إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya ia hanya menyuruh kalian untuk berbuat jahat dan keji, serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَinnamaa ya'murukum bi-s-suu'i wa-l-fahsyaa'i wa-an taquuluu 'alaa llaahi maa laa ta'lamuunasesungguhnya ia hanya menyuruh kalian untuk berbuat jahat dan keji, serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui
Terjemahan per kata (11 kata)
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
- يَأْمُرُكُمْya'murukummemerintahkan kalian
- بِالسُّوءِbi-s-suu'ipada keburukan
- وَالْفَحْشَاءِwa-l-fahsyaa'idan kekejian
- وَأَنْwa-andan untuk
- تَقُولُواtaquuluukalian katakan
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- مَاmaaapa yang
- لَاlaatidak
- تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui
Inti bacaan
Setan disebut hanya menyuruh 'kejahatan, kekejian, dan berkata tentang Allah tanpa pengetahuan', tiga kategori yang mencakup tindakan buruk dan klaim keagamaan yang tidak berdasar. Konkretnya: klaim-klaim keagamaan yang tidak berdasar bukti (baik untuk menakut-nakuti atau melegitimasi sesuatu) termasuk kategori yang diperingatkan di sini, kehati-hatian terhadap klaim spiritual yang tidak bisa dipertanggungjawabkan adalah bagian dari kewaspadaan iman.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ, innamaa ya'murukum) yang berarti "sesungguhnya ia hanya menyuruh kalian". Kata ganti tersembunyi "ia" pada (يَأْمُرُكُمْ, ya'murukum) tidak menyebut ulang siapa yang dimaksud; subjeknya adalah setan, yang baru saja disebut secara eksplisit di ayat sebelumnya sebagai "musuh yang nyata". Ayat ini menyambung langsung dari penutup ayat sebelumnya, tanpa jeda topik, merinci apa isi permusuhan yang tadi hanya dinyatakan secara umum. Kata (إِنَّمَا, innamaa) yang berarti "hanya" atau "tidak lain", membatasi cakupan tawaran setan; ayat ini menyatakan bahwa apa yang disebutkan sesudahnya adalah keseluruhan isi ajakan setan, bukan sekadar salah satu contohnya.
Isi ajakan pertama adalah (بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ, bi-s-suu'i wa-l-fahsyaa'i) yang berarti "dengan kejahatan dan kekejian". Kata (السُّوءِ, as-suu'i) dari akar yang berarti buruk, dan ia sendiri berarti "keburukan" secara umum, sedang (الْفَحْشَاءِ, al-fahsyaa'i) dari akar yang berarti keterlaluan dan keji, dan ia sendiri berarti "kekejian", biasanya menunjuk pada perbuatan yang melampaui batas kepatutan. Akar yang sama, yang berarti keterlaluan dan keji, muncul juga di 24:21, ayat yang berbicara tentang akibat mengikuti langkah setan, tapi dengan pasangan kata yang berbeda, "al-fahsyaa'i wa-l-munkar", kekejian dan kemungkaran, bukan "as-suu'i wa-l-fahsyaa'i" seperti di ayat ini. Dua ayat ini menunjukkan sisi yang sama dari ajakan setan, perbuatan buruk, tapi dengan kata pendamping yang berbeda, tidak berupa formula tunggal yang diulang persis sama.
Isi ajakan kedua adalah (أَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ, an taquuluu 'alaa llaahi maa laa ta'lamuuna) yang berarti "agar kalian mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui". Kata (تَقُولُوا, taquuluu) dari akar yang berarti mengatakan, dan ia sendiri berarti "kalian berkata", dan (تَعْلَمُونَ, ta'lamuuna) dari akar yang berarti mengetahui, dan ia sendiri berarti "kalian mengetahui". Frasa persis ini, "an taquuluu 'alaa llaahi maa laa ta'lamuuna", muncul juga di 7:33, tapi dalam kedudukan yang berbalik. Di ayat ini, frasa tersebut adalah penutup dari daftar apa yang diperintahkan setan; di 7:33, frasa yang sama persis adalah penutup dari daftar apa yang diharamkan Allah, sesudah menyebut perbuatan keji, dosa, pelampauan batas, dan mempersekutukan Allah tanpa dasar. Dua daftar dari dua sumber yang berlawanan, ajakan setan dan larangan Allah, berujung pada larik penutup yang sama persis kata demi katanya: berkata tentang Allah tanpa pengetahuan.
Ayat ini menyusun dua isi ajakan setan dalam urutan tertentu: perbuatan buruk disebut lebih dulu, ucapan tentang Allah tanpa ilmu disebut kemudian, di posisi penutup. Urutan ini menaik dari perbuatan yang berdampak pada sesama, kejahatan dan kekejian, menuju ucapan yang berdampak pada pemahaman tentang Allah sendiri, berbicara tanpa dasar pengetahuan tentang Yang Maha Mengetahui.
Tafsiran
Ayat ini bukan topik baru, melainkan penjelasan langsung dari penutup ayat sebelumnya. Ayat 2:168 menyatakan setan sebagai musuh yang nyata tanpa merinci bentuk permusuhannya; ayat ini segera merincinya, memakai kata ganti tersembunyi yang merujuk balik kepada setan tanpa perlu menyebut namanya lagi. Kesatuan tata kalimat semacam ini, satu ayat menyatakan sesuatu secara umum, ayat berikutnya segera merincinya tanpa jeda subjek, menempatkan 2:168 dan 2:169 sebagai satu unit pembicaraan yang tidak lengkap kalau dibaca terpisah.
