سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apa yang memalingkan mereka dari kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya?” Katakanlah, “Milik Allah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَاsa-yaquulu s-sufahaa'u mina n-naasi maa wallaahum 'an qiblatihimu llatii kaanuu 'alayhaaorang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, apa yang memalingkan mereka dari kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya
  2. قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُqul li-llaahi l-masyriqu wa-l-maghribukatakanlah, milik Allah timur dan barat
  3. يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍyahdii man yasyaa'u ilaa shiraathin mustaqiiminDia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. سَيَقُولُsa-yaquuluakan berkata
  2. السُّفَهَاءُs-sufahaa'uorang-orang yang kurang akal
  3. مِنَminadari
  4. النَّاسِn-naasimanusia
  5. مَاmaaapa yang
  6. وَلَّاهُمْwallaahummemalingkan mereka
  7. عَنْ'andari
  8. قِبْلَتِهِمُqiblatihimukiblat mereka
  9. الَّتِيllatiiyang
  10. كَانُواkaanuumereka selalu
  11. عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
  12. قُلْqulkatakanlah
  13. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  14. الْمَشْرِقُl-masyriqutimur
  15. وَالْمَغْرِبُwa-l-maghribudan barat
  16. يَهْدِيyahdiimemberi petunjuk
  17. مَنْmanorang yang
  18. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  19. إِلَىٰilaakepada
  20. صِرَاطٍshiraathinjalan
  21. مُسْتَقِيمٍmustaqiiminyang lurus

Inti bacaan

Perubahan kiblat memicu kritik dari 'orang-orang yang kurang akal', sebuah kasus di mana perintah yang tampak berubah/tidak konsisten sebenarnya punya alasan lebih dalam (petunjuk Allah ke jalan lurus, bukan arah fisik semata). Konkretnya: perubahan arah/kebijakan yang tampak membingungkan dari luar terkadang punya alasan mendalam yang tidak segera terlihat, kesediaan memahami sebelum mengkritik adalah sikap yang lebih matang daripada menuduh 'kurang akal' pada pihak yang berubah.

Penjelasan pilihan kata

Kata (السُّفَهَاءُ, as-sufahaa'u) berarti "orang-orang yang kurang akal", dari akar yang berarti bodoh dan ringan akal. Akar itu muncul 10 kali di Al-Qur'an, termasuk di ayat ini. Akar yang sama sudah dipakai dua kali sebelumnya dalam surah ini, di 2:13 bagi mereka yang mengejek orang beriman lalu dibalikkan sebagai label yang justru pantas disandang oleh si pengejek sendiri, dan di 2:130 bagi siapa saja yang membenci ajaran Ibrahim, disebut sebagai orang yang "memperbodoh dirinya sendiri". Di ayat ini, label yang sama dipakai ketiga kalinya, kini bagi mereka yang mempersoalkan perubahan arah menghadap. Tiga kemunculan ini menyusun satu pola, penolakan terhadap petunjuk, dalam bentuk apa pun, ditandai dengan kata yang sama.

Kata (وَلَّاهُمْ, wallaahum) berarti "memalingkan mereka", dari akar yang berarti dekat dan mengurus, akar yang sudah dibahas berulang dalam surah ini, tentang pelindung di 2:107, tentang menghadap di 2:115, dan tentang berpaling di 2:137. Di ayat ini, akar yang sama dipakai untuk pertanyaan yang diantisipasi tentang apa yang membuat arah menghadap berubah, melanjutkan rentang makna yang sama, gerakan berpindah arah, kali ini secara harfiah tentang arah fisik, bukan lagi kiasan tentang kedekatan atau kesetiaan.

Kata (قِبْلَتِهِمُ, qiblatihimu) berarti "kiblat mereka", dari akar yang berarti menerima dan menghadap. Kata benda "kiblat" secara spesifik, bukan akarnya yang jauh lebih luas, hanya hadir di lima ayat berbeda di seluruh Al-Qur'an (2:142, 2:143, 2:144, 2:145, 10:87), dan di 2:145 kata ini terulang tiga kali dalam satu ayat yang sama, sehingga total kemunculannya berjumlah tujuh. Hampir seluruh kemunculan kata ini terpusat di lima ayat berurutan dalam surah ini sendiri, menunjukkan bahwa istilah ini jarang dipakai di tempat lain, dan justru dijadikan pusat pembahasan tepat di rangkaian ayat yang dimulai di sini.

