وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Dan engkau pasti akan mendapati mereka manusia yang paling tamak akan kehidupan, bahkan lebih dari orang-orang yang menyekutukan. Salah seorang dari mereka menginginkan agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sama sekali tidak akan menjauhkannya dari azab. Dan Allah melihat apa yang mereka kerjakan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواwa-la-tajidannahum ahrasha n-naasi 'alaa hayaatin wa-mina lladziina asyrakuudan engkau pasti akan mendapati mereka manusia yang paling tamak akan kehidupan, bahkan lebih dari orang-orang yang menyekutukan
  2. يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَyawaddu ahaduhum law yu'ammaru alfa sanatin wa-maa huwa bi-muzahzihihi mina l-'adzaabi an yu'ammarasalah seorang dari mereka menginginkan agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sama sekali tidak akan menjauhkannya dari azab
  3. وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَwa-llaahu bashiirun bi-maa ya'maluunadan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan

Terjemahan per kata (25 kata)

  1. وَلَتَجِدَنَّهُمْwa-la-tajidannahumdan sungguh engkau akan mendapati mereka
  2. أَحْرَصَahrashapaling tamak
  3. النَّاسِn-naasimanusia
  4. عَلَىٰ'alaaatas
  5. حَيَاةٍhayaatinkehidupan
  6. وَمِنَwa-minadan dari
  7. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  8. أَشْرَكُواasyrakuumenyekutukan
  9. يَوَدُّyawaddumenginginkan
  10. أَحَدُهُمْahaduhumsalah seorang mereka
  11. لَوْlawsekiranya
  12. يُعَمَّرُyu'ammarudiberi umur
  13. أَلْفَalfaseribu
  14. سَنَةٍsanatintahun
  15. وَمَاwa-maadan tidaklah
  16. هُوَhuwaia
  17. بِمُزَحْزِحِهِbi-muzahzihihiyang menjauhkannya
  18. مِنَminadari
  19. الْعَذَابِl-'adzaabiazab
  20. أَنْanbahwa
  21. يُعَمَّرَyu'ammaradiberi umur
  22. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  23. بَصِيرٌbashiirunmelihat
  24. بِمَاbi-maapada apa yang
  25. يَعْمَلُونَya'maluunamereka kerjakan

Inti bacaan

Buka kalendermu minggu ini dan cari satu hal yang kautunda karena diam-diam mengira waktumu masih panjang. Kerjakan bagian pertamanya hari ini juga, sekecil apa pun: satu panggilan, satu paragraf, satu permintaan maaf. Menunda dengan tenang adalah cara paling sopan untuk mengaku bahwa kita memperlakukan umur seolah tak berbatas.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan penegasan ganda: "dan engkau pasti akan mendapati mereka" (وَلَتَجِدَنَّهُمْ, wa-latajidannahum), menggabungkan huruf lam taukid dengan akhiran nun taukid tsaqilah pada satu kata kerja, dua penanda penegasan sekaligus, bentuk yang dalam Al-Qur'an secara konsisten menandai pernyataan yang pasti terbukti, bukan sekadar dugaan.

Inti pernyataannya ada pada "paling tamak" (أَحْرَصَ, ahrasha), bentuk superlatif (wazan af'al tafdhil) dari akar yang berarti sangat menginginkan. Akar ini hanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: "engkau sangat menginginkan" (حَرَصْتَ, harashta) di 12:103, tentang keinginan Nabi agar manusia beriman, meski ayat itu menegaskan kebanyakan mereka tetap tidak akan beriman; "engkau sangat menginginkan" (تَحْرِصْ, tahrish) di 16:37, tentang keinginan Nabi agar kaumnya mendapat petunjuk; "kalian sangat menginginkan" (حَرَصْتُمْ, harashtum) di 4:129, tentang keinginan berlaku adil di antara istri-istri; dan bentuk superlatif di ayat ini. Tiga kemunculan lain memakai bentuk verba biasa untuk hasrat pada kebaikan, iman, petunjuk, keadilan, sedangkan satu-satunya bentuk superlatif dari akar ini di seluruh Al-Qur'an justru dipakai untuk hasrat pada kehidupan dunia, dan disandingkan dengan perbandingan yang menohok: "orang-orang yang menyekutukan" (وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا, wa-mina lladziina asyrakuu). Kaum yang ditegur ayat ini mengklaim beriman kepada kitab dan hari akhir, namun kadar ketamakannya pada dunia melampaui orang-orang yang menyekutukan Allah, yang secara terang-terangan tidak meyakini kebangkitan.

