وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

Dan takutlah kepada suatu hari ketika tidak ada satu jiwa pun dapat berguna bagi jiwa yang lain sedikit pun, dan tidak akan diterima tebusan darinya, dan tidak akan berguna baginya syafaat, dan mereka tidak akan ditolong.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًاwa-ttaquu yawman laa tajzii nafsun 'an nafsin syay'andan takutlah kepada suatu hari ketika tidak ada satu jiwa pun dapat berguna bagi jiwa yang lain sedikit pun
  2. وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌwa-laa yuqbalu minhaa 'adlun wa-laa tanfa'uhaa syafaa'atundan tidak akan diterima tebusan darinya, dan tidak akan berguna baginya syafaat
  3. وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَwa-laa hum yunsharuunadan mereka tidak akan ditolong

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
  2. يَوْمًاyawmansuatu hari
  3. لَاlaatidak
  4. تَجْزِيtajziiberguna
  5. نَفْسٌnafsunsatu jiwa
  6. عَنْ'andari
  7. نَفْسٍnafsinjiwa
  8. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  9. وَلَاwa-laadan tidak pula
  10. يُقْبَلُyuqbaluditerima
  11. مِنْهَاminhaadarinya
  12. عَدْلٌ'adluntebusan
  13. وَلَاwa-laadan tidak pula
  14. تَنْفَعُهَاtanfa'uhaaberguna baginya
  15. شَفَاعَةٌsyafaa'atunsyafaat
  16. وَلَاwa-laadan tidak pula
  17. هُمْhummereka
  18. يُنْصَرُونَyunsharuunaditolong

Inti bacaan

Peringatan tentang hari di mana 'tidak seorang pun dapat menggantikan orang lain', mengulang tema akuntabilitas personal (lih. 2:48) dengan penekanan berbeda: sistem-sistem pengalihan tanggung jawab (tebusan, syafaat, pertolongan) semua tak berlaku di titik itu. Konkretnya: pengulangan tema ini di berbagai tempat menegaskan pentingnya prinsip tanggung jawab personal, sebuah nilai yang layak diinternalisasi mendalam, bukan sekadar informasi sepintas.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat pembuka ayat ini, (لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا, laa tajzii nafsun 'an nafsin syai'an) berarti "tidak ada satu jiwa pun dapat berguna bagi jiwa yang lain sedikit pun", dari akar yang berarti membalas setimpal, identik persis dengan pembuka 2:48. Kalimat ini menegaskan bahwa pada hari itu, satu jiwa tidak bisa menggantikan atau menanggung apa pun bagi jiwa yang lain.

Kata (عَدْلٌ, 'adlun) berarti "tebusan", dari akar yang berarti adil dan seimbang. Akar itu biasanya bermakna keadilan atau kesetaraan. Di sini kata itu dipakai untuk menunjuk sesuatu yang senilai, yang ditawarkan sebagai ganti, semacam tebusan yang setara dengan apa yang mestinya ditanggung. Kata (شَفَاعَةٌ, syafaa'atun) berarti "syafaat", dari akar yang bermakna dasar menggenapkan atau memasangkan. Memberi syafaat secara harfiah berarti menyandingkan kasus seseorang dengan kasus orang lain, meminjamkan kedudukan untuk menggenapi permohonan yang berdiri sendiri.

Ayat ini nyaris sama persis dengan 2:48, yang menyusul 2:47 seperti ayat ini menyusul 2:122, tapi dengan perbedaan yang halus. Di 2:48, susunannya "tidak diterima syafaat, tidak diambil tebusan", kata kerja (يُقْبَلُ, yuqbalu, "diterima") berpasangan dengan syafaat, kata kerja (يُؤْخَذُ, yu'khadzu, "diambil") berpasangan dengan tebusan. Di ayat ini, susunannya berbalik, "tidak diterima tebusan, tidak berguna syafaat", kata kerja yuqbalu berpindah berpasangan dengan tebusan, dan syafaat mendapat kata kerja yang berbeda, (تَنْفَعُ, tanfa'u, "bermanfaat"). Pertukaran kata kerja seperti ini bukan kebetulan penyalinan, ia menunjukkan naskah yang disusun dengan kesadaran penuh pada kata demi kata, bukan formula yang diulang secara mekanis.

Penutup ayat ini, (لَا هُمْ يُنْصَرُونَ, laa hum yunsharuuna) berarti "mereka tidak akan ditolong", dari akar yang berarti menolong, akar yang sama dengan "penolong" yang berulang di 2:107 dan 2:120, bagian dari pasangan pelindung dan penolong yang sudah dibahas di sana. Di sini bentuknya kata kerja, bukan kata benda, tapi akar yang sama menegaskan tema yang konsisten sepanjang surah ini, pertolongan yang tak lagi tersedia ketika saatnya tiba.

Kata (اتَّقُوا, ittaquu) berarti "takutlah", dari akar yang bermakna dasar menjaga diri, melindungi dari sesuatu yang membahayakan. Perintah ini bukan sekadar meminta rasa takut sebagai emosi, ia meminta sikap berjaga-jaga terhadap sesuatu yang nyata akan terjadi. Kata (يَوْمًا, yawman, "suatu hari") disebut tanpa kata sandang tertentu, hari yang belum tiba tapi sudah pasti akan datang, disebut secara umum tanpa perlu dirinci kapan waktunya.

