إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ

Ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan terputuslah bagi mereka segala hubungan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُidz tabarra'a lladziina ttubi'uu mina lladziina ttaba'uu wa-ra'awu l-'adzaaba wa-taqaththa'at bihimu l-asbaabuketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan terputuslah bagi mereka segala hubungan

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. إِذْidzketika
  2. تَبَرَّأَtabarra'aberlepas diri
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. اتُّبِعُواttubi'uudiikuti
  5. مِنَminadari
  6. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  7. اتَّبَعُواttaba'uumengikuti
  8. وَرَأَوُاwa-ra'awudan mereka melihat
  9. الْعَذَابَl-'adzaabaazab
  10. وَتَقَطَّعَتْwa-taqaththa'atdan terputuslah
  11. بِهِمُbihimubagi mereka
  12. الْأَسْبَابُl-asbaabuhubungan-hubungan

Inti bacaan

Gambaran dramatis: pemimpin yang diikuti 'berlepas diri' dari pengikutnya saat menghadapi konsekuensi, pengkhianatan di titik paling genting. Konkretnya: berhati-hati mengikuti figur/ideologi tanpa pertimbangan kritis, sebab pemimpin yang dipuja bisa jadi tidak akan menanggung konsekuensi bersama pengikutnya saat masalah benar-benar datang, tanggung jawab personal tetap yang utama.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini membuka dengan dua kata kerja yang berasal dari akar yang sama persis, yang berarti mengikuti, dibedakan hanya oleh bentuknya: (الَّذِينَ اتُّبِعُوا, lladziina ttubi'uu) yang berarti "orang-orang yang diikuti", memakai bentuk pasif, dan (الَّذِينَ اتَّبَعُوا, lladziina ttaba'uu) yang berarti "orang-orang yang mengikuti", memakai bentuk aktif. Akar ini luas sebarannya, muncul di 156 ayat, tapi ayat ini memakai kedua bentuknya, aktif dan pasif, berdampingan dalam satu kalimat, memisahkan pemimpin dari pengikut hanya lewat pembedaan pasif-aktif ini, tanpa kata benda lain yang menamai mereka.

Kata kerja (تَبَرَّأَ, tabarra'a) yang berarti "berlepas diri", dari akar yang berarti lepas dan bersih dari, dipakai untuk pihak yang diikuti sebagai tindakan yang mereka lakukan pada momen ini. Akar yang sama muncul lagi persis di 2:167, ayat berikutnya, ketika pihak yang mengikuti berkata, (فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا, fa-natabarra'a minhum kamaa tabarra'uu minnaa) yang berarti "tentu kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami". Kata kerja yang sama dipakai dua kali dalam dua ayat berurutan, tapi dengan perbedaan penting: di ayat ini tindakan itu benar-benar terjadi, sementara di 2:167 tindakan yang sama hanya menjadi angan-angan yang diucapkan dengan kata pengandaian, tidak pernah benar-benar dilakukan.

Kalimat penutup, (وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ, wa-taqaththa'at bihimu l-asbaabu) yang berarti "dan terputuslah bagi mereka segala hubungan", memakai kata (الْأَسْبَابُ, al-asbaabu) yang berarti "hubungan-hubungan" atau "sebab-sebab", dari akar yang berarti sebab dan tali penghubung. Akar ini jarang dipakai, hanya sepuluh kali dalam mushaf, dan pemakaiannya terpecah dua: di sebagian besar tempat, seperti di 18:84, (وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا, wa-aataynaahu min kulli syai'in sababan) yang berarti "dan Kami berikan kepadanya jalan untuk segala sesuatu", kata ini berarti jalan atau sarana yang menghubungkan seseorang menuju sesuatu, dipakai dalam kisah pengembaraan. Di ayat ini, kata yang sama menunjuk pada ikatan yang menghubungkan pemimpin dengan pengikutnya, dan kata kerja (تَقَطَّعَتْ, taqaththa'at) yang berarti "terputus", dari akar yang berarti memutus, menyatakannya sebagai sesuatu yang berhenti berfungsi tepat pada saat dibutuhkan.

Momen berlepas diri ini disebut terjadi (وَرَأَوُا الْعَذَابَ, wa-ra'awu l-'adzaaba) yang berarti "dan mereka melihat azab". Susunan "melihat azab" persis ini muncul di lima tempat dalam mushaf, sebuah formula yang menandai titik ketika sesuatu yang sebelumnya hanya diperingatkan berubah menjadi sesuatu yang disaksikan langsung. Kata kerja "berlepas diri" yang membuka ayat ini juga dipakai untuk konteks yang sangat berbeda di 60:4, ketika Ibrahim berkata kepada kaumnya, (إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ, innaa buraaau minkum wa-mimmaa ta'buduuna min duuni llaahi) yang berarti "sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah". Dua pemakaian akar yang sama ini berbeda waktunya: Ibrahim menyatakannya sebagai pendirian yang diucapkan terbuka sebelum ada azab yang mengancam, sedangkan pemimpin dalam ayat ini melakukannya justru setelah azab terlihat, bukan sebagai pendirian, melainkan sebagai upaya menyelamatkan diri.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan langsung dari 2:165 lewat kata pembuka (إِذْ, idz) yang berarti "ketika", menyambungkannya sebagai penjelasan lebih rinci atas azab yang disebut di ujung ayat sebelumnya. Kalau 2:165 berbicara tentang kecintaan yang salah arah kepada tandingan-tandingan, ayat ini menunjukkan salah satu bentuk konkret dari tandingan itu: bukan berhala atau benda, melainkan pemimpin yang diikuti melebihi semestinya.

