وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً ۚ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Dan perumpamaan orang-orang yang kufur seperti perumpamaan orang yang berteriak kepada apa yang tidak mendengar kecuali seruan dan panggilan. Tuli, bisu, buta, maka mereka tidak berakal.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءًwa-matsalu lladziina kafaruu ka-matsali lladzii yan'iqu bi-maa laa yasma'u illaa du'aa'an wa-nidaa'andan perumpamaan orang-orang yang kufur seperti perumpamaan orang yang berteriak kepada apa yang tidak mendengar kecuali seruan dan panggilan
  2. صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَshummun bukmun 'umyun fa-hum laa ya'qiluunatuli, bisu, buta, maka mereka tidak berakal

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. وَمَثَلُwa-matsaludan perumpamaan
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. كَفَرُواkafaruukufur
  4. كَمَثَلِka-matsaliseperti perumpamaan
  5. الَّذِيlladziiyang
  6. يَنْعِقُyan'iquberteriak
  7. بِمَاbi-maapada apa yang
  8. لَاlaatidak
  9. يَسْمَعُyasma'umendengar
  10. إِلَّاillaakecuali
  11. دُعَاءًdu'aa'anseruan
  12. وَنِدَاءًwa-nidaa'andan panggilan
  13. صُمٌّshummuntuli
  14. بُكْمٌbukmunbisu
  15. عُمْيٌ'umyunbuta
  16. فَهُمْfa-hummaka mereka
  17. لَاlaatidak
  18. يَعْقِلُونَya'qiluunayang mengerti

Inti bacaan

Perumpamaan penggembala yang berteriak pada hewan yang hanya mendengar suara tanpa memahami makna menggambarkan komunikasi yang gagal menembus, pesan sampai secara fisik tapi tidak dipahami secara substansi. Konkretnya: menerima informasi/pesan secara harfiah tanpa benar-benar memahami maknanya adalah bentuk 'mendengar tapi tidak mengerti', kedalaman pemahaman, bukan sekadar paparan informasi, adalah tujuan sebenarnya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ, wa matsalu lladziina kafaruu ka-matsali lladzii yan'iqu) yang berarti "dan perumpamaan orang-orang yang kufur seperti perumpamaan orang yang berteriak". Susunan ini adalah perumpamaan berlapis, "matsal...ka-matsal...", perumpamaan yang dibandingkan dengan perumpamaan lain, bukan perbandingan langsung antara orang kafir dengan seekor hewan. Kata (يَنْعِقُ, yan'iqu) dari akar yang berarti berteriak memanggil ternak adalah kata yang sangat khusus, hanya muncul satu kali dalam seluruh mushaf, di ayat ini saja. Kata ini menggambarkan suara yang dikeluarkan seorang penggembala kepada ternaknya, bunyi panggilan yang ditangkap sebagai suara, bukan kata-kata bermakna yang dipahami.

Objek dari teriakan itu, (بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً, bimaa laa yasma'u illaa du'aa'an wa nidaa'an), berarti "kepada apa yang tidak mendengar kecuali seruan dan panggilan". Kata (يَسْمَعُ, yasma'u) dari akar yang berarti mendengar, dan ia sendiri berarti "mendengar", dan dua kata untuk panggilan, (دُعَاءً, du'aa'an) dari akar yang berarti memanggil dan berdoa dan (نِدَاءً, nidaa'an) dari akar yang berarti tempat orang berhimpun, dipasangkan berdampingan meski berasal dari akar yang berbeda, sama-sama menunjuk pada bunyi panggilan tanpa muatan makna yang tertangkap oleh yang dipanggil.