Tafsiran

Ayat ini menyusul 2:122 persis seperti 2:48 menyusul 2:47, membentuk pola yang sama, kelebihan yang diingatkan lalu hari yang tidak memihak siapa pun diperingatkan. Kelebihan yang disebut di ayat sebelumnya tidak menghapus kenyataan yang diperingatkan ayat ini, keduanya berjalan berdampingan, bukan saling meniadakan.

Ayat ini menyusun empat lapis penolakan bantuan secara berurutan, tidak ada jiwa yang bisa menggantikan jiwa lain, tidak ada tebusan yang diterima, tidak ada syafaat yang berguna, dan tidak ada pertolongan yang datang. Empat lapis ini menutup hampir semua jalan yang biasanya dibayangkan sebagai jalan keluar, digantikan orang lain, ditebus dengan sesuatu yang setara, dibela lewat perantara, atau ditolong secara langsung. Semuanya disebutkan satu per satu, seolah sengaja menutup tiap celah yang mungkin masih diharapkan.

Perbedaan susunan kata kerja dengan 2:48, meski isinya sama-sama menolak tebusan dan syafaat, menunjukkan bahwa pengulangan tema dalam Al-Qur'an tidak berarti pengulangan kata yang identik sampai ke detail terkecil. Naskah ini disusun dengan perhatian pada variasi, bukan formula yang ditempel ulang tanpa perubahan, sebuah kesaksian bagi siapa pun yang membaca dengan cermat bahwa tiap pengulangan tema masih menyimpan sesuatu yang baru untuk diperhatikan.

Perintah takutlah yang membuka ayat ini juga bukan permintaan emosi sesaat, ia permintaan sikap berjaga-jaga terhadap sesuatu yang pasti akan terjadi, meski waktunya tidak dirinci. Kepastian tanpa kepastian waktu ini justru memperbesar bobotnya, sebab kesiapan yang dituntut bukan kesiapan menjelang hari yang sudah diketahui jadwalnya, melainkan kesiapan yang harus dijaga terus-menerus.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menutup empat jalan yang biasanya dibayangkan sebagai jalan keluar, digantikan orang lain, ditebus dengan sesuatu yang setara, dibela lewat perantara, atau ditolong secara langsung. Menyebutkan keempatnya satu per satu, bukan cukup satu penolakan umum, memberi kesan bahwa setiap celah harapan yang mungkin masih dipegang seseorang memang sengaja disebutkan dan ditutup satu demi satu, tidak dibiarkan menggantung sebagai kemungkinan yang belum dijawab.
  • Kata yang dipakai untuk tebusan di ayat ini berasal dari akar yang biasanya berarti keadilan atau kesetaraan. Ironi tersembunyi di sini, sesuatu yang secara bahasa berkaitan dengan kesetaraan justru dinyatakan tidak diterima pada hari itu, seolah menegaskan bahwa tidak ada nilai tukar yang setara untuk menggantikan apa yang harus ditanggung sendiri, betapa pun besar nilai yang ditawarkan sebagai gantinya.
  • Kata yang dipakai untuk syafaat berasal dari akar yang bermakna menggenapkan atau memasangkan, seolah pembelaan adalah tindakan menyandingkan diri dengan kasus orang lain. Pada hari yang disebut ayat ini, penyandingan semacam itu dinyatakan tidak lagi berguna, setiap jiwa berdiri sendiri, tidak lagi bisa digenapkan atau dipasangkan dengan kedudukan siapa pun yang lain. Kesendirian yang mutlak ini kontras dengan bagaimana kehidupan sehari-hari biasa dijalani, selalu ada seseorang yang bisa dimintai bantuan untuk berbicara atau membela, dan ayat ini menyatakan bahwa kebiasaan itu berhenti pada hari tersebut.
  • Perbandingan kata demi kata antara ayat ini dan pasangannya yang lebih awal dalam surah ini menunjukkan pertukaran kata kerja yang halus, bukan pengulangan yang identik. Menemukan variasi sekecil ini di tengah pengulangan tema yang tampak sama memberi kesan bahwa setiap pengulangan dalam Al-Qur'an layak dibaca dengan cermat, sebab detail yang tampak remeh bisa jadi disusun dengan kesadaran yang sama sekali tidak sembarangan.
  • Kata penutup ayat ini berasal dari akar yang sama dengan kata penolong yang berulang di beberapa ayat sebelumnya dalam surah ini. Menemukan akar yang sama muncul lagi di sini, kali ini dalam bentuk kata kerja, memberi kesan bahwa tema tentang pertolongan yang tersedia atau tidak tersedia menjadi salah satu benang yang terus dijalin sepanjang rangkaian ayat-ayat ini, tidak berhenti pada satu tempat saja.
  • Ayat ini menegaskan bahwa pada hari yang disebutnya, kedudukan setiap jiwa berdiri sendiri, tidak bisa dipindahkan, ditebus, dibela, atau ditolong lewat pihak lain. Gambaran ini berbeda jauh dari kebiasaan sehari-hari, yang mengenal begitu banyak cara untuk saling membantu dan menanggung beban bersama. Menyadari bahwa ada satu momen yang tidak mengenal cara-cara itu sama sekali mengubah bagaimana seseorang memandang tanggung jawab yang dipikulnya sendiri sejak sekarang.