وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah agar nama-Nya disebut di dalamnya, dan berusaha meruntuhkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya, kecuali dengan rasa takut. Mereka mendapat kehinaan di dunia, dan mereka mendapat azab yang agung di akhirat.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَاwa-man azhlamu mimman mana'a masaajida llaahi an yudzkara fiihaa smuhu wa-sa'aa fii kharaabihaadan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah agar nama-Nya disebut di dalamnya, dan berusaha meruntuhkannya
  2. أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَulaa'ika maa kaana lahum an yadkhuluuhaa illaa khaa'ifiinamereka itu tidak pantas memasukinya, kecuali dengan rasa takut
  3. لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌlahum fii d-dunyaa khizyun wa-lahum fii l-aakhirati 'adzaabun 'azhiimunmereka mendapat kehinaan di dunia, dan mereka mendapat azab yang agung di akhirat

Terjemahan per kata (30 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. أَظْلَمُazhlamulebih zalim
  3. مِمَّنْmimmandari orang yang
  4. مَنَعَmana'amenghalangi
  5. مَسَاجِدَmasaajidamasjid
  6. اللَّهِllaahiAllah
  7. أَنْanuntuk
  8. يُذْكَرَyudzkaradisebut
  9. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  10. اسْمُهُsmuhunamanya
  11. وَسَعَىٰwa-sa'aadan berusaha
  12. فِيfiidalam
  13. خَرَابِهَاkharaabihaamerobohkannya
  14. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  15. مَاmaatidaklah
  16. كَانَkaanaadalah
  17. لَهُمْlahumbagi mereka
  18. أَنْanuntuk
  19. يَدْخُلُوهَاyadkhuluuhaamereka memasukinya
  20. إِلَّاillaakecuali
  21. خَائِفِينَkhaa'ifiinadalam ketakutan
  22. لَهُمْlahumbagi mereka
  23. فِيfiidi
  24. الدُّنْيَاd-dunyaadunia
  25. خِزْيٌkhizyunkehinaan
  26. وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
  27. فِيfiidi
  28. الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
  29. عَذَابٌ'adzaabunazab
  30. عَظِيمٌ'azhiimunyang agung

Inti bacaan

Kalau kau memegang kuasa atas sebuah tempat atau jadwal (ruang di kantor, jam di rumah, aturan di lingkunganmu), periksa apakah ada orang yang jadi sungkan menjalankan ibadahnya di sana. Sungkan hampir tak pernah diucapkan; ia terlihat dari orang yang memilih pergi diam-diam. Lapangkan satu hal minggu ini: waktu, ruang, atau izin. Pintu ibadah orang lain jarang ditutup lewat larangan terang-terangan, lebih sering lewat kesan bahwa di sini hal itu merepotkan.

Penjelasan pilihan kata

Frasa (وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ, wa man azhlamu mimman) berarti "siapakah yang lebih zalim daripada", dari akar yang berarti gelap dan berbuat aniaya. Ini bagian dari formula yang muncul 15 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, dan tiap kemunculannya menandai kategori kejahatan yang berbeda-beda sebagai puncaknya masing-masing. Di 2:140, nanti dalam surah yang sama, formula ini dipakai untuk menyembunyikan kesaksian. Di 6:21, untuk mengada-adakan kebohongan atas nama Allah. Di 18:57, untuk berpaling dari peringatan. Formula ini bukan menyusun satu daftar peringkat tunggal, ia menandai tiap kategori sebagai sama-sama puncak di bidangnya sendiri.

Kata (مَنَعَ, mana'a) berarti "melarang", dari akar yang berarti menahan, objeknya (مَسَاجِدَ اللَّهِ, masaajida llaah, "masjid-masjid Allah") berbentuk jamak, bukan menunjuk satu tempat tertentu, membuat prinsipnya berlaku umum. Kata (سَعَىٰ, sa'aa) berarti "berusaha", dari akar yang berarti berusaha dan bergegas. Akar itu membawa citra usaha aktif dan sungguh-sungguh, disandingkan dengan (خَرَابِهَا, kharaabihaa, "meruntuhkannya") dari akar yang berarti roboh dan runtuh. Ayat ini menyandingkan dua tindakan sekaligus, melarang secara pasif dan berusaha meruntuhkan secara aktif, bukan cuma satu bentuk permusuhan.

