أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۗ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Ataukah kalian hendak meminta kepada rasul kalian sebagaimana Musa diminta dahulu? Dan siapa yang menukar iman dengan kekufuran, sungguh ia telah kehilangan jalan yang lurus.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْam turiiduuna an tas'aluu rasuulakumataukah kalian hendak meminta kepada rasul kalian
  2. كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُka-maa su'ila muusaa min qablusebagaimana Musa diminta dahulu
  3. وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِwa-man yatabaddali l-kufra bi-l-iimaani fa-qad dhalla sawaa'a s-sabiilidan siapa yang menukar iman dengan kekufuran, sungguh ia telah tersesat dari jalan yang lurus

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. أَمْamatau
  2. تُرِيدُونَturiiduunakalian kehendaki
  3. أَنْanuntuk
  4. تَسْأَلُواtas'aluukalian menanyakan
  5. رَسُولَكُمْrasuulakumrasul kalian
  6. كَمَاka-maasebagaimana
  7. سُئِلَsu'iladitanya
  8. مُوسَىٰmuusaaMusa
  9. مِنْmindari
  10. قَبْلُqablusebelumnya
  11. وَمَنْwa-mandan orang yang
  12. يَتَبَدَّلِyatabaddalimenukar
  13. الْكُفْرَl-kufrakekufuran
  14. بِالْإِيمَانِbi-l-iimaanipada keimanan
  15. فَقَدْfa-qadmaka sungguh
  16. ضَلَّdhallasesat
  17. سَوَاءَsawaa'asama
  18. السَّبِيلِs-sabiilijalan

Inti bacaan

Peringatan terhadap meminta bukti berlebihan (seperti yang diminta pada Musa) yang berujung pada 'menukar iman dengan keingkaran', permintaan bukti yang tidak wajar bisa jadi jalan menuju kehilangan arah, bukan penguatan keyakinan. Konkretnya: skeptisisme yang sehat berbeda dari skeptisisme yang menjadi dalih untuk terus menunda komitmen, kenali kapan pertanyaan lanjutan sudah berhenti mencari kebenaran dan mulai menjadi penghindaran.

Penjelasan pilihan kata

Kata pembuka, (أَمْ, am, "ataukah"), adalah partikel tanya yang mengajukan pilihan kedua, melanjutkan rangkaian pertanyaan retoris dari 2:106-107. Tapi arah pertanyaannya berbalik, dari menegaskan kuasa dan kepemilikan Allah, menjadi mempertanyakan kehendak (تُرِيدُونَ, turiiduuna, "kalian hendak", akar yang berarti mencari dengan pelan) pembaca sendiri.

Akar yang berarti bertanya atau meminta dipakai dua kali dalam ayat ini, bentuk aktif di (تَسْأَلُوا, tas'aluu, "kalian meminta") dan bentuk pasif di (سُئِلَ, su'ila, "diminta"). Ayat ini tidak merinci apa yang diminta dari Musa, tapi Al-Qur'an menjawabnya di tempat lain dengan akar yang sama. 4:153 menyatakan, "sungguh, mereka telah meminta (سَأَلُوا, sa'aluu) kepada Musa yang lebih besar dari itu," lalu merinci permintaannya sendiri, (أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً, arinaa llaaha jahratan, "perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata"), permintaan yang sama disebut di 2:55 dan dijawab dengan petir yang menyambar mereka. Rujukan ini bukan cerita dari luar teks, ia rujukan Al-Qur'an kepada Al-Qur'an sendiri.

Kata (يَتَبَدَّلِ, yatabaddali, "menukar"), dari akar yang berarti menukar dan mengganti, memakai akar yang sama dengan (بَدَّلَ, baddala) di 2:59, dua ayat sebelumnya di surah yang sama, tentang orang-orang yang menukar perintah dengan perintah lain yang tidak diperintahkan lalu ditimpakan bencana. Ayat ini memakai akar yang sama untuk penukaran yang jauh lebih berat, bukan lagi menukar satu perintah, melainkan menukar (الْإِيمَانِ, al-iimaani, "iman") dengan (الْكُفْرَ, al-kufra, "kekufuran").

Kedua sisi yang ditukar, (الْإِيمَانِ, al-iimaani, "iman") dan (الْكُفْرَ, al-kufra, "kekufuran"), sama-sama memakai kata sandang tertentu. Ini bukan menukar keimanan pada umumnya dengan kekufuran pada umumnya, seolah keduanya dua pilihan yang setara sejak awal, melainkan menukar iman yang sudah dipegang dengan kekufuran yang sudah dikenal sebagai lawannya. Kata sandang ini menandai bahwa penukaran ini terjadi pada sesuatu yang sudah dimiliki, bukan pilihan pertama kali antara dua hal yang belum pernah dijalani.

Penutupnya, (ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ, dalla sawaa'a as-sabiili, "telah tersesat dari jalan yang lurus"). Frasa (سَوَاءَ السَّبِيلِ, sawaa'a as-sabiili) ini terdapat 6 ayat di Al-Qur'an: di ayat ini, lalu di 5:12, 5:60, 5:77, 28:22, dan 60:1. Sawaa' berasal dari akar yang berarti meratakan sampai pas, bermakna "rata" atau "setimbang", jalan yang tak berbelok ke arah yang salah. Kehilangan jalan yang rata ini bukan sekadar tersesat sesaat, ia akibat langsung dari penukaran yang disebut sebelumnya, kalimat kedua ayat ini menjelaskan konsekuensi dari kalimat pertamanya, bukan topik baru yang berdiri sendiri.

