بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Dan apabila Dia menetapkan suatu perkara, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah,” maka jadilah ia.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِbadii'u s-samaawaati wa-l-ardhipencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya
  2. وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًاwa-idzaa qadhaa amrandan apabila Dia menetapkan suatu perkara
  3. فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُfa-innamaa yaquulu lahu kun fa-yakuunuDia hanya berkata kepadanya, jadilah, maka jadilah ia

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. بَدِيعُbadii'uPencipta
  2. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  3. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  4. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  5. قَضَىٰqadhaamemutuskan
  6. أَمْرًاamranurusan
  7. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
  8. يَقُولُyaquuluberkata
  9. لَهُlahubaginya
  10. كُنْkunjadilah
  11. فَيَكُونُfa-yakuunumaka jadilah ia

Inti bacaan

'Berkata Jadilah, maka jadilah' menggambarkan penciptaan tanpa hambatan proses, kekuasaan yang tidak memerlukan usaha bertahap seperti makhluk. Konkretnya: perbandingan ini mengingatkan batas kapasitas manusia, usaha bertahap, proses, dan waktu adalah bagian dari kondisi makhluk, bukan kelemahan yang perlu dikeluhkan; hanya Pencipta yang bekerja tanpa proses semacam itu.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بَدِيعُ, badii'u) berarti "pencipta tanpa contoh sebelumnya", dari akar yang bermakna mengadakan sesuatu tanpa pola atau model yang sudah ada lebih dulu. Akar ini termasuk yang jarang, cuma muncul 4 kali di Al-Qur'an: di ayat ini, lalu di 6:101, 46:9, dan 57:27. Frasa pembuka ayat ini, (بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, badii'u s-samaawaati wa-l-ardhi), muncul persis sama di 6:101, dan di sana langsung disambung dengan argumen eksplisit, "bagaimana mungkin Dia punya anak, padahal Dia tidak punya pasangan?" Ayat itu menyingkap logika yang tersirat di balik penyandingan ayat ini dengan ayat sebelumnya, Dia yang mengadakan tanpa pola dan tanpa pasangan tidak mungkin mempunyai keturunan lewat proses yang lazim.

Kata (قَضَىٰ, qadhaa) berarti "menetapkan", dari akar yang berarti memutuskan dan menuntaskan. Akar itu membawa makna keputusan yang final dan tidak bisa dibantah lagi. Objeknya, (أَمْرًا, amran, "suatu perkara"), tidak dibatasi jenisnya, berlaku pada perkara apa pun, bukan cuma soal penciptaan langit dan bumi yang baru disebut.

Frasa penutup, (كُنْ فَيَكُونُ, kun fa-yakuunu) berarti "Jadilah, maka jadilah", adalah formula yang muncul 8 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 3:47, 3:59, 6:73, 16:40, 19:35, 36:82, dan 40:68. Yang paling relevan bagi rangkaian ayat ini, 3:59, memakai formula yang sama persis untuk menjelaskan penciptaan Isa, "perumpamaan Isa di sisi Allah seperti Adam, diciptakan dari tanah lalu dikatakan kepadanya, Jadilah, maka jadilah ia." Ayat itu memakai formula yang sama untuk menegaskan bahwa Isa diciptakan lewat perintah, sama seperti Adam, bukan lewat proses keturunan yang dituduhkan di ayat sebelumnya.

Kata (إِنَّمَا, innamaa) berarti "hanya", sebuah penegas yang membatasi. Ayat ini menyatakan bahwa Dia hanya berkata, tidak ada proses lain yang menyertai, tidak ada bahan, tidak ada perantara, tidak ada tahapan. Kesederhanaan cara ini kontras dengan proses kelahiran yang dituduhkan ayat sebelumnya, yang secara alami membutuhkan tahapan, bahan, dan pasangan.

Kata (يَكُونُ, yakuunu) dan (كُنْ, kun) berasal dari akar yang sama, yang berarti menjadi atau ada. Perintah dan hasilnya memakai kata yang sama persis, hanya berbeda bentuk, seolah antara yang diperintahkan dan yang terjadi tidak ada jarak sama sekali, bukan proses yang berjalan dari sebab menuju akibat dalam rentang waktu, melainkan perintah yang seketika menjadi kenyataannya sendiri. Bahkan bentuk kata kerjanya menunjukkan hal serupa, kun berbentuk perintah dan yakuun berbentuk yang sedang terjadi, disandingkan tanpa jeda dalam satu tarikan kalimat yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menjawab klaim di ayat sebelumnya bukan lewat sanggahan langsung tambahan, melainkan lewat penjelasan tentang bagaimana Allah sesungguhnya menciptakan. Kata pencipta tanpa contoh sebelumnya menegaskan bahwa Dia mengadakan tanpa pola yang sudah ada, dan 6:101 menyingkap logikanya secara eksplisit, tanpa pasangan, tidak ada proses biologis yang mungkin menghasilkan anak.

