يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَyaa ayyuhaa lladziina aamanuu kutiba alaykumu s-siyaamu kamaa kutiba alaa lladziina min qablikum la'allakum tattaquunawahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar a-m-n, k-t-b, s-w-m, q-b-l, w-q-y): siyaam diterjemahkan 'berpuasa', akar s-w-m=menahan diri (putaran 79); 'berpuasa' dipertahankan (rendering belum diputus). Selaras.

Aplikasi

Puasa diwajibkan dengan alasan eksplisit: 'agar kalian bertakwa', bukan sekadar ritual menahan lapar-haus, melainkan latihan kesadaran diri yang lebih dalam. Konkretnya: nilai puasa (atau disiplin diri serupa) terletak bukan pada penderitaan fisiknya semata, tapi pada kesadaran/pengendalian diri yang dibangunnya, mengukur keberhasilan puasa dari perubahan karakter, bukan sekadar ketahanan fisik.