Tafsiran

Ayat ini berbalik arah dari dua ayat sebelumnya. 2:106-107 menjawab keraguan tentang kesanggupan dan kepemilikan Allah, ayat ini balik bertanya kepada pembaca, apakah kalian justru hendak menuntut sesuatu yang berlebihan dari rasul kalian sendiri, sebagaimana Bani Israil pernah menuntut dari Musa.

Pertanyaan retorisnya menyiratkan pilihan yang tidak diinginkan, tentu kalian tidak menghendaki mengulang kejadian yang berakhir buruk itu. Bani Israil bukan sekadar bertanya, mereka menuntut bukti yang melampaui batas, meminta melihat Allah secara langsung, dan dijawab dengan petir. 4:153 secara eksplisit menyamakan tuntutan Ahli Kitab kepada Nabi dengan tuntutan Bani Israil kepada Musa, disebut sebagai "yang lebih besar dari itu."

Kalimat kedua ayat ini, tentang menukar iman dengan kekufuran, tidak berdiri terpisah dari kalimat pertama. Tuntutan berlebihan kepada seorang rasul, kalau terus dituruti tanpa batas, bisa berujung pada keraguan yang berubah menjadi penolakan, iman yang perlahan ditukar dengan ketidakpercayaan. Ayat ini menyambungkan dua bahaya sebagai satu alur, dari menuntut secara berlebihan menuju tersesat dari jalan yang lurus, bukan dua peringatan yang kebetulan disandingkan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini tidak melarang bertanya, ia mempertanyakan kehendak untuk menuntut sesuatu yang melampaui batas, bukti yang dituntut bukan karena dibutuhkan untuk percaya, melainkan karena keinginan menguji sampai sejauh mana. Ada perbedaan antara bertanya untuk memahami dan menuntut untuk menguji, dan ayat ini menyoroti yang kedua lewat sebuah kejadian yang berakhir buruk. Menyadari kapan sebuah pertanyaan sudah bergeser dari mencari paham menjadi menuntut bukti berlebihan adalah kewaspadaan yang diam-diam diminta ayat ini.
  • Ayat ini tidak menceritakan ulang apa yang terjadi pada Bani Israil, ia cukup menunjuk peristiwa itu lewat satu kata, diminta, dan membiarkan pembaca yang sudah tahu ceritanya mengingat sendiri konsekuensinya. Cara merujuk seperti ini mengandaikan pembaca yang sudah punya pengetahuan sebelumnya, bukan pembaca yang baru pertama kali mendengar. Bagi yang belum tahu, ayat ini menjadi ajakan menelusuri ke tempat lain, bukan penjelasan tuntas dalam dirinya sendiri.
  • Apa yang diminta dari Musa tidak dijelaskan di ayat ini, tapi tidak dibiarkan menggantung selamanya, sebab Al-Qur'an merujuk kembali ke peristiwanya sendiri di tempat lain, memakai akar kata yang sama. Menemukan bahwa sebuah pertanyaan yang tampak terbuka ternyata sudah dijawab di bagian lain dari teks yang sama memberi pengalaman membaca yang berbeda dari sekadar menerima satu ayat berdiri sendiri, ada jaring rujukan yang baru terlihat kalau ditelusuri.
  • Kata yang dipakai untuk beralih dari iman ke kekufuran bukan kata kehilangan, melainkan kata menukar, sebuah tindakan yang mengandaikan ada sesuatu yang secara aktif dilepaskan untuk mengambil gantinya. Ini menyiratkan bahwa hilangnya iman jarang terjadi sebagai satu peristiwa tiba-tiba, ia lebih sering berupa serangkaian pertukaran kecil yang berakumulasi, dan ayat ini menamainya dengan kata yang sama seperti dipakai untuk menukar sebuah perintah di ayat sebelumnya dalam surah ini. Bentuk kata kerjanya (يَتَبَدَّلِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Apa bedanya menukar dan kehilangan? Yang kehilangan bisa mencari kembali dan berhak mengeluh; yang menukar sudah menerima sesuatu sebagai gantinya dan tidak punya dasar untuk mengeluh. Kata yang dipilih menutup pintu keluhan sejak awal.
  • Jalan yang disebut ayat ini bukan sekadar arah, ia digambarkan rata, tak berbelok ke satu sisi. Tersesat dari jalan yang rata berarti bergeser dari sesuatu yang semula lurus, bukan sekadar berhenti di tempat. Gambaran ini memberi bentuk pada kata sesat yang sering dipakai secara umum, di sini ia punya lawan yang jelas, yakni jalan yang tetap seimbang tanpa condong ke arah yang keliru. Rangkaian itu (سَوَاءَ السَّبِيلِ) muncul di empat ayat, yaitu 2:108, 5:12, 28:22, dan 60:1. Yang menarik, 28:22 memakainya sebagai harapan Musa ketika ia melarikan diri ke Madyan dan berdoa agar ditunjukkan jalan yang rata. Jadi rangkaian yang sama menjadi doa seorang pelarian dan menjadi ukuran bagi orang yang tersesat darinya.
  • Menuntut berlebihan dan menukar iman disebut dalam satu ayat yang sama, bukan dua peringatan terpisah yang kebetulan berdekatan. Membaca keduanya sebagai satu alur, dari tuntutan yang tak terpenuhi menuju keraguan yang membesar, memberi gambaran bagaimana sebuah proses bisa dimulai dari sesuatu yang tampak kecil, sekadar bertanya, sebelum berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.