يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan, “Raa'inaa,” dan katakanlah, “Unzhurnaa,” dan dengarkanlah. Dan bagi orang-orang yang kufur ada azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُواyaa ayyuhaa lladziina aamanuu laa taquuluu raa'inaa wa-quuluu nzhurnaa wa-sma'uuwahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan, raa'inaa, dan katakanlah, unzhurnaa, dan dengarkanlah
  2. وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌwa-li-l-kaafiriina 'adzaabun aliimundan bagi orang-orang yang kufur ada azab yang pedih

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. لَاlaajanganlah
  6. تَقُولُواtaquuluukalian katakan
  7. رَاعِنَاraa'inaaperhatikanlah kami
  8. وَقُولُواwa-quuluudan katakanlah kalian
  9. انْظُرْنَاnzhurnaapandanglah kami
  10. وَاسْمَعُواwa-sma'uudan dengarkanlah kalian
  11. وَلِلْكَافِرِينَwa-li-l-kaafiriinadan bagi orang-orang yang kufur
  12. عَذَابٌ'adzaabunazab
  13. أَلِيمٌaliimunyang pedih

Inti bacaan

Larangan memakai kata 'raa'inaa' (yang bisa dipelintir jadi ejekan) dan anjuran memakai 'unzhurnaa' menunjukkan kepekaan terhadap bagaimana kata-kata bisa disalahgunakan meski niat awalnya netral. Konkretnya: memilih kata dengan hati-hati, terutama saat berkomunikasi lintas-budaya atau lintas-kelompok, untuk menghindari kesalahpahaman atau celah yang bisa dimanfaatkan untuk mengejek, adalah kebijaksanaan praktis yang diajarkan di sini.

Penjelasan pilihan kata

Larangan dalam ayat ini berpusat pada satu kata: "janganlah kalian katakan, 'raa'inaa'" (لَا تَقُولُوا رَاعِنَا, laa taquuluu raa'inaa). Kata "raa'inaa" sendiri adalah verba pola ketiga, pola yang di banyak ayat lain membawa nuansa kebersamaan atau perlakuan timbal balik, dibangun dari akar yang berarti menggembalakan dan menjaga. Akar yang sama, di sembilan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an, membentang dari makna paling harfiah, "dan gembalakanlah ternak kalian" (وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ, wa-r'aw an'aamakum, 20:54), sampai makna kiasan menjaga sesuatu yang dipercayakan sebagaimana mestinya: "yang memelihara amanat dan janji mereka" (لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ, li-amaanaatihim wa 'ahdihim raa'uuna, 23:8) dan "mereka tidak memeliharanya sebagaimana mestinya" (فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا, fa-maa ra'awhaa haqqa ri'aayatihaa, 57:27, tentang kerahiban yang diada-adakan sendiri lalu tidak dijaga semestinya). Dari rentang makna itu, "raa'inaa" di ayat ini paling dekat dipahami sebagai perhatikanlah atau perlakukanlah kami dengan saksama, permintaan yang, berdiri sendiri sebagai kata, tidak mengandung cela apa pun.

Penggantinya, "dan katakanlah, 'unzhurnaa'" (وَقُولُوا انْظُرْنَا, wa-quuluu nzhurnaa), memakai imperatif dari akar yang berarti "melihat atau memandang atau memperhatikan" dengan akhiran orang pertama jamak yang sama persis, "-naa" (kami), membawa makna yang nyaris sinonim: pandanglah atau perhatikanlah kami. Yang membuat kedua kata ini layak disandingkan bukan sekadar kemiripan maknanya, melainkan sebaran kemunculannya. Diperiksa di seluruh mushaf, bentuk persis "raa'inaa" dan bentuk persis "unzhurnaa" masing-masing hanya muncul dua kali, dan keduanya persis di dua ayat yang sama: di sini (2:104) dan di 4:46. Pasangan itulah yang menautkan 2:104 langsung pada 4:46, satu-satunya ayat lain di mushaf yang menjelaskan duduk perkaranya. 4:46 menyebut sekelompok orang "mengubah perkataan dari tempat-tempatnya" (يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ, yuharrifuuna al-kalima 'an mawaadhi'ihi), dan di antara ucapan mereka ada "raa'inaa" yang diucapkan "dengan memutarbalikkan lidah mereka dan mencela pertanggungjawaban" (لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ, layyan bi-alsinatihim wa tha'nan fi ad-diin). Ayat itu sendiri lalu menyebut kalimat penggantinya: seandainya mereka berkata "unzhurnaa," itu "lebih baik bagi mereka dan lebih tepat" (لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ, lakaana khairan lahum wa aqwama), persis perintah yang diberikan di 2:104. Yang tidak dijelaskan ayat manapun adalah wujud persis pemelintiran itu, apakah lewat perubahan bunyi atau muatan makna lain yang ditambahkan; teks membatasi diri pada menyebut tindakannya, memutar lidah dan mencela, tanpa merinci mekanisme kata per katanya. Akar yang berarti memalingkan dari tempatnya, yang dipakai 4:46 untuk "mengubah" ini muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:75, 4:46, 5:13, 5:41, 8:16, 22:11); empat di antaranya membawa makna memutarbalikkan firman dari tempatnya (2:75, 4:46, 5:13, 5:41), sedangkan dua sisanya membawa makna lain (berbelok arah dalam pertempuran di 8:16, beribadah "di tepi" secara goyah di 22:11).

