وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Dan ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, jadikanlah ini negeri yang aman, dan rezekikanlah kepada penduduknya buah-buahan, yaitu siapa di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” Dia berfirman, “Dan siapa yang kufur, akan Aku beri ia kesenangan sedikit, kemudian Aku paksa ia ke azab api; dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًاwa-idz qaala ibraahiimu rabbi j'al haadzaa baladan aaminandan ketika Ibrahim berkata, Tuhanku, jadikanlah ini negeri yang aman
- وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِwa-rzuq ahlahu mina ts-tsamaraati man aamana minhum bi-llaahi wa-l-yawmi l-aakhiridan rezekikanlah kepada penduduknya buah-buahan, yaitu siapa di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir
- قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِqaala wa-man kafara fa-umatti'uhu qaliilan tsumma adhtharruhu ilaa 'adzaabi n-naariDia berfirman, dan siapa yang kufur, akan Aku beri ia kesenangan sedikit, kemudian Aku paksa ia ke azab api
- وَبِئْسَ الْمَصِيرُwa-bi'sa l-mashiirudan itulah seburuk-buruk tempat kembali
Terjemahan per kata (30 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- قَالَqaalaberkata
- إِبْرَاهِيمُibraahiimuIbrahim
- رَبِّrabbiTuhan
- اجْعَلْj'aljadikanlah
- هَٰذَاhaadzaaini
- بَلَدًاbaladannegeri
- آمِنًاaaminanyang aman
- وَارْزُقْwa-rzuqdan berilah rezeki
- أَهْلَهُahlahukeluarganya
- مِنَminadari
- الثَّمَرَاتِts-tsamaraatibuah-buahan
- مَنْmanorang yang
- آمَنَaamanaberiman
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
- وَالْيَوْمِwa-l-yawmidan hari
- الْآخِرِl-aakhiriakhir
- قَالَqaalaberkata
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- كَفَرَkafarakufur
- فَأُمَتِّعُهُfa-umatti'uhumaka Aku memberinya kesenangan
- قَلِيلًاqaliilansedikit
- ثُمَّtsummakemudian
- أَضْطَرُّهُadhtharruhuAku memaksanya
- إِلَىٰilaake
- عَذَابِ'adzaabiazab
- النَّارِn-naariapi
- وَبِئْسَwa-bi'sadan seburuk-buruk
- الْمَصِيرُl-mashiirutempat kembali
Inti bacaan
Doa Ibrahim awalnya meminta rezeki 'bagi penduduknya yang beriman', namun Allah menjawab akan memberi kesenangan sementara bahkan kepada yang mengingkari, sebuah koreksi penting terhadap doa yang terlalu eksklusif. Konkretnya: rezeki dan kemakmuran material di dunia ini tidak terbatas hanya untuk yang benar secara spiritual, kesuksesan duniawi bukan indikator otomatis kebenaran/kesalehan seseorang, sebuah pengingat untuk tidak menilai kebenaran spiritual dari kemakmuran materi semata.
Penjelasan pilihan kata
Frasa (بَلَدًا آمِنًا, baladan aaminan) berarti "negeri yang aman", dari akar yang berarti negeri dan akar yang berarti aman dan percaya. 2:125 sudah menyatakan Rumah itu sendiri sebagai (أَمْنًا, amnan, "tempat yang aman"), sebuah ketetapan dari Allah. Di sini, Ibrahim memohon agar (بَلَدًا, baladan, "negeri"), wilayah yang lebih luas di sekitarnya, juga dijadikan aman, permohonan manusia yang melanjutkan dan memperluas apa yang sudah lebih dulu ditetapkan.
Kata (آمَنَ, aamana) berarti "beriman", berasal dari akar yang sama dengan (آمِنًا, aaminan, "aman") dua kata sebelumnya dalam doa ini sendiri. Ibrahim memohon negeri yang aman, lalu membatasi rezekinya bagi yang beriman, dua kata dari akar yang sama berdekatan dalam satu doa, menggemakan kaitan aman dan iman yang sudah dibahas di 2:125.
Frasa (وَمَنْ كَفَرَ, wa man kafara) berarti "dan siapa yang kufur", membuka jawaban Allah yang membalikkan syarat yang diajukan Ibrahim sendiri. Doa Ibrahim membatasi rezeki hanya bagi yang beriman, tapi jawaban Allah menegaskan bahwa kesenangan duniawi tetap diberikan, sekalipun kepada yang kufur.
