وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah. Dan sekiranya orang-orang yang zalim melihat , ketika mereka melihat azab , bahwa kekuatan seluruhnya milik Allah, dan bahwa Allah keras siksa-Nya,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِwa-mina n-naasi man yattakhidzu min duuni llaahi andaadan yuhibbuunahum ka-hubbi llaahidan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah
  2. وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِwa-lladziina aamanuu asyaddu hubban li-llaahidan orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah
  3. وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِwa-law yaraa lladziina zhalamuu idz yarawna l-'adzaaba anna l-quwwata li-llaahi jamii'an wa-anna llaaha syadiidu l-'adzaabidan sekiranya orang-orang yang zalim melihat ketika mereka melihat azab, bahwa kekuatan seluruhnya milik Allah, dan bahwa Allah keras siksa-Nya

Terjemahan per kata (31 kata)

  1. وَمِنَwa-minadan dari
  2. النَّاسِn-naasimanusia
  3. مَنْmanorang yang
  4. يَتَّخِذُyattakhidzumenjadikan
  5. مِنْmindari
  6. دُونِduuniselain
  7. اللَّهِllaahiAllah
  8. أَنْدَادًاandaadantandingan-tandingan
  9. يُحِبُّونَهُمْyuhibbuunahummereka mencintainya
  10. كَحُبِّka-hubbiseperti mencintai
  11. اللَّهِllaahiAllah
  12. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  13. آمَنُواaamanuuberiman
  14. أَشَدُّasyaddulebih sangat
  15. حُبًّاhubbancinta
  16. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  17. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  18. يَرَىyaraamelihat
  19. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  20. ظَلَمُواzhalamuuberbuat zalim
  21. إِذْidzketika
  22. يَرَوْنَyarawnamereka melihat
  23. الْعَذَابَl-'adzaabaazab
  24. أَنَّannabahwa
  25. الْقُوَّةَl-quwwatakekuatan
  26. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  27. جَمِيعًاjamii'ansemuanya
  28. وَأَنَّwa-annadan bahwa
  29. اللَّهَllaahaAllah
  30. شَدِيدُsyadiidukeras
  31. الْعَذَابِl-'adzaabiazab

Inti bacaan

Kontras dibuat: mereka yang mencintai 'tandingan' selain Allah seperti mencintai Allah, versus orang beriman yang 'lebih kuat cintanya kepada Allah'. Konkretnya: memeriksa hierarki cinta dalam hidup, apakah ada hal (uang, status, kesenangan, bahkan orang) yang secara diam-diam menempati posisi tertinggi melebihi komitmen pada nilai-nilai inti, adalah pemeriksaan yang layak dilakukan berkala.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَنْدَادًا, andaadan) yang berarti "tandingan-tandingan", dari akar yang berarti tandingan yang disejajarkan, adalah kata yang sangat jarang dipakai, hanya muncul di enam tempat dalam seluruh mushaf. Salah satu dari enam itu ada di ayat lain dalam surah yang sama, 2:22, yang menutup dengan (فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ, fa-laa taj'aluu lillaahi andaadan wa-antum ta'lamuuna) yang berarti "maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui", tepat sesudah menyebut bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap. Dua ayat ini menempatkan kata yang sama dalam dua bentuk berbeda: 2:22 sebagai larangan langsung yang ditujukan kepada pembaca, ayat ini sebagai deskripsi tentang orang yang sudah melakukannya, dibuka dengan (وَمِنَ النَّاسِ مَنْ, wa-mina n-naasi man) yang berarti "dan di antara manusia ada yang".