Frasa (إِلَّا خَائِفِينَ, illaa khaa'ifiin) berarti "kecuali dalam keadaan takut", dari akar yang berarti takut. Susunannya menempatkan rasa takut sebagai satu-satunya cara yang pantas bagi mereka mendekati tempat yang justru mereka larang orang lain memasukinya, sebuah pembalikan, tempat yang mereka jauhkan dari ketenangan orang lain kini menjadi tempat yang tak lagi bisa mereka masuki dengan tenang pula.

Dua konsekuensi ayat ini disebut terpisah untuk dua alam berbeda, (خِزْيٌ, khizyun, "kehinaan") dari akar yang berarti hina dan terhinakan untuk dunia, dan (عَذَابٌ عَظِيمٌ, 'adzaabun 'azhiimun, "azab yang agung") untuk akhirat. Ini bukan pengulangan hukuman yang sama disebut dua kali, melainkan dua jenis konsekuensi berbeda untuk dua waktu yang berbeda pula.

Perhatikan juga kata (يُذْكَرَ, yudzkara, "disebut"), dari akar yang berarti mengingat atau menyebut. Yang dilarang bukan kehadiran fisik di tempat itu semata, melainkan disebutnya nama Allah di dalamnya, tindakan mengingat dan menyebut itu sendiri yang dihalangi. Ini menempatkan inti pelanggarannya bukan pada bangunan sebagai objek, melainkan pada penyebutan dan pengingatan yang seharusnya terjadi di dalamnya. Kata penunjuk (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika, "mereka itu") yang membuka kalimat berikutnya menandai kelompok ini secara khusus, memisahkan mereka dari pembahasan umum sebelumnya sebagai golongan tersendiri yang dikenai konsekuensi yang disebut sesudahnya.

Tafsiran

Ayat ini menuduh sebuah kejahatan yang menyandingkan dua tindakan sekaligus, menghalangi ibadah secara pasif dan berusaha meruntuhkan secara aktif. Kombinasi ini yang membuatnya masuk kategori paling zalim, bukan salah satu tindakan saja, melainkan keduanya berjalan bersama.

Formula siapa yang lebih zalim ini bukan sekali pakai dalam surah ini, ia akan dipakai lagi tak lama lagi di 2:140, kali ini untuk menyembunyikan kesaksian. Membaca kedua kemunculan yang berdekatan ini memperlihatkan bahwa Al-Qur'an memakai formula yang sama untuk menandai kategori kejahatan yang berbeda-beda sebagai sama-sama puncak, bukan menyusun satu daftar peringkat tunggal yang saling bersaing.

Ayat ini menutup dengan dua konsekuensi yang dipisahkan menurut waktunya, kehinaan yang dirasakan sekarang, di dunia, dan azab yang jauh lebih besar yang menunggu di akhirat. Pemisahan ini menegaskan bahwa kehinaan duniawi bukan hukuman penuh, ia baru bagian pertama, dan bagian yang jauh lebih berat masih menunggu di waktu yang belum tiba.

Inti pelanggaran yang dituduhkan ayat ini bukan pada bangunan sebagai objek fisik, melainkan pada penyebutan dan pengingatan yang dihalangi terjadi di dalamnya. Menghalangi sebuah bangunan berbeda dari menghalangi sesuatu yang seharusnya diucapkan dan diingat di dalamnya, dan ayat ini secara spesifik menuduh yang kedua, bukan sekadar penguasaan atas ruang.

