وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Siapa yang membenci ajaran Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia ini, dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang saleh.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُwa-man yarghabu 'an millati ibraahiima illaa man safiha nafsahusiapa yang membenci ajaran Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri
  2. وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَاwa-la-qadi shthafaynaahu fii d-dunyaadan sungguh Kami telah memilihnya di dunia ini
  3. وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَwa-innahu fii l-aakhirati la-mina sh-shaalihiinadan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang saleh

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. يَرْغَبُyarghabuberhak enggan
  3. عَنْ'andari
  4. مِلَّةِmillatiagama
  5. إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
  6. إِلَّاillaakecuali
  7. مَنْmanorang yang
  8. سَفِهَsafihamembodohi
  9. نَفْسَهُnafsahudirinya
  10. وَلَقَدِwa-la-qadidan sungguh
  11. اصْطَفَيْنَاهُshthafaynaahuKami memilihnya
  12. فِيfiidi
  13. الدُّنْيَاd-dunyaadunia
  14. وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
  15. فِيfiidi
  16. الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
  17. لَمِنَla-minasungguh termasuk
  18. الصَّالِحِينَsh-shaalihiinaorang-orang saleh

Inti bacaan

Kritik terhadap yang 'membenci millah Ibrahim' disebut sebagai orang yang 'memperbodoh dirinya sendiri', penolakan terhadap jalan yang sudah terbukti baik (Ibrahim dipilih di dunia, saleh di akhirat) adalah kerugian bagi diri sendiri. Konkretnya: menolak teladan yang sudah terbukti positif hanya karena keengganan mengikuti sesuatu yang mapan adalah bentuk kerugian-diri, bukan kebebasan sejati.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يَرْغَبُ, yarghabu) berasal dari akar yang berarti menginginkan. Akar itu muncul 8 kali di Al-Qur'an. Akar ini bermakna dasar sangat menginginkan, tapi di ayat ini dipasangkan dengan kata depan (عَنْ, 'an, "dari"), membalik arahnya menjadi "berpaling" atau "menjauh dari". Kedelapan kemunculannya tersebar di ayat ini, lalu di 4:127, 9:59, 9:120, 19:46, 21:90, 68:32, dan 94:8. Akar yang sama, dipasangkan dengan kata depan yang berbeda, bisa berarti sebaliknya, di 9:59, bentuk (رَاغِبُونَ, raaghibuuna) dipasangkan dengan arah "kepada Allah" justru berarti sangat berharap dan menuju, bukan menjauh.

Frasa (سَفِهَ نَفْسَهُ, safiha nafsahu) berarti "memperbodoh dirinya sendiri", dari akar yang berarti bodoh dan ringan akal. Akar itu muncul 10 kali, termasuk di ayat ini, lalu di 2:13, jauh lebih awal dalam surah yang sama, dan di 4:5. Di sana, akar yang sama dipakai untuk membalikkan tuduhan kebodohan kembali kepada yang menuduhkan, merekalah yang sesungguhnya bodoh, meski mereka tidak menyadarinya. Pola retoris yang sama berulang di ayat ini, menuduh yang berpaling dari jalan Ibrahim sebagai yang sesungguhnya memperbodoh dirinya sendiri.

Kata (اصْطَفَيْنَاهُ, ishthafaynaahu) berarti "Kami telah memilihnya", dari akar yang berarti bening dan terpilih dalam bentuk yang bermakna memilih yang paling murni atau terbaik, bukan sekadar memilih secara acak. Kata (الصَّالِحِينَ, ash-shaalihiina) berarti "orang-orang yang saleh", dari akar yang berarti baik dan pantas.

Ayat ini menyebut dua status Ibrahim di dua alam, dipilih di dunia, dan termasuk orang saleh di akhirat. Dua pernyataan ini disusun berurutan, status yang sudah terwujud sekarang, dan status yang akan berlanjut kemudian, seolah menegaskan bahwa kedudukan Ibrahim bukan cuma pengakuan sesaat di dunia, ia berlanjut sampai ke alam sesudahnya.

Kata (مِلَّةِ, millati) berarti "ajaran", dari akar yang berarti jalan hidup yang dianut, kata yang sama yang sudah dibahas di 2:120, tentang Yahudi dan Nasrani yang tidak akan pernah rela sampai seseorang mengikuti ajaran mereka. Di sana, kata ini dipakai untuk ajaran yang dituntutkan secara memaksa, di sini ia dipakai untuk ajaran yang justru dipertanyakan mengapa ada yang berpaling darinya, dua penggunaan yang berlawanan arah, satu tentang tuntutan mengikuti secara paksa, satu tentang keheranan mengapa ada yang menolak mengikuti tanpa paksaan.

Kata (نَفْسَهُ, nafsahu) berarti "dirinya sendiri", dari akar yang berarti napas dan jiwa, secara khusus menyebut diri sendiri sebagai objek yang dirugikan oleh kebodohan itu, bukan pihak lain. Susunan ini menempatkan akibat dari sikap berpaling justru menimpa yang berpaling itu sendiri, bukan menimpa ajaran yang ditolaknya.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian narasi Ibrahim dengan pertanyaan retoris yang menyerang balik keberatan yang mungkin muncul terhadap jalan Ibrahim. Bukan jalan itu yang dipertanyakan, melainkan akal sehat siapa pun yang berpaling darinya, sebuah pembalikan arah pertanyaan yang menempatkan beban pembuktian pada pihak yang menolak, bukan pada jalan yang ditolaknya.

