أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka itulah yang atasnya ada salat-salat dari Tuhan mereka, dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌulaa'ika 'alayhim shalawaatun min rabbihim wa-rahmatunmereka itulah yang atasnya ada salat-salat dari Tuhan mereka, dan rahmat
  2. وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَwa-ulaa'ika humu l-muhtaduunadan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  2. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  3. صَلَوَاتٌshalawaatunsalat-salat
  4. مِنْmindari
  5. رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
  6. وَرَحْمَةٌwa-rahmatundan rahmat
  7. وَأُولَٰئِكَwa-ulaa'ikadan mereka itu
  8. هُمُhumumerekalah
  9. الْمُهْتَدُونَl-muhtaduunaorang-orang yang mendapat petunjuk

Inti bacaan

Bagi yang menghadapi musibah dengan sikap di 2:156, balasan yang dijanjikan adalah 'salat-salat dari Tuhan mereka', dukungan aktif dan terarah dari Allah, bukan sekadar rahmat pasif. Konkretnya: sikap menerima kesulitan dengan kepasrahan yang aktif (bukan pasrah-putus asa, tapi pasrah-tetap-bergerak) membuka jalan bagi dukungan yang lebih besar, pola yang membalikkan kesulitan menjadi undangan pertolongan, bukan akhir dari segalanya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (صَلَوَاتٌ, shalawaatun) yang berarti "salat-salat", bentuk jamak tak tentu dari akar yang berarti menghadap dalam doa, dipertahankan dalam bentuk yang sama dengan kata yang dipakai untuk kewajiban salat manusia, bukan diterjemahkan menjadi istilah lain seperti "berkah" atau "ampunan". Akar yang sama muncul di 2 ayat lain dengan subjek yang sama-sama ilahi, 33:43 dan 33:56, yang keduanya menyatakan bahwa Allah dan para malaikat "bersalat" atas manusia. Karena Allah mustahil melakukan salat ritual sebagaimana yang dilakukan manusia, kemunculan akar yang sama pada subjek ilahi ini menunjukkan bahwa makna akar yang berarti menghadap dalam doa tidak terbatas pada gerakan ritual berdiri, rukuk, dan sujud, melainkan mencakup sesuatu yang lebih luas, sesuatu yang bisa dilakukan baik oleh Allah maupun manusia. Di 33:43, (هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ, huwa lladzii yushallii 'alaykum) berarti "Dialah yang bersalat atas kalian", dan di 33:56, (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ, inna llaaha wa-malaa'ikatahu yushalluuna 'alaa n-nabiyyi) berarti "sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersalat atas Nabi", keduanya memakai kata kerja dari akar yang sama persis dengan kata benda di ayat ini.

Kata (رَحْمَةٌ, rahmatun) yang berarti "rahmat", dari akar yang berarti kasih sayang, disebutkan berdampingan dengan salawaat, dihubungkan oleh satu kata "dan", dua pemberian yang berbeda namun disebutkan sejajar sebagai satu paket balasan. Ayat ini tidak menjelaskan bagaimana kedua hal ini berbeda satu sama lain; ia hanya menyebutkan keduanya berturutan, sebagai dua unsur dari balasan yang sama.

Kata (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "mereka itulah", dari kata penunjuk jauh, muncul dua kali dalam ayat ini, sekali untuk memperkenalkan balasan berupa salawaat dan rahmat, sekali lagi untuk memperkenalkan status mereka sebagai orang yang mendapat petunjuk. Pengulangan kata penunjuk ini menegaskan dua klaim secara terpisah, seolah masing-masing klaim cukup penting untuk mendapat penunjukannya sendiri, bukan digabung menjadi satu klaim panjang dengan satu kata penunjuk saja. Kata ini menutup kalimat panjang yang dimulai sejak akhir 2:155, merujuk balik kepada mereka yang sabar dan mengucapkan kalimat di 2:156, sekarang diberi nama status akhir mereka: orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kata (الْمُهْتَدُونَ, al-muhtaduuna) yang berarti "orang-orang yang mendapat petunjuk", dari akar yang berarti menunjukkan jalan, berbentuk kata pelaku dalam pola yang menunjukkan proses aktif, bukan sekadar keadaan diam. Bentuk ini sejalan dengan bentuk (الصَّابِرِينَ, ash-shaabiriina) di 2:155 dan (رَاجِعُونَ, raaji'uuna) di 2:156, ketiganya kata pelaku yang menggambarkan keadaan yang melekat pada diri, bukan tindakan sesaat: sabar, kembali, dan mendapat petunjuk, tiga kata pelaku yang menyusun identitas orang yang sama dari awal sampai akhir kalimat panjang ini.

Tafsiran

Ayat ini menutup kalimat panjang yang terbentang sejak akhir 2:155: mereka yang sabar (2:155), yang mengucapkan pengakuan ketika musibah menimpa (2:156), menerima balasan ini (2:157). Tiga ayat yang secara gramatikal menyatu ini membentuk satu unit lengkap, definisi, ucapan, dan balasan, tidak satu pun berdiri sepenuhnya sendiri tanpa dua yang lain.

Seperti sudah ditunjukkan, balasan yang disebutkan di sini memakai kata yang akarnya sama dengan kewajiban salat manusia sendiri, bukan kata generik untuk berkah semata. Ganjaran yang dijanjikan bagi orang-orang yang sabar dengan demikian disebut sejajar dengan tindakan yang secara linguistik terhubung dengan ketaatan hamba, sebuah kesejajaran istilah yang menegaskan hubungan timbal balik antara apa yang dilakukan hamba dan apa yang dilakukan Tuhan terhadapnya.

