وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
Dan janganlah kalian mengatakan tentang orang yang terbunuh di jalan Allah, “Mereka mati.” Bahkan mereka hidup, tetapi kalian tidak menyadari.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌwa-laa taquuluu li-man yuqtalu fii sabiili llaahi amwaatundan janganlah kalian mengatakan tentang orang yang terbunuh di jalan Allah, mereka mati
- بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَbal ahyaa'un wa-laakin laa tash'uruunabahkan mereka hidup, tetapi kalian tidak menyadari
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar q-w-l, q-t-l, s-b-l, a-l-h, m-w-t, h-y-y, sh-'-r): amwaat/ahyaa' diterjemahkan 'mati/hidup';. Selaras.
Aplikasi
Larangan menyebut yang gugur di jalan kebenaran sebagai 'mati' menegaskan bahwa pengorbanan demi tujuan besar punya makna yang melampaui kematian biasa. Konkretnya: menghormati pengorbanan orang yang gugur demi keadilan/kebenaran (bukan hanya dalam konteks perang, tapi siapa pun yang mengorbankan diri demi nilai besar) berarti mengingat dampak hidup mereka, bukan hanya meratapi kematian mereka.