وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat bimbingan yang benar.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌwa-idzaa sa'alaka 'ibaadii 'annii fa-innii qariibundan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat
  2. أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِujiibu da'wata d-daa'i idzaa da'aaniAku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku
  3. فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَfa-l-yastajiibuu lii wa-l-yu'minuu bii la'allahum yarsyuduunamaka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat bimbingan yang benar

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. سَأَلَكَsa'alakabertanya kepadamu
  3. عِبَادِي'ibaadiihamba-hamba-Ku
  4. عَنِّي'anniidariku
  5. فَإِنِّيfa-inniimaka sesungguhnya Aku
  6. قَرِيبٌqariibunyang dekat
  7. أُجِيبُujiibuAku memperkenankan
  8. دَعْوَةَda'watadoa
  9. الدَّاعِd-daa'ipenyeru
  10. إِذَاidzaaapabila
  11. دَعَانِda'aanimenyeruku
  12. فَلْيَسْتَجِيبُواfa-l-yastajiibuumaka hendaklah mereka memenuhi
  13. لِيliikepada-Ku
  14. وَلْيُؤْمِنُواwa-l-yu'minuudan hendaklah mereka beriman
  15. بِيbiikepada-Ku
  16. لَعَلَّهُمْla'allahumagar mereka
  17. يَرْشُدُونَyarsyuduunamereka mendapat kebenaran

Inti bacaan

Jawaban atas pertanyaan 'apakah Allah dekat' diberikan langsung dan personal: 'Aku dekat, Aku penuhi doa yang berdoa', tanpa perantara formal atau prosedur rumit. Konkretnya: hubungan personal dengan Allah tidak memerlukan perantara atau prosedur berlapis, kesederhanaan akses ini adalah undangan untuk berdoa secara langsung dan personal, bukan merasa perlu 'kualifikasi' tertentu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyisip di tengah pasal puasa dengan (وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ, wa-idzaa sa'alaka 'ibaadii 'annii fa-innii qariibun), "dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat". Susunan (إِذَا سَأَلَكَ, idzaa sa'alaka), "apabila bertanya kepadamu", berbeda dari formula (يَسْأَلُونَكَ, yas'aluunaka), "mereka bertanya kepadamu", yang dipakai berulang di sekitar pasal ini, di 2:189, 2:215, 2:217, 2:219, 2:220, dan 2:222. Perbedaan yang lebih mencolok, keenam ayat itu semuanya diikuti perintah (قُلْ, qul), "katakanlah", memerintahkan Nabi menyampaikan jawaban Allah kepada mereka. Ayat ini satu-satunya dalam rangkaian pertanyaan itu yang tidak memakai "qul" sama sekali; Allah menjawab langsung dalam kata ganti orang pertama, tanpa perantara kalimat perintah untuk disampaikan ulang.

Jawaban itu berlanjut lewat (أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ, ujiibu da'wata d-daa'i idzaa da'aani), "Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku". Akar yang berarti memanggil dan berdoa itu diulang tiga kali dalam satu rangkaian pendek ini, sebagai kata kerja "mengabulkan" tidak dipakai di sini namun tersirat lewat "ujiibu" dari akar berbeda, sebagai kata benda "doa", sebagai pelaku "orang yang berdoa", dan sebagai kata kerja "ia berdoa". Kepadatan pengulangan akar yang sama dalam ruang sesempit ini menegaskan bahwa seluruh rangkaian ini berputar pada satu tindakan tunggal, memanggil, tanpa mengalihkan perhatian ke syarat atau perantara apa pun sebelum jawaban itu tiba.

Ayat ini kemudian meminta (فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي, fa-l-yastajiibuu lii wa-l-yu'minuu bii), "maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku". Kata kerja (يَسْتَجِيبُوا, yastajiibuu), "menyambut, merespons", muncul satu kali lagi dalam mushaf, di 7:194, namun dalam konteks yang berlawanan sepenuhnya, ayat itu menantang penyembah berhala, "maka panggillah mereka, lalu hendaklah mereka menyambut kalian, jika kalian orang-orang yang benar", sebuah tantangan yang justru menyingkap bahwa yang disembah selain Allah tidak pernah benar-benar bisa menyambut siapa pun. Kata kerja yang sama, dipakai untuk menjanjikan respons yang sungguh-sungguh terjadi di ayat ini dan untuk menantang respons yang tidak akan pernah datang di ayat lain.

Penutup ayat, (لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ, la'allahum yarsyuduuna), "agar mereka mendapat bimbingan yang benar", satu-satunya kemunculan kata ini dalam seluruh mushaf. Berbeda dari penutup ayat-ayat sebelumnya di pasal ini yang memakai kata ganti "kalian" dan berujung pada "bertakwa", penutup ini memakai kata ganti orang ketiga jamak "mereka", sejalan dengan cara ayat ini membuka pembicaraan, hamba-hamba-Ku yang bertanya, bukan seruan langsung kepada orang beriman seperti ayat-ayat pasal puasa lainnya.

