شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan bukti-bukti yang jelas mengenai petunjuk dan pembeda. Maka siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu, hendaklah berpuasa. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka sejumlah hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagi kalian, dan agar kalian mencukupkan bilangannya, dan agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kalian, dan agar kalian bersyukur.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِsyahru ramadhaana lladzii unzila fiihi l-qur'aanu hudan li-n-naasi wa-bayyinaatin mina l-hudaa wa-l-furqaanibulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan bukti-bukti yang jelas mengenai petunjuk dan pembeda
- فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُfa-man syahida minkumu sy-syahra fa-l-yashumhumaka siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu, hendaklah berpuasa
- وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَwa-man kaana mariidhan aw 'alaa safarin fa-'iddatun min ayyaamin ukharadan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka sejumlah hari yang lain
- يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَyuriidu llaahu bikumu l-yusra wa-laa yuriidu bikumu l-'usra wa-li-tukmiluu l-'iddata wa-li-tukabbiruu llaaha 'alaa maa hadaakum wa-la'allakum tasykuruunaAllah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagi kalian, dan agar kalian mencukupkan bilangannya, dan agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kalian, dan agar kalian bersyukur
Terjemahan per kata (44 kata)
- شَهْرُsyahrubulan
- رَمَضَانَramadhaanaRamadan
- الَّذِيlladziiyang
- أُنْزِلَunziladiturunkan
- فِيهِfiihidi dalamnya
- الْقُرْآنُl-qur'aanuAl-Qur'an
- هُدًىhudanpetunjuk
- لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
- وَبَيِّنَاتٍwa-bayyinaatindan keterangan-keterangan
- مِنَminadari
- الْهُدَىٰl-hudaapetunjuk
- وَالْفُرْقَانِwa-l-furqaanidan pembeda
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- شَهِدَsyahidamenyaksikan
- مِنْكُمُminkumudi antara kalian
- الشَّهْرَsy-syahrabulan
- فَلْيَصُمْهُfa-l-yashumhumaka hendaklah ia berpuasa
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- كَانَkaanaadalah
- مَرِيضًاmariidhansakit
- أَوْawatau
- عَلَىٰ'alaaatas
- سَفَرٍsafarinperjalanan
- فَعِدَّةٌfa-'iddatunmaka bilangan
- مِنْmindari
- أَيَّامٍayyaaminhari
- أُخَرَukharayang lain
- يُرِيدُyuriiduDia kehendaki
- اللَّهُllaahuAllah
- بِكُمُbikumudengan kalian
- الْيُسْرَl-yusrakemudahan
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يُرِيدُyuriiduDia kehendaki
- بِكُمُbikumudengan kalian
- الْعُسْرَl-'usrakesulitan
- وَلِتُكْمِلُواwa-li-tukmiluudan agar kalian menyempurnakan
- الْعِدَّةَl-'iddatabilangan
- وَلِتُكَبِّرُواwa-li-tukabbiruudan agar kalian mengagungkan
- اللَّهَllaahaAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَاmaaapa yang
- هَدَاكُمْhadaakummemberi petunjuk kepada kalian
- وَلَعَلَّكُمْwa-la'allakumdan agar kalian
- تَشْكُرُونَtasykuruunabersyukur
Inti bacaan
Tujuan puasa dijelaskan lagi: Allah 'menghendaki kemudahan, tidak menghendaki kesukaran', prinsip yang secara eksplisit menolak pembebanan berlebihan dalam beragama. Konkretnya: interpretasi agama yang cenderung mempersulit dan membebani berlawanan dengan prinsip yang dinyatakan tegas di sini, kemudahan adalah nilai yang diakui, bukan kelemahan iman.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membuka dengan menyebut waktu, bukan perbuatan: "Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an" (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ, syahru ramadhaana lladzii unzila fiihi l-qur'aanu). Kata kerja "diturunkan" (أُنْزِلَ, unzila) berbentuk pasif, dan bentuk pasif itu menyembunyikan pelakunya: tidak dikatakan siapa yang menurunkan. Perbandingannya terasa kalau ditaruh berdampingan dengan 2:53, yang memakai bentuk aktif dengan pelaku yang eksplisit, "Kami memberikan". Di 2:53 yang disorot adalah Pemberinya; di sini yang disorot adalah bulannya. Bulan itu tidak istimewa karena dirinya sendiri, melainkan karena apa yang berlangsung di dalamnya.
Rangkaian "sebagai petunjuk bagi manusia" (هُدًى لِلنَّاسِ, hudan li-n-naasi) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an (2:185, 3:4, 6:91), dan pada ketiganya ia melekat pada kitab yang diturunkan, bukan pada orang atau peristiwa. Yang perlu diperhatikan adalah cakupannya: bukan petunjuk bagi orang yang sudah beriman, melainkan bagi "manusia" tanpa pembatas. Sasarannya ditetapkan seluas-luasnya lebih dulu, sebelum ayat ini sampai pada kewajiban yang hanya mengikat sebagian orang.
