فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Jika mereka telah mengimani apa yang kalian imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Akan tetapi, jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan. Maka Allah akan mencukupimu terhadap mereka. Dia Yang Mendengar lagi Sang Berilmu.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْاfa-in aamanuu bi-mitsli maa aamantum bihi fa-qadi htadawjika mereka telah mengimani apa yang kalian imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk
- وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍwa-in tawallaw fa-innamaa hum fii syiqaaqinakan tetapi, jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan
- فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُfa-sayakfiikahumu llaahu wa-huwa s-samii'u l-'aliimumaka Allah akan mencukupimu terhadap mereka, Dia Yang Mendengar lagi Sang Berilmu
Terjemahan per kata (19 kata)
- فَإِنْfa-inmaka jika
- آمَنُواaamanuuberiman
- بِمِثْلِbi-mitslidengan yang seperti
- مَاmaaapa yang
- آمَنْتُمْaamantumkalian beriman
- بِهِbihikepadanya
- فَقَدِfa-qadimaka sungguh
- اهْتَدَوْاhtadawmereka mendapat petunjuk
- وَإِنْwa-indan jika
- تَوَلَّوْاtawallawmereka berpaling
- فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
- هُمْhummereka
- فِيfiidalam
- شِقَاقٍsyiqaaqinperselisihan
- فَسَيَكْفِيكَهُمُfa-sayakfiikahumumaka Allah akan mencukupkanmu terhadap mereka
- اللَّهُllaahuAllah
- وَهُوَwa-huwadan Dialah
- السَّمِيعُs-samii'uYang Mendengar
- الْعَلِيمُl-'aliimuSang Berilmu
Inti bacaan
Kriteria untuk mengukur apakah orang lain 'mendapat petunjuk' diberikan sederhana: apakah mereka 'mengimani apa yang kalian imani', bukan standar ganda yang rumit. Konkretnya: kejujuran dalam menilai kesamaan/perbedaan pandangan orang lain memakai standar yang sama yang dipakai untuk menilai diri sendiri, bukan standar berlapis yang menguntungkan kelompok sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Frasa (بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ, bi-mitsli maa aamantum bihi) berarti "seperti apa yang kalian imani", dari akar yang berarti serupa dan perumpamaan, akar yang sama dengan (مِثْلِهَا, mitslihaa, "sebanding dengannya") di 2:106. Frasa ini tidak meminta mereka beriman kepada apa yang diimani orang beriman, yang akan menyiratkan tunduk pada otoritas pihak lain, melainkan beriman dengan kualitas yang setara, sebuah kesetaraan dalam keimanan itu sendiri, bukan kepatuhan pada kelompok tertentu.
Kata (تَوَلَّوْا, tawallaw) berarti "berpaling", dari akar yang berarti dekat dan mengurus, akar yang sama dengan (وَلِيّ, waliyy, "pelindung") di 2:107 dan (تُوَلُّوا, tuwalluu, "kalian menghadap") di 2:115. Satu akar ini mencakup rentang makna yang luas, kedekatan yang mengurus, arah yang dituju, dan di ayat ini, berpaling menjauh, seolah kedekatan dan penjauhan sama-sama berasal dari gerakan yang sama, hanya berbeda arahnya.
Kata (شِقَاقٍ, syiqaaqin) berarti "perselisihan", dari akar yang berarti terbelah. Akar itu muncul 25 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini, lalu di 2:176, 4:35, dan 8:13, bermakna dasar keretakan atau perpecahan, sebuah kata yang membawa citra sesuatu yang semula utuh lalu terbelah.
Kata (سَيَكْفِيكَهُمُ, sayakfiikahumu) berarti "akan mencukupimu terhadap mereka", dari akar yang berarti mencukupi. Akar itu muncul 32 kali, sebuah jaminan kecukupan, bukan instruksi untuk membalas atau melawan secara langsung.
Penutup ayat ini, (السَّمِيعُ الْعَلِيمُ, as-samii'u l-'aliimu) berarti "Yang Mendengar lagi Yang Mengetahui", pasangan yang sama yang sudah dibahas di 2:127, bagian dari 15 kemunculan pasangan nama ini di Al-Qur'an. Di sana, pasangan ini menutup doa Ibrahim yang memohon diterima, di sini pasangan yang sama menutup jaminan bagi yang menghadapi perselisihan, keduanya sama-sama menegaskan bahwa Allah mendengar dan mengetahui, entah doa yang dipanjatkan atau perselisihan yang dihadapi.
Kata (اهْتَدَوْا, ihtadaw) berarti "telah mendapat petunjuk", dari akar yang berarti menunjukkan jalan, akar yang sama dengan (تَهْتَدُوا, tahtaduu, "kalian mendapat petunjuk") di 2:135, tentang klaim yang mensyaratkan menjadi Yahudi atau Nasrani. Di sana, petunjuk diklaim datang lewat kepatuhan pada label kelompok, di ayat ini, petunjuk justru datang lewat kesamaan keimanan itu sendiri, dua ayat yang berdekatan memakai akar yang sama untuk menegaskan dua kriteria yang berbeda, satu ditolak, satu ditegaskan.
Susunan kalimat ayat ini memakai dua struktur bersyarat berturut-turut, "jika mereka beriman... jika mereka berpaling...", masing-masing diikuti konsekuensinya sendiri. Struktur ini menyajikan dua kemungkinan secara berimbang, tanpa menyisakan kemungkinan ketiga di antara keduanya, seolah menutup ruang bagi sikap yang tidak jelas, entah menerima kesamaan keimanan atau berpaling darinya.
