الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan siapa yang kufur kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِalladziina aataynaahumu l-kitaaba yatluunahu haqqa tilaawatihiorang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya
- أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِulaa'ika yu'minuuna bihimereka itu beriman kepadanya
- وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَwa-man yakfur bihi fa-ulaa'ika humu l-khaasiruunadan siapa yang kufur kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi
Terjemahan per kata (15 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- آتَيْنَاهُمُaataynaahumuKami beri mereka
- الْكِتَابَl-kitaabaKitab
- يَتْلُونَهُyatluunahumereka membacanya
- حَقَّhaqqabenar
- تِلَاوَتِهِtilaawatihimembacanya
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
- بِهِbihipadanya
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يَكْفُرْyakfurkafir
- بِهِbihipadanya
- فَأُولَٰئِكَfa-ulaa'ikamaka mereka itu
- هُمُhumumerekalah
- الْخَاسِرُونَl-khaasiruunaorang-orang yang rugi
Inti bacaan
Kriteria 'membaca dengan bacaan yang sebenar-benarnya' (haqqa tilaawatih) menyiratkan bahwa membaca teks suci bukan sekadar melafalkan, melainkan memahami dan menjalankan maknanya secara jujur. Konkretnya: kualitas membaca/mempelajari sebuah teks penting diukur bukan dari seberapa sering diulang, tapi seberapa dalam maknanya diserap dan dijalankan, sebuah standar yang berlaku pada teks suci maupun pembelajaran apa pun.
Penjelasan pilihan kata
Frasa (آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ, aataynaahumu l-kitaaba) berarti "telah Kami beri mereka Kitab", dari akar yang berarti memberi atau mendatangkan dan yang berarti menulis atau catatan. Ayat ini membuka dengan menegaskan bahwa Kitab itu sendiri adalah pemberian, sesuatu yang datang dari luar diri mereka, bukan sesuatu yang mereka susun sendiri. Menempatkan sumber Kitab sebagai pemberian sebelum berbicara tentang cara membacanya menegaskan bahwa yang dibaca punya asal yang jelas, bukan sekadar teks yang beredar tanpa asal-usul.
Frasa (يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ, yatluunahu haqqa tilaawatihi) berarti "mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya", dari akar yang berarti membaca atau mengikuti bacaan dipasangkan dengan akar yang berarti benar dan pasti dalam susunan "haqqa X-ihi" yang berarti melakukan X dengan sebenar-benarnya. Susunan yang sama persis dipakai di 3:102, "bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya". Pola linguistik yang sama dipakai untuk menekankan dua tindakan berbeda, membaca dan bertakwa, sama-sama dituntut dalam bentuknya yang paling sungguh-sungguh, bukan sekadar dilakukan seadanya.
Akar yang sama, yang berarti mengikuti dan membaca, juga dipakai di 2:113, tentang Yahudi dan Nasrani yang membaca Kitab tapi tetap saling menegasikan satu sama lain. Ayat itu tidak menyebut syarat "haqqa tilaawatihi" yang muncul di ayat ini. Perbedaan ini menyingkap bahwa membaca semata tidak cukup, ada cara membaca yang sebenar-benarnya dan ada yang tidak, dan hanya yang pertama yang ayat ini kaitkan dengan keimanan.
Kata (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna) berarti "mereka beriman", dari akar yang berarti aman dan percaya, berlawanan langsung dengan (يَكْفُرْ, yakfur) berarti "yang kufur", dari akar yang berarti menutupi dan menolak. Ayat ini menyandingkan dua kemungkinan secara berdampingan, tanpa ruang tengah di antaranya.
Kata (الْخَاسِرُونَ, al-khaasiruuna) berarti "orang-orang yang merugi", dari akar yang berarti rugi. Akar itu muncul 60 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 2:27, 2:64, dan 3:85. Kata ini membawa citra kerugian, sebuah metafora transaksional, bukan sekadar menyebut mereka "kafir" atau "sesat". Menyebut kondisi mereka sebagai kerugian menyiratkan ada sesuatu yang seharusnya diperoleh tapi hilang, sesuatu yang sudah berada dalam jangkauan tapi disia-siakan.
Kata penunjuk (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika, "mereka itu") dipakai dua kali dalam ayat ini, sekali untuk yang beriman, sekali untuk yang merugi. Pengulangan kata penunjuk yang sama untuk dua kelompok yang berlawanan menegaskan bahwa ayat ini sedang menunjuk dua golongan yang jelas batasnya, bukan sekadar menyebut sifat secara umum tanpa menegaskan siapa yang dimaksud.
Tafsiran
Ayat ini menetapkan standar bagi pembacaan kitab suci yang berujung pada keimanan sejati, bukan sekadar pembacaan lisan. Standar ini menjawab secara tidak langsung apa yang terjadi di 2:113, di mana membaca kitab ternyata tidak mencegah saling menegasikan, sebab yang dibaca di sana tidak disebut sebagai bacaan yang sebenar-benarnya.
