وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

Dan sungguh, jika engkau mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Kitab setiap tanda, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu. Dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Dan sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sungguh, jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya engkau, jika demikian, benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَwa-la-in atayta lladziina uutuu l-kitaaba bi-kulli aayatin maa tabi'uu qiblatakadan sungguh, jika engkau mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Kitab setiap tanda, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu
  2. وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْwa-maa anta bi-taabi'in qiblatahumdan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka
  3. وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍwa-maa ba'dhuhum bi-taabi'in qiblata ba'dhindan sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain
  4. وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِwa-la-ini ttaba'ta ahwaa'ahum min ba'di maa jaa'aka mina l-'ilmidan sungguh, jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang kepadamu ilmu
  5. إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَinnaka idzan la-mina zh-zhaalimiinasesungguhnya engkau, jika demikian, benar-benar termasuk orang-orang yang zalim

Terjemahan per kata (32 kata)

  1. وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
  2. أَتَيْتَataytaengkau mendatangkan
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. أُوتُواuutuudiberi
  5. الْكِتَابَl-kitaabaKitab
  6. بِكُلِّbi-kullipada segala
  7. آيَةٍaayatintanda
  8. مَاmaatidaklah
  9. تَبِعُواtabi'uumereka mengikuti
  10. قِبْلَتَكَqiblatakakiblatmu
  11. وَمَاwa-maadan tidaklah
  12. أَنْتَantaengkau
  13. بِتَابِعٍbi-taabi'inyang mengikuti
  14. قِبْلَتَهُمْqiblatahumkiblat mereka
  15. وَمَاwa-maadan tidaklah
  16. بَعْضُهُمْba'dhuhumsebagian mereka
  17. بِتَابِعٍbi-taabi'inyang mengikuti
  18. قِبْلَةَqiblatakiblat
  19. بَعْضٍba'dhinsebagian
  20. وَلَئِنِwa-la-inidan sungguh jika
  21. اتَّبَعْتَttaba'taengkau mengikuti
  22. أَهْوَاءَهُمْahwaa'ahumkeinginan mereka
  23. مِنْmindari
  24. بَعْدِba'disesudah
  25. مَاmaaapa yang
  26. جَاءَكَjaa'akadatang kepadamu
  27. مِنَminadari
  28. الْعِلْمِl-'ilmiilmu
  29. إِنَّكَinnakasesungguhnya engkau
  30. إِذًاidzanjika demikian
  31. لَمِنَla-minasungguh termasuk
  32. الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim

Inti bacaan

Fakta bahwa kelompok berbeda tidak akan pernah sepenuhnya sepakat soal kiblat masing-masing ('sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain') mengajarkan penerimaan realistis terhadap keberagaman praktik yang tak akan pernah seragam sepenuhnya. Konkretnya: berhenti mengharapkan keseragaman total dalam praktik keagamaan/budaya lintas kelompok, fokus pada integritas mengikuti petunjuk yang diyakini benar, bukan memaksakan keseragaman yang tak realistis.

Penjelasan pilihan kata

Akar yang berarti mengikuti muncul 4 kali dalam ayat ini: (تَبِعُوا, tabi'uu) yang berarti "mereka mengikuti", (بِتَابِعٍ, bi-taabi'in) yang berarti "menjadi pengikut", muncul dua kali, dan (اتَّبَعْتَ, ittaba'ta) yang berarti "engkau mengikuti". Tiga kemunculan pertama menyusun sebuah struktur segitiga penolakan: Ahlulkitab tidak akan mengikuti kiblat Nabi, Nabi tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian dari mereka sendiri tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Kata (قِبْلَتَكَ, qiblataka), (قِبْلَتَهُمْ, qiblatahum), dan (قِبْلَةَ بَعْضٍ, qiblata ba'dhin) menegaskan bahwa ketiga penolakan ini semuanya berputar pada objek yang sama, arah kiblat, hanya berbeda siapa menolak siapa. Kemunculan keempat akar yang berarti mengikuti, dalam bentuk (اتَّبَعْتَ, ittaba'ta), membalik arah pembicaraan dari mengikuti kiblat menjadi mengikuti keinginan, sebuah pergeseran dari soal arah salat menjadi soal arah hidup.

