وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan bagi setiap umat ada arah yang dia menghadap kepadanya. Maka, berlomba-lombalah kalian dalam berbagai kebajikan. Di mana pun kalian berada, Allah akan mengumpulkan kalian semuanya. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَاwa-li-kullin wijhatun huwa muwalliihaadan bagi setiap umat ada arah yang dia menghadap kepadanya
- فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِfa-stabiquu l-khayraatimaka berlomba-lombalah kalian dalam berbagai kebajikan
- أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًاayna maa takuunuu ya'ti bikumu llaahu jamii'andi mana pun kalian berada, Allah akan mengumpulkan kalian semuanya
- إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌinna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirunsesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu
Terjemahan per kata (19 kata)
- وَلِكُلٍّwa-li-kullindan bagi setiap
- وِجْهَةٌwijhatunarah
- هُوَhuwaia
- مُوَلِّيهَاmuwalliihaayang menghadap kepadanya
- فَاسْتَبِقُواfa-stabiquumaka berlomba-lombalah kalian
- الْخَيْرَاتِl-khayraatikebajikan
- أَيْنَaynadi mana
- مَاmaaapa pun
- تَكُونُواtakuunuukalian menjadi
- يَأْتِya'timendatangkan
- بِكُمُbikumudengan kalian
- اللَّهُllaahuAllah
- جَمِيعًاjamii'ansemuanya
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- كُلِّkullisegala
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- قَدِيرٌqadiirunberkuasa
Inti bacaan
Meski ada perbedaan arah kiblat antar-umat, perintahnya jelas: 'berlomba-lombalah dalam berbagai kebajikan', fokus dialihkan dari perdebatan arah/simbol ke kompetisi positif dalam kebaikan nyata. Konkretnya: alih-alih terjebak dalam perdebatan simbolis/formalitas antar-kelompok, energi lebih baik diarahkan pada kompetisi sehat dalam berbuat baik, ukuran keunggulan sejati adalah kebajikan, bukan kesamaan simbol.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وِجْهَةٌ, wijhatun) yang berarti "arah" dan (مُوَلِّيهَا, muwalliihaa) yang berarti "yang menghadapkannya", berasal dari akar yang berarti wajah dan arah dan akar yang berarti dekat dan mengurus, akar yang sama yang membentuk seluruh kosakata arah-menghadap di 2:144, tempat akar-akar ini sudah dibahas lebih lengkap. Yang khas di sini, kedua akar itu dipakai bukan untuk memerintahkan satu arah tertentu, melainkan untuk menyatakan bahwa tiap kelompok punya arahnya masing-masing yang ia hadapi, sebuah pernyataan umum yang berbeda fungsinya dari perintah spesifik menghadap Masjidilharam di 2:144.
Kata (فَاسْتَبِقُوا, fa-stabiquu) yang berarti "maka berlomba-lombalah", dari akar yang berarti mendahului, membentuk perintah yang muncul hanya di dua tempat di seluruh Al-Qur'an dengan susunan yang benar-benar sama: (فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ, fa-stabiquu l-khayraati), yang berarti "maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebajikan", di ayat ini dan di 5:48. Kedua ayat ini bukan hanya berbagi kalimat penutup yang sama; keduanya juga membuka dengan struktur yang sama, "bagi setiap..." diikuti sesuatu yang berbeda-beda antar kelompok, arah di ayat ini, syariat dan jalan di 5:48. Dua ayat yang membicarakan keberagaman dengan kata pembuka yang mirip, ditutup dengan perintah yang sama persis.
Ayat 5:48 menjelaskan lebih eksplisit apa yang tersirat di ayat ini: keberagaman arah dan syariat antar-kelompok bukan kebetulan atau kegagalan mencapai kesepakatan, melainkan cara Allah menguji tiap kelompok lewat apa yang diberikan kepadanya, seandainya Allah menghendaki, Dia bisa menjadikan semua orang satu umat. Kedua ayat juga sama-sama ditutup dengan penyebutan berkumpulnya semua orang kepada Allah, (يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا, ya'ti bikumu llaahu jamii'an) yang berarti "Allah akan mengumpulkan kalian semuanya" di ayat ini, sejalan dengan "kepada Allah kalian semua kembali" di 5:48. Keberagaman arah tidak menghalangi titik pertemuan yang sama di ujungnya.
Kata (الْخَيْرَاتِ, al-khayraati) yang berarti "berbagai kebajikan" memakai bentuk jamak dari akar yang berarti baik dan terpilih, bukan bentuk tunggal yang menunjuk satu kebajikan tertentu. Bentuk jamak ini menegaskan bahwa yang diperlombakan bukan satu jenis kebaikan yang seragam, melainkan keseluruhan ragam kebaikan, sejalan dengan ayat yang baru saja menyatakan bahwa arah dan aturan tiap kelompok bisa berbeda-beda; perlombaan yang diperintahkan bukan perlombaan menuju satu bentuk kebaikan yang sama persis, melainkan perlombaan yang tetap terbuka pada keragaman bentuknya, sejauh yang dituju tetap kebaikan, bukan sekadar keunggulan atas pihak lain.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi argumen tentang kiblat dengan sebuah prinsip yang lebih luas: keberagaman arah antar-kelompok bukan masalah yang harus diselesaikan dengan memaksakan satu arah yang sama, melainkan kenyataan yang sudah ada, dan yang sesudahnya ditanyakan bukan arah mana yang benar, melainkan apa yang dilakukan dengan arah yang sudah dimiliki masing-masing. Ayat ini mengalihkan perhatian dari perdebatan arah yang mendominasi ayat-ayat sebelumnya menuju sesuatu yang bisa dilakukan bersama meskipun arahnya berbeda: berlomba dalam kebajikan.