Pembalikan tuduhan semacam ini bukan pertama kali muncul dalam surah ini. Ayat 2:13, jauh di awal surah, sudah memakai pola yang sama, tuduhan bodoh yang dilontarkan kepada orang beriman dibalikkan kepada yang melontarkannya. Menemukan pola retoris yang sama muncul lagi di sini, menutup narasi panjang tentang Ibrahim, memperlihatkan bahwa surah ini punya cara yang konsisten dalam menjawab keberatan, bukan dengan argumen baru setiap kali, melainkan dengan membalikkan tuduhan kepada asalnya.

Dua status yang disebut penutup ayat ini, dipilih di dunia dan termasuk orang saleh di akhirat, menyatukan pengakuan dari dua alam sekaligus. Ibrahim tidak sekadar dihormati sebagai tokoh sejarah, kedudukannya dinyatakan berlanjut sampai ke alam yang akan datang, sebuah pengakuan yang tidak berhenti pada masa hidupnya semata.

Kata untuk ajaran yang dipakai di ayat ini juga dipakai di 2:120, tapi dengan arah yang berlawanan, di sana ajaran itu dituntutkan secara memaksa oleh pihak lain, di sini ajaran yang sama justru dipertanyakan mengapa ada yang berpaling darinya tanpa paksaan apa pun. Kontras ini menegaskan bahwa jalan Ibrahim bukan sesuatu yang perlu dipaksakan, ia sesuatu yang seharusnya diikuti dengan sukarela, sehingga berpaling darinya justru menjadi hal yang mengherankan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang sama, dipasangkan dengan kata depan yang berbeda, bisa membawa makna yang berlawanan sepenuhnya, menjauh atau menuju, tergantung arah yang menyertainya. Menemukan pergeseran makna seperti ini lewat perubahan sekecil kata depan mengajak membaca kata-kata dengan lebih cermat, sebab akar yang sama tidak selalu membawa arah yang sama, satu huruf kecil bisa membalik seluruh arah sebuah kata.
  • Ayat ini mengulang pola yang sudah muncul jauh di awal surah, tuduhan bodoh yang dilontarkan kepada orang lain dibalikkan kepada yang melontarkannya. Menemukan pola yang sama diulang di dua tempat yang jauh berjarak memperlihatkan bahwa cara menjawab keberatan semacam ini bukan taktik sesaat, ia sebuah pola yang sengaja dipakai berulang untuk menegaskan siapa yang sesungguhnya perlu dipertanyakan akalnya, bukan yang dituduhnya lebih dulu.
  • Ayat ini menyebut dua status Ibrahim di dua alam yang berbeda, sebuah pengakuan yang tidak berhenti pada satu masa saja. Status yang berlanjut dari dunia sampai akhirat ini menunjukkan bahwa kedudukan yang diakui bukan cuma penghormatan sesaat, ia sesuatu yang tetap dan berkesinambungan, tidak terputus oleh batas antara satu alam dengan alam berikutnya. Kedudukan yang cuma bertahan di satu alam saja akan terasa rapuh, sementara kedudukan yang ditegaskan berlanjut ke alam berikutnya membawa kepastian yang jauh lebih kokoh.
  • Ayat ini tidak menjawab keberatan dengan argumen panjang, ia mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah tersirat di dalam pertanyaan itu sendiri. Siapa yang berpaling, kecuali yang memperbodoh dirinya sendiri, sebuah pertanyaan yang tidak mengundang perdebatan lebih lanjut, ia menutup ruang bagi jawaban lain selain yang sudah tersirat. Cara menjawab seperti ini lebih menegaskan daripada sanggahan panjang, sebab ia tidak memberi ruang bagi argumen balik yang mencoba mempertahankan sikap berpaling itu. Apa yang membuat sebuah pertanyaan lebih menutup daripada pernyataan? Pernyataan menaruh beban pada yang menyatakan, dan lawan bicaranya boleh menuntut bukti. Pertanyaan yang jawabannya sudah termuat di dalam susunannya menaruh beban pada yang ditanya, dan yang ditanya tidak punya jawaban lain kecuali mengakui atau diam.
  • Kata yang dipakai untuk menggambarkan kebodohan ini secara khusus menyebut diri sendiri sebagai objek yang dirugikan, memperbodoh dirinya sendiri, bukan sekadar bodoh secara umum. Penekanan ini menyiratkan bahwa berpaling dari sesuatu yang benar bukan cuma kesalahan penilaian, ia kerugian yang ditimpakan seseorang kepada dirinya sendiri, sebuah tindakan yang akhirnya kembali merugikan pelakunya sendiri. Rangkaian itu (سَفِهَ نَفْسَهُ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan begitu pula kata yang menyebut pemilihan Ibrahim di ayat yang sama (اصْطَفَيْنَاهُ). Dua kalimat itu berdiri berhadapan: yang satu tentang orang yang merugikan dirinya sendiri, yang lain tentang orang yang dipilih. Keduanya dinyatakan dengan kata yang tidak dipakai lagi di tempat lain mana pun.
  • Ayat ini menutup seluruh rangkaian narasi tentang Ibrahim, dari ujian yang disempurnakan, kedudukan sebagai pemimpin, pembangunan Rumah, sampai doa bagi keturunannya, dengan menegaskan bahwa jalannya adalah jalan yang layak diikuti, bukan yang layak ditolak. Penutup yang merangkum seluruh rangkaian ini memberi kesan bahwa semua yang diceritakan sebelumnya bukan sekadar riwayat masa lalu, ia dasar bagi ajakan mengikuti jalan yang sama.