أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka itulah yang atasnya ada salat-salat dari Tuhan mereka, dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌulaa'ika alayhim salawaatun min rabbihim wa-rahmatunmereka itulah yang atasnya ada salat-salat dari Tuhan mereka, dan rahmat
  2. وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَwa-ulaa'ika humu l-muhtaduunadan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain: 'ampunan dan rahmat', tidak pakai kata 'salawat' meski itu kata Arab yg persis tertulis di ayat. Berbeda dari 33:56/9:103/33:43 (verba, diseragamkan jadi 'salat'): di sini bentuknya NOMINA yg dlm bahasa Indonesia sudah punya padanan serapan langsung 'salawat' (bukan 'salat') utk makna restu/berkah, dipertahankan sesuai instruksi Pak FD, BUKAN diterjemahkan bebas ke 'rahmat/ampunan' spt terjemahan lain. sebagian penerjemah: 'duties1 and mercy', pola generik yg sama, tapi terjemahan ini di sini memilih 'salawat' (bukan 'salat' atau 'duties/kewajiban') krn bentuk nomina. Akar akar s-l-w, nomina salawaat (jamak salaah). KEPUTUSAN (Pak FD): 'salawat' DIPERTAHANKAN (transliterasi, konsisten dan keputusan 33:43). Bukti tambahan yang menguatkan justru khas ayat ini: salawaat BERDAMPINGAN dengan rahmah dalam satu ayat, 'alayhim salawaatun min rabbihim wa-rahmah'. Bila salawaat diartikan 'rahmat/ampunan', ia REDUNDAN dengan rahmah yang menyusul. Prinsip Pak FD sendiri (Qur'an tidak mengulang percuma, dasar pembedaan rahmaan≠rahiim) berlaku: salawaat ≠ rahmah, dua nuansa berbeda (salawaat = berkah/pemuliaan; rahmah = pemberian-penghidupan, kerangka r-h-m). Mempertahankan 'salawat' sbg katanya sendiri menghormati non-redundansi ini; merendernya 'ampunan' (terjemahan lain) malah menimbulkan tumpang-tindih. Selaras keputusan 33:43 (poros s-l-w subjek-Ilahi).

Aplikasi

Bagi yang menghadapi musibah dengan sikap di 2:156, balasan yang dijanjikan adalah 'salat-salat dari Tuhan mereka', dukungan aktif dan terarah dari Allah, bukan sekadar rahmat pasif. Konkretnya: sikap menerima kesulitan dengan kepasrahan yang aktif (bukan pasrah-putus asa, tapi pasrah-tetap-bergerak) membuka jalan bagi dukungan yang lebih besar, pola yang membalikkan kesulitan menjadi undangan pertolongan, bukan akhir dari segalanya.