رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu; tunjukkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Sang Penyambut Tobat lagi Sang Pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَrabbanaa wa-j'alnaa muslimayni laka wa-min dzurriyyatinaa ummatan muslimatan lakaTuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu
- وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَاwa-arinaa manaasikanaa wa-tub 'alaynaatunjukkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami, dan terimalah tobat kami
- إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُinnaka anta t-tawwaabu r-rahiimusesungguhnya Engkaulah Sang Penyambut Tobat lagi Sang Pengasih
Terjemahan per kata (17 kata)
- رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
- وَاجْعَلْنَاwa-j'alnaadan jadikanlah kami
- مُسْلِمَيْنِmuslimaynidua orang yang berserah diri
- لَكَlakakepada-Mu
- وَمِنْwa-mindan dari
- ذُرِّيَّتِنَاdzurriyyatinaaketurunan kami
- أُمَّةًummatanumat
- مُسْلِمَةًmuslimatanyang berserah diri
- لَكَlakakepada-Mu
- وَأَرِنَاwa-arinaadan tunjukkanlah kepada kami
- مَنَاسِكَنَاmanaasikanaacara ibadah kami
- وَتُبْwa-tubdan terimalah tobat
- عَلَيْنَا'alaynaaatas kami
- إِنَّكَinnakasesungguhnya Engkau
- أَنْتَantaEngkau
- التَّوَّابُt-tawwaabuSang Penyambut Tobat
- الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih
Inti bacaan
Permohonan Ibrahim mencakup tiga hal: keberserahan pribadi, keberserahan keturunan, dan petunjuk praktis ('tunjukkan cara-cara manasik kami'), doa untuk diri sendiri, generasi mendatang, dan panduan konkret sekaligus. Konkretnya: doa yang matang tidak hanya soal keselamatan pribadi, tapi juga memikirkan kelangsungan nilai pada generasi berikutnya serta meminta bimbingan praktis, bukan hanya harapan abstrak.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُسْلِمَيْنِ, muslimayni) berarti "orang yang berserah diri, berdua", dari akar yang berarti selamat dan damai, akar yang sama dengan (أَسْلَمَ, aslama, "menyerahkan diri") di 2:112. Bedanya, di sini bentuknya kata benda pelaku, bukan kata kerja, sebuah status yang dimohon, bukan tindakan yang sudah dinyatakan selesai dilakukan.
Kata (أُمَّةً, ummatan) berarti "umat", dari akar yang berarti induk dan yang dituju, akar yang sama dengan (إِمَامًا, imaaman, "pemimpin") di 2:124. Doa ini memohon dua lapis sekaligus, Ibrahim dan Ismail sendiri sebagai orang yang berserah diri, dan keturunan mereka sebagai umat yang berserah diri, permohonan yang meluas dari individu menuju komunitas yang akan datang.
Kata (مَنَاسِكَنَا, manaasikanaa) berarti "cara-cara ibadah kami", dari akar yang berarti beribadah dengan menyembelih. Akar itu muncul cuma 6 kali di Al-Qur'an, semuanya terkait ritual ibadah dan kurban. Kata ini jauh lebih spesifik daripada kata umum untuk ibadah, ia menunjuk tata cara tertentu yang perlu ditunjukkan, bukan sekadar pengabdian secara umum.
Kata (تُبْ عَلَيْنَا, tub 'alaynaa) berarti "terimalah tobat kami", dari akar yang berarti kembali dan bertobat. Akar itu muncul 69 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 2:37 dan 2:54. Permohonan penutup ayat ini, (التَّوَّابُ الرَّحِيمُ, at-tawwaabu r-rahiimu) berarti "Sang Penerima Tobat lagi Sang Pengasih", pasangan yang muncul 6 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 2:37, tentang tobat Adam yang diterima, di 2:54, tentang tobat yang diterima sesudah peristiwa anak sapi, dan di 2:160, 9:104, serta 9:118. Penutup ini cocok persis dengan permohonan yang baru saja diucapkan, terimalah tobat kami, sebuah nama yang menjawab langsung permintaan yang mendahuluinya.
Kata (وَأَرِنَا, wa arinaa) berarti "dan tunjukkanlah kepada kami", dari akar yang berarti melihat dan menimbang, sebuah permintaan untuk diperlihatkan secara langsung, bukan sekadar diberi tahu. Permintaan melihat langsung ini menyertai kata manaasik, seolah tata cara ibadah bukan sesuatu yang cukup dijelaskan lewat kata-kata, ia perlu diperlihatkan agar benar-benar dipahami cara menjalankannya.
Doa ini disampaikan dengan kata ganti jamak, "kami", sepanjang keempat permohonannya, jadikanlah kami, tunjukkanlah kepada kami, terimalah tobat kami. Konsistensi kata ganti ini menegaskan bahwa seluruh doa ini disampaikan bersama, oleh Ibrahim dan Ismail berdua, bukan permohonan salah satu yang diwakilkan oleh yang lain.
Susunan doa ini juga membentuk urutan yang bertahap, dari status diri sendiri, menuju keturunan, menuju cara menjalankan ibadah, menuju penerimaan atas kekurangan yang mungkin menyertai semuanya. Urutan ini bergerak dari yang paling mendasar menuju yang paling rinci, sebelum ditutup dengan permohonan yang mengakui bahwa betapa pun lengkap permohonan sebelumnya, kekurangan tetap mungkin terjadi.
Tafsiran
Doa ini melanjutkan langsung doa pendek di 2:127, memperluas dari permohonan sederhana agar diterima menjadi permohonan yang jauh lebih luas, status berserah diri bagi diri mereka sendiri, keberlanjutan status itu pada keturunan mereka, petunjuk tentang cara beribadah, dan penerimaan tobat.