Frasa (لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ, lillaahi l-masyriqu wa-l-maghribu) berarti "milik Allah timur dan barat", dari akar yang berarti terbit dan timur dan akar yang berarti terbenam dan barat, yang masing-masing muncul 17 kali di Al-Qur'an, dan hampir selalu berpasangan, misalnya di 2:115, 2:177, dan 7:137, 10 dari 17 kemunculan itu menyandingkan keduanya dalam ayat yang sama. Frasa ini hampir identik dengan yang sudah muncul di 2:115, "wa lillaahi l-mashriqu wal-maghrib", jauh lebih awal dalam surah yang sama, waktu itu ditutup dengan penegasan bahwa ke mana pun orang menghadap, di sanalah wajah Allah. Kini pernyataan yang sama dipakai lagi, kali ini sebagai jawaban langsung atas pertanyaan tentang perubahan arah kiblat.

Kata (يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ, yahdii man yasyaa'u) berarti "Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki", dari akar yang berarti menunjukkan jalan, formula yang muncul persis sama di 10 tempat, termasuk dua kali lagi nanti dalam surah ini sendiri, di 2:213 dan 2:272. Penutup ayat ini, (صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, siraatin mustaqiimin, "jalan yang lurus"), menggemakan permohonan yang sama yang diucapkan di pembukaan setiap surah, "tunjukilah kami jalan yang lurus", kini muncul bukan sebagai permohonan, melainkan sebagai penegasan tentang kepada siapa petunjuk itu diberikan.

Ayat ini dibuka dengan kata kerja berbentuk masa depan, (سَيَقُولُ, sa-yaquulu, "akan berkata"), dari akar yang berarti mengatakan, mengantisipasi sebuah keberatan sebelum keberatan itu benar-benar diucapkan. Penyebut keberatan ini juga tidak menamai kelompok tertentu, cukup "orang-orang yang kurang akal di antara manusia", berbeda dari rangkaian ayat sebelumnya yang secara eksplisit menyebut Yahudi dan Nasrani. Ayat ini juga tidak menyebut arah kiblat yang lama maupun yang baru secara spesifik, hanya "kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya", membiarkan jawabannya berpusat sepenuhnya pada prinsip, bukan pada arah geografis mana pun.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian baru dalam surah, sesudah rangkaian panjang tentang identitas dan klaim kelompok yang baru saja ditutup di ayat sebelumnya. Bentuk kata kerja masa depan di awal ayat mengantisipasi sebuah pertanyaan sebelum benar-benar diajukan, sebuah cara menjawab yang menempatkan jawabannya lebih dulu siap sebelum keberatan itu sempat menggoyahkan siapa pun yang mendengarnya.

Jawaban yang diberikan bukan pembelaan atas satu arah tertentu, melainkan penegasan bahwa seluruh arah, timur dan barat, adalah milik Allah. Prinsip ini bukan pernyataan baru, ia mengulang hampir kata demi kata apa yang sudah dinyatakan di 2:115. Pengulangan ini bukan kebetulan, ia menunjukkan bahwa perubahan arah menghadap tidak bertentangan dengan prinsip yang sudah ditegaskan sebelumnya, sebab prinsip itu sejak awal tidak pernah mengikat kesucian pada satu arah tertentu.

Kata yang dipakai untuk menyebut mereka yang mempersoalkan perubahan ini adalah kata yang sama yang sudah dipakai dua kali sebelumnya dalam surah ini, sekali bagi yang mengejek orang beriman, sekali bagi yang membenci ajaran Ibrahim. Pengulangan kata ini menghubungkan tiga peristiwa yang berbeda lewat satu benang yang sama, penolakan terhadap petunjuk selalu berujung pada label yang sama, betapa pun berbeda bentuk penolakannya.