Lalu datang "dan bukti-bukti yang jelas mengenai petunjuk dan pembeda" (وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ, wa-bayyinaatin mina l-hudaa wa-l-furqaani). Susunannya menyimpan satu detail yang mudah terlewat: "bayyinaat" di sini tidak memakai kata sandang, sedangkan "al-hudaa" dan "al-furqaan" sesudahnya memakainya. Jadi yang disebut bukan seluruh petunjuk itu sendiri, melainkan sejumlah bukti yang diambil dari petunjuk dan pembeda itu. Kata "bayyinaat" dipakai lima puluh empat kali di seluruh Al-Qur'an, dan pemakaiannya konsisten menempel pada sesuatu yang dibawa untuk membuktikan, bukan sekadar untuk menerangkan: ia datang bersama rasul yang membawa perkara yang bisa diperiksa (2:87, 2:92), ia disebut sebagai sesuatu yang bisa disembunyikan orang (2:159), dan penyimpangan dinilai berat justru karena terjadi sesudah ia sampai (2:209). Sebuah keterangan yang bisa disembunyikan dan yang kedatangannya mengubah kedudukan hukum seseorang berfungsi sebagai bukti, bukan sebagai penjelasan biasa.
Kata "pembeda" (الْفُرْقَانِ, l-furqaani) muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:53, 2:185, 3:4, 8:41, 21:48, 25:1). Dua di antaranya berada di surah yang sama ini, dan keduanya menyandingkan pembeda itu dengan kitab yang diturunkan. Akarnya sama dengan kata kerja "Kami membelah" di 2:50, yang dipakai untuk laut yang terbelah. Apa yang di 2:50 berlangsung pada air, di sini berlangsung pada perkara: memisahkan dua hal yang tadinya menyatu sehingga batasnya terlihat.
Bagian kedua ayat berpindah dari pemberitaan ke kewajiban: "maka siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu, hendaklah berpuasa" (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ, fa-man syahida minkumu sy-syahra fa-l-yashumhu). Kata kerja "menyaksikan" (شَهِدَ, syahida) berakar pada kehadiran dan kesaksian, bukan sekadar pada pengetahuan bahwa bulan itu tiba. Yang mengikat bukan kalender yang berjalan di luar diri seseorang, melainkan kehadirannya sendiri pada waktu itu. Karena itu pengecualian yang menyusul, sakit dan perjalanan, tidak berbunyi sebagai kelonggaran yang diberikan belakangan, melainkan sebagai bagian dari rumusan kewajibannya sejak awal.
Penutupnya memuat pasangan yang tidak seimbang: "Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagi kalian" (يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ, yuriidu llaahu bikumu l-yusra wa-laa yuriidu bikumu l-'usra). Bentuk "al-yusr" dengan kata sandang hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, sementara pasangannya "al-usr" muncul empat kali (2:185, 9:117, 94:5, 94:6). Dua di antaranya, 94:5 dan 94:6, adalah kalimat yang diulang berturut-turut untuk menyatakan bahwa bersama kesukaran ada kemudahan. Jadi satu-satunya tempat kemudahan disebut dengan kata sandang adalah tempat ia dinyatakan sebagai yang dikehendaki, dan kesukaran justru dinafikan di kalimat yang sama. Yang dinafikan bukan adanya kesukaran, melainkan bahwa kesukaran itu yang dituju.
Tafsiran
Ayat ini melakukan sesuatu yang jarang: ia menyebutkan kewajiban sekaligus menyebutkan alasannya, dalam satu tarikan kalimat. Kebanyakan aturan berhenti pada perintahnya dan meninggalkan alasannya untuk disimpulkan orang lain. Di sini urutannya justru terbalik, alasan disebut lebih dulu, panjang lebar, baru perintahnya datang. Bulan itu disebut bukan sebagai bulan yang dipilih tanpa sebab, melainkan sebagai bulan yang di dalamnya sesuatu turun. Puasa lalu berdiri di atas peristiwa itu, bukan di atas dirinya sendiri.
Yang menarik, penyebutan turunnya wahyu di ayat ini disertai tiga kata berurutan yang seluruhnya berurusan dengan pengetahuan: petunjuk, bukti-bukti yang jelas, dan pembeda. Tidak satu pun berbicara tentang menahan lapar. Ada jarak yang sengaja dibiarkan antara sebab dan kewajiban, dan jarak itu tidak dijembatani ayat ini. Pembaca dibiarkan menghubungkannya sendiri: mengapa peringatan atas turunnya sesuatu yang menerangi justru dilakukan dengan menahan diri, bukan dengan perayaan.
