وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan milik Allah timur dan barat. Maka ke mana pun kalian menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah luas lagi berilmu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُwa-li-llaahi l-masyriqu wa-l-maghribudan milik Allah timur dan barat
  2. فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِfa-aynamaa tuwalluu fa-tsamma wajhu llaahimaka ke mana pun kalian menghadap, di sanalah wajah Allah
  3. إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌinna llaaha waasi'un 'aliimunsesungguhnya Allah luas lagi berilmu

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
  2. الْمَشْرِقُl-masyriqutimur
  3. وَالْمَغْرِبُwa-l-maghribudan barat
  4. فَأَيْنَمَاfa-aynamaamaka ke mana pun
  5. تُوَلُّواtuwalluukalian menghadapkan
  6. فَثَمَّfa-tsammamaka di sanalah
  7. وَجْهُwajhuwajah
  8. اللَّهِllaahiAllah
  9. إِنَّinnasesungguhnya
  10. اللَّهَllaahaAllah
  11. وَاسِعٌwaasi'unMahaluas
  12. عَلِيمٌ'aliimunberilmu

Inti bacaan

'Ke mana pun kalian menghadap, di sanalah wajah Allah', pernyataan yang membebaskan dari kekakuan bahwa kehadiran Ilahi terbatas pada arah/tempat tertentu saja. Konkretnya: kesadaran akan kehadiran Allah tidak terbatas pada momen ritual formal di tempat tertentu, bisa dan seharusnya hadir di mana pun dan kapan pun, memperluas ruang spiritualitas ke seluruh aktivitas harian, bukan hanya saat menghadap kiblat secara formal.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْمَشْرِقُ, al-masyriqu) berarti "timur", dari akar yang bermakna terbit, dan (الْمَغْرِبُ, al-maghribu) berarti "barat", dari akar yang bermakna terbenam. Pasangan ini menyebut dua ujung pergerakan matahari untuk mencakup keseluruhan arah, sama seperti "langit dan bumi" di 2:107 menyebut dua kutub untuk mencakup keseluruhan ciptaan. Ini bukan menyebut dua titik kompas semata, melainkan cara Al-Qur'an menyatakan totalitas lewat dua batasnya.

Kata (تُوَلُّوا, tuwalluu) berarti "kalian menghadap", dari akar yang berarti dekat dan mengurus, akar yang sama dengan (وَلِيّ, waliyy) berarti "pelindung" di 2:107. Di sana akar ini berarti kedekatan yang mengurus, di sini bentuknya berarti mengarahkan diri, berpaling menghadap ke suatu arah. Dua makna dari akar yang sama, kedekatan yang mengurus dan arah yang dituju, saling berdekatan maknanya, sesuatu yang dekat sering kali juga sesuatu yang dihadapi.

Frasa (وَجْهُ اللَّهِ, wajhu llaah) berarti "wajah Allah", dari akar yang berarti wajah dan arah, akar yang sama dengan (وَجْهَهُ, wajhahu) berarti "wajahnya" di 2:112, "menyerahkan wajahnya kepada Allah". Frasa "wajah Allah" sendiri cuma muncul 5 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 2:272, 30:38, 30:39, dan 76:9. Di 2:272 dan 76:9, frasa ini dipakai untuk "mencari wajah Allah", motif memberi tanpa mengharap balasan dari manusia. Di ayat ini arahnya terbalik, bukan manusia yang mencari wajah Allah, melainkan wajah Allah yang disebut hadir di mana pun manusia menghadap.

Penutup ayat ini, (وَاسِعٌ عَلِيمٌ, waasi'un 'aliimun) berarti "Maha Luas lagi Maha Mengetahui", pasangan yang muncul 7 kali di Al-Qur'an: di ayat ini, tiga di antaranya nanti dalam surah ini sendiri di 2:247, 2:261, dan 2:268, lalu di 3:73, 5:54, dan 24:32. Kata (وَاسِعٌ, waasi'un) dari akar yang berarti luas atau tak terbatas menjawab langsung soal arah yang baru dibahas, jika Dia luas tanpa batas, tidak ada satu arah pun yang bisa membatasi kehadiran-Nya.

Kata (ثَمَّ, tsamma) berarti "di sana", sebuah kata penunjuk tempat yang menegaskan kehadiran langsung, bukan sekadar kedekatan. Susunan kalimat ini, "ke mana pun kalian menghadap, di sanalah wajah Allah", menempatkan syarat dan akibatnya berdekatan tanpa jeda, seolah tidak ada celah waktu atau jarak antara arah yang dipilih dengan kehadiran yang menyertainya. Kata (أَيْنَمَا, aynamaa) berarti "ke mana pun", sebuah kata syarat yang mencakup segala kemungkinan arah tanpa pengecualian, memperkuat apa yang sudah dinyatakan lewat pasangan timur dan barat di awal ayat, sehingga cakupannya ditegaskan dua kali dengan cara yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini menjawab kekhawatiran yang mungkin tersisa dari 2:114, jika ada yang berusaha menghalangi atau meruntuhkan tempat ibadah, apakah itu berarti membatasi Allah pada tempat tertentu? Ayat ini menjawab tegas, tidak, sebab timur dan barat, dua ujung yang mencakup segala arah, keduanya milik-Nya.

