وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan ketika datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, segolongan dari orang-orang yang diberi Kitab mencampakkan Kitab Allah itu ke belakang punggung mereka, seakan-akan mereka tidak mengetahui.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْwa-lammaa jaa'ahum rasuulun min 'indi llaahi mushaddiqun li-maa ma'ahumdan ketika datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka
  2. نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَnabadza fariiqun mina lladziina uutuu l-kitaaba kitaaba llaahi waraa'a zhuhuurihim ka-annahum laa ya'lamuunasegolongan dari orang-orang yang diberi Kitab mencampakkan Kitab Allah itu ke belakang punggung mereka, seakan-akan mereka tidak mengetahui

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. وَلَمَّاwa-lammaadan ketika
  2. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  3. رَسُولٌrasuulunseorang rasul
  4. مِنْmindari
  5. عِنْدِ'indisisi
  6. اللَّهِllaahiAllah
  7. مُصَدِّقٌmushaddiqunyang membenarkan
  8. لِمَاli-maabagi apa yang
  9. مَعَهُمْma'ahumbersama mereka
  10. نَبَذَnabadzamencampakkan
  11. فَرِيقٌfariiqunsegolongan
  12. مِنَminadari
  13. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  14. أُوتُواuutuudiberi
  15. الْكِتَابَl-kitaabaKitab
  16. كِتَابَkitaabaKitab
  17. اللَّهِllaahiAllah
  18. وَرَاءَwaraa'adi belakang
  19. ظُهُورِهِمْzhuhuurihimpunggung mereka
  20. كَأَنَّهُمْka-annahumseakan-akan mereka
  21. لَاlaatidak
  22. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

Ingat satu koreksi yang kauterima belakangan lalu kaubiarkan lewat. Tuliskan isinya tanpa menyebut siapa yang mengatakannya, lalu baca ulang besok pagi. Kalau ternyata benar, kerjakan hari itu juga, jangan menunggu hal yang sama datang dari mulut yang lebih kausukai, sebab mungkin ia tidak akan datang lagi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan "dan ketika datang kepada mereka" (وَلَمَّا جَاءَهُمْ, wa-lammaa jaa'ahum), memakai lammaa yang menandai peristiwa satu kali yang lampau, bukan kejadian berulang seperti kullamaa pada 2:100. Pelakunya disebut hanya "seorang rasul" (رَسُولٌ, rasuulun), bentuk tak tentu tanpa nama, tanpa keterangan tempat atau waktu. Ketidaktentuan ini membuat pola yang digambarkan tidak terikat pada satu peristiwa tunggal, melainkan berlaku sebagai pola berulang: setiap kali pembawa kebenaran datang dari sisi Allah, sebagian penerima kitab sebelumnya berpotensi menampiknya.

Rasul itu digambarkan "dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka" (مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ, min 'indi llaahi mushaddiqun li-maa ma'ahum). Frasa "yang membenarkan apa yang ada pada mereka" bukan ungkapan sekali pakai: pola yang sama muncul di 3 ayat dalam pasase ini, yaitu 2:89, 2:91, dan 2:101, selalu untuk menandai bahwa apa yang datang bukan ajaran asing, melainkan konfirmasi atas apa yang sudah mereka miliki. Di 2:89 disebutkan eksplisit bahwa mereka "mengenali" (عَرَفُوا, 'arafuu) apa yang datang sebelum mengingkarinya, sehingga pengingkaran pada pasase ini bukan soal ketidaktahuan melainkan penolakan terhadap sesuatu yang justru mereka kenali.

Tindakan penolakan digambarkan dengan "mencampakkan" (نَبَذَ, nabadza), akar yang sama, yang berarti melemparkan, dipakai pada 2:100 untuk pengingkaran perjanjian. Akar ini muncul di 12 ayat di seluruh Al-Qur'an: 2:100, 2:101, 3:187, 8:58, 19:16, 19:22, 20:96, 28:40, 37:145, 51:40, 68:49, dan 104:4, dipakai baik secara harfiah (Fir'aun beserta bala tentaranya dilempar ke laut di 28:40 dan 51:40) maupun metaforis untuk pembuangan aktif suatu ikatan atau benda berharga. Pelakunya disebut "segolongan dari orang-orang yang diberi Kitab" (فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ, fariiqun mina lladziina uutuu l-kitaaba), memakai pola pembatasan pada sebagian yang sama seperti "segolongan dari mereka" (فَرِيقٌ مِنْهُمْ) pada 2:100: tuduhan tidak digeneralisasi ke seluruh penerima Kitab.

