وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Banyak di antara Ahlulkitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian setelah kalian beriman menjadi orang-orang kufar, karena kedengkian dalam diri mereka sendiri, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًاwadda katsiirun min ahli l-kitaabi law yarudduunakum min ba'di iimaanikum kuffaaranbanyak di antara Ahlulkitab menginginkan mengembalikan kalian setelah beriman menjadi orang-orang kufar
- حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّhasadan min 'indi anfusihim min ba'di maa tabayyana lahumu l-haqqukarena dengki dari sisi diri mereka sendiri, sesudah kebenaran jelas bagi mereka
- فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِfa-'fuu wa-shfahuu hattaa ya'tiya llaahu bi-amrihimaka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya
- إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌinna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirunsesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu
Terjemahan per kata (33 kata)
- وَدَّwaddamenginginkan
- كَثِيرٌkatsiirunbanyak
- مِنْmindari
- أَهْلِahlikalangan
- الْكِتَابِl-kitaabiKitab
- لَوْlawsekiranya
- يَرُدُّونَكُمْyarudduunakummereka mengembalikan kalian
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- إِيمَانِكُمْiimaanikumkeimanan kalian
- كُفَّارًاkuffaaranorang-orang kufar
- حَسَدًاhasadankarena dengki
- مِنْmindari
- عِنْدِ'indisisi
- أَنْفُسِهِمْanfusihimdiri mereka sendiri
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- مَاmaaapa yang
- تَبَيَّنَtabayyanajelas
- لَهُمُlahumubagi mereka
- الْحَقُّl-haqqukebenaran
- فَاعْفُواfa-'fuumaka maafkanlah kalian
- وَاصْفَحُواwa-shfahuudan berlapang dadalah kalian
- حَتَّىٰhattaasampai
- يَأْتِيَya'tiyamendatangkan
- اللَّهُllaahuAllah
- بِأَمْرِهِbi-amrihidengan keputusan-Nya
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- كُلِّkullisegala
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- قَدِيرٌqadiirunberkuasa
Inti bacaan
Respons yang diperintahkan terhadap kedengkian orang lain bukan pembalasan, melainkan 'maafkanlah dan berlapang dadalah', sebuah strategi menghadapi permusuhan dengan kesabaran aktif, bukan pasif ataupun agresif. Konkretnya: saat menghadapi kedengkian atau permusuhan yang tak beralasan dari orang lain, memilih memaafkan dan bersabar (sambil tetap teguh pada prinsip) adalah jalan yang diajarkan di sini, dengan keyakinan bahwa penyelesaian pada akhirnya di tangan Allah.
Penjelasan pilihan kata
Kata pembuka, (وَدَّ, wadda) berarti "menginginkan", dari akar yang berarti mencintai, akar yang sama dengan 2:105, empat ayat sebelumnya dalam surah ini, tentang orang kafir dari Ahli Kitab dan orang musyrik yang tidak menginginkan kebaikan turun kepada orang beriman. Keinginan di ayat ini lebih tajam, bukan lagi sekadar menahan kebaikan, melainkan aktif menginginkan orang beriman kembali menjadi kufur.
Kata (حَسَدًا, hasadan) berarti "karena dengki", dari akar yang berarti dengki, termasuk akar yang jarang, cuma muncul 4 kali di Al-Qur'an: di ayat ini, lalu di 4:54, 48:15, dan 113:5. Di 113:5, hasad adalah satu-satunya kejahatan yang disebut secara khusus sebagai sesuatu yang perlu dimintakan perlindungan. Di 4:54, hasad diarahkan pada karunia yang diberikan kepada keluarga Ibrahim. Benang merahnya, hasad selalu menyasar kebaikan pada orang lain, bukan kehilangan pada diri sendiri.
Frasa (مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ, min 'indi anfusihim) berarti "dari sisi diri mereka sendiri", meletakkan sumber dengki itu tegas pada diri mereka, bukan pada hasutan dari luar. Frasa ini disusul (مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ, min ba'di maa tabayyana lahumu l-haqqu) berarti "sesudah kebenaran jelas bagi mereka", dari akar yang berarti jelas atau terang. Menempatkan kejelasan kebenaran tepat sebelum menyebut sumber dengki menutup alasan ketidaktahuan, mereka dengki bukan karena belum paham, melainkan meski sudah paham.
Perintah (فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا, fa'fuu washfahuu) berarti "maka maafkanlah dan berlapang dadalah", memakai dua kata kerja, (عَفَا, 'afaa) dari akar yang berarti memaafkan dan menghapus bekasnya, dan (صَفَحَ, shafaha) dari akar yang berarti berpaling memaafkan. Akar itu cuma muncul 7 kali. Akar 'afw pada dasarnya bermakna menghapus jejak sampai tak berbekas, seperti angin menghapus bekas telapak di atas pasir, sedangkan safh berkaitan dengan permukaan yang luas, berpaling dengan sisi lapang tanpa menyimpan bekas di wajah. Dua kata ini saling melengkapi, satu tentang menghapus perkara dari dalam, satu tentang tidak menampakkan bekasnya keluar. Pasangan perintah yang hampir sama persis muncul di 5:13, (فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ, fa'fu 'anhum washfah), tapi dengan alasan berbeda, di sana ditutup "Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik", di sini ditutup dengan kuasa Allah dan penantian pada keputusan-Nya. Perintah yang sama, dua alasan berbeda di dua tempat.
