وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan dari mana pun engkau keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana pun kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kalian, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka; maka janganlah takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku; dan agar Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan agar kalian mendapat petunjuk.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِwa-min haytsu kharajta fa-walli wajhaka shatra l-masjidi l-haraamidan dari mana pun engkau keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam
  2. وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَwa-haytsu maa kuntum fa-walluu wujuuhakum shatrahu li-allaa yakuuna li-n-naasi alaykum hujjatun illaa lladziina zhalamuu minhum fa-laa takhshawhum wa-khshawnii wa-li-utimma ni'matii alaykum wa-la'allakum tahtaduunadan di mana pun kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kalian, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka; maka janganlah takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku, dan agar Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan agar kalian mendapat petunjuk
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar h-y-ts, kh-r-j, w-l-y, w-j-h, sh-t-r, s-j-d, h-r-m, k-w-n, n-w-s, h-j-j, zh-l-m, kh-sh-y, t-m-m, n-'-m, h-d-y): hujjah diterjemahkan 'hujah', BEDA dari terjemahan lain ('alasan'); keluarga-hujah (akar h-j-j). Perikop kiblat literal (lihat 2:149).

Aplikasi

Alasan perubahan kiblat dijelaskan eksplisit: 'agar tidak ada bagi manusia hujah atas kalian' dan 'agar Aku sempurnakan nikmat-Ku', perubahan aturan disertai penjelasan tujuan, bukan sekadar perintah sepihak tanpa alasan. Konkretnya: perubahan kebijakan yang disertai penjelasan tujuan yang jelas (bukan sekadar 'karena aku bilang begitu') lebih mudah diterima dan dipahami, transparansi tujuan adalah bagian penting dari kepemimpinan yang baik.