Tiga kata sifat berturut-turut, (صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ, shummun bukmun 'umyun), berarti "tuli, bisu, buta". Susunan tiga kata ini muncul sama persis di 2:18, ayat yang berbicara tentang perumpamaan orang munafik. Di 2:18, tiga kata sifat ini ditutup dengan (فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ, fahum laa yarji'uuna), "maka mereka tidak akan kembali"; di ayat ini, penutupnya berbeda, (فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ, fahum laa ya'qiluuna), "maka mereka tidak berakal". Formula tiga kata sifat yang identik dipakai untuk dua golongan berbeda, munafik dan kafir, tapi konsekuensi yang disebut sesudahnya tidak sama, satu tentang ketiadaan jalan kembali, satu tentang ketiadaan akal yang berfungsi.

Kata ganti (هُمْ, hum) pada "fahum laa ya'qiluuna" berbentuk jamak. Bentuk jamak ini sejalan dengan (الَّذِينَ كَفَرُوا, alladziina kafaruu), "orang-orang yang kufur", subjek jamak yang disebut di awal ayat, bukan dengan (الَّذِي يَنْعِقُ, alladzii yan'iqu), "orang yang berteriak", yang berbentuk tunggal, muncul di tengah ayat sebagai bagian dari perumpamaan. Kesesuaian bentuk jamak-jamak antara "hum" dan "alladziina kafaruu" menempatkan sifat tuli, bisu, buta, dan tidak berakal sebagai karakter yang melekat pada orang-orang kafir itu sendiri, subjek utama ayat ini, bukan pada objek yang diserukan dalam perumpamaan yang menjadi pembandingnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan tema yang baru saja disinggung ayat sebelumnya. Ayat 2:170 mempertanyakan apakah leluhur yang diikuti secara membabi buta itu sendiri berakal dan mendapat petunjuk. Ayat ini melangkah lebih jauh, menyatakan secara langsung bahwa orang-orang yang kufur, dengan segala kekukuhan mereka menolak wahyu, adalah pihak yang justru tidak berakal, ditutup dengan kata akar yang sama persis, ya'qiluuna, yang muncul di ayat sebelumnya. Dua ayat berurutan ini membentuk satu gerakan: pertama mempertanyakan otoritas yang diikuti, kemudian menyimpulkan kondisi orang yang mengikutinya secara membabi buta itu sendiri.

Perumpamaan berlapis yang dipakai ayat ini, membandingkan perumpamaan dengan perumpamaan, bukan orang dengan hewan secara langsung, menempatkan gambaran ini pada tingkat yang lebih halus daripada sekadar penghinaan. Yang dibandingkan adalah situasi, penerimaan wahyu oleh orang kafir dibandingkan dengan situasi seorang penggembala yang berteriak kepada sesuatu yang hanya menangkap bunyi, bukan makna. Kesesuaian bentuk jamak antara kata ganti penutup dan "orang-orang yang kufur" di awal ayat menegaskan bahwa yang dikarakterisasi tuli, bisu, buta, dan tidak berakal adalah orang-orang kafir sendiri, bukan pihak yang diserukan dalam perumpamaan yang menjadi bahan perbandingannya.

