الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Sungguh kami milik Allah, dan sungguh kepada-Nya kami kembali.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُواalladziina idzaa ashaabat-hum mushiibatun qaaluuyaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata
- إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَinnaa li-llaahi wa-innaa ilayhi raaji'uunasungguh kami milik Allah, dan sungguh kepada-Nya kami kembali
Terjemahan per kata (10 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- إِذَاidzaaapabila
- أَصَابَتْهُمْashaabat-hummenimpa mereka
- مُصِيبَةٌmushiibatunmusibah
- قَالُواqaaluumereka berkata
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
- إِلَيْهِilayhikepada-Nya
- رَاجِعُونَraaji'uunakembali
Inti bacaan
Sebut satu hal yang selama ini kauanggap pasti akan tetap ada: pekerjaan, kesehatan, seseorang di rumah. Ucapkan hari ini juga, mumpung ia masih ada, bahwa ia bukan milikmu. Kalimat itu jauh lebih ringan diucapkan sekarang daripada sesudah ia pergi, dan mengucapkannya lebih awal bukan mengundang kehilangan; ia melatihmu berhenti menuntut.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ, innaa lillaahi wa-innaa ilayhi raaji'uuna) yang berarti "sungguh kami milik Allah, dan sungguh kepada-Nya kami kembali", meski menjadi salah satu kalimat yang paling sering diucapkan umat Islam di seluruh dunia setiap kali menghadapi musibah, hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, tepat di ayat ini. Kalimat yang begitu akrab diucapkan berulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari ternyata bersumber dari satu tempat tunggal dalam teks, tidak pernah diulang lagi di ayat mana pun sesudahnya.
Kalimat ini memakai dua kata depan yang berbeda untuk dua klaim yang berbeda. Kata (لِلَّهِ, li-llaahi) memakai huruf lam yang menyatakan kepemilikan, "milik Allah", sebuah klaim tentang siapa yang memiliki. Kata (إِلَيْهِ, ilayhi) memakai huruf ila yang menyatakan arah tujuan, "kepada-Nya", sebuah klaim tentang ke mana perjalanan berakhir. Kalimat ini tidak mengulang klaim yang sama dengan kata berbeda; ia menyatakan dua hal yang berbeda, kepemilikan di awal dan arah kembali di akhir, disatukan oleh satu subjek yang sama, kami.
Kata (أَصَابَتْهُمْ, ashaabathum) yang berarti "menimpa mereka" dan (مُصِيبَةٌ, mushiibatun) yang berarti "musibah" berasal dari akar yang sama, yang berarti tepat mengenai sasaran, akar yang pada dasarnya berarti mengenai sasaran dengan tepat, bukan sekadar terjadi secara acak. Kata kerja dan kata benda dari akar yang sama ini dipakai berdampingan, peristiwa yang menimpa dan sebutan bagi peristiwa itu berasal dari akar yang sama persis, sebuah kepaduan yang menegaskan bahwa apa yang disebut musibah memang benar-benar mengenai sasarannya, bukan meleset atau kebetulan.
Kata (الَّذِينَ, alladziina) yang berarti "yaitu orang-orang yang", membuka ayat ini sebagai kata penghubung, bukan sebagai kalimat baru yang berdiri sendiri. Kata ini merujuk balik kepada (الصَّابِرِينَ, ash-shaabiriina) yang disebut di akhir 2:155, dan ayat ini bersama 2:157 menjadi satu kesatuan kalimat yang menjelaskan siapa orang-orang sabar itu: mereka yang mengucapkan kalimat ini ketika musibah menimpa. 2:157 melanjutkan dengan (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "mereka itulah", kata penunjuk yang merujuk balik ke kelompok yang sama, menutup satu kalimat panjang yang terbentang dari akhir 2:155 sampai akhir 2:157.
Kata (رَاجِعُونَ, raaji'uuna) yang berarti "orang-orang yang kembali", dari akar yang berarti kembali, berbentuk kata pelaku, bukan kata kerja yang menyatakan tindakan tunggal di satu waktu tertentu. Bentuk ini menggambarkan kembali sebagai keadaan yang melekat, sesuatu yang sedang dan senantiasa berlangsung, bukan peristiwa yang baru akan terjadi satu kali di masa depan. Kalimat ini tidak berkata "kami akan kembali" sebagai janji tentang nanti, melainkan "kami adalah orang-orang yang kembali", sebuah pernyataan tentang keadaan yang sudah berlaku sejak sekarang.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang sabar yang disebut di akhir 2:155: mereka yang, ketika musibah menimpa, mengucapkan kalimat ini. Kesabaran yang dimaksud bukan didefinisikan lewat ketiadaan air mata atau ketiadaan kesedihan, melainkan lewat kalimat spesifik yang diucapkan saat musibah itu terjadi.
Seperti sudah ditunjukkan, kalimat ini menyatakan dua klaim berbeda, kepemilikan dan arah kembali. Respons ini menegaskan bahwa kepemilikan diri sepenuhnya berada pada Allah; musibah tidak dipandang sebagai kehilangan sesuatu yang murni milik sendiri, melainkan pengembalian sesuatu yang sejak awal dipinjamkan, sebuah kerangka yang mengubah cara memandang kehilangan itu sendiri, dari kehilangan hak milik menjadi penunaian sesuatu yang memang bukan hak milik sejak semula.
