وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۘ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ ۗ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Dan orang-orang yang tidak berilmu berkata, “Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami, atau datang tanda kepada kami?” Demikianlah orang-orang sebelum mereka berkata seperti ucapan mereka. Hati mereka serupa. Sungguh telah Kami jelaskan tanda-tanda bagi kaum yang yakin.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌwa-qaala l-ladziina laa ya'lamuuna lawlaa yukallimunaa llaahu aw ta'tiinaa aayatundan orang-orang yang tidak berilmu berkata, mengapa Allah tidak berbicara dengan kami, atau datang tanda kepada kami
- كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۘ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْka-dzaalika qaala l-ladziina min qablihim mitsla qawlihim, tasyaabahat quluubuhumdemikianlah orang-orang sebelum mereka berkata seperti ucapan mereka, hati mereka serupa
- قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَqad bayyannaa l-aayaati li-qawmin yuuqinuunasungguh telah Kami jelaskan tanda-tanda bagi kaum yang yakin
Terjemahan per kata (24 kata)
- وَقَالَwa-qaaladan berkata
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- لَاlaatidak
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
- لَوْلَاlawlaamengapa tidak
- يُكَلِّمُنَاyukallimunaaberbicara kepada kami
- اللَّهُllaahuAllah
- أَوْawatau
- تَأْتِينَاta'tiinaadatang kepada kami
- آيَةٌaayatuntanda
- كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
- قَالَqaalaberkata
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- مِنْmindari
- قَبْلِهِمْqablihimsebelum mereka
- مِثْلَmitslaseperti
- قَوْلِهِمْqawlihimperkataan mereka
- تَشَابَهَتْtasyaabahatserupa
- قُلُوبُهُمْquluubuhumhati mereka
- قَدْqadsungguh
- بَيَّنَّاbayyannaaKami menjelaskan
- الْآيَاتِl-aayaatitanda-tanda
- لِقَوْمٍli-qawminbagi kaum
- يُوقِنُونَyuuqinuunayakin
Inti bacaan
Tuliskan satu hal yang selama ini kaupakai sebagai syarat sebelum kau mau yakin: sebuah kepastian, sebuah jawaban, sebuah kejadian yang belum kunjung tiba. Lalu daftarkan apa saja yang sudah sampai kepadamu sebelum syarat itu kaususun. Bandingkan panjang kedua daftar. Kalau daftar kedua lebih panjang, syaratmu bukan alat untuk sampai pada keyakinan, melainkan izin untuk menundanya.
Penjelasan pilihan kata
Frasa (الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ, alladziina laa ya'lamuuna) berarti "orang-orang yang tidak berilmu", frasa yang sama persis dipakai di 2:113, lima ayat sebelumnya, tapi di sana sebagai pihak yang menggemakan ucapan Yahudi dan Nasrani. Di ayat ini, merekalah yang pertama mengucapkan tuntutan, dan susunan (كَذَٰلِكَ قَالَ... مِثْلَ قَوْلِهِمْ, kadzaalika qaala... mitsla qawlihim) berarti "demikianlah... berkata seperti ucapan mereka", susunan yang persis sama dengan 2:113, kini dipakai untuk menyebut bahwa orang-orang sebelum mereka mengucapkan hal serupa. Peran bertukar antara kedua ayat, tapi pola yang sama tetap berulang.
Kata (لَوْلَا, lawlaa) berarti "mengapa tidak", sebuah partikel yang membawa nada menuntut, bukan pertanyaan murni melainkan keluhan yang dibungkus tanya. Kata (يُكَلِّمُنَا, yukallimunaa) berarti "berbicara dengan kami", dari akar yang berarti berbicara, bentuk yang menuntut komunikasi verbal langsung dari Allah, sesuatu yang jauh lebih personal daripada sekadar meminta tanda.
Frasa (تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ, tasyaabahat quluubuhum) berarti "hati mereka serupa", dari akar yang berarti menyerupai. Akar itu muncul 9 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 2:25, 2:70, dan 3:7. Bentuk kata kerja di sini menunjukkan kesalingan, hati-hati itu menyerupai satu sama lain melintasi generasi, bukan cuma kebetulan berpikir sama pada satu masa.
Frasa (بَيَّنَّا الْآيَاتِ, bayyannaa l-aayaati) berarti "telah Kami jelaskan tanda-tanda", dari akar yang berarti jelas dan memisahkan, berdiri berlawanan langsung dengan tuntutan mereka, (تَأْتِينَا آيَةٌ, ta'tiinaa aayatun, "datang tanda kepada kami"). Mereka meminta tanda baru datang, padahal tanda-tanda sudah dijelaskan lebih dulu. Penutup ayat ini, (لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ, li-qawmin yuuqinuuna) berarti "bagi kaum yang yakin", memakai akar yang sama, yang berarti yakin, dengan 2:4, di pembuka surah ini, yang menggambarkan orang bertakwa sebagai mereka yang yakin pada yang gaib tanpa menuntut bukti langsung. Ayat ini menutup lingkaran itu, kejelasan sebuah tanda bukan cuma soal tanda itu sendiri, melainkan soal kesiapan hati yang menerimanya.
Kata (قَدْ, qad) di awal kalimat terakhir menandai kepastian sesuatu yang sudah terjadi, dipasangkan dengan bentuk lampau (بَيَّنَّا, bayyannaa, "telah Kami jelaskan"). Susunan ini menegaskan bahwa penjelasan tanda-tanda bukan sesuatu yang akan terjadi kelak, ia sudah selesai dilakukan sebelum tuntutan di awal ayat ini diucapkan. Urutan waktu yang dibalik seperti ini, jawabannya sudah ada sebelum pertanyaannya diajukan, menjadi inti dari kontras yang dibangun ayat ini secara keseluruhan.