Formula jadilah, maka jadilah yang menutup ayat ini bukan cuma soal penciptaan pada umumnya, ia formula yang sama persis dipakai di 3:59 untuk menjelaskan penciptaan Isa, tokoh yang klaim keanakannya kepada Allah ditolak di ayat sebelumnya. Isa diciptakan lewat perintah yang sama seperti Adam, bukan lewat keturunan. Ayat ini secara tidak langsung menjawab pertanyaan yang mungkin muncul sesudah penolakan di ayat sebelumnya, kalau bukan lewat keturunan, lalu bagaimana sesuatu seperti Isa bisa ada? Jawabannya, lewat perintah yang sama yang menciptakan segala sesuatu.

Ayat ini juga menegaskan kesederhanaan cara Allah menciptakan, hanya sebuah perkataan, tanpa bahan, tanpa perantara, tanpa tahapan. Kesederhanaan ini kontras tajam dengan proses kelahiran yang secara alami membutuhkan pasangan dan tahapan, sekali lagi menutup kemungkinan bahwa klaim keanakan itu bisa dipahami secara harfiah.

Dua ayat ini, tentang penolakan klaim anak dan tentang cara penciptaan yang sesungguhnya, bersama-sama membentuk satu argumen yang utuh. Yang satu menyatakan apa yang tidak benar, yang lain menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi, dan keduanya saling menopang, penjelasan tentang cara penciptaan membuat penolakan pada ayat sebelumnya bukan sekadar bantahan, melainkan penjelasan yang punya dasar.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut Allah sebagai yang mengadakan tanpa pola sebelumnya, dan di tempat lain, sifat yang sama disandingkan langsung dengan pertanyaan retoris tentang ketiadaan pasangan. Menyadari hubungan ini membuat penolakan terhadap klaim keanakan bukan sekadar pernyataan yang berdiri sendiri, ia mengikuti logis dari sifat penciptaan-Nya sendiri, yang tak berpola dan tak berpasangan tidak mungkin menghasilkan keturunan lewat cara yang lazim dipahami.
  • Cara Allah menciptakan yang disebut ayat ini, cukup dengan berkata, sangat berbeda dari proses kelahiran yang membutuhkan pasangan, tahapan, dan waktu. Kontras ini bukan kebetulan, ia menempatkan cara penciptaan yang sesungguhnya berhadapan langsung dengan cara yang dituduhkan pada ayat sebelumnya. Satu cara sederhana dan seketika, satu cara yang secara alami membutuhkan proses panjang, dan ayat ini menegaskan yang mana yang sesungguhnya berlaku.
  • Formula yang menutup ayat ini bukan formula umum belaka, ia dipakai di tempat lain secara spesifik untuk menjelaskan penciptaan Isa, disamakan dengan penciptaan Adam. Ini memberi jawaban langsung atas pertanyaan yang mungkin tersisa sesudah penolakan klaim keanakan, keberadaan Isa dijelaskan lewat perintah yang sama yang menciptakan Adam, bukan lewat hubungan keturunan yang dituduhkan kepada Allah.
  • Ayat ini tidak mengulang sanggahan dengan kata-kata yang lebih keras, ia memilih menjelaskan cara Allah sesungguhnya menciptakan. Ada perbedaan antara menjawab sebuah klaim dengan membantahnya berulang kali, dengan menjawabnya dengan menunjukkan bagaimana kenyataan yang sesungguhnya bekerja. Ayat ini memilih cara kedua, membiarkan penjelasan tentang penciptaan menggantikan kebutuhan akan bantahan tambahan.
  • Ayat ini menegaskan bahwa penciptaan hanya membutuhkan sebuah perkataan, tanpa bahan, tanpa perantara, tanpa tahapan. Kesederhanaan yang ekstrem ini mudah dilewatkan justru karena terlalu ringkas untuk dibayangkan, padahal di situlah letak bedanya paling tajam dengan segala proses yang dikenal manusia, yang hampir selalu membutuhkan bahan dan waktu. Membayangkan sesuatu terjadi tanpa jeda antara perintah dan kenyataannya menuntut cara berpikir yang berbeda dari pengalaman sehari-hari, yang selalu mengenal jarak antara berniat dan mewujudkan.
  • Perkara yang disebut ayat ini tidak dibatasi jenisnya, berlaku pada perkara apa pun, bukan cuma penciptaan langit dan bumi yang baru disebut sebelumnya. Cakupan yang luas ini mengajak melihat bahwa pola yang sama, hanya perlu dikatakan lalu terjadi, berlaku bukan cuma pada peristiwa penciptaan besar, melainkan pada setiap ketetapan yang dikehendaki-Nya, sekecil atau sebesar apa pun itu. Ketetapan besar yang menciptakan langit dan bumi dan ketetapan kecil apa pun yang terjadi kemudian, keduanya tunduk pada mekanisme yang sama persis, tidak ada perkara yang membutuhkan cara berbeda untuk terwujud.