وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

Dan orang-orang yang mengikuti berkata, “Sekiranya kami mendapat kesempatan kembali, tentu kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal-amal mereka sebagai penyesalan atas mereka, dan mereka tidak akan keluar dari api.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّاwa-qaala lladziina ttaba'uu law anna lanaa karratan fa-natabarra'a minhum ka-maa tabarra'uu minnaadan orang-orang yang mengikuti berkata, sekiranya kami mendapat kesempatan kembali, tentu kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami
  2. كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْka-dzaalika yuriihimu llaahu a'maalahum hasaraatin 'alayhimdemikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal-amal mereka sebagai penyesalan atas mereka
  3. وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِwa-maa hum bi-khaarijiina mina n-naaridan mereka tidak akan keluar dari api

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. وَقَالَwa-qaaladan berkata
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. اتَّبَعُواttaba'uumengikuti
  4. لَوْlawsekiranya
  5. أَنَّannabahwa
  6. لَنَاlanaabagi kami
  7. كَرَّةًkarratankesempatan kembali
  8. فَنَتَبَرَّأَfa-natabarra'amaka kami berlepas diri
  9. مِنْهُمْminhumdari mereka
  10. كَمَاka-maasebagaimana
  11. تَبَرَّءُواtabarra'uumereka berlepas diri
  12. مِنَّاminnaadari kami
  13. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  14. يُرِيهِمُyuriihimumemperlihatkan kepada mereka
  15. اللَّهُllaahuAllah
  16. أَعْمَالَهُمْa'maalahumamal-amal mereka
  17. حَسَرَاتٍhasaraatinpenyesalan
  18. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  19. وَمَاwa-maadan tidaklah
  20. هُمْhummereka
  21. بِخَارِجِينَbi-khaarijiinayang keluar
  22. مِنَminadari
  23. النَّارِn-naariapi

Inti bacaan

Sebelum ikut sesuatu yang sedang ramai (keputusan yang semua orang setujui, arus pendapat, ajakan menanam uang), tuliskan satu kalimat: apa yang membuatku yakin ini benar, selain karena banyak yang melakukannya. Kalau kalimat itu tak sanggup kautulis, kau belum punya alasan, kau baru punya teman. Menuliskannya butuh dua menit sekarang; tanpa itu yang tersisa nanti hanya penyesalan, dan penyesalan tidak mengubah apa pun yang sudah terjadi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا, qaala lladziina ttaba'uu) yang berarti "berkata orang-orang yang mengikuti". Kata (اتَّبَعُوا, ittaba'uu) dari akar yang berarti mengikuti adalah bentuk aktif, "mereka mengikuti", subjeknya adalah para pengikut itu sendiri. Bentuk ini berpasangan langsung dengan kata di ayat sebelumnya, (اتُّبِعُوا, ittubi'uu) di 2:166, yang berarti "mereka diikuti", bentuk pasif dari akar yang sama. Dua ayat berurutan ini memakai akar tunggal untuk menggambarkan dua pihak dalam satu ikatan: yang diikuti di 2:166, yang mengikuti di ayat ini. Pergantian dari bentuk pasif ke aktif menandai pergantian sudut pandang, dari pemimpin yang berlepas diri lebih dulu, ke pengikut yang baru kemudian berbicara.

Kalimat andai-andai (لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً, law anna lanaa karratan) berarti "sekiranya kami mendapat kesempatan kembali". Kata (كَرَّةً, karratan) dari akar yang berarti mengulang kembali, dan ia sendiri berarti "putaran" atau "kesempatan mengulang", di sini menunjuk pada permintaan kembali ke dunia. Frasa persis ini, "law anna lanaa karratan", hanya muncul di dua tempat dalam mushaf: ayat ini dan 26:102. Namun tujuan yang diminta berbeda pada keduanya. Di 26:102, kaum yang menyesal berkata, "sekiranya kami dapat kembali, niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman", andai-andai yang diarahkan pada perbaikan iman. Di ayat ini, permintaan kembali diarahkan bukan pada iman, melainkan pada pemutusan hubungan dengan para pemimpin yang dahulu mereka ikuti.