Tafsiran

Ayat ini menjawab pertanyaan tersirat tentang jarak antara manusia dan Allah dengan jaminan kedekatan langsung, tanpa perantara, doa dijawab langsung tanpa syarat rumit selain memanggil dengan sungguh-sungguh. Ketiadaan kata "qul" yang biasanya membuka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan lain di sekitar ayat ini bukan kebetulan tata bahasa semata, ia menyingkap watak jawaban itu sendiri, sebuah kedekatan yang tidak butuh disampaikan lewat perantara sebab yang ditanyakan adalah kedekatan itu sendiri. Menjawabnya lewat perintah untuk disampaikan ulang justru akan bertentangan dengan isi jawabannya.

Ayat ini juga menempatkan doa bukan sebagai transaksi bersyarat, melainkan sebagai hubungan yang responsnya dijamin sejak awal, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, sebuah kalimat yang tidak menyisipkan pengecualian apa pun antara memanggil dan dijawab. Kontras dengan 7:194, ayat yang memakai kata kerja menyambut untuk menantang berhala-berhala yang tidak pernah bisa merespons siapa pun, ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang benar-benar menjawab panggilan, dan justru karena itu permintaan untuk menyambut seruan-Nya dan beriman kepada-Nya bukan beban tambahan, melainkan konsekuensi wajar dari mengenali siapa yang sungguh-sungguh mendengar dan menjawab.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini satu-satunya di antara rangkaian pertanyaan di sekitarnya, 2:189, 2:215, 2:217, 2:219, 2:220, dan 2:222, yang tidak memakai kata perintah katakanlah sesudah pertanyaan disebut. Ada kepekaan yang tersingkap dari ketiadaan kata itu di sini, seruan Nabi untuk menyampaikan jawaban dilewati justru pada satu-satunya pertanyaan yang isinya tentang kedekatan Allah sendiri, seolah bentuk penyampaian jawaban ikut menyesuaikan dengan isi jawaban itu, kedekatan yang tidak membutuhkan perantara untuk disampaikan.
  • Akar kata memanggil dan berdoa diulang tiga kali dalam satu rangkaian pendek, sebagai kata benda doa, sebagai pelaku yang berdoa, dan sebagai kata kerja ia berdoa. Ada kepadatan yang tersingkap dari pengulangan sesempit ini, seluruh perhatian rangkaian ini terpusat pada satu tindakan tunggal tanpa teralihkan ke syarat, waktu, atau cara tertentu, menegaskan bahwa yang menentukan hanyalah tindakan memanggil itu sendiri, bukan kelengkapan tata cara di sekelilingnya.
  • Kata kerja menyambut yang dipakai untuk permintaan di ayat ini muncul satu kali lagi dalam mushaf, dipakai justru untuk menantang berhala-berhala yang tidak pernah benar-benar bisa merespons siapa pun. Ada kontras yang tersingkap dari pemakaian kata kerja yang sama pada dua konteks yang berlawanan ini, satu menjanjikan respons yang sungguh-sungguh terjadi, satu menantang respons yang justru menyingkap ketiadaannya. Kata yang identik bisa menandai kepastian di satu tempat dan kekosongan di tempat lain, tergantung siapa yang dipanggil.
  • Penutup ayat ini memakai kata ganti orang ketiga jamak, mereka, berbeda dari ayat-ayat pasal puasa lainnya yang memakai kata ganti kalian dan berujung pada bertakwa. Ada penyesuaian yang tersingkap dari perbedaan kata ganti ini, ayat ini dibuka bukan sebagai seruan langsung kepada orang beriman, melainkan sebagai jawaban atas pertanyaan yang disampaikan hamba-hamba-Ku, dan penutupnya tetap konsisten memakai sudut pandang yang sama sejak awal hingga akhir, tidak berubah arah di tengah jalan.
  • Kata yang diterjemahkan sebagai bimbingan yang benar hanya muncul satu kali dalam seluruh mushaf, menutup ayat yang berbicara tentang kedekatan dan doa yang terkabul. Ada ketepatan yang tersingkap dari pemilihan kata setunggal ini, tujuan akhir dari menyambut seruan dan beriman bukan sekadar ketaatan formal, melainkan sampai pada bimbingan yang benar, sebuah kata yang tidak dipakai ulang di ayat mana pun setelahnya, seolah menandai bahwa apa yang dijanjikan di sini punya kekhususannya sendiri, tidak sama persis dengan janji-janji lain di ayat-ayat sekitarnya.
  • Jawaban tentang kedekatan itu (فَإِنِّي قَرِيبٌ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan begitu pula kata penutupnya (يَرْشُدُونَ). Ayat yang paling langsung menyatakan kedekatan Allah ternyata dibangun dari kata yang tidak dipakai lagi di mana pun. Apakah kelangkaan itu mengurangi bobotnya? Sebaliknya. Kalimat yang cuma diucapkan sekali tidak bisa dibaca sebagai rumusan yang berlaku umum untuk segala keadaan; ia jawaban yang diberikan pada satu pertanyaan tertentu, dan pertanyaan itu adalah pertanyaan tentang Dia sendiri.