Yang menarik, permohonan tobat ini diucapkan di tengah mengerjakan sesuatu yang baik, mendirikan Rumah bagi ibadah manusia, bukan sesudah melakukan kesalahan tertentu. Ini menyiratkan bahwa permohonan tobat bukan cuma respons atas dosa yang sudah diketahui, ia juga bisa menjadi sikap yang menyertai amal baik sekalipun, kesadaran bahwa bahkan dalam mengerjakan kebaikan, kekurangan tetap mungkin menyertainya.
Penutup doa ini, memakai nama yang sama persis dengan yang menutup kisah tobat Adam dan tobat Bani Israil sesudah peristiwa anak sapi di ayat-ayat lain dalam surah ini. Kesamaan penutup ini menempatkan doa Ibrahim dan Ismail dalam rangkaian yang sama dengan momen-momen tobat besar lainnya, sebuah pola yang berulang, permohonan tobat dijawab dengan nama yang menegaskan penerimaan dan kasih sayang.
Doa ini juga meminta agar diperlihatkan langsung tata cara ibadah, bukan cukup diberi tahu. Permintaan melihat langsung ini menyiratkan bahwa memahami cara menjalankan sesuatu membutuhkan lebih dari sekadar penjelasan verbal, ia membutuhkan penunjukan yang nyata, sesuatu yang bisa diikuti dan ditiru langkah demi langkah.
Renungan dan Hikmah
- Ibrahim dan Ismail tidak mengklaim diri mereka sudah berserah diri, mereka memohon agar dijadikan demikian. Ada perbedaan antara menyatakan diri sudah mencapai sesuatu dengan memohon agar dianugerahkan mencapainya, dan doa ini memilih yang kedua, meski keduanya sedang mengerjakan tugas besar yang dipercayakan langsung kepada mereka. Kerendahan hati ini konsisten dengan doa pendek di ayat sebelumnya, keduanya sama-sama tidak mengklaim kepastian, melainkan memohon.
- Doa ini bergerak dari permohonan bagi diri sendiri menuju permohonan bagi umat yang akan datang dari keturunan mereka. Kata yang dipakai untuk umat ini berasal dari akar yang sama dengan kata untuk pemimpin yang muncul sebelumnya dalam kisah ini. Permohonan yang melampaui diri sendiri, menjangkau generasi yang belum ada, menunjukkan cakupan doa yang tidak berhenti pada kepentingan pribadi semata, sebuah pandangan yang menembus jauh ke depan, melampaui masa hidup yang mendoakannya sendiri.
- Kata yang dipakai untuk cara beribadah dalam doa ini termasuk kata yang jarang, jauh lebih spesifik daripada kata umum untuk ibadah pada umumnya. Permohonan agar ditunjukkan tata cara yang spesifik, bukan sekadar pengabdian secara umum, menyiratkan bahwa beribadah dengan benar membutuhkan petunjuk yang rinci, bukan cukup niat baik yang umum tanpa arah yang jelas. Niat yang tulus tanpa tata cara yang benar tetap membutuhkan bimbingan, dan doa ini secara eksplisit memohon bimbingan itu, bukan menganggap niat saja sudah mencukupi. Kata itu (مَنَاسِكَنَا) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan begitu pula bentuk ganda yang mereka pakai untuk diri mereka berdua (مُسْلِمَيْنِ). Dua kata yang paling khas di dalam doa ini sama-sama tidak muncul lagi di mana pun, dan keduanya menandai hal yang sama: doa ini diucapkan oleh dua orang tertentu tentang tata cara tertentu, bukan sebagai rumusan umum.
- Permohonan tobat dalam doa ini diucapkan di tengah mengerjakan sesuatu yang baik, bukan sesudah melakukan kesalahan tertentu. Ini menyiratkan bahwa permohonan tobat bukan melulu respons atas dosa yang sudah diketahui, ia bisa menjadi sikap yang menyertai amal baik sekalipun, sebuah kesadaran bahwa kekurangan tetap mungkin menyertai bahkan pekerjaan yang paling baik niatnya. Mengapa tobat diminta di tengah pekerjaan yang baik? Karena yang dimohon bukan penghapusan sebuah pelanggaran yang sudah terjadi, melainkan penerimaan atas apa yang sedang dikerjakan. Orang yang sedang membangun rumah ibadah pun tidak menganggap pekerjaannya sudah cukup bersih dengan sendirinya, dan permintaan itu diucapkan justru oleh dua orang yang sedang mengerjakan perintah langsung.
- Nama yang menutup doa ini sama persis dengan yang menutup kisah tobat Adam dan tobat sesudah peristiwa anak sapi di ayat-ayat lain dalam surah ini. Kesamaan penutup ini menempatkan doa Ibrahim dan Ismail dalam rangkaian yang sama dengan momen-momen tobat besar lainnya, seolah semuanya dijawab dengan nama yang sama, menegaskan bahwa penerimaan tobat bukan peristiwa yang berbeda-beda caranya, ia selalu dijawab dengan sifat yang sama.
- Doa ini menyusun empat permohonan sekaligus, status berserah diri, keberlanjutan pada keturunan, petunjuk cara beribadah, dan penerimaan tobat. Menyusun keempatnya dalam satu doa yang sama memperlihatkan sebuah permohonan yang menyeluruh, mencakup keadaan diri sendiri, masa depan yang belum tiba, cara menjalankan kewajiban, dan pengakuan atas kekurangan, bukan permohonan yang sempit pada satu hal saja.