Tujuan dari andai-andai itu disebut lewat (فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ, fa-natabarra'a minhum) yang berarti "agar kami berlepas diri dari mereka". Kata (نَتَبَرَّأَ, natabarra'a) dan (تَبَرَّءُوا, tabarra'uu) yang menyusul segera sesudahnya, keduanya dari akar yang berarti lepas dan bersih dari, adalah akar yang sama persis dengan kata pembuka 2:166, (تَبَرَّأَ, tabarra'a). Bentuk kata kerja ini, tabarra'a, muncul di empat tempat dalam mushaf: 2:166, ayat ini, 9:114, dan 28:63. Dua kemunculan lain di luar pasangan 2:166-2:167 ini berbeda konteksnya. Di 9:114, Ibrahim berlepas diri dari ayahnya sendiri setelah jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya musuh Allah, sebuah pemutusan yang terjadi di dunia, dengan sadar, sebelum kematian. Di 28:63, justru para pemimpin yang berkata kepada Allah, "kami berlepas diri kepada-Mu", perkataan yang searah dengan 2:166, bukan dengan ayat ini. Ayat ini sendiri unik dalam formasinya: dua pihak yang sama, pengikut dan yang diikuti, sama-sama mengucapkan kata berlepas diri, tapi pada dua ayat berurutan dan dua momen yang tidak lagi bisa saling menjangkau.

Kalimat (كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ, ka-dzaalika yuriihimu llaahu a'maalahum hasaraatin 'alayhim) berarti "demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal-amal mereka sebagai penyesalan atas mereka". Frasa (يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ, yuriihimu llaahu a'maalahum), "Allah memperlihatkan kepada mereka amal-amal mereka", tidak terulang di tempat lain dalam mushaf dengan susunan kata yang sama persis. Kata (حَسَرَاتٍ, hasaraatin) dari akar yang berarti penyesalan yang melelahkan, dan ia sendiri berarti "penyesalan-penyesalan", bentuk jamak. Kata yang sama, hasaraatin, muncul juga di 35:8, tapi dalam kedudukan tata kalimat yang berbeda: di 35:8, penyesalan itu adalah kesedihan Nabi terhadap orang-orang yang tersesat, sesuatu yang Nabi diminta jangan sampai membinasakan dirinya; di ayat ini, penyesalan itu adalah milik para pengikut sendiri, dialami langsung oleh mereka saat menyaksikan amal mereka sendiri.

Ayat ini ditutup dengan (وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ, wa maa hum bi-khaarijiina mina n-naari) yang berarti "dan mereka tidak akan keluar dari api". Frasa (بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ, bi-khaarijiina mina n-naari) dengan susunan huruf ba penguat di depan kata "khaarijiina" tidak terulang di tempat lain dalam mushaf. Susunan negasi ganda, "maa hum bi-khaarijiina", memakai huruf ba sebagai penguat peniadaan, membuat kalimat ini bukan sekadar menyatakan mereka tidak keluar, melainkan menegaskan secara berlapis bahwa keluar itu sama sekali tidak akan terjadi.

Tafsiran

Ayat ini adalah cermin terbalik dari ayat sebelumnya. Di 2:166, pihak yang berbicara dan berlepas diri lebih dulu adalah mereka yang diikuti, para pemimpin, saat azab sudah terlihat nyata di hadapan mereka. Di ayat ini, giliran pihak yang mengikuti yang berbicara, mengucapkan andai-andai bahwa sekiranya mereka mendapat kesempatan kembali ke dunia, mereka pun akan berlepas diri, persis seperti para pemimpin mereka telah berlepas diri dari mereka. Susunan akar kata kerja yang sama, yang berarti lepas dan bersih dari, dipakai pada kedua ayat berurutan ini, tapi diucapkan oleh dua pihak berbeda, pada dua momen yang berbeda kesempatannya: pemimpin mengucapkannya sebagai fakta yang sudah terjadi, sedang pengikut mengucapkannya sebagai andai-andai yang tidak mungkin lagi terwujud.

