وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan ketika Kami menjadikan Rumah itu tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia, dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Dan Kami berjanji dengan Ibrahim dan Ismail, “Sucikanlah Rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, yang bermukim, serta yang rukuk dan sujud.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًاwa-idz ja'alnaa l-bayta matsaabatan li-n-naasi wa-amnandan ketika Kami menjadikan Rumah itu tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia
  2. وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّىwa-ttakhidzuu min maqaami ibraahiima mushallandan jadikanlah sebagian tempat berdiri Ibrahim sebagai tempat salat
  3. وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَwa-'ahidnaa ilaa ibraahiima wa-ismaa'iila an thahhiraa baytiyadan Kami berjanji kepada Ibrahim dan Ismail, sucikanlah Rumah-Ku
  4. لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِli-th-thaa'ifiina wal-'aakifiina wa-r-rukka'i s-sujuudibagi orang-orang yang tawaf, yang bermukim, serta yang rukuk dan sujud

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. وَإِذْwa-idzdan ketika
  2. جَعَلْنَاja'alnaaKami menjadikan
  3. الْبَيْتَl-baytaRumah
  4. مَثَابَةًmatsaabatantempat berkumpul
  5. لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
  6. وَأَمْنًاwa-amnandan aman
  7. وَاتَّخِذُواwa-ttakhidzuudan jadikanlah kalian
  8. مِنْmindari
  9. مَقَامِmaqaamitempat
  10. إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
  11. مُصَلًّىmushallantempat salat
  12. وَعَهِدْنَاwa-'ahidnaadan Kami perintahkan
  13. إِلَىٰilaakepada
  14. إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
  15. وَإِسْمَاعِيلَwa-ismaa'iiladan Ismail
  16. أَنْanyaitu
  17. طَهِّرَاthahhiraasucikanlah kalian berdua
  18. بَيْتِيَbaytiyarumah-Ku
  19. لِلطَّائِفِينَli-th-thaa'ifiinabagi orang-orang yang tawaf
  20. وَالْعَاكِفِينَwal-'aakifiinadan orang-orang yang iktikaf
  21. وَالرُّكَّعِwa-r-rukka'idan orang-orang yang rukuk
  22. السُّجُودِs-sujuudisujud

Inti bacaan

Rumah (Ka'bah) dijadikan 'tempat berkumpul dan tempat yang aman', fungsi sosial (berkumpul) dan fungsi keamanan disebut sejajar dengan fungsi ibadahnya. Konkretnya: tempat ibadah yang sehat idealnya juga menjadi ruang komunitas yang aman dan mempersatukan, bukan sekadar tempat ritual individual yang terpisah dari kehidupan sosial jamaahnya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مَثَابَةً, matsaabatan) berarti "tempat kembali", dari akar yang berarti kembali dan balasan, akar yang sama dengan (ثَوَاب, tsawaab, "pahala"). Tempat yang dituju orang berulang-ulang, sama seperti pahala yang terus kembali kepada yang berbuat baik, disebut dengan akar kata yang sama, sebuah kata yang membawa citra sesuatu yang datang kembali, bukan sekadar dikunjungi sekali.

Kata (أَمْنًا, amnan) berarti "tempat yang aman", dari akar yang berarti aman dan percaya, akar yang sama dengan (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna, "mereka beriman") yang sudah dibahas di 2:121. Keamanan dan keyakinan berbagi akar yang sama dalam bahasa ini, sesuatu yang aman adalah sesuatu yang bisa dipercaya, dan sesuatu yang diyakini adalah sesuatu yang memberi rasa aman.

Frasa (مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ, maqaami ibraahiima) berarti "tempat berdiri Ibrahim", dari akar yang berarti berdiri dan menegakkan, akar yang sama dengan (أَقِيمُوا, aqiimuu, "tegakkanlah") pada perintah salat di 2:110. Tempat berdiri ini kemudian dijadikan (مُصَلًّى, musallan, "tempat salat"), dari akar yang berarti menghadap dalam doa, akar yang sama dengan (الصَّلَاةَ, as-salaata, "salat") itu sendiri.