Tafsiran
Ayat ini mengulang pola yang baru saja ditegakkan di 2:113, memakai susunan kalimat yang hampir identik, demikianlah, berkata seperti ucapan mereka. Bedanya, di 2:113, orang yang tidak berilmu menggemakan ucapan Yahudi dan Nasrani, di sini merekalah yang mengucapkan tuntutan, dan yang menggemakannya adalah orang-orang sebelum mereka. Peran saling bertukar, tapi pola yang sama tetap berulang, hati yang serupa melintasi generasi menuntut hal yang serupa pula.
Tuntutan mereka dijawab dengan kontras yang tajam, bukan penolakan langsung, melainkan penegasan bahwa yang mereka minta sudah ada. Telah Kami jelaskan tanda-tanda menjawab datangkanlah tanda kepada kami, bukan dengan mendatangkan tanda baru, melainkan menunjuk bahwa tanda yang diminta sudah tersedia sejak sebelum diminta.
Penutup ayat ini, kaum yang yakin, memakai akar kata yang sama dengan pembuka surah ini, yang menggambarkan orang bertakwa sebagai mereka yang yakin pada yang gaib tanpa menuntut bukti langsung. Ayat ini menutup lingkaran itu, kejelasan sebuah tanda bukan cuma soal tanda itu sendiri, melainkan soal kesiapan hati yang menerimanya, sifat yang sudah disebut sejak baris-baris pertama surah ini.
Penjelasan tanda-tanda itu sendiri juga disebut dalam bentuk lampau yang sudah selesai, bukan sesuatu yang dijanjikan akan datang. Urutan waktu yang terbalik ini, jawaban yang sudah tersedia sebelum pertanyaan diajukan, memberi bobot tersendiri pada ayat ini, tuntutan yang diucapkan di awal sebenarnya sudah terjawab sebelum sempat diucapkan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini dan 2:113 memakai susunan kalimat yang hampir identik, tapi dengan peran yang bertukar, satu kali orang tak berilmu menggemakan ucapan pihak lain, satu kali mereka yang diikuti oleh orang-orang sebelumnya. Pertukaran peran ini justru memperkuat pesannya, pola saling menuntut dan menggemakan tanpa dasar bukan milik satu pihak tertentu, ia bisa berpindah peran dari satu generasi ke generasi lain sambil tetap mempertahankan bentuknya.
- Pertanyaan yang diajukan dalam ayat ini bukan pertanyaan yang mencari jawaban, ia keluhan yang dibungkus dalam bentuk tanya, mengapa tidak Allah berbicara langsung. Ada perbedaan antara bertanya untuk memahami dengan menuntut sesuatu lewat nada bertanya, dan ayat ini menangkap yang kedua, sebuah tuntutan yang menyamar sebagai keheranan. Bentuk pertanyaan semacam ini sering kali lebih sulit dijawab daripada tuntutan terang-terangan, sebab ia berlagak mencari penjelasan padahal sesungguhnya sudah menetapkan kesimpulannya sendiri lebih dulu.
- Tuntutan 'mengapa Allah tidak berbicara langsung dengan kita' dijawab dengan observasi bahwa 'hati mereka serupa' dengan generasi sebelumnya yang menuntut hal sama, pola tuntutan-bukti berlebihan berulang lintas generasi. Kesamaan yang disebut ayat ini bukan kesamaan kebetulan dalam satu masa, ia kesamaan yang melintasi generasi, hati yang jauh terpisah waktu ternyata menyerupai satu sama lain dalam cara menuntut hal yang sama. Menyadari bahwa sebuah pola sikap bisa berulang tanpa perlu hubungan langsung antar pelakunya memberi gambaran tentang bagaimana kecenderungan tertentu bisa muncul berulang tanpa disengaja diwariskan.
- Tuntutan dalam ayat ini meminta sesuatu datang, padahal ayat ini menegaskan sesuatu itu sudah dijelaskan lebih dulu, dalam bentuk waktu yang sudah selesai, bukan yang akan datang. Ada perbedaan besar antara sesuatu yang memang belum ada dengan sesuatu yang sudah ada tapi belum disadari keberadaannya. Ayat ini menempatkan tuntutan itu pada kategori kedua, bukan kekurangan pada apa yang tersedia, melainkan kekurangan pada kesiapan melihatnya. Konkretnya: tuntutan bukti supranatural langsung (alih-alih memperhatikan tanda-tanda yang sudah 'dijelaskan dengan gamblang') adalah pola manusia yang berulang, periksa apakah aku sudah benar-benar memperhatikan bukti yang sudah tersedia sebelum menuntut bukti yang lebih spektakuler.
- Kata yang menutup ayat ini bukan kata baru dalam surah ini, ia sudah muncul di baris-baris pertama, menggambarkan sifat orang yang yakin pada yang gaib tanpa menuntut bukti langsung. Menemukan bahwa kata penutup sebuah ayat di tengah surah menggemakan kata pembukanya memberi kesan bahwa surah ini sedang menutup sebuah lingkaran, kembali pada sifat yang sama yang sudah ditetapkan sejak awal.
- Ayat ini tidak menyatakan bahwa tanda-tanda itu tidak jelas, ia menyatakan tanda-tanda itu sudah dijelaskan, tapi khusus bagi kaum yang yakin. Kejelasan sebuah tanda ternyata bukan cuma soal seberapa terang tanda itu sendiri, melainkan juga soal kesiapan hati yang melihatnya. Dua orang bisa melihat tanda yang sama, dan hanya satu yang benar-benar melihatnya sebagai sesuatu yang jelas, bergantung pada kesiapan yang dibawanya sebelum melihat, kesiapan yang sudah terbentuk jauh sebelum tanda itu dihadapi.