Kata (أُمَتِّعُهُ, umatti'uhu) berarti "akan Aku beri ia kesenangan", dari akar yang berarti kesenangan yang dipakai sementara, dipasangkan dengan (قَلِيلًا, qaliilan, "sedikit"), dari akar yang berarti sedikit. Kesenangan yang diberikan secara eksplisit disebut sedikit dan sementara, kontras tajam dengan apa yang menyusul sesudahnya.
Kata (أَضْطَرُّهُ, adhtharruhu) berarti "Aku paksa ia", dari akar yang berarti merugikan dan menyakiti, membawa makna terdesak dan dipaksa tanpa pilihan, bukan sekadar "dibawa" atau "diarahkan". Penutup ayat ini, (بِئْسَ الْمَصِيرُ, bi'sa l-mashiiru) berarti "seburuk-buruk tempat kembali", dari akar yang berarti kekuatan dan kesulitan dan akar yang berarti menjadi dan tempat kembali, menegaskan penilaian langsung atas tujuan akhir itu, sebuah kesimpulan yang tidak menyisakan ruang bagi penafsiran lain.
Kata (ارْزُقْ, urzuq) berarti "berilah rezeki", dari akar yang berarti memberi rezeki, dan objeknya, (مِنَ الثَّمَرَاتِ, mina ts-tsamaraati, "dari buah-buahan"), dari akar yang berarti berbuah, menunjuk hasil yang tumbuh, bukan sekadar kebutuhan pokok yang minimal. Permohonan Ibrahim bukan cuma keamanan dari ancaman, ia juga mencakup kecukupan yang melimpah, buah-buahan yang tumbuh subur di tempat yang disebutkan tidak dijelaskan kesuburannya secara alami.
Kata (أَهْلَهُ, ahlahu) berarti "penduduknya", dari akar yang berarti keluarga dan penghuni, menunjuk mereka yang menetap dan menghuni, bukan sekadar orang yang lewat sesaat. Permohonan Ibrahim ditujukan bagi mereka yang benar-benar menjadikan tempat ini rumah, sejalan dengan gambaran tempat yang dituju berulang-ulang di ayat sebelumnya, bukan sekadar persinggahan yang dilewati begitu saja.
Tafsiran
Doa Ibrahim ini melengkapi apa yang sudah ditetapkan di 2:125. Rumah itu sendiri sudah dinyatakan sebagai tempat yang aman oleh Allah, di sini Ibrahim memohon agar keamanan itu meluas ke seluruh negeri di sekitarnya, sebuah permohonan yang wajar bagi tempat yang akan menjadi tujuan orang berkumpul berulang-ulang.
Doa Ibrahim membawa syarat, rezeki hanya bagi yang beriman. Jawaban Allah melampaui syarat itu, menegaskan bahwa kesenangan duniawi, meski sementara, tetap terbuka bagi siapa saja, termasuk yang kufur, sebelum konsekuensi yang sesungguhnya menyusul kemudian. Pola ini konsisten dengan pelajaran di 2:124, bahkan doa seorang nabi sendiri tidak serta-merta membatasi cakupan pemberian Allah tanpa koreksi.
Kontras antara kesenangan yang sedikit dan azab yang menyusul menyusun sebuah peringatan bertingkat, kenikmatan sesaat bukan pertanda keselamatan, dan penundaan bukan berarti pembebasan. Ayat ini menutup dengan penilaian yang tegas atas tujuan akhir tersebut, tanpa menyisakan keraguan tentang bagaimana keadaan itu semestinya dipandang.
Doa ini juga menyingkap dua permohonan yang digabungkan, keamanan dan kecukupan pangan, dalam satu napas yang sama. Sebuah tempat yang benar-benar layak dihuni membutuhkan keduanya berdampingan, bukan cukup salah satu saja terpenuhi sementara yang lain diabaikan. Susunan doa ini menunjukkan pemahaman yang menyeluruh tentang apa yang membuat sebuah tempat layak menjadi rumah bagi penduduknya.
Renungan dan Hikmah
- Keamanan yang disebut ayat sebelumnya berlaku pada Rumah itu sendiri, sebagai ketetapan Allah. Ayat ini memperluas permohonan itu kepada negeri di sekitarnya lewat doa Ibrahim. Ada urutan yang tersirat, ketetapan Allah lebih dulu meliputi pusatnya, lalu doa manusia melanjutkan permohonan agar cakupannya meluas, sebuah kerja sama antara apa yang sudah ditetapkan dan apa yang masih dimohonkan, bergerak dari pusat menuju wilayah yang lebih luas di sekelilingnya.