Kecintaan kepada tandingan-tandingan ini disebut dengan (يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ, yuhibbuunahum ka-hubbi llaahi) yang berarti "mereka mencintainya seperti mencintai Allah", dari akar yang berarti mencintai. Akar ini muncul luas, 85 kali dalam mushaf, dipakai untuk kecintaan antar manusia maupun kecintaan kepada Allah, seperti di ayat ini. Ayat ini memakai kata itu dua kali berturut-turut dengan subjek berbeda: pertama untuk orang yang mencintai tandingan-tandingan, (يُحِبُّونَهُمْ, yuhibbuunahum) yang berarti "mereka mencintainya", kedua untuk orang beriman, (أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ, asyaddu hubban lillaahi) yang berarti "lebih kuat cintanya kepada Allah". Perbandingan ini bukan antara mencintai dan tidak mencintai; keduanya sama-sama memakai kata cinta. Yang membedakan adalah kadarnya, seperti ditandai kata (أَشَدُّ, asyaddu) yang berarti "lebih kuat", dari akar yang berarti keras dan kuat, bukan jenis perasaannya.

Ayat ini beralih dengan (وَلَوْ يَرَى, wa-law yaraa) yang berarti "dan sekiranya dia melihat", memakai kata kerja orang ketiga. Susunan "sekiranya melihat" yang membuka penyesalan di masa depan muncul di delapan tempat dalam mushaf, tapi tujuh dari delapan itu memakai bentuk (تَرَى, taraa) yang berarti "engkau melihat", menyapa pembaca secara langsung, seperti di 6:27. Ayat ini satu-satunya yang memakai bentuk orang ketiga, menjadikan orang-orang zalim itu sendiri sebagai subjek yang seharusnya melihat, bukan pembaca yang diajak membayangkan seandainya dia yang melihat. Yang mereka lihat, seandainya melihat, adalah (أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا, anna l-quwwata lillaahi jamii'an) yang berarti "bahwa kekuatan seluruhnya milik Allah", dari akar yang berarti kuat, sebuah pengetahuan yang menurut susunan ayat ini baru benar-benar tertangkap pada saat azab, bukan sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan pasal tauhid yang dibuka di 2:163 dan dijelaskan alasannya lewat tanda-tanda ciptaan di 2:164, tapi berpindah dari argumen tentang alam kepada gambaran tentang manusia yang tetap tidak menerimanya. Kontras yang dibangun ayat ini bukan antara mencintai Allah dan tidak mencintai apa pun selain-Nya; ia antara dua jenis kecintaan yang sama-sama nyata, satu kepada tandingan-tandingan, satu kepada Allah oleh orang beriman, dan yang membedakan keduanya adalah kadarnya, bukan ada tidaknya.

Ayat 2:22, yang memakai kata "tandingan-tandingan" yang sama, berbicara sebagai larangan yang ditujukan kepada pembaca yang masih punya pilihan, ditutup dengan penegasan bahwa mereka sudah mengetahui. Ayat ini berbicara sebagai deskripsi tentang orang yang sudah membuat pilihan itu, tanpa menyebutkan lagi apakah mereka tahu atau tidak. Perpindahan dari larangan ke deskripsi ini menempatkan ayat ini sebagai gambaran akibat dari sesuatu yang sudah diperingatkan sebelumnya, bukan peringatan yang baru pertama kali disampaikan.