Ayat ini juga menggemakan 2:112, tapi dari arah yang berlawanan. Di sana, manusia diminta menyerahkan wajahnya kepada Allah. Di sini, wajah Allah sendiri yang disebut hadir di mana pun manusia menghadap. Dua ayat yang berjarak, memakai kata yang sama, seolah bertemu dari dua arah, penyerahan manusia dan kehadiran Allah bertemu di titik yang sama, ke mana pun arah itu menghadap.

Penutupnya, luas dan berilmu, menjawab dua sisi sekaligus. Luas menjawab soal ruang, tidak ada arah yang berada di luar jangkauan-Nya. Berilmu menjawab soal ketulusan, Dia tahu ke mana dan mengapa seseorang menghadap, bukan cuma tahu bahwa seseorang menghadap ke suatu arah.

Ayat ini juga memberi dasar bagi pembahasan arah kiblat yang akan muncul di ayat-ayat berikutnya dalam surah ini. Sebelum arah tertentu ditetapkan sebagai kiblat, prinsip yang diletakkan lebih dulu adalah bahwa penetapan arah itu bukan karena Allah terbatas pada satu arah, melainkan soal ketaatan dan kesatuan arah bersama. Urutan ini penting, ketetapan tentang arah tertentu datang sesudah, bukan sebelum, penegasan bahwa segala arah pada dasarnya milik-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Menyebut timur dan barat bukan menyebut dua arah tertentu di antara banyak arah, ia cara menyatakan bahwa seluruh arah tercakup, dengan menunjuk dua batasnya. Cara menyatakan totalitas seperti ini, lewat dua ujung, bukan lewat daftar yang merinci semuanya, adalah pola yang membuat sebuah klaim menyeluruh tanpa perlu menyebutkan setiap kemungkinan satu per satu. Pola yang sama akan ditemukan lagi kalau memperhatikan cara Al-Qur'an menyatakan klaim luas lainnya, selalu lewat dua ujung yang berlawanan, bukan lewat perincian yang tak berkesudahan. Pasangan itu (الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ) muncul di dua ayat, dan dua-duanya di surah ini: di sini dan di 2:142. Yang kedua adalah jawaban atas pertanyaan orang yang mempersoalkan perpindahan kiblat. Jadi kalimat yang sama dipakai dua kali dalam satu rangkaian pembicaraan tentang arah, sekali sebelum perkaranya muncul dan sekali sesudahnya.
  • Kata untuk menghadap di ayat ini berasal dari akar yang sama dengan kata untuk pelindung yang muncul beberapa ayat sebelumnya. Kedekatan dua makna ini, sesuatu yang mengurus dari dekat dan sesuatu yang dihadapi, terasa bukan kebetulan, seolah bahasa sendiri sudah menyimpan hubungan antara ke mana seseorang menghadap dengan siapa yang dianggap dekat dan mengurusnya. Menemukan hubungan semacam ini lewat akar kata, bukan lewat penjelasan eksplisit, memberi kepuasan tersendiri, seolah teksnya sendiri diam-diam menautkan dua gagasan yang di permukaan tampak tak berkaitan.
  • Di tempat lain, wajah Allah adalah sesuatu yang dicari lewat pemberian yang tulus, tanpa mengharap balasan. Di ayat ini, arahnya terbalik, bukan manusia yang mencari, melainkan wajah itu sendiri yang sudah hadir di mana pun manusia menghadap. Membaca kedua arah ini bersamaan memberi gambaran yang lebih utuh, pencarian yang tulus dan kehadiran yang sudah ada lebih dulu ternyata dua sisi dari hal yang sama.
  • Ayat ini dan ayat tentang menyerahkan wajah beberapa waktu sebelumnya memakai kata yang sama tapi dari arah berbeda, satu tentang wajah manusia yang diserahkan, satu tentang wajah Allah yang hadir. Menemukan dua ayat yang saling menjawab dari dua arah seperti ini memberi kesan bahwa keduanya sengaja diletakkan berdekatan, penyerahan dan kehadiran, seolah dua gerakan yang bertemu di tengah.
  • Ayat ini ditutup dengan dua sifat, bukan satu, dan keduanya menjawab kekhawatiran yang berbeda. Luas menjawab kekhawatiran tentang ruang, apakah ada arah yang di luar jangkauan-Nya. Mengetahui menjawab kekhawatiran yang lebih halus, apakah niat di balik arah yang dipilih itu diperhatikan atau tidak. Dua penutup ini bersama-sama menutup dua celah keraguan yang berbeda, bukan mengulang penegasan yang sama dua kali. Pasangan sifat penutupnya (وَاسِعٌ عَلِيمٌ) muncul di tujuh ayat, dan empat di antaranya di surah ini: 2:115, 2:247, 2:261, dan 2:268. Apa yang menyatukan keempatnya? Tiga dari empat berkaitan dengan pemberian yang dilipatgandakan atau dengan kerajaan yang diberikan kepada orang yang tak diduga. Keluasan dan pengetahuan disebut berpasangan justru di tempat manusia sedang menghitung dengan ukurannya sendiri.
  • Ayat ini datang sesudah kecaman keras terhadap yang menghalangi tempat ibadah, tapi ia tidak berhenti pada kecaman itu, ia melangkah lebih jauh dengan membebaskan kehadiran Allah dari ketergantungan pada satu tempat mana pun. Sebuah tempat bisa dihalangi atau diruntuhkan, tapi arah yang dituju tidak pernah benar-benar bisa dibatasi, sebab arah itu sendiri, ke mana pun ia menghadap, tetap membawa kepada yang sama.