Ayat ini ditutup dengan perintah ketiga yang berdiri sendiri, "dan dengarkanlah" (وَاسْمَعُوا, wa-sma'uu), dari akar yang berarti mendengar, tanpa syarat atau tambahan apa pun. Strukturnya sendiri adalah pasangan minimal: larangan dan perintah memakai kata kerja yang sama persis, "berkata" (قَالَ, qaala), hanya dibedakan oleh partikel negasi di depannya, "janganlah kalian katakan" (لَا تَقُولُوا, laa taquuluu) berhadapan dengan "dan katakanlah" (وَقُولُوا, wa-quuluu). Pola ini menegaskan bahwa yang dipersoalkan bukan makna literal kata itu sendiri, "raa'inaa" dan "unzhurnaa" nyaris bersinonim, melainkan kata mana yang keluar dari mulut. Terjemahan ayat ini sengaja mempertahankan kedua kata itu dalam bentuk aslinya, bukan mengalihkannya ke padanan Indonesia, karena yang sedang diperintahkan dan dilarang di sini memang kedua kata itu sendiri sebagai ucapan, bukan gagasan di baliknya.

Tafsiran

Ayat ini menandai giliran alamat. Sesudah puluhan ayat menceritakan tentang Bani Israil dalam sudut pandang orang ketiga, di sinilah untuk pertama kalinya di seluruh mushaf muncul sapaan "Wahai orang-orang yang beriman," yang pertama dari 85 kemunculan formula ini di seluruh Al-Qur'an. Yang diminta pertama kali dari alamat yang baru ini bukan ibadah besar atau hukum berat, melainkan hal sekecil satu pilihan kata dalam percakapan sehari-hari dengan Nabi.

Penempatan ini terasa bukan kebetulan. Pasase yang baru saja ditutup, 2:75, sudah menyebut sebagian Bani Israil mengubah firman Allah sendiri setelah memahaminya, dengan akar kata yang sama yang menjelaskan kenapa kata yang dilarang di sini bermasalah (lihat pembahasan akar yang berarti memalingkan dari tempatnya di atas). Komunitas yang baru pertama kali disapa "orang-orang yang beriman" langsung diberi ujian berbentuk sama dengan yang baru saja dikecam pada golongan lain: menjaga kata agar tidak menjadi celah, meski dalam skala dan konteks yang jauh lebih kecil, sekadar cara memanggil perhatian Nabi saat berbicara dengannya.

Ayat ini ditutup dengan ancaman bagi orang-orang kufur tanpa jeda dari perintah menjaga kata tadi. Dua hal yang jaraknya biasanya dianggap jauh, etika bertutur sehari-hari dan pokok keimanan, disandingkan seolah berada dalam satu tarikan napas yang sama. Ini bukan berarti mengucapkan kata yang dilarang membuat seseorang kufur; keduanya tetap berdiri sebagai dua kalimat berbeda yang disambungkan oleh "dan," pola yang berulang di banyak ayat lain saat Al-Qur'an memberi arahan lalu menutupnya dengan pengingat tentang batas antara beriman dan kufur, bukan pola sebab-akibat langsung antara satu kata dan status keimanan.