Objek yang dicampakkan bukan sekadar perjanjian seperti pada 2:100, melainkan "Kitab Allah itu" (كِتَابَ اللَّهِ, kitaaba llaahi) sendiri, dicampakkan "ke belakang punggung mereka" (وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ, waraa'a zhuhuurihim). Idiom ini muncul di 3 ayat: 2:101, 3:187, dan 6:94. Kemunculan di 3:187 sangat dekat maknanya dengan ayat ini karena memakai akar yang berarti melemparkan dan idiom "ke belakang punggung" bersamaan, persis seperti di sini, dan di sana disebutkan sebab tambahan: "mereka menukarnya dengan harga yang sedikit" (اشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا, isytaraw bihi tsamanan qaliilan), mengaitkan penolakan itu dengan keuntungan duniawi. Idiom ini menegaskan penolakan aktif, bukan sekadar lupa: sesuatu yang dilempar ke belakang punggung sengaja disingkirkan dari pandangan agar tidak lagi jadi acuan.

Ayat ditutup dengan "seakan-akan mereka tidak mengetahui" (كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ, ka-annahum laa ya'lamuuna), frasa yang unik untuk ayat ini di seluruh Al-Qur'an. Partikel "seakan-akan" (كَأَنَّ, ka-anna) menandai perbandingan, bukan pernyataan fakta: mereka berperilaku seolah tidak tahu, padahal ayat sebelumnya dalam pasase yang sama (2:89) sudah menegaskan mereka "mengenali" apa yang datang. Kontras ini menempatkan ketidaktahuan yang ditampilkan sebagai sikap yang dipilih, bukan kondisi epistemik yang sesungguhnya.

Tafsiran

Ayat ini justru menegaskan bahwa penolakan terhadap kebenaran tidak selalu lahir dari ketidaktahuan, melainkan kadang dipilih meski pengetahuan sudah tersedia. Rangkaian pasase 2:89 sampai 2:101 membentuk satu alur: kitab yang membenarkan datang (2:89), lalu ditolak meski dikenali; ketika diminta beriman pada wahyu baru, jawabannya adalah membatasi keimanan hanya pada yang sudah diturunkan kepada mereka sendiri (2:91); dan puncaknya di sini, Kitab Allah dicampakkan ke belakang punggung oleh segolongan penerimanya sendiri, seakan-akan mereka tidak tahu.

Ayat ini juga membentuk pasangan eskalasi dengan 2:100: di sana yang dicampakkan adalah perjanjian (عَهْدًا), sedangkan di sini yang dicampakkan adalah Kitab Allah itu sendiri (كِتَابَ اللَّهِ). Perjanjian yang diingkari berujung pada penolakan terhadap sumber ajaran itu sendiri: pola pengingkaran yang dimulai dari komitmen kecil cenderung meluas ke penolakan yang lebih mendasar.

Kesejajaran dengan 3:187 memberi ayat ini kedalaman motif yang tidak dinyatakan secara eksplisit di sini: penolakan itu berkaitan dengan keuntungan duniawi, menukar kebenaran dengan harga yang sedikit. Ini menjelaskan mengapa ayat memilih kata "mencampakkan" alih-alih "melupakan": yang terjadi adalah keputusan aktif untuk menyingkirkan, bukan kegagalan mengingat.