Kata (عَهِدْنَا, 'ahidnaa) berarti "Kami berjanji", dari akar yang berarti berjanji dan mengikat perjanjian, akar yang sama dengan (عَهْدِي, 'ahdii, "janji-Ku") di 2:124. Ayat itu menyatakan janji tidak sampai kepada yang zalim, tanpa merinci apa isinya. Ayat ini menunjukkan salah satu isi konkret dari janji itu, sebuah amanat kepada Ibrahim bersama Ismail.

Kata (طَهِّرَا, thahhiraa) berarti "sucikanlah kalian berdua", dari akar yang berarti bersih dan suci, memakai bentuk yang menandai dua orang sekaligus, alamat langsung kepada Ibrahim dan Ismail bersama-sama, bukan kepada salah satunya saja.

Kata (الْعَاكِفِينَ, al-'aakifiina) berarti "orang-orang yang bermukim untuk beribadah", dari akar yang berarti berdiam terus di satu tempat. Akar itu muncul 9 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 2:187, 7:138, dan 20:91. Menariknya, di 7:138 dan 20:91, akar yang sama dipakai untuk orang yang tekun menyembah berhala. Kata ini sendiri netral, ia menandai ketekunan dan kesetiaan pada sesuatu, definisinya bergantung pada apa yang disembah, bukan pada tindakan tekun itu sendiri.

Kata (لِلطَّائِفِينَ, li-th-thaa'ifiina) berarti "bagi orang-orang yang tawaf", dari akar yang berarti mengelilingi, sebuah gerakan mengelilingi. Kata (الرُّكَّعِ, ar-rukka'i) dan (السُّجُودِ, as-sujuudi) berarti "yang rukuk" dan "yang sujud", dari akar yang berarti membungkuk dan akar yang berarti bersujud. Akar terakhir ini sama dengan akar kata (مَسَاجِدَ, masaajida, "masjid-masjid") yang sudah dibahas di 2:114, tempat yang dihalangi darinya penyebutan nama Allah. Di sini, akar yang sama muncul dalam bentuk tindakan, sujud, bukan tempatnya, menegaskan bahwa yang membuat sebuah tempat layak disebut demikian adalah tindakan sujud yang terjadi di dalamnya.

Tafsiran

Ayat ini menyusul langsung 2:124, yang menyebut janji Allah kepada Ibrahim secara umum, tanpa merinci isinya, hanya menegaskan bahwa janji itu tidak sampai kepada yang zalim. Ayat ini menunjukkan salah satu isi konkret dari janji itu, sebuah amanat kepada Ibrahim bersama Ismail untuk menyucikan Rumah bagi orang-orang yang tawaf, bermukim untuk beribadah, rukuk, dan sujud.

Amanat penyucian ini dibebankan langsung kepada Ibrahim dan Ismail sebagai pendirinya sendiri, bukan didelegasikan kepada pihak lain. Prinsip ini konsisten dengan apa yang sudah ditegaskan sebelumnya, kedudukan istimewa bukan status yang dinikmati begitu saja, ia selalu disertai tanggung jawab yang harus dijalankan, kali ini tanggung jawab menjaga kesucian tempat yang dipercayakan.

Empat kelompok yang disebut, orang yang tawaf, bermukim, rukuk, dan sujud, mewakili cara-cara berbeda mendekat kepada tempat itu, bergerak mengelilinginya, menetap di dalamnya, dan menundukkan diri di hadapannya. Menyebut keempatnya secara eksplisit menegaskan bahwa Rumah ini disiapkan bagi keragaman cara beribadah, bukan satu bentuk tunggal saja.