Renungan dan Hikmah

  • Bila yang pertama diminta dari sebuah komunitas yang baru saja disapa 'orang-orang yang beriman' adalah menjaga satu kata dalam percakapan, ukuran yang dipakai untuk menilai apa yang penting dan apa yang remeh dalam beragama barangkali perlu ditata ulang. Sebuah kebiasaan bertutur yang tampak sepele, cara memanggil, cara meminta perhatian, ternyata berada pada posisi yang sama layak diperhatikan dengan hukum-hukum besar yang menyusul kemudian di surah yang sama. Yang kecil dan yang besar disapa dalam alamat yang sama, tanpa jeda yang menandai salah satunya lebih layak didahulukan.
  • Kata yang dilarang dan kata penggantinya di ayat ini nyaris bersinonim maknanya. Yang membedakan nasib keduanya bukan makna literalnya, melainkan bagaimana salah satunya sudah terlanjur dipakai sebagai kedok oleh pihak lain untuk mencela sambil berpura-pura sopan. Sebuah kata bisa netral sepenuhnya dalam dirinya sendiri dan tetap perlu ditinggalkan begitu diketahui sudah dijadikan celah, terlepas dari niat baik siapa pun yang masih ingin memakainya dengan tulus. Yang dinilai bukan hanya apa yang dimaksud pembicara, melainkan juga apa yang bisa dibuat orang lain dari kata yang sama.
  • Ayat ini tidak menyertakan alasan larangannya sendiri; alasan itu baru terungkap di ayat lain, jauh dari sini. Susunan seperti ini menempatkan pembaca pada posisi menjalankan sebuah batasan sebelum, bukan sesudah, mengetahui duduk perkaranya secara penuh. Ini berbeda dari sikap yang justru dikecam di ayat lain tentang golongan yang sama (2:93, 4:46), mengaku mendengar sambil menyatakan akan membangkang. Kesediaan menjaga sesuatu yang belum sepenuhnya dijelaskan alasannya, tanpa menuntut penjelasan itu lebih dulu, adalah sikap yang diuji di sini sebelum sikap itu sendiri dijelaskan.
  • Bagian surah yang baru saja berlalu mengecam sekelompok orang karena mengubah firman Allah sendiri. Ayat ini lalu memberi larangan yang bentuknya serupa kepada pembaca yang baru saja disapa sebagai orang beriman, hanya berpindah wilayah, dari kitab suci ke cara memanggil seseorang saat berbicara. Kesalahan yang tadi terasa jauh, dilakukan 'orang lain' dalam sebuah kisah, ternyata punya versi kecilnya sendiri yang bisa muncul dalam kebiasaan bertutur sehari-hari siapa pun, termasuk yang sedang membaca ayat ini sekarang.
  • Perintah menutup ayat ini, dan dengarkanlah, tidak diberi syarat atau imbuhan apa pun. Namun ayat lain memperlihatkan potret golongan yang mengucapkan kalimat serupa sambil bermaksud sebaliknya, meminta didengar padahal tidak benar-benar mendengar. Dua orang bisa mengucapkan kalimat yang sama persis, satu dengan tulus dan satu sebagai sindiran, dan perbedaannya tidak tertulis pada kata itu sendiri. Kepatuhan yang tampak dari luar, sekadar mengucap kalimat yang benar, ternyata tidak cukup untuk memastikan apa yang sesungguhnya dimaksud pengucapnya.
  • Larangan soal satu kata dan ancaman bagi orang-orang kufur berdiri dalam satu ayat yang sama, disambungkan hanya oleh kata 'dan,' tanpa pemisah yang menandai pergantian topik. Pembaca yang terbiasa membaca ancaman semacam ini sebagai tuduhan langsung, seolah mengucap kata yang dilarang berarti menjadi kufur, perlu memperhatikan bahwa keduanya tetap berdiri sebagai dua kalimat terpisah yang hanya disambung kata sambung, bukan sebagai satu rangkaian sebab-akibat. Pola menyandingkan perintah dan ancaman tanpa jeda seperti ini bukan hal baru dalam Al-Qur'an, dan membacanya sebagai tuduhan personal langsung, alih-alih sebagai pengingat batas yang berlaku umum, adalah salah baca yang mudah terjadi justru karena letaknya begitu berdekatan.
  • Yang diatur ayat ini secara harfiah hanya dua kata tertentu. Namun caranya diatur, meninggalkan kata yang netral begitu diketahui bisa disalahgunakan, memuat prinsip yang tidak berhenti pada kedua kata itu saja. Siapa pun yang berkomunikasi lintas kelompok, lintas generasi, atau lintas latar belakang menghadapi versi lain dari persoalan yang sama: kata yang terdengar aman di satu telinga bisa menjadi celah di telinga lain, dan kesediaan menggantinya bukan tanda kalah, melainkan tanda memperhatikan siapa yang mendengar.