleh yang menilainya. Rangkaiannya (غَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya bukan kata jamak dan bukan kata yang menyatakan besar; ia satu kata yang ditumpuk di atas dirinya sendiri. Yang digambarkan bukan satu murka yang lebih besar, melainkan dua yang bertindih, dan tindihan itu cocok dengan dua penolakan yang disebut sebelumnya.
  • Metafora membeli dan menjual untuk menggambarkan pilihan rohani yang merugi muncul lebih dari sekali di rangkaian awal surah ini, bukan kiasan yang dipakai sekali lalu ditinggalkan begitu saja. Pola yang berulang seperti ini menyingkap bahwa cara memandang pilihan buruk sebagai kerugian dalam sebuah tukar-menukar adalah tema yang sengaja dijaga tetap hidup sepanjang surah, bukan kiasan sesaat yang kebetulan muncul satu kali lalu hilang.
  • Ayat ini tidak berhenti pada murka yang berganda, tapi menutup dengan azab yang menghinakan bagi orang-orang yang kufur, sebuah lapisan konsekuensi ketiga sesudah transaksi yang merugi dan murka yang menumpuk. Susunan bertingkat seperti ini, kerugian dalam transaksi, murka yang berganda, lalu penghinaan yang menyertainya, menggambarkan akibat yang terus bertambah berat, bukan satu akibat tunggal yang berdiri sendiri tanpa kaitan dengan yang lain.