Kata (أَهْوَاءَهُمْ, ahwaa'ahum) yang berarti "keinginan mereka" berasal dari akar yang berarti jatuh meluncur, dan di ayat ini secara eksplisit dipertentangkan dengan (الْعِلْمِ, al-'ilmi) yang berarti "ilmu", lewat kalimat "keinginan mereka setelah datang kepadamu ilmu". Susunan kalimat (وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ, wa-la-ini ittaba'ta ahwaa'ahum), "dan sungguh jika engkau mengikuti keinginan mereka", diikuti frasa yang menyebut datangnya ilmu, muncul hampir kata demi kata sama di tiga tempat: ayat ini, 2:120, dan 13:37. Di 2:120 dan 13:37, akibat yang disebutkan sama, tidak ada pelindung dari Allah. Di ayat ini, akibatnya berbeda dan lebih berat: termasuk orang-orang yang zalim. Rumusan yang sama dipakai tiga kali, tapi hanya di ayat ini akibatnya diubah dari kehilangan perlindungan menjadi digolongkan sebagai pelaku kezaliman.

Kata (بِكُلِّ آيَةٍ, bi-kulli aayatin) berarti "dengan setiap tanda", memakai kata (آيَةٍ, aayatin) yang di ayat ini bermakna tanda atau bukti, bukan ayat kitab suci. Kata (كُلِّ, kulli) yang berarti "setiap" atau "segala" menegaskan cakupan yang menyeluruh: bukan sekadar satu atau beberapa tanda yang mungkin kurang meyakinkan, melainkan seandainya seluruh tanda yang bisa dibayangkan sekalipun didatangkan, hasilnya dinyatakan tetap sama. Bagian ketiga ayat ini, tentang sebagian mereka yang tidak mengikuti kiblat sebagian yang lain, memakai kata (بَعْضُهُمْ, ba'dhuhum) dan (بَعْضٍ, ba'dhin), keduanya dari akar yang berarti "sebagian", sebuah kata yang secara khusus menandai bahwa perpecahan ini terjadi di dalam kelompok yang sama, bukan antara satu kelompok besar dengan kelompok besar lainnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan penegasan arah baru dari 2:144 dengan mengantisipasi keberatan yang mungkin muncul: bagaimana jika Ahlulkitab tetap menolak, bahkan setelah diberi bukti yang meyakinkan? Ayat ini menutup kemungkinan itu lebih dulu, bukan dengan menjanjikan bukti yang lebih kuat, melainkan dengan menyatakan bahwa penolakan mereka tidak bersumber dari kekurangan bukti sama sekali. Seperti sudah ditunjukkan, kata mengikuti diulang empat kali untuk menggambarkan tiga arah penolakan yang berbeda, sebelum akhirnya ayat ini menyebutkan bahkan tanda paling menyeluruh sekalipun tidak akan mengubah keadaan itu.

Bagian ketiga ayat ini, sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain, melangkah lebih jauh dari sekadar menyatakan Ahlulkitab menolak Nabi. Ia menyatakan bahwa penolakan untuk mengikuti bukan sesuatu yang khusus ditujukan kepada Nabi, melainkan pola yang berlaku bahkan di antara mereka sendiri. Disebutkannya perpecahan internal ini mengubah watak seluruh ayat: yang sedang dibicarakan bukan Ahlulkitab menolak satu kebenaran tertentu yang datang dari luar, melainkan sebuah pola keengganan mengikuti yang berlaku ke segala arah, termasuk ke sesama mereka.