Dua isi ajakan yang disebut ayat ini, kejahatan-kekejian dan berkata tentang Allah tanpa ilmu, mewakili dua wilayah yang berbeda. Yang pertama adalah wilayah perbuatan, yang dampaknya keluar, dirasakan oleh sesama; yang kedua adalah wilayah ucapan, yang dampaknya masuk, mengubah bagaimana seseorang memahami Allah sendiri. Ayat ini menempatkan keduanya sebagai satu paket ajakan yang sama, bukan dua godaan yang terpisah, seolah menegaskan bahwa kerusakan pada perbuatan dan kerusakan pada pemahaman berasal dari sumber yang sama dan datang bersamaan.
Kesamaan persis larik penutup ayat ini dengan larik penutup daftar larangan Allah di 7:33 menempatkan ayat ini dalam posisi yang tajam. Apa yang disebut di ayat ini sebagai puncak ajakan setan adalah persis apa yang disebut di 7:33 sebagai puncak dari yang diharamkan Allah. Dua sumber yang berseberangan penuh, ajakan setan dan larangan Allah, bertemu pada larik kata yang sama persis, menjadikan larik itu sebagai penanda paling jelas tentang di mana sesungguhnya batas antara mengikuti setan dan mengikuti Allah berada, bukan pada perbuatan yang tampak, melainkan pada apa yang berani dikatakan seseorang tentang Allah tanpa dasar pengetahuan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini tidak menyebut ulang siapa yang dimaksud dengan kata ganti "ia"; ia bergantung penuh pada ayat sebelumnya untuk diketahui subjeknya. Ada sesuatu yang tersingkap dari susunan ini, bahwa membaca ayat ini terpisah dari ayat sebelumnya akan kehilangan separuh maknanya, karena rincian ajakan yang disebut di sini hanya bisa dipahami sebagai penjelasan dari pernyataan umum yang sudah dibuat lebih dulu. Kesatuan semacam ini mengingatkan bahwa memahami sebuah pernyataan sering membutuhkan lebih dari satu unit teks, tidak berhenti pada satu potongan yang tampak lengkap dengan sendirinya.
- Ayat ini menyandingkan kejahatan dan kekejian, yang berupa perbuatan, dengan berkata tentang Allah tanpa ilmu, yang berupa ucapan, sebagai satu paket ajakan yang sama, bukan dua godaan yang berbeda sumbernya. Ada anggapan yang keliru kalau seseorang membedakan secara tegas antara kerusakan moral dalam tindakan dan kerusakan dalam cara berbicara tentang hal-hal yang mendasar, seolah yang kedua lebih ringan karena "hanya kata-kata". Ayat ini menempatkan keduanya setara, datang dari ajakan yang sama, menunjukkan bahwa kelonggaran dalam berbicara tanpa dasar pengetahuan bukan persoalan yang lebih kecil daripada perbuatan buruk yang tampak.
- Larik penutup ayat ini, mengatakan tentang Allah apa yang tidak diketahui, muncul kata demi kata sama persis di 7:33, tapi di sana ia adalah penutup dari daftar yang Allah haramkan, bukan yang diperintahkan setan. Ada sesuatu yang tajam dari kesamaan persis ini: dua sumber yang paling berlawanan, ajakan yang menyesatkan dan larangan yang membimbing, ternyata bertemu pada larik yang sama sebagai batas akhir keduanya. Kesamaan semacam ini menyisakan gambaran bahwa satu tindakan yang sama, berbicara tentang Allah tanpa dasar pengetahuan, bisa berdiri sebagai titik temu antara apa yang mestinya dihindari dari dua arah yang berbeda sekaligus.
- Ayat ini menyebut kejahatan dan kekejian lebih dulu, baru kemudian berkata tentang Allah tanpa ilmu di posisi penutup, bukan urutan sebaliknya. Ada makna dalam urutan semacam ini, seolah daftar bergerak dari yang paling mudah dikenali sebagai keburukan menuju yang paling mudah luput dari perhatian sebagai keburukan. Berbicara tentang Allah tanpa dasar pengetahuan bisa terasa seperti pendapat biasa, bukan pelanggaran yang nyata, sehingga menempatkannya di posisi penutup, sesudah dua kata yang jelas-jelas buruk, membuat keburukannya ikut tersorot oleh posisi yang didudukinya.
- Ayat ini memakai kata yang berarti "hanya" tepat sebelum merinci ajakan setan, membatasi cakupan tawarannya pada dua hal ini saja, bukan sebagai salah satu contoh dari daftar yang lebih panjang. Ada semacam ketegasan dalam pembatasan ini, bahwa apa pun bentuk godaan yang tampak beragam di permukaan, pada akhirnya bermuara hanya pada dua wilayah, perbuatan buruk dan ucapan tanpa dasar tentang Allah. Mengetahui bahwa cakupan ajakan itu sesungguhnya terbatas, bukan tak terhingga bentuknya, memudahkan pengenalan terhadapnya, karena yang perlu diwaspadai bukan daftar yang panjang, melainkan dua pokok yang sudah disebutkan jelas.
- Pasangan yang disebut lebih dulu (بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Sesudahnya barulah disebut perbuatan yang ketiga, yaitu mengatakan tentang Allah apa yang tidak diketahui. Mengapa yang ketiga tidak dimasukkan ke dalam pasangan yang sama? Karena dua yang pertama masih berupa perbuatan yang bisa dilihat dan dihitung, sedangkan yang ketiga berupa ucapan yang menyandarkan sesuatu kepada Allah, dan ucapan semacam itu tidak meninggalkan bekas yang bisa diperiksa siapa pun.