Membaca dengan sebenar-benarnya, jika dibandingkan dengan pola yang sama di 3:102 tentang bertakwa dengan sebenar-benarnya, tampak sebagai standar yang menuntut lebih dari sekadar pelafalan. Ia menuntut sesuatu yang lebih menyeluruh, cara membaca yang membawa pada keimanan, bukan cara membaca yang berhenti pada pengucapan kata demi kata tanpa mengubah apa pun pada yang membacanya.
Penutup ayat ini, menyebut yang kufur sebagai orang yang merugi, bukan sekadar orang yang salah. Pilihan kata ini membingkai penolakan bukan sebagai kesalahan pandangan semata, melainkan sebagai kehilangan sesuatu yang seharusnya bisa diperoleh, sebuah kerugian yang lebih dekat pada penyesalan daripada sekadar ketidaksetujuan.
Ayat ini juga melengkapi rangkaian ayat-ayat sebelumnya tentang Ahli Kitab. Sesudah ayat-ayat yang mengecam sebagian sikap mereka, ayat ini menegaskan bahwa kecaman itu tidak berlaku pada semua, ada di antara mereka yang membaca dengan sebenar-benarnya dan karena itu beriman. Ayat ini menjaga keseimbangan, kritik terhadap sikap tertentu tidak berarti penolakan menyeluruh terhadap semua yang termasuk dalam kelompok itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini membedakan antara membaca dan membaca dengan sebenar-benarnya, dua hal yang di permukaan tampak sama tapi ternyata berbeda jauh dalam hasilnya. Seseorang bisa melafalkan setiap kata dengan tepat tanpa benar-benar membiarkan bacaannya mengubah apa pun pada dirinya, dan ayat ini menandai perbedaan itu sebagai perbedaan yang menentukan, antara pembacaan yang berujung pada keimanan dan yang tidak. Kesungguhan dalam membaca ini bukan soal kecepatan atau kefasihan melafalkan, ia soal sejauh mana yang dibaca benar-benar diserap dan dibiarkan mengubah cara memandang. Rangkaian itu (حَقَّ تِلَاوَتِهِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Lalu bagaimana pembaca tahu apakah bacaannya sudah sampai ke ukuran itu? Ayat ini tidak memberi daftar syarat, dan ketiadaan daftar itu disengaja. Ukuran yang dirinci bisa dipenuhi tanpa mengubah apa pun di dalam diri; ukuran yang cuma disebut namanya menuntut pembacanya memeriksa sendiri, berulang kali, tanpa pernah bisa menyatakan urusannya selesai.
- Susunan kata yang dipakai untuk membaca dengan sebenar-benarnya di ayat ini sama persis dengan susunan yang dipakai di tempat lain untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Menemukan pola bahasa yang sama dipakai untuk dua tindakan berbeda memberi kesan bahwa Al-Qur'an punya cara tersendiri untuk menandai tuntutan kesungguhan, sebuah susunan kata yang berulang setiap kali sesuatu dituntut dilakukan bukan setengah-setengah.
- Beberapa ayat sebelumnya menyebut dua kelompok yang membaca kitab tapi tetap saling menegasikan. Ayat ini, tanpa merujuk langsung, menyingkap sebabnya, membaca yang mereka lakukan bukan bacaan yang sebenar-benarnya. Menemukan jawaban tersirat seperti ini, tanpa ayat ini menyebut ulang kejadian sebelumnya secara eksplisit, memberi kepuasan tersendiri bagi pembaca yang memperhatikan hubungan antar ayat.
- Ayat ini menyandingkan dua kemungkinan secara berdampingan, beriman dan kufur, tanpa ruang tengah yang disebutkan di antaranya. Penyandingan yang tegas ini menegaskan bahwa respons terhadap pembacaan yang sebenar-benarnya bukan sesuatu yang bisa didiamkan begitu saja, ia mengarah pada salah satu dari dua kemungkinan yang jelas berbeda konsekuensinya. Ketiadaan ruang tengah ini juga menyiratkan bahwa membaca dengan sebenar-benarnya secara alami membawa pada satu arah, keimanan, sementara penolakan sesudahnya adalah pilihan yang diambil berlawanan dengan arah alami itu.
- Ayat ini tidak menyebut yang kufur sebagai orang yang salah pandangan, ia menyebut mereka sebagai orang yang merugi, sebuah kata yang membawa citra kehilangan sesuatu yang seharusnya diperoleh. Kerugian berbeda dari kesalahan, kesalahan bisa diperbaiki tanpa rasa kehilangan, sementara kerugian membawa kesan sesuatu yang sudah berada dalam jangkauan tapi disia-siakan begitu saja.
- Ayat ini tidak menyebut identitas kelompok tertentu sebagai penentu keimanan, ia menyebut cara membaca sebagai penentunya. Ini melanjutkan pola yang sudah muncul beberapa ayat sebelumnya, kriteria yang sesungguhnya bukan keanggotaan pada kelompok mana pun, melainkan kesungguhan dalam menjalankan apa yang sudah diberikan, sebuah standar yang berlaku pada siapa pun tanpa memandang dari kelompok mana ia berasal.