وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan mereka berkata, “Jadilah kalian Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian mendapat petunjuk.” Katakanlah, “Sebaliknya, ajaran Ibrahim yang lurus, dan dia tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُواwa-qaaluu kuunuu huudan aw nasaaraa tahtaduudan mereka berkata, jadilah kalian Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian mendapat petunjuk
  2. قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًاqul bal millata ibraahiima haniifankatakanlah, sebaliknya, ajaran Ibrahim yang lurus
  3. وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَwa-maa kaana mina l-mushrikiinadan dia tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain merender millah sbg 'agama', menyamakannya dgn diin. terjemahan ini memisahkan keduanya utk menjaga presisi: 'millah' (kredo/jalan) ≠ 'pertanggungjawaban' (diin). Rollout millah (15 ayat akar akar m-l-l). Mempertahankan 'millah' menegakkan distingsi leksikal dari diin (Prinsip #1 konsistensi). PASS: berbasis terjemahan lain edisi terkini dgn 'agama'(millah) diterjemahkan 'millah'; retrofit kau/engkau/kalian menyusul (pass terpadu). sebagian penerjemah: 'And they say: “Be such as hold to Judaism, or Christians, you will be guided.” Say thou: “Nay, the creed of Abraham, inclining to truth; and he was not of the idolaters.”' Millah (akar m-l-h, akar akar m-l-l; lemma corpus 'mil~ap'). Entri millah memang tipis krn م ada setelah qaaf, justru itu alasan loanword 'millah' dipertahankan. Lih. C2. Diverifikasi corpus Leeds (root mll = 15 ayat millah, terpisah dari verba yumill 'mendiktekan' di 2:282). Konvensi terjemahan ini (Pak FD 2026-07-15): millah DIPERTAHANKAN sbg kata Arab (loanword, spt 'salat'), DIBEDAKAN dari diin='pertanggungjawaban'. Millah = jalan/kredo keyakinan-praktik yg diikuti; diin = relasi/sistem pertanggungjawaban.

Aplikasi

Tuntutan 'jadilah Yahudi atau Nasrani agar mendapat petunjuk' dijawab dengan penegasan mengikuti 'millah Ibrahim yang lurus', bukan penolakan terhadap kedua tradisi tersebut, melainkan penegasan sumber yang lebih dasar (Ibrahim, sebelum perpecahan menjadi kelompok-kelompok). Konkretnya: mencari akar bersama yang lebih fundamental (nilai inti, bukan label kelompok) bisa menjadi jalan mengatasi perpecahan sektarian yang berlarut-larut.