Ketamakan itu digambarkan konkret: "salah seorang dari mereka menginginkan" (يَوَدُّ أَحَدُهُمْ, yawaddu ahaduhum), akar yang berarti mencintai, yang mengungkapkan angan atau harapan, bukan permintaan tegas, "seandainya diberi umur seribu tahun" (لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ, law yu'ammaru alfa sanatin). Frasa "seribu tahun" hanya muncul pada 4 ayat: di sini sebagai angan hipotetis yang tak pernah terkabul, di 32:5 sebagai satuan ukur waktu di sisi Allah (satu hari setara seribu tahun hitungan manusia), di 70:4 sebagai bagian dari angka lima puluh ribu tahun dengan struktur satuan waktu ilahi yang sama, dan di 29:14 sebagai usia yang benar-benar dijalani Nabi Nuh bersama kaumnya, sembilan ratus lima puluh tahun. Kontrasnya tajam: usia panjang yang sungguh-sungguh dijalani Nuh dipakai untuk berdakwah dan tetap berakhir dengan sebagian besar kaumnya binasa, sedangkan usia panjang yang diangan-angankan di ayat ini sekadar penundaan tanpa tujuan.

Bagian penutup ayat menjelaskan mengapa angan itu sia-sia: "dan itu sama sekali tidak akan menjauhkannya dari azab" (وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ, wa-maa huwa bi-muzahzihihi mina l-'adzaabi). Kata "menjauhkannya" (بِمُزَحْزِحِهِ) berasal dari akar kuadriliteral yang berarti menggeser menjauh, salah satu akar paling langka dalam Al-Qur'an: hanya muncul dua kali di seluruh kitab. Kemunculan lainnya ada di 3:185, "maka barangsiapa dijauhkan dari api neraka" (فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ, faman zuhziha 'ani n-naari), di sana akar yang sama menggambarkan mekanisme keselamatan yang sesungguhnya, sedangkan di ayat ini akar yang sama dinegasikan: usia panjang bukan mekanisme itu. Ayat lalu mengulang akar yang berarti memakmurkan dan berumur sekali lagi dalam bentuk berbeda, "untuk dipanjangkan umurnya" (أَنْ يُعَمَّرَ, an yu'ammara), penekanan retoris bahwa betapapun cara pemanjangan usia itu dibingkai, hasilnya tetap sama.

Ayat ditutup dengan formula "dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan" (وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ, wa-llaahu bashiirun bimaa ya'maluuna). Frasa persis ini muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan di 3:163, 5:71, serta 49:18, tiap kemunculan menutup pembahasan tentang kesenjangan antara klaim atau harapan seseorang dan perbuatan nyatanya, menegaskan bahwa yang dinilai bukan angan (يَوَدُّ) melainkan amal (يَعْمَلُونَ).

Tafsiran

Ayat ini menjawab pertanyaan yang tersisa dari tantangan sebelumnya. Di 2:94-95, kaum ini ditantang untuk berharap mati jika mereka yakin akhirat adalah milik mereka secara khusus, dan mereka menolak, ayat 95 menegaskan mereka tidak akan menginginkannya sama sekali karena kesadaran atas dosa sendiri. Ayat ini melengkapi alasan itu dari sisi lain: penolakan mereka bukan semata rasa bersalah, melainkan juga ketamakan murni terhadap hidup, dorongan yang bahkan mengalahkan orang-orang yang menyekutukan Allah, yang tidak mengklaim keimanan sama sekali. Dengan kata lain, ayat 95 menjelaskan mengapa mereka takut menghadapi konsekuensi, dan ayat ini menjelaskan mengapa mereka mencengkeram dunia, dua sisi dari sikap yang sama.

Struktur logika ayat ini juga menyingkap kekeliruan yang mendasari sikap mereka. Mereka menyangka bahwa yang menyelamatkan dari azab adalah durasi, semakin lama usia, semakin jauh dari hukuman yang mereka sadari layak mereka terima. Ayat ini membantah logika itu secara langsung lewat pemakaian akar yang sama, yang berarti menggeser menjauh, dengan 3:185: di sana, yang benar-benar menjauhkan dari api neraka bukan usia, melainkan amal yang membawa seseorang dimasukkan ke surga, ayat itu bahkan berlanjut menyebut kehidupan dunia sebagai kesenangan yang memperdaya. Dua ayat ini bersama-sama membentuk satu prinsip: yang menentukan nasib seseorang di akhirat bukan lama tidaknya seseorang hidup, tetapi apa yang diperbuatnya selama hidup itu, prinsip yang membuat permintaan umur seribu tahun, betapapun besar angkanya, tidak relevan terhadap pertanyaan yang sebenarnya sedang dipertaruhkan.