Ayat ini juga sengaja tidak menyebut arah kiblat yang lama maupun yang baru secara spesifik. Ketiadaan nama ini bukan kekurangan informasi, ia sejalan dengan jawaban yang diberikan, bahwa yang penting bukan arah geografis tertentu, melainkan kepada siapa petunjuk itu diberikan. Penutup ayat ini, tentang petunjuk menuju jalan yang lurus, menggeser perhatian dari pertanyaan tentang arah menuju pertanyaan yang lebih mendasar, siapa yang berhak menentukan arah petunjuk itu sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini mengantisipasi sebuah keberatan sebelum keberatan itu benar-benar diucapkan, memakai bentuk kata kerja masa depan yang jarang dipakai untuk membuka sebuah ayat. Cara menjawab seperti ini berbeda dari menjawab setelah diserang, ia menyiapkan jawabannya lebih dulu, seolah menunjukkan bahwa keberatan semacam itu sudah diperhitungkan dan tidak mengejutkan siapa pun yang memahami prinsip di baliknya, sebuah ketenangan yang datang dari kesiapan, bukan dari kebetulan.
  • Kata yang dipakai untuk menyebut mereka yang mempersoalkan perubahan arah menghadap ini sama dengan kata yang sudah dipakai dua kali sebelumnya, sekali bagi yang mengejek orang beriman, sekali bagi yang membenci ajaran Ibrahim. Tiga peristiwa yang tampak berbeda ini, ejekan, penolakan ajaran leluhur, dan keberatan atas perubahan praktik, ternyata disatukan oleh label yang sama, sebuah pengingat bahwa penolakan terhadap petunjuk selalu membawa akibat yang serupa, betapa pun berbeda bentuk penolakan itu ditampilkan.
  • Kata benda kiblat secara spesifik hanya hadir di lima ayat berbeda di seluruh Al-Qur'an (2:142, 2:143, 2:144, 2:145, 10:87), dan hampir semuanya terpusat di lima ayat berurutan yang dimulai tepat di ayat ini. Konsentrasi ini memperlihatkan bahwa istilah yang jarang dipakai di tempat lain justru dijadikan pusat pembahasan yang padat di satu tempat, sebuah pengingat bahwa jarangnya sebuah kata dipakai tidak berarti ia tidak penting, ia bisa saja sedang menunggu momen yang tepat untuk dibahas secara mendalam.
  • Ayat ini sengaja tidak menyebut arah kiblat yang lama maupun yang baru secara spesifik, hanya menyebutnya sebagai kiblat yang dahulu mereka menghadap kepadanya. Ketiadaan nama ini konsisten dengan jawaban yang diberikan, bahwa arah geografis tertentu bukan yang menentukan, melainkan kepada siapa petunjuk itu diberikan. Cara menyusun ayat yang menahan diri dari menyebut detail yang sebenarnya bisa disebutkan ini mengarahkan perhatian pembaca kembali kepada prinsip, bukan kepada detail yang tampak lebih menarik untuk diperdebatkan.
  • Jawaban yang diberikan ayat ini mengulang hampir kata demi kata pernyataan yang sudah ada jauh lebih awal dalam surah yang sama. Menemukan bahwa jawaban atas sebuah keberatan baru sesungguhnya sudah tersedia sejak lama, tinggal ditarik kembali dan dipakai ulang, menunjukkan bagaimana sebuah prinsip yang ditegaskan di satu tempat bisa menjangkau persoalan yang muncul jauh sesudahnya, tanpa perlu dirumuskan ulang dari awal, sebab prinsip yang benar tidak kedaluwarsa oleh berjalannya waktu.
  • Berbeda dari rangkaian ayat sebelumnya yang secara eksplisit menyebut Yahudi dan Nasrani, ayat ini menyebut sumber keberatan hanya sebagai orang-orang yang kurang akal di antara manusia, tanpa menamai kelompok tertentu. Pergeseran dari sebutan yang bernama menjadi sebutan yang umum ini menunjukkan bahwa keberatan semacam ini bisa muncul dari siapa saja, tidak terbatas pada kelompok yang sudah disebutkan sebelumnya, sebuah peringatan yang berlaku lintas kelompok, bukan tuduhan yang diarahkan kepada pihak tertentu saja.