Seperti sudah ditunjukkan, kalimat yang begitu sering diucapkan ini hanya tercatat sekali di seluruh Al-Qur'an, dan ayat yang memuatnya bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari satu kalimat panjang yang terbentang dari 2:155 sampai 2:157. Kalimat pendek yang begitu akrab di telinga ternyata lahir dari struktur yang jauh lebih panjang dan terjalin erat, definisi tentang siapa orang sabar, diikuti balasan yang mereka terima di 2:157, dengan ayat ini menjadi jantung yang menghubungkan keduanya.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat 'kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali' yang diucapkan saat musibah bukan sekadar formula, melainkan penegasan kerangka kepemilikan: apa pun yang hilang sebenarnya adalah titipan yang kembali kepada Pemiliknya. Memandang diri dan segala yang dimiliki sebagai sesuatu yang dipinjamkan sejak awal, bukan hak milik mutlak, mengubah cara menghadapi kehilangan; yang hilang bukan hak yang dirampas, melainkan titipan yang kembali kepada pemiliknya yang sesungguhnya, sebuah pergeseran cara pandang yang tidak menghapus rasa kehilangan, tapi mengubah maknanya. Konkretnya: menghadapi kehilangan (harta, orang terkasih, kesempatan) dengan kesadaran bahwa semuanya adalah titipan sementara membantu memproses duka tanpa merasa dirampas hak yang sebenarnya milik sendiri.
- Kalimat yang begitu akrab diucapkan berulang-ulang oleh umat Islam di seluruh dunia setiap kali menghadapi musibah ternyata hanya tercatat satu kali di seluruh Al-Qur'an. Sesuatu yang diulang jutaan kali dalam praktik kehidupan sehari-hari tidak selalu perlu diulang di dalam teks itu sendiri; satu kali penyebutan yang tepat bisa menjadi sumber bagi pengulangan tanpa henti di luar teks, bertahan justru karena kepadatan maknanya, bukan karena seringnya ia disebut di dalam mushaf.
- Ayat ini mendefinisikan kesabaran lewat kalimat spesifik yang diucapkan, bukan lewat ketiadaan air mata atau ketiadaan kesedihan saat musibah menimpa. Sabar yang dimaksud bukan menuntut seseorang untuk tidak merasakan apa-apa, melainkan menuntut sebuah pengakuan tertentu diucapkan di tengah perasaan apa pun yang sedang dirasakan, memberi ruang bagi kesedihan untuk tetap hadir berdampingan dengan pengakuan itu, tanpa satu pun perlu meniadakan yang lain.
- Kalimat pendek ini menyatakan dua klaim berbeda dalam satu tarikan napas, kepemilikan yang sudah ada sejak awal dan arah kembali yang sudah pasti di ujungnya. Menyatakan keduanya sekaligus, bukan hanya salah satu, membuat kalimat ini menjadi pengakuan yang utuh, bukan separuh pengakuan yang menyisakan pertanyaan tentang salah satu ujungnya, dari mana asalnya dan ke mana perginya sekaligus dijawab dalam satu napas, tanpa menyisakan satu pun celah yang tergantung.
- Kata kerja dan kata benda yang menggambarkan musibah berasal dari akar yang sama, akar yang pada dasarnya berarti mengenai sasaran dengan tepat. Musibah yang dialami bukan digambarkan sebagai kejadian acak yang meleset dan kebetulan menimpa, melainkan sesuatu yang benar-benar mengenai sasarannya, sebuah cara memandang yang berbeda dari menganggap musibah sebagai nasib buruk yang salah alamat dan seharusnya tidak terjadi, sebuah beda yang menentukan apakah seseorang mempertanyakan keadilan atau mencari maknanya.
- Definisi tentang siapa orang sabar di ayat ini tidak berdiri sendiri; ia terjalin erat dengan balasan yang mereka terima di 2:157, salat dan rahmat dari Tuhan mereka. Definisi dan balasan yang disatukan dalam satu kalimat panjang ini menegaskan bahwa mengucapkan pengakuan ini bukan sekadar formalitas kosong, melainkan sesuatu yang benar-benar diperhitungkan dan dibalas, bukan kalimat yang diucapkan lalu dilupakan begitu saja tanpa bekas.
- Kalimat ini menempatkan kembali kepada Allah sebagai arah tujuan, bukan sekadar penanda berakhirnya sesuatu. Menyebut kematian atau kehilangan sebagai bagian dari perjalanan menuju sebuah arah, bukan sebagai titik henti yang final, mengubah bagaimana perjalanan itu sendiri dipahami, dari sesuatu yang terputus menjadi sesuatu yang menuju, dari akhir yang kosong menjadi tujuan yang jelas.
- Kata yang menutup kalimat ini berbentuk kata pelaku, menggambarkan keadaan kembali yang sudah berlaku sejak sekarang, bukan janji tentang sesuatu yang baru akan terjadi kelak. Menyadari diri sebagai yang senantiasa dalam keadaan kembali, bukan sekadar akan kembali suatu saat nanti, mengubah bagaimana seseorang memandang setiap saat yang sedang dijalani, bukan hanya saat kematian tiba, sebab keadaan itu berlaku terus-menerus, bukan hanya di ujung perjalanan.