Ayat ini ditutup (إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, inna llaaha 'alaa kulli syai'in qadiir), penutup yang persis sama dengan penutup 2:106. Di sana kuasa ini menjawab keraguan tentang penggantian tanda, di sini kuasa yang sama dijadikan sandaran untuk menahan diri di depan permusuhan yang diakui secara terbuka.
Tafsiran
Ayat ini menyingkap sebuah pengakuan yang jarang dinyatakan seterbuka ini, motif sebagian Ahli Kitab bukan keyakinan atau argumen, melainkan dengki, dan dengki itu muncul justru sesudah kebenaran sudah jelas bagi mereka. Pengetahuan tidak menghentikannya, ia hanya membuatnya tak lagi bisa disamarkan sebagai kesalahpahaman.
Perintah memaafkan dan berlapang dada di sini tidak diminta karena permusuhan itu ringan, ia justru diminta persis di tengah pengakuan bahwa motifnya seburuk dengki yang disadari sendiri. Ini bukan kesabaran yang lahir dari ketidaktahuan akan niat buruk lawan, ia kesabaran yang diminta meski niat itu sudah dinyatakan secara telanjang.
Perintah ini juga dibatasi waktu, sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, bukan permintaan mengabaikan selamanya. Ada batas yang jelas antara memaafkan sebagai sikap sekarang dan menyerahkan penyelesaian akhirnya kepada waktu yang belum tiba.
Penutup ayat ini menggemakan penutup 2:106, kuasa Allah atas segala sesuatu. Di sana kuasa itu menjawab keraguan tentang kesanggupan mengganti tanda, di sini kuasa yang sama dijadikan sandaran untuk menahan diri di depan permusuhan yang nyata. Kesabaran yang diminta ayat ini bersandar pada kuasa yang sama yang sebelumnya menjamin bahwa penggantian dari Allah selalu lebih baik.
Renungan dan Hikmah
- Dengki di ayat ini bukan lahir dari ketidaktahuan, ia muncul justru sesudah kebenaran sudah jelas. Ini bentuk penolakan yang berbeda dari sekadar belum paham, sebab pengetahuan yang lengkap ternyata tidak selalu menuntun pada penerimaan. Menyadari bahwa dengki bisa hidup berdampingan dengan pengetahuan yang sudah lengkap, bukan cuma dengan kebodohan, mengubah cara memandang sebuah permusuhan yang tampak tak masuk akal dari luar.
- Ayat ini menyebut sumber dengki itu secara tegas, dari sisi diri mereka sendiri, bukan hasutan pihak lain. Ada kejujuran yang tidak lazim dalam cara ayat ini menempatkan tanggung jawab, tanpa mengalihkannya ke provokasi luar atau keadaan yang memaksa. Mengakui bahwa sebuah permusuhan lahir murni dari dalam diri, tanpa pemicu eksternal yang bisa disalahkan, adalah pengakuan yang jarang dibuat seterbuka ini. Kata untuk kedengkian itu (حَسَدًا) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan begitu pula perintah yang menjawabnya (فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا). Dua kata yang paling berlawanan di dalam ayat ini, yaitu penyakitnya dan obatnya, sama-sama tidak dipakai lagi di tempat lain.
- Perintah memaafkan di sini datang tepat sesudah motif terburuk sudah disebutkan, bukan sebelum motif itu diketahui. Memaafkan sesuatu yang belum jelas alasannya berbeda dari memaafkan sesuatu yang sudah diakui motifnya seburuk dengki. Ayat ini meminta yang kedua, kesabaran yang tetap diminta meski niat lawannya sudah dinyatakan secara telanjang, bukan kesabaran yang mudah karena ketidaktahuan.
- Perintah menahan diri di sini bukan permintaan tanpa batas, ia berhenti sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Ada perbedaan antara sikap yang diminta sekarang dengan penyelesaian yang diserahkan ke waktu yang belum tiba. Memahami batas ini mengubah bagaimana perintah memaafkan dirasakan, bukan penyerahan permanen, melainkan sikap sementara sambil menunggu sesuatu yang sudah dijanjikan akan datang. Apakah batas waktu itu meringankan atau memberatkan? Perintah menahan diri yang tanpa ujung akan terasa seperti kekalahan yang dipermanenkan. Perintah yang berujung pada keputusan Allah mengubah artinya: yang diminta bukan melepaskan hak melainkan menunda penagihannya kepada pihak yang lebih sanggup menagih. Menahan diri karena tidak berdaya dan menahan diri karena menunggu adalah dua sikap yang dari luar tampak sama.
- Perintah memaafkan dan berlapang dada yang hampir sama persis muncul di tempat lain dalam Al-Qur'an, tapi dengan alasan penutup yang berbeda, satu tentang kecintaan Allah pada yang berbuat baik, satu tentang kuasa dan keputusan yang akan datang. Perintah yang sama bisa disandarkan pada alasan yang berbeda tergantung situasi yang mengiringinya, dan memperhatikan alasan mana yang dipakai di tiap tempat memberi nuansa yang hilang kalau perintahnya dibaca sebagai rumus tunggal.
- Penutup ayat ini bukan kalimat baru, ia mengulang persis penutup 2:106, tentang kuasa Allah atas segala sesuatu. Pengulangan ini menghubungkan dua situasi yang tampak berbeda, penggantian tanda wahyu dan kesabaran menghadapi dengki, lewat sandaran yang sama. Menyadari pengulangan ini membuat ayat ini terasa bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah kepercayaan yang terus-menerus dikembalikan ke satu titik yang sama.