Ayat ini juga meletakkan dasar historis bagi arah yang akan dibahas ayat-ayat berikutnya dalam surah ini. Sebelum arah itu ditetapkan sebagai kiblat, ayat ini lebih dulu menegaskan asal-usul dan fungsi tempat itu, tempat berkumpul, tempat aman, dan tempat yang disucikan sejak awal oleh Ibrahim dan Ismail sendiri, bukan tempat yang baru punya makna setelah ditetapkan sebagai arah salat.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang dipakai untuk menggambarkan Rumah ini berbagi akar dengan kata untuk pahala, sesuatu yang terus kembali. Tempat ini bukan tujuan yang dikunjungi sekali lalu selesai, ia tempat yang orang kembali kepadanya berulang-ulang. Ada perbedaan antara sebuah tempat yang dikunjungi karena kebetulan lewat dan tempat yang secara sadar dituju berkali-kali sepanjang hidup, dan kata yang dipakai ayat ini menegaskan yang kedua, sebuah tujuan yang keberadaannya justru terletak pada pengulangan kunjungan itu sendiri. Kata itu (مَثَابَةً) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan begitu pula kata untuk tempat salat di ayat yang sama (مُصَلًّى). Dua kata yang menamai fungsi tempat itu sama-sama tidak dipakai lagi di mana pun. Apakah sebuah tempat bisa dinamai dengan kata yang cuma dipakai sekali? Justru itu yang menandai bahwa yang dinamai memang tidak punya duanya.
  • Kata untuk keamanan dan kata untuk keyakinan berbagi akar yang sama dalam bahasa ini. Kedekatan ini mengajak melihat bahwa rasa aman dan keyakinan bukan dua hal yang terpisah, sesuatu yang benar-benar diyakini biasanya juga terasa aman, dan sebuah tempat yang aman sering menjadi tempat yang memperkuat keyakinan orang yang mengunjunginya. Kedekatan akar kata ini bukan sekadar kebetulan bahasa, ia mencerminkan bagaimana dua pengalaman itu, rasa aman dan keyakinan, memang saling menumbuhkan satu sama lain dalam pengalaman nyata.
  • Tempat berdiri Ibrahim yang disebut ayat ini memakai akar kata yang sama dengan perintah menegakkan salat beberapa ayat sebelumnya. Kedekatan akar ini bukan kebetulan, keduanya sama-sama tentang berdiri tegak, satu tentang tempat yang pernah didiami leluhur, satu tentang sikap yang dituntut dalam ibadah. Tempat berdiri Ibrahim kemudian benar-benar dijadikan tempat berdiri untuk salat, menyatukan makna harfiah dan makna ibadahnya dalam satu titik yang sama.
  • Janji yang disebut secara umum di ayat sebelumnya, tanpa perincian, di ayat ini mendapat isinya, sebuah amanat konkret untuk menyucikan tempat ibadah. Membaca kedua ayat ini berurutan memberi gambaran bagaimana sebuah janji besar bisa dijabarkan menjadi tugas nyata yang harus dijalankan, bukan sekadar pernyataan yang berhenti pada janji itu sendiri tanpa konsekuensi yang mengikutinya.
  • Kata yang dipakai untuk orang yang bermukim demi beribadah di ayat ini adalah kata yang sama dipakai di tempat lain untuk orang yang tekun menyembah berhala. Kata ini sendiri netral, ia menandai kesetiaan dan ketekunan, tapi tidak menentukan objek dari kesetiaan itu. Menemukan kata yang sama dipakai untuk dua arah yang sangat berbeda mengajak melihat bahwa ketekunan bukan otomatis kebaikan, ia baik atau buruk tergantung pada apa yang dituju.
  • Perintah menyucikan Rumah ini dialamatkan kepada Ibrahim dan Ismail sekaligus, memakai bentuk yang menandai keduanya secara bersamaan, bukan kepada satu orang lalu diteruskan kepada yang lain. Amanat yang dipikul bersama sejak awal ini berbeda dari amanat yang diwariskan setelah salah satu tiada, ia menegaskan tanggung jawab yang dijalankan berdampingan, bukan estafet yang berpindah tangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
  • Ayat ini menyebut empat kelompok yang berbeda, orang yang tawaf, bermukim, rukuk, dan sujud, mewakili cara-cara berbeda mendekat kepada tempat ini, bergerak mengelilinginya, menetap di dalamnya, dan menundukkan diri di hadapannya. Menyebut keempatnya secara eksplisit menegaskan bahwa tempat ini disiapkan bagi keragaman cara beribadah, bukan dirancang untuk satu bentuk tunggal saja yang mengesampingkan bentuk lainnya.