وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Dan orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani tidak menganut sesuatu,” dan orang Nasrani berkata, “Orang Yahudi tidak menganut sesuatu,” padahal mereka membaca Kitab. Demikianlah orang-orang yang tidak berilmu berkata seperti ucapan mereka. Maka Allah akan memberi putusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍwa-qaalati l-yahuudu laysati n-nashaaraa 'alaa syay'in wa-qaalati n-nashaaraa laysati l-yahuudu 'alaa syay'indan orang Yahudi berkata, orang Nasrani tidak berpijak pada sesuatu apa pun, dan orang Nasrani berkata, orang Yahudi tidak berpijak pada sesuatu apa pun
  2. وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْwa-hum yatluuna l-kitaaba, ka-dzaalika qaala l-ladziina laa ya'lamuuna mitsla qawlihimpadahal mereka membaca Kitab, demikianlah orang-orang yang tidak berilmu berkata seperti ucapan mereka
  3. فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَfa-llaahu yahkumu baynahum yawma l-qiyaamati fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuunamaka Allah akan memberi putusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan

Terjemahan per kata (31 kata)

  1. وَقَالَتِwa-qaalatidan berkata
  2. الْيَهُودُl-yahuuduorang-orang Yahudi
  3. لَيْسَتِlaysatibukanlah
  4. النَّصَارَىٰn-nashaaraaorang-orang Nasrani
  5. عَلَىٰ'alaaatas
  6. شَيْءٍsyay'insesuatu
  7. وَقَالَتِwa-qaalatidan berkata
  8. النَّصَارَىٰn-nashaaraaorang-orang Nasrani
  9. لَيْسَتِlaysatibukanlah
  10. الْيَهُودُl-yahuuduorang-orang Yahudi
  11. عَلَىٰ'alaaatas
  12. شَيْءٍsyay'insesuatu
  13. وَهُمْwa-humdan mereka
  14. يَتْلُونَyatluunamereka membaca
  15. الْكِتَابَl-kitaabaKitab
  16. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  17. قَالَqaalaberkata
  18. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  19. لَاlaatidak
  20. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
  21. مِثْلَmitslaseperti
  22. قَوْلِهِمْqawlihimperkataan mereka
  23. فَاللَّهُfa-llaahumaka Allah
  24. يَحْكُمُyahkumumemutuskan
  25. بَيْنَهُمْbaynahumdi antara mereka
  26. يَوْمَyawmahari
  27. الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
  28. فِيمَاfiimaapada apa yang
  29. كَانُواkaanuumereka selalu
  30. فِيهِfiihipadanya
  31. يَخْتَلِفُونَyakhtalifuunamereka berselisih

Inti bacaan

Ironi tajam: dua kelompok saling menyalahkan ('tidak menganut sesuatu') 'padahal mereka membaca Kitab' yang sama, konflik antar kelompok yang mengklaim sumber kebenaran sama namun saling menuduh yang lain tak berpijak pada apa pun. Konkretnya: konflik antar-denominasi atau antar-kelompok yang berbagi akar yang sama tapi saling merasa lebih benar adalah pola lama yang dikritik di sini, Allah sendiri yang memutuskan perselisihan itu, bukan klaim sepihak masing-masing pihak.

Penjelasan pilihan kata

Frasa (لَيْسَتِ... عَلَىٰ شَيْءٍ, laysati... 'alaa syai'in) berarti "tidak berpijak pada sesuatu apa pun", dari akar yang berarti bukan dan tidak ada. Akar itu menegasikan keberadaan atau sifat. Tuduhan ini bukan sekadar "kalian keliru di bagian ini", melainkan penolakan total, tidak ada satu pun yang bisa dipijak dari yang diyakini pihak lain. Struktur kalimat ini diulang persis dua kali dalam ayat yang sama, sekali dari mulut Yahudi tentang Nasrani, sekali dari mulut Nasrani tentang Yahudi, simetri sempurna dari tuduhan yang sama persis saling dilemparkan.

Kata (يَتْلُونَ, yatluuna) berarti "mereka membaca", dari akar yang berarti mengikuti dan membaca, dipakai khusus untuk membaca kitab suci dengan mengikuti urutannya, bukan sekadar melihat huruf. Kedua kelompok disebut sama-sama membaca (الْكِتَابَ, al-kitaaba, "Kitab"). Pengetahuan tekstual yang mereka miliki tidak mencegah mereka saling menegasikan, seolah membaca dan memahami adalah dua hal yang bisa terpisah.

Frasa (مِثْلَ قَوْلِهِمْ, mitsla qawlihim) berarti "seperti perkataan mereka". Ayat ini menyebut ada pihak ketiga, (الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ, alladziina laa ya'lamuuna, "orang-orang yang tidak berilmu"), yang mengucapkan hal yang sama persis. Ayat ini tidak merinci identitas kelompok ketiga ini, cuma sifatnya, tidak berilmu. Pola saling menegasikan ini ternyata bukan eksklusif milik dua kelompok yang disebut lebih dulu, ia pola yang diulang siapa pun yang tidak berilmu.

Penutup ayat ini, (فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ, fa-llaahu yahkumu baynahum yawma l-qiyaamati fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun), muncul persis sama cuma di satu tempat lain, 16:124, yang membahas perselisihan Bani Israil sendiri soal hari Sabat. Penyelesaian perselisihan di kedua ayat ini diserahkan bukan kepada argumen yang lebih keras di dunia, melainkan keputusan Allah pada hari kiamat.