Ketidakmungkinan itu ditegaskan oleh bentuk tata kalimatnya sendiri. Kalimat pengandaian yang dibuka dengan "law", "sekiranya", dalam pola bahasa Arab menyatakan sesuatu yang tidak terjadi, berbeda dari kalimat syarat biasa yang masih terbuka kemungkinannya. Pengikut-pengikut ini tidak sedang mengajukan permintaan yang mungkin dikabulkan; mereka sedang mengucapkan penyesalan atas sesuatu yang pintunya sudah tertutup. Ayat 2:166 sebelumnya sudah menyebut kondisi ini secara eksplisit, "dan terputuslah bagi mereka segala sebab", sebuah pemutusan total yang membuat andai-andai di ayat ini, meski diucapkan sungguh-sungguh, tidak punya jalan untuk terwujud.

Perbandingan dengan 26:102 memperjelas apa yang sesungguhnya disesali para pengikut ini. Di 26:102, kaum yang menyesal meminta kesempatan kembali untuk memperbaiki iman mereka, sebuah penyesalan yang mengarah pada hubungan mereka dengan Allah. Di ayat ini, permintaan kembali diarahkan bukan pada iman, melainkan pada pemutusan hubungan dengan para pemimpin yang telah menyesatkan mereka. Penyesalan pengikut dalam ayat ini bersifat horizontal, tertuju pada sesama manusia yang mereka ikuti, bukan vertikal, tertuju pada Allah yang mereka ingkari. Ayat berikutnya, 2:168, akan berbicara tentang perintah makan dari yang halal dan baik serta larangan mengikuti langkah setan, sebuah pergantian topik yang menempatkan dua ayat tentang pengikut dan yang diikuti ini sebagai penutup dari satu unit pembicaraan tentang kesesatan mengikuti, sebelum pasal berikutnya beralih ke perintah yang bersifat lebih umum.