Seperti sudah ditunjukkan, ayat ini berbagi perintah penutup yang sama persis dengan 5:48, dan 5:48 menjelaskan lebih terbuka apa yang tersirat di sini: keberagaman antar-kelompok adalah ujian yang disengaja, bukan kegagalan mencapai satu kesepakatan. Kalau dibaca berdampingan, ayat ini menyatakan fakta keberagaman itu secara ringkas, sementara 5:48 menjelaskan alasannya secara lebih panjang; keduanya sampai pada kesimpulan yang sama, berlomba dalam kebajikan, dari arah yang berbeda.
Penutup ayat ini, tentang Allah yang akan mengumpulkan semua orang di mana pun mereka berada, menempatkan keberagaman arah dalam bingkai yang lebih besar. Arah yang berbeda-beda bukan perpecahan permanen; ia berlangsung dalam rentang yang pada akhirnya bertemu di satu titik yang sama. Ayat ini tidak menjanjikan bahwa perbedaan arah akan hilang, melainkan bahwa perbedaan itu tidak menghalangi pertemuan yang pasti terjadi di ujungnya.
Renungan dan Hikmah
- Perintah berlomba dalam kebajikan bukan perintah untuk mengalahkan pihak lain, melainkan untuk saling mendahului dalam berbuat baik, sebuah perlombaan yang semua pesertanya bisa menang bersama tanpa ada yang harus kalah. Berbeda dari perlombaan pada umumnya yang mengandaikan hanya satu pemenang, perlombaan yang dimaksud di sini justru terpenuhi maksudnya kalau semakin banyak pihak yang ikut berlomba, karena yang bertambah bukan gelar juara, melainkan kebajikan itu sendiri. Perintahnya (فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ) muncul di dua ayat, di sini dan di 5:48, dan di kedua tempat ia datang persis sesudah pengakuan bahwa tiap umat punya jalan atau aturannya sendiri. Jadi perintah berlomba selalu dipasang sebagai jawaban atas keberagaman, bukan sebagai jawaban atas keseragaman. Bagaimana orang berlomba kalau arahnya tidak sama? Yang diperlombakan bukan arahnya melainkan kebajikannya, dan kebajikan bisa dikerjakan dari arah mana pun.
- Ayat ini, dibaca berdampingan dengan 5:48 yang menyampaikan perintah penutup yang sama persis, mengungkap bahwa keberagaman arah dan aturan antar-kelompok bukan kegagalan mencapai kesepakatan, melainkan ujian yang disengaja atas apa yang diberikan kepada masing-masing. Cara memandang perbedaan sebagai ujian, bukan sebagai kekurangan yang harus disesalkan, mengubah pertanyaan yang diajukan terhadap perbedaan itu sendiri, dari kenapa kita berbeda menjadi apa yang kita lakukan dengan perbedaan ini.
- Kata yang dipakai untuk kebajikan di ayat ini berbentuk jamak, bukan tunggal, menegaskan bahwa yang diperlombakan bukan satu jenis kebaikan yang seragam. Keragaman bentuk kebajikan ini sejalan dengan keragaman arah yang baru saja disebutkan; seseorang tidak perlu menunggu menemukan satu bentuk kebaikan yang dianggap paling utama sebelum mulai berlomba, sebab ruang untuk berlomba sudah terbuka lewat berbagai bentuk kebaikan yang tersedia.
- Ayat ini menyatakan bahwa arah yang dihadapi tiap kelompok bukan ukuran akhir yang menentukan kedudukan mereka. Sesudah rangkaian panjang tentang perdebatan arah kiblat, ayat ini mengalihkan ukuran yang sesungguhnya penting kepada sesuatu yang bisa dilakukan siapa pun terlepas dari arah mana yang mereka hadapi, sebuah pengingat bahwa persoalan yang tampak sangat penting untuk diperdebatkan kadang bukan persoalan yang sesungguhnya menentukan.
- Ayat ini menjanjikan pertemuan di ujung, bukan penyeragaman arah di sepanjang jalan. Perbedaan yang dijalani sepanjang perjalanan tidak harus dihapuskan lebih dulu sebelum sebuah pertemuan bisa terjadi; ada ruang untuk menempuh arah yang berbeda-beda sekarang, selama arah itu ditempuh dengan kesungguhan berlomba dalam kebajikan, dengan keyakinan bahwa titik pertemuannya sudah pasti ada di ujung nanti.
- Ayat ini ditutup dengan menyebut kekuasaan Allah atas segala sesuatu, sesudah menyatakan bahwa Dia akan mengumpulkan semua orang di mana pun mereka berada. Jaminan pertemuan yang disebutkan sebelumnya bukan harapan yang mengandalkan kerja sama semua pihak yang berbeda arah, melainkan jaminan yang bersandar pada kekuasaan yang tidak bergantung pada kesediaan siapa pun untuk berkumpul, sebuah jaminan yang tetap berlaku terlepas dari seberapa jauh arah yang ditempuh masing-masing pihak.
- Sesudah rangkaian panjang yang membahas siapa berhak atas arah mana, ayat ini mengalihkan perhatian sepenuhnya ke tindakan yang bisa dilakukan sekarang, berlomba dalam kebajikan, tanpa menunggu perdebatan arah itu selesai lebih dulu. Ada kalanya cara paling produktif menyikapi sebuah perdebatan panjang bukan memenangkannya, melainkan mengalihkan energi ke sesuatu yang bisa langsung dikerjakan sementara perdebatan itu berlangsung, tanpa harus menunggu semua pihak sepakat lebih dulu.