Dari tiga pernyataan tentang kiblat yang tidak diikuti, ayat ini berpindah ke satu pernyataan bersyarat tentang mengikuti keinginan mereka, sebuah pergeseran dari objek luar, arah salat, ke soal yang jauh lebih dekat dengan penyampai wahyu sendiri. Seperti sudah ditunjukkan, susunan kalimat ini muncul lagi di 2:120 dan 13:37, tapi hanya di sini akibatnya dinyatakan sebagai tergolong zalim, bukan kehilangan pelindung. Ayat yang berbicara tentang penolakan orang lain terhadap kebenaran, di akhirnya, berbalik arah dan menempatkan kemungkinan kezaliman itu pada penyampai wahyu sendiri, seandainya ia yang bergeser.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyatakan bahwa bahkan tanda yang paling menyeluruh sekalipun tidak akan mengubah sikap mereka yang menolak untuk mengikuti. Ada kalanya penolakan seseorang terhadap sesuatu bukan soal belum cukup meyakinkan, melainkan soal tidak bersedia mengikuti sama sekali, dan kedua hal ini menuntut respons yang sangat berbeda; mengira yang pertama padahal yang terjadi adalah yang kedua hanya akan menghabiskan tenaga mencari bukti tambahan yang tidak akan pernah cukup.
  • Ayat ini tidak berhenti pada penolakan Ahlulkitab terhadap Nabi; ia juga menyebut bahwa sebagian dari mereka sendiri tidak mengikuti kiblat sebagian yang lain. Keengganan mengikuti ternyata bukan sesuatu yang khusus dialamatkan kepada satu pihak tertentu, melainkan pola yang bisa berlaku ke segala arah, bahkan di antara mereka yang berbagi banyak kesamaan. Mengenali pola ini mencegah seseorang membaca penolakan sebagai serangan pribadi, padahal ia bagian dari sesuatu yang jauh lebih luas.
  • Ayat ini bergerak dari tiga pernyataan tentang kiblat yang tidak diikuti menuju satu pernyataan bersyarat tentang mengikuti keinginan, sebuah pergeseran dari soal arah tubuh saat salat menuju soal ke arah mana hidup seseorang sesungguhnya condong. Pertanyaan tentang arah mana yang diikuti ternyata tidak berhenti pada persoalan ritual; ia meluas menjadi pertanyaan tentang apa yang sesungguhnya menjadi rujukan seseorang ketika mengambil keputusan, ilmu yang sudah diterima, atau keinginan yang muncul kemudian.
  • Peringatan di akhir ayat ini tidak ditujukan kepada Ahlulkitab yang menolak, melainkan kepada Nabi sendiri, seandainya ia mengikuti keinginan mereka. Ayat yang sepanjang isinya membicarakan penolakan pihak lain terhadap kebenaran, di penutupnya, justru mengarahkan kemungkinan kezaliman itu kepada pihak yang menyampaikan kebenaran. Posisi menyampaikan sesuatu yang benar tidak dengan sendirinya membebaskan seseorang dari kemungkinan tergelincir mengikuti arah yang salah.
  • Peringatan ini secara eksplisit disyaratkan pada sesuatu yang sudah terjadi, ilmu yang sudah datang. Bukan mengikuti keinginan itu sendiri yang membuat sesuatu tergolong zalim, melainkan mengikutinya sesudah ilmu itu sampai. Ada perbedaan antara belum mengetahui dan mengetahui lalu memilih mengabaikannya, dan ayat ini menempatkan garis pembeda itu tepat pada titik ilmu itu datang, bukan pada isi keinginan yang diikuti.
  • Susunan kalimat yang memperingatkan tentang mengikuti keinginan sesudah datangnya ilmu muncul dengan kata-kata yang hampir sama persis di dua tempat lain, namun hanya di ayat ini akibatnya dinyatakan sebagai tergolong zalim, bukan kehilangan pelindung. Rumusan yang sama bisa membawa bobot yang berbeda tergantung konteks tempatnya diucapkan, sebuah pengingat bahwa mengulang kata-kata yang sama tidak selalu berarti mengulang beban yang sama pula.
  • Ayat ini menggambarkan penolakan yang tegas dan berlapis, tiga arah sekaligus, tanpa menyertakan nada permusuhan atau ajakan membalas penolakan itu. Ia menyatakan fakta tentang keengganan mengikuti sebagai fakta, lalu berpindah ke soal yang jauh lebih relevan bagi penyampai wahyu sendiri: menjaga diri agar tidak ikut bergeser. Ada ruang untuk menerima kenyataan bahwa sebagian orang tidak akan pernah mengikuti, tanpa ruang itu perlu diisi kepahitan.