وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah,” mereka berkata, “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami,” dan mereka kufur pada apa yang di baliknya, padahal ia adalah kebenaran yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, “Mengapa dahulu kalian membunuh nabi-nabi Allah, jika kalian orang-orang beriman?”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْwa-idzaa qiila lahum aaminuu bi-maa anzala llaahu qaaluu nu'minu bi-maa unzila 'alaynaa wa-yakfuruuna bi-maa waraa'ahu wa-huwa l-haqqu mushaddiqan li-maa ma'ahumdan apabila dikatakan kepada mereka, berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah, mereka berkata, kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan mereka kufur pada apa yang di baliknya, padahal ia adalah kebenaran yang membenarkan apa yang ada pada mereka
  2. قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَqul fa-li-ma taqtuluuna anbiyaa'a llaahi min qablu in kuntum mu'miniinakatakanlah, mengapa dahulu kalian membunuh nabi-nabi Allah, jika kalian orang-orang beriman

Terjemahan per kata (30 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. قِيلَqiiladikatakan
  3. لَهُمْlahumkepada mereka
  4. آمِنُواaaminuuberimanlah kalian
  5. بِمَاbi-maapada apa yang
  6. أَنْزَلَanzalamenurunkan
  7. اللَّهُllaahuAllah
  8. قَالُواqaaluumereka berkata
  9. نُؤْمِنُnu'minukami beriman
  10. بِمَاbi-maapada apa yang
  11. أُنْزِلَunziladiturunkan
  12. عَلَيْنَا'alaynaaatas kami
  13. وَيَكْفُرُونَwa-yakfuruunadan mereka kufur
  14. بِمَاbi-maapada apa yang
  15. وَرَاءَهُwaraa'ahudi baliknya
  16. وَهُوَwa-huwadan ia
  17. الْحَقُّl-haqqukebenaran
  18. مُصَدِّقًاmushaddiqanyang membenarkan
  19. لِمَاli-maabagi apa yang
  20. مَعَهُمْma'ahumbersama mereka
  21. قُلْqulkatakanlah
  22. فَلِمَfa-li-mamaka mengapa
  23. تَقْتُلُونَtaqtuluunakalian bunuh
  24. أَنْبِيَاءَanbiyaa'anabi-nabi
  25. اللَّهِllaahiAllah
  26. مِنْmindari
  27. قَبْلُqablusebelumnya
  28. إِنْinjika
  29. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  30. مُؤْمِنِينَmu'miniinaorang-orang beriman

Inti bacaan

Sebutkan satu keyakinan yang kaupegang sebab ia lahir dari kalanganmu sendiri: golonganmu, kampusmu, kantormu, keluargamu. Lalu cari satu perkara benar yang dulu kautampik cuma sebab pembawanya orang luar. Kalau ketemu, yang kaujaga selama ini bukan benarnya, melainkan batas kalangannya. Membereskannya tak usah pakai pengumuman: cukup akui perkara itu benar, kepada dirimu sendiri, petang ini.

Penjelasan pilihan kata

"Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami" (نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا, nu'minu bimaa unzila 'alaynaa) ditegaskan dengan "kepada kami" (عَلَيْنَا, 'alaynaa), sebuah batasan yang menandai iman itu terhenti hanya pada apa yang mereka anggap sebagai bagian mereka sendiri. Batasan ini langsung dibalik oleh kalimat sesudahnya, "dan mereka kufur pada apa yang di baliknya" (وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ, wa-yakfuruuna bimaa waraa'ahu). Kata "di baliknya" (وَرَاءَهُ, waraa'ahu) menandai bahwa yang ditolak bukan sesuatu yang jauh atau asing, melainkan apa saja yang berada tepat sesudah batas yang sudah mereka tetapkan sendiri untuk diri mereka.