Ada pula ironi struktural pada perbandingan dengan orang-orang yang menyekutukan Allah. Kelompok itu secara doktrinal menolak hari kebangkitan, sehingga secara logis dunia adalah satu-satunya kesempatan yang mereka yakini ada, masuk akal jika mereka melekat padanya. Kaum yang ditegur ayat ini justru mengklaim meyakini hari akhir, yang semestinya membuat kelekatan pada dunia berkurang karena ada tujuan yang lebih besar menanti. Namun kenyataannya terbalik. Ayat ini, dengan demikian, bukan sekadar mendeskripsikan ketamakan, melainkan menunjukkan bahwa pengakuan iman yang tidak disertai perubahan sikap terhadap dunia adalah pengakuan yang kosong, ukuran keimanan yang sesungguhnya bukan klaim lisan, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan waktu dan hidupnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ketamakan pada hidup yang digambarkan ayat ini adalah dorongan yang tidak berkorelasi dengan keyakinan seseorang, bahkan bisa melampaui orang yang tidak meyakini akhirat sama sekali. Kaum yang ditegur ayat ini mengklaim beriman kepada kitab dan hari akhir, tetapi kadar ketamakannya pada hidup melampaui orang yang bahkan tidak meyakini kebangkitan sama sekali. Konkretnya: ukuran iman yang lebih jujur bukan seberapa yakin seseorang mengaku percaya, melainkan seberapa longgar genggamannya pada dunia, sesuatu yang bisa diperiksa lewat pertanyaan sederhana: apakah kesadaran akan kematian mengubah caranya memakai waktu hari ini, atau justru membuatnya makin mencengkeram penundaan.
  • Angan untuk hidup seribu tahun yang digambarkan ayat ini terbukti sia-sia menurut logikanya sendiri: usia panjang tidak menjauhkan siapa pun dari akibat perbuatannya. Ini mengoreksi anggapan yang mudah menyusup ke pikiran pembaca modern, bahwa umur panjang, kesehatan yang bertahan, atau waktu yang tersisa lebih banyak adalah bentuk keberuntungan yang menyelesaikan masalah eksistensial. Ayat ini mengalihkan ukuran keberhasilan hidup dari kuantitas waktu ke kualitas perbuatan yang mengisi waktu itu, pergeseran fokus yang relevan setiap kali seseorang menunda perbaikan diri dengan alasan masih ada banyak waktu di depan.
  • Rujukan ke 3:185, yang memakai akar kata sama untuk menggambarkan keselamatan sejati, menunjukkan bahwa Al-Qur'an punya jawaban positif atas pertanyaan yang dimentahkan ayat ini: bukan usia yang menjauhkan seseorang dari azab, melainkan amal yang membawanya masuk surga. Bagi pembaca, ini adalah pengingat untuk mengalihkan kekhawatiran dari hal yang tidak bisa dikendalikan, lamanya usia, ke hal yang sepenuhnya berada dalam kendali, kualitas perbuatan, pergeseran yang mengubah kecemasan tak berdaya menjadi tanggung jawab yang bisa dijalankan.
  • Perbandingan ayat ini antara kaum yang mengklaim beriman dengan orang-orang yang menyekutukan Allah menunjukkan bahwa keyakinan akan akhirat semestinya mengurangi kelekatan pada dunia, karena ada tujuan lebih besar yang menanti. Ketika kenyataannya terbalik, seperti digambarkan ayat ini, itu adalah tanda bahwa pengakuan iman belum benar-benar meresap menjadi sikap. Bagi pembaca, ini adalah ajakan untuk menilai kedalaman keyakinannya sendiri bukan dari seberapa yakin ia merasa, melainkan dari seberapa jauh keyakinan itu benar-benar mengubah cara ia memandang dan memperlakukan dunia sehari-hari.
  • Penutup ayat ini, bahwa Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan, sengaja memakai kata kerja untuk perbuatan nyata, bukan untuk harapan atau angan yang disebut di awal ayat. Ini menegaskan bahwa keinginan panjang umur, betapapun kuat dirasakan, tidak pernah menjadi objek penilaian. Bagi pembaca, ini mengingatkan bahwa niat baik atau harapan yang tidak pernah berubah menjadi tindakan tidak memiliki bobot yang sama dengan perbuatan yang benar-benar dilakukan, pembeda yang penting saat seseorang menenangkan diri dengan niat tanpa pernah menindaklanjutinya.
  • Perbandingan dengan usia yang benar-benar dijalani Nabi Nuh, hampir seribu tahun bersama kaumnya namun tetap berakhir dengan sebagian besar kaumnya binasa, menambahkan lapisan makna pada ayat ini: bahkan jika angan seribu tahun itu benar-benar terkabul, catatan usia Nuh di 29:14 menunjukkan itu pun tidak menjamin hasil yang diinginkan. Bagi pembaca, ini adalah pengingat bahwa waktu yang panjang tanpa arah yang jelas tidak lebih berharga daripada waktu yang singkat namun terisi penuh, perbandingan yang menantang asumsi bahwa lebih lama selalu berarti lebih baik.