يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian kisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh: orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Maka siapa yang dimaafkan oleh saudaranya sesuatu, hendaklah mengikuti dengan cara yang baik dan menunaikan kepadanya dengan kebaikan. Itu adalah keringanan dari Tuhan kalian dan rahmat. Maka siapa yang melampaui batas setelah itu, baginya azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (5 jeda)
  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَىyaa ayyuhaa lladziina aamanuu kutiba alaykumu l-qisaasu fii l-qatlaawahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian kisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh
  2. الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰal-hurru bi-l-hurri wa-l-abdu bi-l-abdi wa-l-untsaa bi-l-untsaaorang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan
  3. فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍfa-man ufiya lahu min akhiihi shay'un fa-ttibaa'un bi-l-ma'ruufi wa-adaa'un ilayhi bi-ihsaaninmaka siapa yang dimaafkan oleh saudaranya sesuatu, hendaklah mengikuti dengan cara yang baik dan menunaikan kepadanya dengan kebaikan
  4. ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌdzaalika takhfiifun min rabbikum wa-rahmatunitu adalah keringanan dari Tuhan kalian dan rahmat
  5. فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌfa-mani tadaa ba'da dzaalika fa-lahu adzaabun aliimunmaka siapa yang melampaui batas setelah itu, baginya azab yang pedih
Catatan pilihan kata (ringkas)

Hukum qisas sering dicitrakan sbg hukum balas dendam yang kejam/primitif tanpa ruang ampun. Struktur ayat sendiri menunjukkan urutan preferensi yang jelas: (1) qisas ditetapkan sbg BATAS MAKSIMAL, bukan kewajiban mutlak menuntut, (2) ayat secara eksplisit MENDORONG pemaafan ('faman 'ufiya lahu... fattiba' bilma'ruf', ikuti dgn cara baik), (3) QS 2:179 (ayat berikutnya) menyimpulkan tujuan hukum ini adalah MENJAGA KEHIDUPAN ('wa lakum fil qisasi hayah', dalam qisas ada kehidupan bagimu), sbg efek jera thd calon pembunuh, bukan pemuasan dendam. Ini konsisten dgn pola non-kontradiksi: hukum yg tampak keras (nyawa dibalas nyawa) dibingkai ulang oleh ayat itu sendiri sbg mekanisme pencegahan + jalan keluar berupa pemaafan, bukan tuntutan wajib membalas. sebagian penerjemah menerjemahkan 'al-qisaas' sbg 'just requital' (bukan 'balas dendam'), sejalan dgn makna ekuivalensi. Tidak ada koreksi signifikan thd bacaan mainstream di ayat ini. Qisas secara leksikal berarti mengikuti jejak/menyamakan, inti maknanya EKUIVALENSI, bukan pembalasan berlebih. Ayat ini eksplisit membatasi hukuman maksimal setara perbuatan, mencegah eskalasi/vendetta (yang lazim di budaya pra-Islam Arab, di mana satu nyawa dibalas berlipat).

Aplikasi

Hukum qisas (retribusi setimpal) langsung diikuti jalur pemaafan ('siapa yang dimaafkan... hendaklah mengikuti dengan cara yang baik'), keadilan dan belas kasih ditempatkan berdampingan, bukan saling meniadakan. Konkretnya: sistem keadilan yang sehat menyediakan baik jalur akuntabilitas TEGAS maupun jalur pemaafan yang bermartabat, keduanya pilihan sah, bukan satu meniadakan yang lain.