وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, jadikanlah ini negeri yang aman, dan rezekikanlah kepada penduduknya buah-buahan, yaitu siapa di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” Dia berfirman, “Dan siapa yang kufur, akan Aku beri ia kesenangan sedikit, kemudian Aku paksa ia ke azab api; dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِwa-idz qaala ibraahiimu rabbi j'al haadzaa baladan aaminan wa-rzuq ahlahu mina ts-tsamaraati man aamana minhum billaahi wa-l-yawmi l-aakhiridan ketika Ibrahim berkata, Tuhanku, jadikanlah ini negeri yang aman, dan rezekikanlah kepada penduduknya buah-buahan, yaitu siapa di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir
  2. قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِqaala wa-man kafara fa-umatti'uhu qaliilan tsumma adtarruhu ilaa adzaabi n-naariDia berfirman, dan siapa yang kufur, akan Aku beri ia kesenangan sedikit, kemudian Aku paksa ia ke azab api
  3. وَبِئْسَ الْمَصِيرُwa-bi'sa l-masiirudan itulah seburuk-buruk tempat kembali
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar q-w-l, r-b-b, j-'-l, b-l-d, a-m-n, r-z-q, a-h-l, ts-m-r, a-l-h, y-w-m, a-kh-r, k-f-r, m-t-', q-l-l, d-r-r, '-dz-b, n-w-r, b-a-s, s-y-r): PENTING: gloss '(negeri Makkah)' DIBUANG, justru titik yang terjemahan ini persoalkan (teks menyebut 'ini negeri', tanpa NAMA; bandingkan temuan al-bayt/lokasi). haadhaa baldan diterjemahkan 'ini negeri'. kafara diterjemahkan 'mengingkari'.

Aplikasi

Doa Ibrahim awalnya meminta rezeki 'bagi penduduknya yang beriman', namun Allah menjawab akan memberi kesenangan sementara bahkan kepada yang mengingkari, sebuah koreksi penting terhadap doa yang terlalu eksklusif. Konkretnya: rezeki dan kemakmuran material di dunia ini tidak terbatas hanya untuk yang benar secara spiritual, kesuksesan duniawi bukan indikator otomatis kebenaran/kesalehan seseorang, sebuah pengingat untuk tidak menilai kebenaran spiritual dari kemakmuran materi semata.