Bagian penutup ayat ini berpindah dari kecintaan yang keliru kepada penyesalan yang akan datang, memakai susunan orang ketiga yang berbeda dari kebiasaan mushaf; tujuh ayat lain yang memakai susunan serupa menyapa pembaca secara langsung, mengajaknya membayangkan seandainya dia sendiri yang menyaksikan. Ayat ini justru menahan diri dari sapaan itu, membiarkan orang-orang zalim itu sendiri menjadi subjek yang seharusnya melihat, seolah kesadaran yang terlambat itu adalah sesuatu yang harus dialami sendiri oleh pelakunya, bukan sesuatu yang bisa dibayangkan lewat pengalaman orang lain.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini tidak menyandingkan mencintai dengan tidak mencintai; kedua pihak yang disebut sama-sama mencintai, memakai kata yang sama persis. Ada godaan untuk membayangkan kesalahan besar selalu berbentuk ketiadaan, tidak punya kepedulian sama sekali kepada yang seharusnya diutamakan. Ayat ini menunjukkan kemungkinan lain yang lebih halus: kepedulian itu ada, cintanya nyata, hanya saja diarahkan atau dibagi kepada sesuatu yang salah, atau tidak diberi kadar yang seharusnya. Kesalahan semacam ini lebih sulit dikenali karena tidak tampak sebagai ketiadaan, melainkan sebagai kehadiran yang salah tempat.
  • Kata yang sama, "tandingan-tandingan", muncul di ayat lain sebagai larangan tegas kepada pembaca yang masih bisa memilih, dan di sini sebagai gambaran tentang orang yang sudah memilih. Ada jarak yang berbeda antara diperingatkan sebelum bertindak dan digambarkan sesudah bertindak; yang pertama masih menyisakan ruang untuk berbalik, yang kedua sudah menjadi potret yang selesai. Ayat ini menempatkan pembacanya di titik mana, masih dalam posisi yang diperingatkan, atau sudah menjadi bagian dari gambaran yang dilukiskannya, adalah pertanyaan yang tidak dijawab ayat ini sendiri, melainkan diserahkan kepada siapa yang membacanya.
  • Kekuatan yang sepenuhnya milik Allah disebut sebagai sesuatu yang baru benar-benar dilihat pada saat azab tiba, bukan sebelumnya, meski secara logis ia sudah benar sejak awal. Ada perbedaan antara mengetahui sesuatu secara teori dan benar-benar melihatnya dengan kesadaran penuh; ayat ini menyiratkan bahwa kesadaran jenis kedua kadang hanya datang ketika sudah terlambat untuk mengubah pilihan yang sudah dibuat. Ini bukan tentang informasi yang kurang, melainkan tentang jenis pengetahuan yang butuh momen tertentu untuk benar-benar meresap, dan momen itu bisa datang sesudah kesempatan untuk bertindak berdasarkan pengetahuan itu sudah lewat.
  • Berbeda dari kebiasaan ayat-ayat serupa yang mengajak pembaca membayangkan seandainya dia sendiri yang menyaksikan pemandangan itu, ayat ini menjadikan orang-orang zalim itu sendiri sebagai yang seharusnya melihat, tanpa menyapa pembaca secara langsung untuk ikut membayangkannya. Ada perbedaan antara diajak turut merasakan sesuatu lewat mata orang lain dan dibiarkan menyaksikan sesuatu sebagai konsekuensi dari langkah sendiri, tanpa perantara. Ayat ini memilih yang kedua, membiarkan penyesalan itu menjadi sesuatu yang harus dialami langsung oleh pelakunya sendiri, bukan sesuatu yang cukup dibayangkan dari luar.
  • Kata yang membandingkan cinta orang beriman dengan cinta kepada tandingan-tandingan berbentuk komparatif, "lebih kuat", bukan kata yang menyatakan satu-satunya atau mutlak tanpa saingan. Ada pilihan bahasa yang menarik di sini: ayat ini bisa saja menyatakan bahwa orang beriman sama sekali tidak mencintai apa pun selain Allah, tapi yang dipilih adalah pernyataan tentang kadar yang lebih besar, bukan ketiadaan total. Ini membuka gambaran bahwa kecintaan yang tertata bukan berarti kecintaan yang sudah dikosongkan dari segala hal lain, melainkan kecintaan yang tahu persis apa yang menempati posisi tertinggi ketika satu hal harus dipilih di atas yang lain.
  • Rangkaian yang membandingkan itu (أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya bentuk perbandingan, bukan bentuk yang menyatakan mutlak, jadi yang dinyatakan bukan bahwa orang beriman mencintai sedangkan yang lain tidak. Yang dinyatakan adalah selisih kadar di antara dua pihak yang sama-sama mencintai. Bagaimana kadar cinta diukur kalau keduanya sama-sama merasa mencintai sepenuhnya? Ayat ini tidak memberikan alatnya di sini, tapi kalimat sesudahnya memberikannya: ukurannya kelihatan pada saat pihak yang dicintai selain Allah tidak lagi sanggup memberi apa pun.