وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Rumah itu bersama Ismail, “Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mendengar lagi Sang Berilmu.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاwa-idz yarfa'u ibraahiimu l-qawaa'ida mina l-bayti wa-ismaa'iilu rabbanaa taqabbal minnaadan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Rumah itu, bersama Ismail, Tuhan kami, terimalah dari kami
- إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُinnaka anta s-samii'u l-aliimusesungguhnya Engkaulah Yang Mendengar lagi Sang Berilmu
Catatan pilihan kata (ringkas)
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain: sebutan diterjemahkan 'Sang Berilmu' (takrif corpus); sebutan pasangan yang belum dibedah dipertahankan sementara. Konvensi lm-C1: aliim diterjemahkan 'berilmu' (SATU rendering Allah+manusia; takrif diterjemahkan 'Sang Berilmu', indefinit kecil tanpa Maha; berobjek diterjemahkan 'berilmu akan X'); allaam diterjemahkan 'berilmu akan segala yang gaib'; aalim+objek diterjemahkan 'yang mengetahui yang gaib' (lema beda, bukan pembelahan). Probe: penyihir Fir'aun aliim 5×; 12:76. ⚠ C2 (aalamiin) & C3 (verba/'ilm/a'lam/'allama) menyusul. Lih.. ⟶. (sapuan seluruh Qur'an, corpus Leeds 0.4, 20 Jul 2026): frasa idafah ***bayt Allaah* / 'Baitullah' NOL kemunculan**, tak ada kata ber-akar akar b-y-t yang diikuti kata ber-akar الله di seluruh Qur'an. Yang teks pakai justru posesif orang I ** = '' (2:125, 22:26, Allah bersabda); posesif orang II ** = '' (14:37, Ibrahim menyeru); ** takrif = ''; 3:96 ** = 'sebuah rumah'. terjemahan lain 'Baitullah', mengubah (siapa yang berbicara) menjadi. (terverifikasi `quran_db.json` 20 Jul): memelihara, 'house' (2:125, 22:26) · 'inviolable house' (14:37) · 'The set up for mankind' (3:96, tetap tak tentu) · 'the Lord of house' (106:3) · 'the house' (2:127, 2:158, 22:29),.
Aplikasi
Doa Ibrahim dan Ismail saat membangun fondasi, 'terimalah dari kami', menunjukkan kerendahan hati bahkan dalam mengerjakan tugas suci sekalipun: tidak ada jaminan otomatis bahwa usaha akan diterima. Konkretnya: mengerjakan sesuatu yang mulia (amal, karya, pengabdian) sebaiknya tetap disertai kerendahan hati untuk memohon penerimaan, bukan asumsi bahwa niat baik otomatis menjamin hasil diterima.