Bagian penutupnya menggeser lagi sudut pandang. Setelah kewajiban dan pengecualiannya selesai disebut, ayat ini berhenti sejenak untuk menyatakan apa yang dikehendaki dan apa yang tidak dikehendaki. Pernyataan semacam ini tidak menambah satu pun aturan baru, tetapi mengubah cara seluruh aturan sebelumnya dibaca. Pengecualian bagi yang sakit dan yang bepergian, kalau dibaca tanpa kalimat ini, mudah terasa sebagai kelonggaran yang diberikan dengan berat hati. Dibaca bersama kalimat ini, keduanya berubah menjadi konsekuensi wajar dari sesuatu yang memang dikehendaki sejak awal.
Tiga tujuan yang disebut di ujung ayat juga bergerak menaik: mencukupkan bilangan, lalu mengagungkan, lalu bersyukur. Yang pertama bisa dihitung, yang kedua diucapkan, yang ketiga tidak bisa diperiksa dari luar sama sekali. Rangkaian ini berakhir pada sesuatu yang tak terukur, dan kalimat penutupnya, agar kalian bersyukur, adalah kalimat yang sama persis yang menutup 2:52 dan 2:56. Pada ketiga tempat itu ia muncul setelah sesuatu diberikan, bukan setelah sesuatu dituntut.
Renungan dan Hikmah
- Perintah puasa di ayat ini datang belakangan, setelah kalimat panjang tentang apa yang turun di bulan itu. Urutan semacam ini tidak lazim pada aturan. Biasanya yang diminta disebut lebih dulu, dan alasannya menyusul kalau sempat, atau tidak disebut sama sekali. Menyebut alasan lebih dulu memperlakukan yang diperintah sebagai pihak yang layak mengerti, bukan sekadar pihak yang harus menurut. Ada perbedaan besar antara diberitahu apa yang harus dilakukan dan diberitahu mengapa hal itu layak dilakukan, meski perbuatan yang dihasilkan keduanya sama persis.
- Kemudahan di ayat ini tidak disebut sebagai sesuatu yang diizinkan, melainkan sebagai sesuatu yang dikehendaki, dan kesukaran secara khusus dinafikan di kalimat yang sama. Bedanya besar. Sesuatu yang diizinkan tetap menyisakan kesan bahwa pilihan yang lebih berat sebenarnya lebih disukai, dan yang mengambil keringanan menanggung rasa kurang. Sesuatu yang dikehendaki menutup celah itu. Kecenderungan menakar kesungguhan dari beratnya beban yang dipikul adalah kecenderungan yang tidak menemukan sandarannya di kalimat ini.
- Kata yang dipakai untuk syarat berpuasa berakar pada menyaksikan dan hadir, bukan pada mengetahui. Yang mengikat bukan pengumuman yang sampai dari jauh, melainkan kehadiran seseorang pada waktu itu. Perbedaan ini halus tapi mengubah letak kewajibannya: ia melekat pada orang yang mengalami, bukan pada tanggal yang berjalan sendiri di luar dirinya. Kewajiban yang lahir dari kehadiran punya watak berbeda dari kewajiban yang lahir dari daftar, sebab yang pertama selalu tahu siapa yang sedang dibicarakannya.
- Kata yang diterjemahkan sebagai bukti-bukti yang jelas dipakai di tempat lain untuk sesuatu yang bisa disembunyikan orang (2:159), dan untuk sesuatu yang kedatangannya membuat penyimpangan sesudahnya dinilai lebih berat (2:209). Dua pemakaian itu menyingkap wataknya: ia bukan keterangan yang sekadar memperjelas, melainkan keterangan yang mengubah kedudukan orang yang sudah menerimanya. Setelah bukti sampai, pilihan untuk berpaling tidak lagi bisa disebut ketidaktahuan, dan justru di situlah bobotnya terletak.
- Kata pembeda di ayat ini berakar sama dengan kata kerja yang dipakai untuk laut yang terbelah di 2:50. Satu akar dipakai untuk peristiwa yang terlihat mata dan untuk kemampuan yang bekerja di dalam pikiran. Keduanya melakukan hal yang sama, memisahkan yang tadinya menyatu sehingga batasnya menjadi terlihat. Yang membelah air menyelamatkan sekali, di satu tempat, pada satu hari; yang membelah perkara bekerja setiap kali seseorang harus menimbang mana yang benar, dan justru karena itu ia lebih sering diperlukan.
- Tiga tujuan di ujung ayat bergerak dari yang paling bisa diperiksa ke yang paling tidak bisa diperiksa: mencukupkan bilangan hari bisa dihitung siapa pun, mengagungkan bisa didengar, sedangkan bersyukur tidak meninggalkan jejak yang bisa diperiksa orang lain. Rangkaian itu tidak berhenti pada yang terukur. Kepatuhan yang bisa dihitung ditempatkan sebagai awal, bukan sebagai capaian akhir, dan yang ditaruh di ujung justru satu-satunya hal yang tidak bisa dibuktikan kepada siapa pun kecuali kepada diri sendiri.