Tafsiran
Ayat ini menawarkan ukuran yang jelas bagi petunjuk, bukan kesamaan afiliasi kelompok, melainkan kesamaan keimanan itu sendiri. Jika keimanan yang setara itu tercapai, petunjuk sudah diperoleh, tanpa perlu embel-embel identitas kelompok tertentu. Ini melanjutkan pola yang sudah ditegaskan di ayat-ayat sebelumnya, kriteria yang sesungguhnya adalah kesungguhan iman, bukan label yang disandang.
Jika kesamaan itu ditolak, jaminan yang diberikan bukan konfrontasi yang harus dijalani sendiri. Allah yang akan mencukupkan, sebuah pembebasan dari beban menanggung sendiri perselisihan yang muncul akibat penolakan itu. Ayat ini tidak menyerukan pembalasan atau perdebatan berkepanjangan, ia menyerahkan penyelesaiannya kepada Yang Mendengar dan Mengetahui.
Penutup ayat ini menggemakan penutup doa Ibrahim di 2:127. Kesamaan penutup ini menghubungkan dua situasi yang tampak berbeda, doa yang memohon diterima dan jaminan menghadapi perselisihan, lewat sandaran yang sama, Allah yang mendengar dan mengetahui, apa pun yang sedang dihadapi oleh yang menyandarkan diri kepada-Nya.
Kata untuk mendapat petunjuk di ayat ini berasal dari akar yang sama dengan yang dipakai di 2:135, tentang klaim yang mensyaratkan menjadi Yahudi atau Nasrani sebagai jalan menuju petunjuk. Ayat ini menggeser kriterianya, bukan kepatuhan pada label kelompok, melainkan kesamaan keimanan itu sendiri yang menjadi jalan menuju petunjuk, sebuah pergeseran yang sudah dipersiapkan oleh ayat-ayat sebelumnya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini tidak meminta pihak lain beriman kepada apa yang diimani orang beriman, ia meminta keimanan yang setara kualitasnya. Perbedaan ini penting, sebab beriman kepada keimanan orang lain menyiratkan tunduk pada otoritas kelompok tertentu, sementara beriman dengan kualitas yang setara menempatkan kebenaran itu sendiri sebagai ukuran, bukan kelompok mana yang lebih dulu mempercayainya. Ukuran yang berpusat pada kebenaran, bukan pada kelompok yang memegangnya, membuka jalan bagi siapa pun untuk mengenali kebenaran itu tanpa harus tunduk pada otoritas manusia mana pun.
- Kata untuk berpaling dalam ayat ini berasal dari akar yang sama dengan kata untuk pelindung dan kata untuk menghadap di ayat-ayat lain. Satu akar yang sama mencakup kedekatan yang mengurus, arah yang dituju, dan penjauhan yang menolak, seolah bahasa ini memahami bahwa mendekat dan menjauh adalah dua sisi dari gerakan yang sama, hanya berbeda arahnya saja. Menyadari kedekatan akar ini membuat kata berpaling terasa lebih hidup, bukan sekadar penolakan pasif, melainkan gerakan aktif menjauh yang berlawanan arah dengan gerakan mendekat.
- Kata yang dipakai untuk perselisihan membawa citra sesuatu yang semula utuh lalu terbelah, bukan sekadar perbedaan pendapat yang wajar. Gambaran keretakan ini menegaskan bahwa penolakan terhadap kesamaan keimanan bukan perbedaan kecil yang bisa diabaikan, ia perpecahan yang nyata dari sesuatu yang seharusnya bisa bersatu, sebuah retakan yang terjadi justru karena kesamaan yang ditawarkan tidak diterima. Kata itu (شِقَاقٍ) muncul di lima ayat, dan dua di antaranya di surah ini: 2:137 dan 2:176. Di ketiga tempat lainnya, 22:53, 38:2, dan 41:52, ia selalu menerangkan jarak yang jauh, bukan perbedaan pendapat biasa. Kata ini tidak dipakai untuk dua pihak yang belum sepakat, melainkan untuk dua bagian yang dulu satu lalu terbelah.
- Jaminan yang diberikan ayat ini bukan instruksi untuk membalas atau berkonfrontasi, ia jaminan kecukupan dari Allah sendiri. Ada kelegaan dalam menerima bahwa menghadapi penolakan atau perselisihan tidak selalu berarti harus melawan sendiri, kadang cukup dengan menyerahkan penyelesaiannya kepada yang lebih berkuasa menanganinya, sebuah kepercayaan yang membebaskan dari dorongan membalas setiap penolakan yang diterima. Bentuk jaminannya (فَسَيَكْفِيكَهُمُ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Apa bedanya dijamin dicukupkan dan dijanjikan kemenangan? Yang dijanjikan kemenangan masih harus bertempur; yang dicukupkan tidak diberi tugas apa pun terhadap mereka. Kata yang dipilih membebaskan yang disapa dari pekerjaan itu, bukan menyiapkannya untuk pekerjaan itu.
- Penutup ayat ini sama persis dengan penutup doa Ibrahim beberapa ayat sebelumnya. Menghubungkan dua situasi yang tampak berbeda, doa yang memohon diterima dan jaminan menghadapi perselisihan, lewat penutup yang sama memberi kesan bahwa keduanya bersandar pada sifat yang sama, Allah yang mendengar dan mengetahui, apa pun situasi yang sedang dihadapi oleh yang menyandarkan diri kepada-Nya, entah dalam doa maupun dalam menghadapi penolakan.
- Ayat ini memberi ukuran yang jelas dan sederhana bagi petunjuk, kesamaan dalam keimanan, bukan ukuran yang samar atau berubah-ubah tergantung siapa yang menilai. Kejelasan ukuran ini penting, sebab tanpa ukuran yang jelas, setiap pihak bisa mengklaim dirinya benar tanpa ada dasar yang bisa diperiksa bersama oleh siapa pun yang ingin menilai secara objektif.