"Padahal ia adalah kebenaran yang membenarkan apa yang ada pada mereka" (وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ, wa-huwa l-haqqu mushaddiqan limaa ma'ahum), memakai rumusan pembenar (مُصَدِّقًا, mushaddiqan) yang sama dengan yang dipakai di 2:89 untuk kitab yang sama. Yang ditolak di sini bukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudah mereka pegang, melainkan justru sesuatu yang membenarkannya, sebuah penolakan yang menjadi lebih ganjil karena yang ditolak seharusnya memperkuat, bukan mengancam, apa yang sudah mereka yakini.

"Mengapa dahulu kalian membunuh nabi-nabi Allah" (فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ, fa-lima taqtuluuna anbiyaa'a llaahi min qablu) memakai kata kerja membunuh (تَقْتُلُونَ, taqtuluuna) dari akar yang sama persis dengan yang dipakai di 2:87, "sebagian kalian bunuh" (فَرِيقًا تَقْتُلُونَ, fariiqan taqtuluuna). Tuduhan yang disebutkan sebagai fakta di 2:87 di sini diulang dalam bentuk pertanyaan langsung yang menagih pertanggungjawaban, "jika kalian orang-orang beriman" (إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ, in kuntum mu'miniina), menyandingkan klaim keimanan yang baru saja mereka ucapkan dengan sejarah kekerasan yang mereka warisi sendiri.

Kata perintah "katakanlah" (قُلْ, qul) menandai pergeseran dari narasi yang menceritakan tentang mereka menjadi perintah bicara langsung yang ditujukan kepada Nabi untuk disampaikan kepada mereka. Perangkat yang sama juga dipakai sebelumnya di rangkaian ini, di 2:80, keduanya menyusul klaim yang diucapkan sendiri oleh kelompok yang dituju, dan keduanya diikuti pertanyaan balik yang membongkar klaim itu, bukan sekadar bantahan naratif dari sudut pandang yang menceritakan. Akar yang berarti membunuh itu sendiri terpakai luas, 122 ayat, dan kemunculannya berdampingan dengan kata nabi tercatat di 12 ayat sepanjang mushaf, menandakan bahwa tuduhan membunuh para pembawa wahyu bukan tuduhan yang disebut sekali di ayat ini saja, melainkan sebuah catatan yang berulang dalam berbagai konteks berbeda.

Tafsiran

Ayat ini menyingkap sebuah pengakuan iman yang ternyata bersyarat dan berbatas. Klaim beriman yang diucapkan bukan iman kepada wahyu secara umum, melainkan iman yang terbatas hanya pada bagian yang sudah mereka pegang sendiri, sehingga apa pun yang datang sesudahnya, betapapun sejalan dengan yang sudah ada, otomatis berada di luar batas iman yang mereka akui.

Penyebutan bahwa yang ditolak justru "membenarkan apa yang ada pada mereka" membalik logika penolakan itu sendiri. Jika alasan menolak biasanya karena sesuatu yang baru dianggap bertentangan dengan yang lama, di sini yang terjadi sebaliknya, yang baru justru menguatkan yang lama, namun tetap ditolak, menyingkap bahwa penolakan ini tidak lagi bisa dijelaskan semata oleh isi kandungannya.

Pertanyaan balik tentang membunuh nabi, disandingkan langsung dengan klaim keimanan yang baru saja mereka ucapkan, menempatkan kontradiksi itu sebagai bukti yang menggugat dari dalam perkataan mereka sendiri. Tuduhan yang di 2:87 disebutkan sebagai fakta sejarah, di sini dipakai sebagai senjata retoris, menagih bagaimana mungkin sebuah pengakuan iman bisa berdiri berdampingan dengan warisan kekerasan terhadap para pembawa wahyu sebelumnya. Kontradiksi seperti ini tidak memerlukan bantahan panjang, sebab cukup ditunjukkan dan dibiarkan berbicara sendiri lewat pertanyaan yang diajukan.