- Dua kata dari akar yang sama, aman dan beriman, muncul berdekatan dalam satu doa yang sama. Kedekatan ini bukan kebetulan bahasa semata, ia menggemakan kaitan yang sudah muncul di ayat sebelumnya, bahwa keamanan dan keyakinan berbagi akar yang sama. Doa yang meminta keamanan sekaligus menyebut keimanan dalam napas yang sama memperlihatkan betapa dekat dua gagasan ini dirasakan oleh yang mengucapkannya, seolah satu tak lengkap tanpa yang lain.
- Doa Ibrahim membatasi rezeki hanya bagi yang beriman, tapi jawaban yang diterimanya melampaui batas yang diajukannya sendiri. Bahkan permohonan seorang nabi bisa mendapat jawaban yang lebih luas dari yang dimintanya. Ini mengajarkan sesuatu tentang batas kewenangan doa manusia, sebaik apa pun niatnya, keputusan akhir tetap berada di tangan yang dimintai, bukan sepenuhnya mengikuti syarat yang diajukan peminta, betapa pun tulus dan wajar syarat itu tampak. Kata kerja yang dipakai dalam jawaban itu (أَضْطَرُّهُ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan begitu pula permohonan Ibrahim yang dijawabnya (بَلَدًا آمِنًا). Permintaan dan jawabannya sama-sama dinyatakan dengan kata yang tidak dipakai lagi di tempat lain, dan keduanya berdiri dalam satu ayat.
- Kesenangan yang diberikan kepada yang kufur disebut secara eksplisit sebagai sesuatu yang sedikit dan sementara, sebelum azab yang jauh lebih besar menyusul. Peringatan ini penting bagi siapa pun yang mengukur keadaan baik atau buruknya hidup dari kenikmatan yang tampak sekarang, sebab kenikmatan yang tampak melimpah pun, jika disandingkan dengan apa yang menyusul, disebut ayat ini sebagai sesuatu yang kecil belaka.
- Kata yang dipakai untuk menggambarkan bagaimana yang kufur akhirnya sampai pada azab bukan kata untuk dibawa atau diarahkan secara halus, ia kata yang membawa makna terdesak dan dipaksa tanpa pilihan lain. Pilihan kata ini menegaskan bahwa jalan menuju konsekuensi itu bukan sesuatu yang bisa dihindari dengan mudah begitu waktunya tiba, ia sebuah keterdesakan yang tidak menyisakan jalan keluar lain, berbeda jauh dari kesenangan sementara yang mendahuluinya.
- Ayat ini memperlihatkan bahwa cakupan pemberian Allah tidak dibatasi bahkan oleh syarat yang diajukan seorang nabi sekalipun dalam doanya sendiri. Ini menyingkap sesuatu yang penting tentang sifat pemberian itu, ia lebih luas dari yang bisa dibayangkan atau dimintakan oleh siapa pun, termasuk oleh yang paling dekat kedudukannya sekalipun. Kelapangan semacam ini memberi gambaran bahwa batas-batas yang dibuat manusia dalam permohonannya tidak selalu menjadi batas dari apa yang sesungguhnya diberikan. Apakah berarti doa Ibrahim keliru? Bukan keliru, melainkan lebih sempit daripada yang diberikan. Ia meminta menurut ukuran yang masuk akal bagi manusia, yaitu bahwa yang menerima rezeki adalah yang pantas menerimanya. Jawaban yang datang tidak menolak permintaannya; ia menambahkan sesuatu yang tidak diminta, dan tambahan itu berupa kesenangan bagi pihak yang justru dikecualikan oleh pemohonnya.
- Doa Ibrahim menggabungkan permohonan keamanan dan kecukupan dalam satu napas yang sama, bukan dua permohonan yang terpisah. Sebuah tempat yang aman tapi kekurangan pangan tidak sepenuhnya layak dihuni, begitu pula tempat yang berlimpah tapi tidak aman. Menggabungkan keduanya dalam satu doa memperlihatkan pemahaman bahwa kelayakan sebuah tempat untuk dihuni membutuhkan kedua hal itu berdampingan, bukan cukup salah satunya saja terpenuhi.