Kata (يَحْكُمُ, yahkumu) berasal dari akar yang bermakna memutuskan dengan wewenang penuh, bukan sekadar menengahi atau memberi pendapat. Kata (يَخْتَلِفُونَ, yakhtalifuuna) dari akar yang berarti datang menggantikan yang sebelumnya memakai bentuk yang menunjukkan tindakan yang saling berbalasan, perselisihan yang terus berjalan bolak-balik antara kedua pihak, bukan perbedaan yang sekali terjadi lalu diam. Menempatkan kata yang menunjukkan wewenang memutuskan penuh tepat sesudah kata yang menunjukkan perselisihan yang terus berjalan menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan penengah biasa, melainkan keputusan yang mengakhiri, bukan sekadar meredakan sementara, sebab perselisihan yang bolak-balik semacam ini tidak akan pernah berhenti sendiri tanpa keputusan yang benar-benar mengikat.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan tema dua ayat sebelumnya, klaim eksklusivitas dibantah bukan dengan memihak salah satu kelompok, melainkan menunjukkan kejanggalan struktural klaim itu sendiri. Kedua kelompok saling menegasikan satu sama lain dengan tuduhan yang persis sama, sementara sama-sama membaca kitab yang semestinya membimbing mereka melampaui perselisihan semacam ini.

Kehadiran pihak ketiga yang tidak disebut namanya, tapi disebut mengucapkan hal yang sama, memperluas kritik ayat ini. Ini bukan cuma soal dua kelompok tertentu, ia soal sebuah pola pikir, saling menegasikan tanpa dasar, yang bisa diulang siapa pun yang tidak berilmu, tidak terbatas pada identitas kelompok mana pun.

Ayat ini tidak menawarkan jalan keluar duniawi atas perselisihan ini, ia menyerahkan penyelesaiannya kepada hari kiamat. Formula yang sama muncul di 16:124 untuk perselisihan yang berbeda, tapi sejenis, di antara satu kelompok tentang hari Sabat. Pola yang sama berulang, perselisihan yang tak kunjung selesai di dunia, diserahkan kepada keputusan yang akan datang kemudian.

Ada sesuatu yang perlu diperhatikan dari cara ayat ini berhenti. Ia tidak menyatakan pihak mana yang benar di antara Yahudi dan Nasrani, ia hanya menyatakan bahwa keduanya keliru dalam cara saling menegasikan, dan penyelesaian yang sesungguhnya menunggu waktu yang belum tiba. Ini bukan sikap netral yang menghindar, ia sikap yang menolak ikut serta dalam logika saling meniadakan yang sama-sama dipegang kedua pihak.

Renungan dan Hikmah

  • Kedua kelompok dalam ayat ini melontarkan tuduhan yang persis sama kepada satu sama lain, tidak berpijak pada sesuatu apa pun. Simetri ini memperlihatkan sesuatu yang janggal, kalau tuduhan yang sama bisa dilontarkan kedua arah dengan kata yang identik, kemungkinan besar tuduhan itu tidak lahir dari pemeriksaan yang cermat, melainkan dari kebiasaan menegasikan pihak lain tanpa dasar yang benar-benar diperiksa. Tuduhan yang bisa dibalik seratus delapan puluh derajat tanpa kehilangan kekuatannya di mata yang mengucapkannya biasanya menandakan bahwa yang berbicara bukan lagi memeriksa isi klaim lawan, melainkan sekadar mengulang pola penolakan yang sudah lebih dulu tertanam.
  • Ayat ini menyebut kedua kelompok sama-sama membaca kitab, tapi pengetahuan tekstual itu tidak mencegah mereka saling menegasikan. Ada jarak antara membaca sesuatu dengan membiarkan bacaan itu mengubah cara memandang pihak lain. Kemampuan membaca dan memahami huruf ternyata bisa berjalan berdampingan dengan penolakan yang tidak berdasar, dua hal yang semestinya berkaitan tapi ternyata bisa terpisah. Ayat ini menempatkan fakta membaca itu tepat di tengah kalimat, seolah sengaja menyoroti jarak antara mengenal teks dan membiarkan teks itu benar-benar mengubah cara memandang pihak yang berbeda.
  • Ayat ini tidak berhenti pada dua kelompok yang disebut lebih dulu, ia menambahkan bahwa orang-orang yang tidak berilmu mengucapkan hal yang sama. Perluasan ini penting, pola saling menegasikan tanpa dasar bukan cacat yang eksklusif milik kelompok tertentu, ia kecenderungan yang bisa muncul pada siapa pun yang tidak berilmu, tanpa memandang identitas atau afiliasi apa pun yang dipegangnya.
  • Ayat ini tidak menawarkan penyelesaian duniawi atas perselisihan yang disebutnya, ia menyerahkan keputusan kepada hari kiamat. Ada kelegaan tersendiri dalam menerima bahwa tidak semua perselisihan harus diselesaikan sekarang dengan argumen yang lebih keras, sebagian memang menunggu keputusan yang akan datang kemudian, dan menerima itu berbeda dari menyerah begitu saja pada perselisihan yang belum selesai.
  • Tuduhan yang dilontarkan dalam ayat ini bukan tuduhan kecil, tidak berpijak pada sesuatu apa pun adalah penolakan total, bukan sekadar keberatan pada bagian tertentu. Melontarkan tuduhan seberat itu kepada pihak yang sama-sama membaca kitab suci memperlihatkan betapa jauh sebuah perselisihan bisa berkembang, dari perbedaan pandangan menjadi penolakan menyeluruh atas keabsahan pihak lain.
  • Formula penutup ayat ini muncul lagi di tempat lain untuk perselisihan yang berbeda isinya tapi sejenis sifatnya, kali ini di antara satu kelompok yang sama tentang sebuah aturan yang mereka perselisihkan sendiri. Pengulangan ini memperlihatkan bahwa perselisihan yang diserahkan kepada hari kiamat bukan cuma perselisihan antar kelompok yang berbeda, perselisihan di dalam satu kelompok pun bisa berakhir dengan cara yang sama.