وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Rumah itu bersama Ismail, “Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mendengar lagi Sang Berilmu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُwa-idz yarfa'u ibraahiimu l-qawaa'ida mina l-bayti wa-ismaa'iiludan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Rumah itu bersama Ismail
  2. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاrabbanaa taqabbal minnaaTuhan kami, terimalah dari kami
  3. إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُinnaka anta s-samii'u l-'aliimusesungguhnya Engkaulah Yang Mendengar lagi Yang Mengetahui

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَإِذْwa-idzdan ketika
  2. يَرْفَعُyarfa'umengangkat
  3. إِبْرَاهِيمُibraahiimuIbrahim
  4. الْقَوَاعِدَl-qawaa'idadasar-dasar
  5. مِنَminadari
  6. الْبَيْتِl-baytiRumah
  7. وَإِسْمَاعِيلُwa-ismaa'iiludan Ismail
  8. رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
  9. تَقَبَّلْtaqabbalterimalah
  10. مِنَّاminnaadari kami
  11. إِنَّكَinnakasesungguhnya Engkau
  12. أَنْتَantaEngkau
  13. السَّمِيعُs-samii'uYang Mendengar
  14. الْعَلِيمُl-'aliimuSang Berilmu

Inti bacaan

Sebutkan pekerjaan yang paling kaubanggakan tahun ini. Sesudah menyebutnya, tambahkan satu kalimat yang jarang diucapkan orang atas karyanya sendiri: semoga ini diterima. Perhatikan apa yang terasa waktu mengucapkannya. Kalau terasa janggal, di situlah bagian yang sesungguhnya perlu dikerjakan, bukan pada pekerjaannya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يَرْفَعُ, yarfa'u) berarti "meninggikan", dari akar yang berarti mengangkat. Akar itu muncul 29 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 2:63, 2:253, dan 3:55. Bentuk kata kerja yang dipakai di sini adalah bentuk yang biasa menunjuk sesuatu yang sedang berlangsung, meski menceritakan peristiwa yang sudah lampau, seolah menghadirkan adegan itu tepat di depan pembaca, bukan sekadar melaporkannya sebagai kejadian yang sudah selesai.

Kata (الْقَوَاعِدَ, al-qawaa'ida) berarti "fondasi-fondasi", dari akar yang berarti duduk. Akar ini di tempat-tempat lain lebih sering bermakna duduk, terutama dalam konteks duduk tanpa ikut berjuang. Di ayat ini, akar yang sama dipakai dalam makna yang jauh berbeda, dasar yang menopang bangunan di atasnya, sesuatu yang menjadi tumpuan tempat berdiri, bukan tindakan duduk itu sendiri.

Doa singkat, (رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا, rabbanaa taqabbal minnaa) berarti "Tuhan kami, terimalah dari kami", memakai kata (تَقَبَّلْ, taqabbal) dari akar yang berarti menerima dan menghadap dalam bentuk yang membawa penekanan, bukan sekadar "terima" secara umum. Frasa persis ini cuma muncul sekali di Al-Qur'an, di ayat ini. Doa ini disusul doa yang lebih panjang di 2:128, memohon agar keduanya dan keturunan mereka dijadikan berserah diri, ditunjukkan cara beribadah, dan diterima pertobatannya, ditutup dengan nama Allah yang berbeda, Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang, bukan yang dipakai di ayat ini.

Penutup ayat ini, (السَّمِيعُ الْعَلِيمُ, as-samii'u l-'aliimu) berarti "Yang Mendengar lagi Yang Mengetahui", pasangan yang muncul 15 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, dan nanti lagi di 2:137, lalu di 3:35 dan 5:76, dalam konteks yang berbeda-beda, soal permusuhan dan soal nazar, bukan cuma soal doa pembangunan. Pasangan nama ini cocok dengan permohonan yang diucapkan, mendengar doa yang dipanjatkan, dan mengetahui ketulusan di balik permohonan itu.

Kata (رَبَّنَا, rabbanaa) berarti "Tuhan kami", memakai kata ganti jamak, bukan tunggal, meski yang berdoa disebutkan berdua, Ibrahim dan Ismail. Bentuk jamak ini bisa jadi mengikutsertakan siapa pun yang kelak akan berdiri di tempat yang sama dan memanjatkan doa yang serupa, bukan sekadar mewakili dua orang yang mengucapkannya saat itu.

Kata ganti (أَنْتَ, anta, "Engkau") disebutkan secara eksplisit sesudah kata (إِنَّكَ, innaka, "sesungguhnya Engkau"), sebuah penekanan ganda yang menegaskan siapa yang dituju, bukan sekadar pernyataan biasa tentang sifat-Nya. Penekanan berganda seperti ini biasa dipakai untuk menegaskan keyakinan yang sungguh-sungguh, bukan keraguan yang samar-samar, sebuah cara bertutur yang menegaskan bukan sekadar menyampaikan.

Tafsiran

Doa yang menyertai pembangunan fisik Rumah ini menunjukkan bahwa tindakan membangun tidak dianggap cukup tanpa permohonan agar amal itu diterima. Kesalehan sebuah tindakan tidak otomatis menjamin penerimaannya, dan Ibrahim bersama Ismail, sekalipun sedang mengerjakan tugas yang dipercayakan langsung kepada mereka, tetap memanjatkan permohonan ini di tengah pekerjaan mereka, bukan menganggapnya sebagai formalitas sesudah selesai.