Ayat ini ditutup bukan dengan gambaran penyesalan itu sendiri, melainkan dengan pernyataan tentang ketiadaan jalan keluar dari api. Urutan ini menempatkan penyesalan sebagai sesuatu yang terjadi di dalam kondisi yang sudah permanen, bukan sebagai proses yang masih bisa mengubah kondisi itu. Amal-amal yang diperlihatkan Allah kepada mereka sebagai penyesalan bukan pelajaran untuk memperbaiki keadaan, karena keadaan itu sendiri sudah final; ia adalah konsekuensi yang harus disaksikan, bukan kesempatan yang masih terbuka.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini dan ayat sebelumnya memakai akar kata yang sama persis, berlepas diri, diucapkan oleh dua pihak berbeda dalam ikatan yang sama: pemimpin lebih dulu di 2:166, pengikut kemudian di ayat ini. Ada sesuatu yang tersingkap dari susunan ini, bahwa sebuah hubungan yang tampak kokoh selama berjalan bisa disangkal dari kedua sisinya sekaligus begitu konsekuensinya datang, bukan hanya dari satu pihak yang mengkhianati sementara pihak lain tetap setia. Ikatan yang runtuh di sini runtuh total, bukan sebagian, dan keduanya mengucapkan kata yang sama untuk membubarkannya.
  • Permintaan kembali yang diucapkan pengikut-pengikut ini bukan permintaan yang masih mungkin dikabulkan; ia diucapkan dalam bentuk kalimat yang menurut aturannya sendiri menyatakan sesuatu yang tidak terjadi. Ada perbedaan besar antara menyesal ketika pintu masih terbuka, sekecil apa pun celahnya, dan menyesal ketika pintu itu sudah tertutup sejak awal kalimat diucapkan. Penyesalan jenis kedua ini tidak punya fungsi memperbaiki apa pun; ia hanya menjadi pengakuan tentang sesuatu yang seharusnya dipikirkan lebih dulu, sebelum keputusan untuk mengikuti itu diambil.
  • Ayat 26:102 menunjukkan penyesalan yang tertuju pada perbaikan iman, sedang ayat ini menunjukkan penyesalan yang tertuju pada pemutusan hubungan dengan sesama manusia yang telah menyesatkan. Ada dua arah berbeda ke mana penyesalan seseorang bisa mengalir, ke atas menuju perbaikan hubungan yang paling mendasar, atau ke samping menuju pelemparan tanggung jawab kepada pihak lain yang dianggap penyebabnya. Ayat ini menempatkan penyesalan pengikut pada arah yang kedua, seolah menunjukkan bahwa mengikuti secara membabi-buta bisa membuat seseorang, bahkan di titik paling menyesal sekalipun, masih mengarahkan penyesalannya keluar dari dirinya sendiri. Konkretnya: yang menentukan bukan sedalam apa penyesalannya, melainkan kapan kesadaran itu datang. Kesadaran yang tiba lebih dulu, sewaktu ikutnya belum diputuskan, jauh lebih berharga daripada penyesalan yang tiba belakangan, dan urutan itu tak bisa ditukar sesudahnya.
  • Frasa yang menyebut Allah memperlihatkan amal-amal mereka sebagai penyesalan tidak menyebut amal itu sebagai sesuatu yang baru diciptakan untuk menghukum; amal-amal itu adalah milik mereka sendiri, yang selama ini mereka lakukan, kini diperlihatkan kembali dengan cara yang membuatnya terasa sebagai penyesalan. Ada sesuatu yang mengganggu dari gambaran ini, bahwa hukuman yang paling menyakitkan bisa jadi bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan cermin dari perbuatan sendiri yang baru terlihat jelas maknanya setelah semuanya selesai, ketika terlambat untuk mengubah apa pun.
  • Ayat ini tidak berhenti pada gambaran penyesalan; ia ditutup dengan pernyataan bahwa mereka tidak akan keluar dari api, sebuah kalimat yang secara tata bahasa ditegaskan berlapis, bukan sekadar diberitakan datar. Ada perbedaan antara penyesalan yang menjadi bagian dari proses menuju perbaikan, dan penyesalan yang terjadi di dalam kondisi yang sudah tertutup segala kemungkinannya. Menempatkan pernyataan tentang ketiadaan jalan keluar tepat sesudah gambaran penyesalan menunjukkan bahwa penyesalan di sini bukan awal dari sesuatu, melainkan bagian dari konsekuensi yang sudah selesai ditetapkan. Penyesalan pengikut ('sekiranya kami mendapat kesempatan kembali') datang terlambat, sebuah peringatan bahwa penyesalan pasca-fakta tidak mengubah konsekuensi yang sudah terjadi.
  • Kata untuk kesempatan kembali itu (كَرَّةً) muncul di tiga ayat, yaitu 2:167, 26:102, dan 39:58, dan di ketiganya ia diucapkan orang yang sudah melihat akibatnya. Tak sekali pun kata ini keluar dari mulut orang yang masih punya waktu. Lalu kapan permintaan itu seharusnya diucapkan? Justru pada saat ia tidak terpikir sama sekali, yaitu ketika kesempatan masih ada dan belum terasa perlu. Kata untuk penyesalan yang menyertainya (حَسَرَاتٍ) berbentuk jamak dan cuma muncul dua kali, di sini dan di 35:8, jadi Allah tidak menyebutnya sebagai satu penyesalan melainkan sebagai penyesalan yang berlapis-lapis.