Perbandingan dengan 2:18 memperlihatkan bahwa kondisi tuli, bisu, buta bukan formula yang khusus diciptakan untuk satu golongan tertentu. Formula yang sama persis dipakai untuk orang munafik di 2:18 dan orang kafir di ayat ini, dua golongan dengan sikap berbeda terhadap wahyu, satu berpura-pura menerima sambil menyembunyikan penolakan, satu menolak secara terbuka. Yang membedakan keduanya bukan pada tiga kata sifat itu, melainkan pada konsekuensi yang menyusul sesudahnya, ketiadaan jalan kembali bagi yang satu, ketiadaan akal yang berfungsi bagi yang lain, dua kegagalan yang sama-sama fatal meski mengarah pada kekurangan yang berbeda.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang dipakai ayat ini untuk menggambarkan teriakan, yan'iqu, hanya muncul satu kali dalam seluruh mushaf, dipilih khusus karena maknanya yang sempit, suara penggembala kepada ternaknya, bukan kata umum untuk berbicara atau menyeru yang bisa dipakai di berbagai konteks. Ada ketelitian dalam pemilihan kata sekhusus ini, seolah gambaran yang ingin disampaikan memang membutuhkan kata yang maknanya tidak bisa digantikan oleh kata lain yang lebih umum. Sebuah kata yang hanya dipakai sekali menunjukkan bahwa situasi yang digambarkannya juga khusus, tidak sama dengan situasi mendengar atau berbicara pada umumnya.
  • Bentuk jamak pada kata ganti "mereka" di penutup ayat ini menunjuk kembali pada orang-orang yang kufur, bukan pada pihak yang diserukan dalam perumpamaan yang menjadi pembandingnya. Ada kejelasan yang tersembunyi di balik struktur kalimat yang tampak berlapis ini, bahwa yang sesungguhnya dikarakterisasi tuli, bisu, dan buta bukanlah objek dalam gambaran perumpamaan, melainkan orang-orang kafir sendiri, subjek yang sejak awal ayat ini dibicarakan. Memeriksa bentuk tunggal dan jamak sebuah kata bisa menjadi kunci untuk memahami kepada siapa sesungguhnya sebuah gambaran itu ditujukan, bukan sekadar mengikuti kesan pertama dari urutan kalimatnya.
  • Ayat ini menyandingkan dua kata untuk panggilan, du'aa'an dan nidaa'an, dari dua akar yang berbeda, alih-alih memakai satu kata yang diulang. Ada kekayaan dalam menyandingkan dua kata yang maknanya berdekatan tapi tidak identik, memberi kesan bahwa apa pun bentuk panggilan itu, dari sisi mana pun ia datang, hasilnya tetap sama bagi yang tidak mampu menangkap maknanya, hanya bunyi yang terdengar, tanpa isi yang dipahami.
  • Ayat ini menutup dengan kata akar yang sama, tidak berakal, dengan yang baru saja muncul di ayat sebelumnya tentang leluhur yang diikuti secara membabi buta. Ada kesinambungan gagasan dalam pengulangan akar ini, dari mempertanyakan kelayakan otoritas yang diikuti menuju menyimpulkan kondisi mereka yang mengikutinya. Pengulangan tema akal pada dua ayat berurutan ini menunjukkan bahwa persoalan yang sesungguhnya sedang dibicarakan bukan sekadar isi kepercayaan yang berbeda, melainkan cara berpikir, atau ketiadaannya, yang mendasari kepercayaan itu.
  • Tiga kata sifat yang sama persis, tuli, bisu, buta, dipakai untuk dua golongan berbeda, orang munafik di 2:18 dan orang kafir di ayat ini, tapi masing-masing ditutup dengan konsekuensi yang berbeda, ketiadaan jalan kembali dan ketiadaan akal yang berfungsi. Ada pelajaran dalam kesamaan sekaligus perbedaan ini, bahwa kondisi dasar yang sama, tertutup dari kebenaran yang seharusnya terdengar, terlihat, dan terucap, bisa bermuara pada kegagalan yang berbeda bentuknya, tergantung pada sikap yang menyertainya, tersembunyi atau terang-terangan.
  • Perumpamaan sependek ini memakai tiga kata yang tidak dipakai lagi di mana pun. Kata kerja untuk berteriak (يَنْعِقُ) muncul satu kali saja, dan begitu pula pasangan kata untuk seruan dan panggilan (دُعَاءً وَنِدَاءً) yang menyusulnya. Mengapa gambaran sesederhana penggembala yang berteriak memerlukan kosakata sekhusus itu? Sebab yang digambarkan bukan kegagalan bicara melainkan kegagalan yang sangat khusus: suaranya sampai, seluruhnya, tanpa kurang satu pun, dan yang tidak sampai cuma artinya. Allah memilih kata yang tidak bisa dipinjamkan ke keadaan lain.