Seperti sudah ditunjukkan, kata penunjuk mereka itulah diulang dua kali, memisahkan klaim tentang balasan dari klaim tentang petunjuk. Ayat ini menutup bukan dengan menyebut balasan sebagai kata terakhir, melainkan dengan status mendapat petunjuk, menempatkan petunjuk sebagai puncak dari seluruh rangkaian ini, sesuatu yang datang sesudah kesabaran, sesudah pengakuan, dan sesudah balasan, bukan sebelum ketiganya.

Renungan dan Hikmah

  • Balasan yang diberikan kepada orang-orang sabar disebut dengan kata yang akarnya sama dengan kewajiban salat yang dijalankan manusia sendiri. Hubungan linguistik semacam ini menyiratkan bahwa apa yang diterima seorang hamba tidak sepenuhnya asing dari apa yang ia lakukan; ada semacam kesinambungan antara tindakan hamba dan tindakan Tuhan terhadapnya, terjalin lewat kata yang sama, bukan dua dunia bahasa yang terpisah sama sekali, seolah keduanya berbicara dalam bahasa yang saling dikenali. Bentuk jamak yang dipakai di sini (صَلَوَاتٌ) muncul di dua ayat, di sini dan di 22:40. Yang kedua menyebut tempat-tempat ibadah yang dijaga dari kehancuran, jadi kata yang sama sekali itu menamai bangunan, dan sekali lagi menamai pemberian Allah kepada orang yang sabar. Satu kata untuk tempat manusia menghadap dan untuk perhatian yang datang kepadanya. Apakah kesamaan kata itu kebetulan? Di dalam kitab yang kosakatanya sehemat ini, kata yang dipakai dua kali untuk dua hal yang saling berhadapan biasanya sedang menghubungkan keduanya.
  • Ayat ini menyebutkan dua pemberian, salawat dan rahmat, berdampingan tanpa menjelaskan bagaimana keduanya berbeda satu sama lain. Tidak semua hal yang berharga perlu dijelaskan secara rinci untuk dipahami maknanya; kadang cukup disebutkan bersanding, membiarkan pembacanya merasakan bahwa keduanya saling melengkapi tanpa perlu batas yang tegas di antara keduanya, dua pemberian yang tidak perlu dipilah untuk dirasakan utuh.
  • Kata penunjuk mereka itulah diulang dua kali dalam ayat yang singkat ini, memisahkan klaim tentang balasan dari klaim tentang status mendapat petunjuk. Pengulangan ini memberi bobot yang sama kepada kedua klaim, seolah keduanya sama pentingnya untuk ditegaskan secara terpisah, bukan salah satu sekadar tambahan bagi yang lain, dua pengakuan yang masing-masing berdiri dengan haknya sendiri, tidak dikorbankan demi keringkasan kalimat.
  • Ayat ini tidak menutup dengan menyebut balasan sebagai kata terakhir, melainkan dengan status mendapat petunjuk. Menempatkan petunjuk sebagai puncak, bukan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi lebih dulu, menyiratkan bahwa petunjuk sesungguhnya adalah hasil dari perjalanan kesabaran ini, bukan sekadar prasyarat yang sudah dimiliki sebelum ujian dimulai, sebuah urutan yang membalik dugaan umum tentang dari mana petunjuk itu berasal.
  • Tiga ayat, 2:155 sampai ayat ini, membentuk satu kesatuan gramatikal yang tidak sepenuhnya bisa dipahami jika salah satunya dipisahkan dari yang lain. Definisi tentang siapa orang sabar, ucapan yang mereka sampaikan, dan balasan yang mereka terima, ketiganya saling membutuhkan untuk membentuk gambaran yang utuh tentang apa yang sesungguhnya dimaksud dengan kesabaran dalam rangkaian ini, bukan tiga gagasan lepas yang kebetulan berurutan begitu saja.
  • Kesabaran yang dijalani berujung bukan hanya pada pahala, melainkan juga pada status baru, mendapat petunjuk. Ganjaran yang dijanjikan di sini bukan sekadar kompensasi atas kesulitan yang dijalani, melainkan juga pengakuan atas perubahan yang terjadi pada diri orang yang menjalaninya, dari yang diuji menjadi yang mendapat petunjuk, sebuah transformasi identitas, bukan sekadar penambahan pahala di catatan yang tersimpan, seolah ujian itu sendiri menjadi jalan menuju perubahan itu.
  • Kata yang dipakai untuk balasan Tuhan berakar sama dengan kata yang dipakai untuk kewajiban manusia, sebuah hubungan timbal balik yang tertanam langsung di dalam pilihan katanya sendiri, bukan sekadar dijelaskan lewat kalimat terpisah. Kedekatan bahasa semacam ini menunjukkan bahwa hubungan antara hamba dan Tuhannya bukan hubungan yang terputus antara dua dunia yang berbeda, melainkan hubungan yang saling menjawab dengan bahasa yang sama.
  • Sabar, kembali, dan mendapat petunjuk, tiga kata yang menutup 2:155, 2:156, dan ayat ini, semuanya berbentuk kata pelaku yang menggambarkan keadaan melekat, bukan tindakan sesaat. Identitas yang dibangun lewat tiga kata pelaku berturutan ini bukan identitas yang selesai dalam satu momen, melainkan identitas yang terus-menerus berlaku, dijalani, bukan sekadar dicapai lalu ditinggalkan begitu ujian usai, tiga sebutan yang tetap melekat jauh sesudah musibahnya sendiri berlalu.