Frasa penutup "seakan-akan mereka tidak mengetahui" adalah kunci moral ayat ini. Al-Qur'an tidak menuduh mereka buta huruf atau tidak berpendidikan; sebaliknya, pasase ini berulang kali menegaskan mereka mengenali apa yang datang. Yang dikritik bukan kekurangan informasi, melainkan sikap berpura-pura tidak tahu demi mempertahankan posisi yang sudah mapan, sebuah pola yang tidak terbatas pada satu kelompok atau satu zaman.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 2:100 dan 2:101 membentuk satu rangkaian yang memburuk: mula-mula yang dicampakkan adalah perjanjian (ikatan sosial-etis), lalu yang dicampakkan adalah Kitab Allah itu sendiri (sumber ajaran). Ini pola yang bisa dikenali di luar susunan kedua ayat ini: pelanggaran kecil yang dibiarkan cenderung membuka jalan bagi penolakan yang lebih besar, sebab batas yang sudah dilanggar sekali kehilangan daya cegahnya untuk pelanggaran berikutnya. Ketika komitmen kecil sudah biasa diingkari tanpa konsekuensi, tidak ada lagi penghalang alami untuk menolak sesuatu yang jauh lebih mendasar.
  • Melempar Kitab 'ke belakang punggung' saat rasul yang membenarkannya datang menggambarkan penolakan terhadap kebenaran yang justru menguatkan apa yang sudah mereka percayai, sebuah paradoks: bukannya menyambut konfirmasi, mereka membuangnya. Rasul yang datang justru membenarkan apa yang sudah dimiliki penerimanya (musaddiqun lima ma'ahum), sehingga penolakan tidak bisa dijelaskan oleh pertentangan isi. Konkretnya: kadang penolakan terhadap kebenaran bukan karena bertentangan dengan keyakinan lama, tapi justru karena datang dari sumber/orang yang tidak disukai, memeriksa apakah penolakanku terhadap sesuatu didasari isi atau semata sumbernya.
  • Idiom 'ke belakang punggung' menggambarkan sesuatu yang sengaja disingkirkan dari pandangan, bukan sesuatu yang perlahan terlupakan. Perbedaan ini penting: melupakan adalah kegagalan pasif, sedangkan mencampakkan adalah keputusan. Ayat ini menempatkan tanggung jawab pada pelaku sebagai pemilih, bukan sebagai korban keterbatasan ingatan atau perhatian. Membedakan kedua hal ini pada diri sendiri, apakah suatu kebenaran yang diabaikan benar-benar terlupa atau sengaja disingkirkan karena tidak nyaman, adalah langkah awal sebelum mengaku lupa sebagai alasan.
  • Frasa 'seakan-akan mereka tidak mengetahui' menyingkap sebuah pola perilaku: berpura-pura tidak tahu adalah cara menghindar dari konsekuensi mengetahui. Ini berbeda dari kebohongan terbuka; pura-pura tidak tahu memungkinkan seseorang menghindari tuduhan langsung sambil tetap bertindak seolah bebas dari tanggung jawab, sebuah strategi yang masih dikenali dalam banyak bentuk penghindaran tanggung jawab hari ini, dari urusan pribadi sampai keputusan yang melibatkan banyak pihak. Ayat ini menolak dalih itu dengan menunjukkan bahwa 'seakan-akan' bukan fakta, melainkan topeng.
  • Sama seperti 2:100, ayat ini membatasi tuduhan pada 'segolongan' penerima Kitab, bukan semuanya. Ketelitian bahasa ini adalah pengingat bahwa kritik atas sebagian pihak tidak sah digunakan untuk menggeneralisasi seluruh kelompok, sebuah prinsip yang berlaku sama ketatnya saat menilai kegagalan kelompok mana pun di luar konteks ayat ini. Kegagalan menjaga pembatasan semacam ini, dengan cepat berpindah dari 'sebagian melakukan X' menjadi 'kelompok itu begini', adalah pola pemikiran yang sama yang justru ditolak struktur bahasa ayat ini sendiri.
  • Kesejajaran dengan 3:187 menyingkap bahwa di balik penolakan yang tampak seperti soal keyakinan, sering tersembunyi kalkulasi untung-rugi duniawi, di sana disebutkan eksplisit sebagai menukar kebenaran dengan harga yang sedikit. Memeriksa motif ekonomi atau sosial di balik penolakan terhadap kebenaran, bukan hanya menerima alasan yang diucapkan secara terbuka, adalah cara membaca situasi serupa dengan lebih jujur, baik pada diri sendiri maupun saat menilai alasan orang lain menolak sesuatu yang sudah jelas.