Renungan dan Hikmah

  • Formula siapa yang lebih zalim di ayat ini bukan cuma dipakai sekali dalam Al-Qur'an, ia dipakai berulang untuk kategori kejahatan yang berbeda-beda, menyembunyikan kesaksian, mengada-adakan kebohongan, berpaling dari peringatan, dan di sini, menghalangi tempat ibadah. Menyadari bahwa formula yang sama menandai banyak kategori berbeda sebagai sama-sama puncak mengubah cara membacanya, bukan satu daftar peringkat yang saling bersaing, melainkan penegasan berulang bahwa tiap kategori ini sama-sama serius di bidangnya sendiri. Kejahatan yang digambarkan di sini spesifik, dan yang membuatnya spesifik justru kata sambungnya: bukan melarang tempat ibadah dipakai untuk mengingat Allah, bukan pula berusaha merobohkannya, melainkan keduanya pada pihak yang sama, dan yang terhalang oleh keduanya orang lain, bukan pelakunya sendiri.
  • Ayat ini tidak berhenti pada satu tindakan, ia menyandingkan melarang secara pasif dengan berusaha meruntuhkan secara aktif. Ada perbedaan tingkat antara menahan sesuatu terjadi dengan aktif berusaha melenyapkannya, dan ayat ini menyebut keduanya berjalan bersama pada pihak yang dituduhnya. Kombinasi inilah yang mengangkatnya ke kategori paling zalim, bukan salah satu tindakan saja yang berdiri sendiri.
  • Kata yang dipakai untuk tempat ibadah di ayat ini berbentuk jamak, bukan menunjuk satu tempat tertentu saja. Bentuk jamak ini membuat prinsip ayat ini berlaku umum, pada tempat mana pun nama Allah disebut dan dihalangi, bukan terbatas pada satu lokasi bersejarah. Membaca ayat ini sebagai kecaman yang hanya berlaku pada satu tempat akan mempersempit cakupannya yang sebenarnya jauh lebih luas, sebab yang dituduh bukan permusuhan terhadap satu bangunan, melainkan terhadap prinsip yang berlaku pada bangunan mana pun yang berfungsi serupa.
  • Ayat ini menyatakan bahwa mereka yang dituduhnya tidak pantas memasuki tempat itu kecuali dalam keadaan takut, sebuah pembalikan yang tajam. Tempat yang mereka jauhkan dari ketenangan orang lain kini disebut sebagai tempat yang tak lagi bisa mereka masuki dengan tenang pula. Ada semacam keadilan struktural dalam pembalikan ini, sesuatu yang dirampas dari orang lain berbalik menjadi sesuatu yang tak lagi tersedia bagi yang merampasnya. Konkretnya: menghalangi orang lain beribadah atau mempraktikkan keyakinannya (bahkan yang berbeda dari kita) disebut sebagai salah satu bentuk kezaliman terbesar, sebuah prinsip yang mendukung kebebasan beribadah secara luas, bukan sempit pada kelompok sendiri.
  • Ayat ini tidak menyebut satu hukuman yang diulang, ia menyebut dua konsekuensi berbeda untuk dua waktu yang berbeda, kehinaan sekarang dan azab yang jauh lebih besar kemudian. Pemisahan ini penting, kehinaan yang dialami di dunia bukan akhir dari cerita, ia baru bagian pertama dari sesuatu yang jauh lebih berat masih menunggu. Membaca ayat ini seolah kehinaan duniawi sudah cukup sebagai hukuman akan melewatkan bagian kedua yang justru disebut lebih besar.
  • Ayat ini bukan kemunculan terakhir dari formula siapa yang lebih zalim dalam surah ini, ia akan muncul lagi tak lama kemudian untuk kejahatan yang sama sekali berbeda, menyembunyikan kesaksian. Pembaca yang memperhatikan pengulangan ini akan menemukan bahwa surah ini sedang membangun sebuah daftar kejahatan yang beragam bentuknya, tapi disatukan oleh cara yang sama untuk menandainya sebagai sama-sama serius.