Renungan dan Hikmah

  • Klaim beriman yang diucapkan di sini ternyata berbatas hanya pada apa yang sudah dianggap milik sendiri, bukan pada wahyu secara umum. Iman yang dibatasi seperti ini bukan lagi ketundukan kepada kebenaran, melainkan penjagaan terhadap apa yang sudah dipegang, sehingga segala sesuatu yang baru, betapapun benarnya, otomatis dianggap berada di luar jangkauan iman itu. Kesetiaan yang sesungguhnya seharusnya terbuka pada kebenaran yang datang belakangan, bukan hanya pada apa yang kebetulan datang lebih dulu.
  • Ayat ini menandai bahwa yang ditolak bukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan yang sudah ada, melainkan sesuatu yang justru menguatkannya. Menolak sesuatu yang seharusnya memperkuat keyakinan sendiri menyingkap bahwa alasan penolakan tidak lagi bisa dijelaskan oleh isi kandungannya semata, melainkan oleh sesuatu di luar kandungan itu sendiri.
  • Klaim 'kami beriman pada apa yang diturunkan kepada kami' berhenti tepat di dua kata terakhirnya: bukan pada apa yang diturunkan, melainkan pada apa yang diturunkan kepada pihak mereka sendiri. Batas itu lalu ditantang dengan fakta sejarah: 'mengapa dahulu kalian membunuh nabi-nabi jika kalian beriman?' Konkretnya: iman yang eksklusif hanya pada tradisi sendiri sambil menolak kebenaran dari luar kelompok, disertai riwayat kekerasan terhadap pembawa kebenaran itu sendiri, adalah kontradiksi yang dibongkar di sini, klaim iman perlu diuji dengan sejarah tindakan nyata, bukan sekadar pengakuan verbal. Pertanyaan tentang membunuh nabi disandingkan langsung dengan klaim keimanan yang baru saja diucapkan, menjadikan sejarah mereka sendiri sebagai bukti yang menggugat pengakuan itu dari dalam. Sebuah klaim bisa dibongkar bukan oleh tuduhan dari luar, melainkan oleh warisan tindakan sendiri yang berdiri berlawanan dengan klaim yang baru saja diucapkan.
  • Tuduhan membunuh yang disebut sebagai fakta pada ayat sebelumnya di rangkaian ini kembali diangkat di sini, kali ini dalam bentuk pertanyaan langsung yang menagih jawaban, bukan sekadar pernyataan naratif. Mengubah sebuah tuduhan menjadi pertanyaan langsung memaksa yang dituduh untuk berhadapan dengan tuduhan itu, bukan sekadar mendengarnya diceritakan dari kejauhan. Bentuk pertanyaan ini menutup ruang bagi jawaban yang menghindar, sebab jawabannya sudah tersimpan dalam sejarah yang tidak bisa disangkal lagi.
  • Perintah untuk menyampaikan pertanyaan ini secara langsung, bukan sekadar narasi tentang mereka, menandai pergeseran dari bercerita tentang suatu kelompok menjadi menghadapkan kelompok itu langsung dengan pertanyaan yang membongkar klaim mereka sendiri. Perangkat yang sama muncul lebih dari sekali di rangkaian ini, menyusul klaim yang diucapkan sendiri oleh yang dituju, sebelum dibongkar oleh pertanyaan balik.
  • Kata yang dipakai untuk menggambarkan apa yang ditolak, sesuatu yang berada di balik batas yang sudah ditetapkan sendiri, menyiratkan bahwa penolakan ini bukan soal jarak atau keasingan, melainkan soal sebuah garis yang sengaja dijaga tetap tertutup. Menjaga sebuah batas keyakinan tetap tertutup terhadap apa pun yang datang sesudahnya adalah bentuk penjagaan diri yang bisa menyamar sebagai kesetiaan pada kebenaran, padahal sebenarnya penolakan terhadap kebenaran yang lebih luas. Sebuah keyakinan yang terus dijaga tertutup, tanpa pernah diuji ulang terhadap kebenaran yang baru datang, lambat laun berubah menjadi tembok, bukan lagi pijakan yang hidup.