Ayat ini dan 2:167 membentuk satu adegan yang terbagi dua sudut pandang, pemimpin lalu pengikut, disatukan oleh kata kerja "berlepas diri" yang sama persis. Pemimpin melakukannya lebih dulu, secara nyata, begitu azab tampak; pengikut baru menginginkannya sesudah itu, tapi hanya sebagai andai-andai yang diucapkan dengan penyesalan, tidak pernah benar-benar terjadi. Susunan dua ayat ini menempatkan waktu sebagai faktor yang menentukan: tindakan yang sama, kalau dilakukan pada saat yang tepat, terwujud; kalau baru diinginkan sesudah momen itu lewat, tinggal menjadi kalimat pengandaian yang diucapkan.

Ikatan yang disebut terputus di penutup ayat ini bukan ikatan yang baru muncul saat itu; ia adalah ikatan yang selama ini dianggap kokoh, cukup kokoh untuk membuat pengikut mencintai pemimpinnya seperti mencintai Allah, seperti disebut ayat sebelumnya. Ayat ini menunjukkan bahwa ikatan semacam itu, betapa pun terasa kuat selama ini berjalan, punya batas waktu yang berhenti tepat pada momen ketika ia paling dibutuhkan, ketika azab sudah terlihat nyata di hadapan kedua belah pihak.

Renungan dan Hikmah

  • Pemimpin dan pengikut dalam ayat ini tidak dibedakan lewat sebutan atau nama yang berbeda; mereka dipisahkan hanya lewat bentuk kata yang sama, satu pasif, satu aktif, dari akar yang persis sama. Ada sesuatu yang menyadarkan dalam kenyataan bahwa jarak antara memimpin dan mengikuti, yang terasa begitu besar dalam kehidupan sehari-hari, ternyata bisa direduksi menjadi perbedaan tipis dalam tata bahasa: siapa yang menjadi sasaran tindakan dan siapa yang melakukannya. Posisi itu sendiri tidak permanen; ia adalah keadaan yang bisa berubah, bukan identitas yang melekat selamanya pada seseorang.
  • Tindakan berlepas diri yang sama persis disebut dua kali di dua ayat berurutan, tapi bernasib berbeda: yang satu benar-benar terjadi, yang satu hanya menjadi keinginan yang diucapkan terlambat. Kata yang sama tidak menjamin hasil yang sama; yang membedakan bukan tindakannya, melainkan kapan tindakan itu dilakukan atau diinginkan. Ada peringatan tersembunyi di sini tentang sesuatu yang bisa dilakukan sekarang, kapan pun sekarang itu berlangsung, yang kelak hanya bisa diucapkan sebagai penyesalan begitu saatnya sudah lewat.
  • Hubungan yang disebut terputus dalam ayat ini bukan hubungan yang lemah sejak awal; ia adalah ikatan yang selama ini berfungsi, cukup kuat untuk mengikat kesetiaan dan kecintaan. Ada perbedaan besar antara ikatan yang gagal karena memang rapuh sejak semula dan ikatan yang berhenti berfungsi justru pada saat paling dibutuhkan, ketika keadaan sudah menjadi genting. Yang kedua terasa lebih pahit, karena kegagalannya bukan karena ikatan itu tidak pernah ada, melainkan karena ia ternyata tidak dirancang untuk bertahan sampai titik yang sesungguhnya menguji kekuatannya.
  • Ayat sebelumnya menyebut kecintaan pengikut kepada pemimpinnya setara dengan kecintaan kepada Allah; ayat ini menunjukkan apa yang terjadi pada kecintaan sebesar itu ketika diuji: pihak yang dicintai justru pergi lebih dulu. Ada ketimpangan yang menyakitkan dalam gambaran ini, kesetiaan yang begitu total ternyata tidak menjamin kesetiaan yang sepadan sebagai balasannya. Ini menyisakan pertanyaan tentang ke mana sebaiknya kesetiaan sebesar itu diarahkan, kepada pihak yang bisa saja meninggalkan begitu keadaan berubah, atau kepada sesuatu yang tidak akan pernah berlepas diri.
  • Kata kerja yang sama, "berlepas diri", dipakai di tempat lain dalam mushaf untuk sebuah pendirian yang diucapkan secara terbuka, jauh sebelum ada ancaman apa pun, sebagai sikap yang dipegang dengan sadar. Dalam ayat ini, kata yang persis sama dipakai untuk sesuatu yang jauh berbeda wataknya: bukan pendirian yang diambil lebih dulu, melainkan penyelamatan diri yang datang belakangan, tepat ketika keadaan sudah memburuk. Kata yang sama bisa menjadi keteguhan atau bisa menjadi pengkhianatan, tergantung sepenuhnya pada kapan ia diucapkan, sebelum bahaya datang atau sesudah bahaya itu mengancam diri sendiri.
  • Kata kerja untuk berlepas diri itu (تَبَرَّأَ) muncul di tiga ayat, yaitu 2:166, 2:167, dan 9:114. Dua yang pertama menggambarkan pengkhianatan di hari yang tak berguna lagi. Yang ketiga menggambarkan Ibrahim yang berlepas diri dari ayahnya setelah jelas baginya bahwa ayahnya musuh Allah, dan di sana perbuatan itu tidak dicela sedikit pun. Jadi apa yang membedakan dua berlepas diri yang katanya sama? Bukan perbuatannya, melainkan waktunya. Yang satu dilakukan selagi masih ada gunanya memilih; yang lain dilakukan sesudah pilihan tidak lagi tersedia. Rangkaian penutup ayat ini (تَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ) sendiri muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an.