إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, “Berserahdirilah!” Ia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seisi alam.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْidz qaala lahu rabbuhu aslimketika Tuhannya berfirman kepadanya, berserahdirilah
- قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَqaala aslamtu li-rabbi l-aalamiinaia menjawab, aku berserah diri kepada Tuhan seisi alam
Catatan pilihan kata (ringkas)
terjemahan lain merender s-l-m di sini via 'berserah'. terjemahan ini menyeragamkan DALAM cabang keberserahan; sisi-keadaan (salaam/saliim) = 'keselamatan/damai', TIDAK diseragamkan lintas cabang. Rollout cabang keberserahan akar akar s-l-m. 'muslim' diterjemahkan 'orang yang berserah diri' meng-universalkan istilah (bdk QS 3:83: seluruh ciptaan 'aslama'), konsisten dgn sikap keberserahan=orientasi hati, bukan keanggotaan institusi (FDI_FRAMEWORK_DIIN -2). PASS: retrofit kau/engkau/kalian menyusul. sebagian penerjemah: 'When his Lord said to him: “Submit thou,” he said: “I have submitted to the Lord of All Creation.”' Akar akar s-l-m (slm), cabang KEBERSERAHAN (aslama/islaam/muslim/mustaslim). Diverifikasi corpus Leeds (127 ayat slm; cabang keberserahan 66). Konvensi terjemahan ini (Pak FD 2026-07-15): islaam diterjemahkan 'keberserahan(-diri)', aslama diterjemahkan 'berserah diri', muslim diterjemahkan 'orang yang berserah diri'. Lih. Versi lama catatan ini keliru di kedua titik itu; lih. C1).
Aplikasi
Respons Ibrahim terhadap perintah 'berserahdirilah!' langsung dan tanpa syarat: 'Aku berserah diri kepada Tuhan seisi alam', kesegeraan respons tanpa negosiasi atau penundaan. Konkretnya: model respons Ibrahim ini menjadi tolok ukur, ketika kebenaran jelas terpampang, respons yang matang adalah kesediaan segera, bukan menunda-nunda dengan berbagai alasan.