Doa pendek ini bukan penutup, ia pembuka bagi doa yang lebih panjang yang menyusul di ayat berikutnya. Membaca keduanya bersama memperlihatkan sebuah doa yang berkembang, dari permohonan sederhana agar diterima, menuju permohonan yang lebih luas, mencakup diri mereka sendiri, keturunan mereka, dan cara menjalankan ibadah yang benar.

Penutup dengan nama Mendengar dan Mengetahui cocok dengan situasi doa yang dipanjatkan di tengah pekerjaan, sebuah pengakuan bahwa yang diminta bukan sekadar hasil bangunan yang berdiri, melainkan pengakuan atas ketulusan yang menyertainya, sesuatu yang hanya bisa diketahui oleh yang mendengar dan mengetahui isi hati, bukan yang cuma menilai dari hasil yang tampak.

Doa ini juga memakai kata ganti jamak, Tuhan kami, meski yang berdoa hanya disebutkan berdua. Bentuk jamak ini bisa dibaca sebagai doa yang melampaui momen itu sendiri, mengikutsertakan siapa pun yang kelak akan berdiri di tempat yang sama dan memanjatkan permohonan yang serupa, menjadikan doa pribadi kedua tokoh ini sebagai doa yang mewakili lebih dari sekadar diri mereka berdua sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Bentuk kata kerja yang dipakai untuk menggambarkan peristiwa ini menghadirkannya seolah sedang berlangsung, bukan sekadar melaporkannya sebagai kejadian yang sudah lewat. Cara penyampaian seperti ini membuat pembaca seakan turut menyaksikan adegan itu, bukan sekadar membaca ringkasan tentang sesuatu yang sudah terjadi dan selesai jauh di masa lalu. Kedekatan yang tercipta lewat cara bertutur seperti ini membuat peristiwa yang jauh terasa lebih dekat dari sekadar catatan sejarah yang dingin.
  • Kata untuk fondasi dalam ayat ini berasal dari akar yang di tempat lain lebih sering bermakna duduk, terutama duduk tanpa ikut berjuang. Menemukan akar yang sama dipakai dalam makna yang begitu berbeda, dari sikap yang pasif menjadi dasar yang menopang, mengajak melihat bahwa makna sebuah kata tidak selalu tunggal, ia bisa membawa cabang makna yang jauh berbeda tergantung konteks yang menyertainya, dari sesuatu yang diam menjadi sesuatu yang menopang segala yang berdiri di atasnya.
  • Doa Ibrahim dan Ismail saat membangun fondasi, 'terimalah dari kami', menunjukkan kerendahan hati bahkan dalam mengerjakan tugas suci sekalipun: tidak ada jaminan otomatis bahwa usaha akan diterima. Ibrahim dan Ismail tidak berhenti pada tindakan membangun saja, mereka menyertainya dengan permohonan agar diterima. Ini menyiratkan bahwa sebuah amal, betapa pun besar dan penting kelihatannya, tidak dianggap otomatis diterima hanya karena sudah dikerjakan. Kesadaran ini, bahwa mengerjakan sesuatu berbeda dari memastikannya diterima, adalah sikap yang tetap relevan bagi siapa pun yang mengerjakan sesuatu yang dianggap penting.
  • Doa yang diucapkan di ayat ini singkat, cuma tiga kata inti, terimalah dari kami. Doa ini bukan penutup, ia pembuka bagi permohonan yang lebih panjang dan lebih luas yang menyusul segera sesudahnya. Membaca doa pendek ini sebagai permulaan, bukan keseluruhan, memberi gambaran bagaimana sebuah permohonan bisa berkembang dari yang sederhana menuju yang mencakup lebih banyak hal, dari sekadar diterima menjadi mencakup keturunan dan cara beribadah yang benar.
  • Penutup ayat ini menyebut dua sifat, mendengar dan mengetahui, yang cocok dengan situasi doa yang dipanjatkan di tengah pekerjaan fisik yang berat. Yang diminta bukan sekadar penilaian atas hasil yang tampak, melainkan pengakuan atas ketulusan yang menyertai pekerjaan itu, sesuatu yang hanya bisa dijangkau oleh yang mendengar doa dan mengetahui isi hati, bukan yang cuma menilai dari luar.
  • Ibrahim dan Ismail, dua tokoh yang mengerjakan tugas sebesar mendirikan Rumah yang akan menjadi pusat ibadah manusia, tetap memanjatkan doa yang rendah hati, sekadar memohon diterima, bukan mengklaim kepastian bahwa usaha mereka pasti berhasil. Kerendahan hati yang disandingkan dengan pekerjaan sebesar itu menunjukkan bahwa besar kecilnya sebuah amal tidak mengubah sikap yang semestinya menyertainya, tetap memohon, bukan merasa yakin dengan sendirinya. Konkretnya: mengerjakan sesuatu yang mulia (amal, karya, pengabdian) sebaiknya tetap disertai kerendahan hati untuk memohon penerimaan, bukan asumsi bahwa niat baik otomatis menjamin hasil diterima.