وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُواwa-qaatiluu fii sabiili llaahi lladziina yuqaatiluunakum wa-laa ta'taduudan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, dan janganlah kalian melampaui batas
- إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَinna llaaha laa yuhibbu l-mu'tadiinasesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas
Terjemahan per kata (13 kata)
- وَقَاتِلُواwa-qaatiluudan perangilah kalian
- فِيfiidi
- سَبِيلِsabiilijalan
- اللَّهِllaahiAllah
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- يُقَاتِلُونَكُمْyuqaatiluunakummereka memerangi kalian
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَعْتَدُواta'taduukalian melampaui batas
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- لَاlaatidak
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- الْمُعْتَدِينَl-mu'tadiinaorang-orang yang melampaui batas
Inti bacaan
Ingat perselisihan terakhir yang kau merasa berada di pihak benar. Daftarkan apa saja yang kaulakukan di dalamnya: yang kaukatakan, yang kaudiamkan, yang kauceritakan kepada orang ketiga. Coret setiap butir yang murni membela diri. Sisanya, sekecil apa pun, kaukerjakan bukan sebab perlu, melainkan sebab kau merasa berhak. Butir sisa itulah yang perlu dibereskan lebih dulu, dan biasanya kepada orang yang sama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membuka pasal peperangan dengan (وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ, wa-qaatiluu fii sabiili llaahi lladziina yuqaatiluunakum), "dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian". Perintah (قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ, qaatiluu fii sabiili llaahi), "perangilah di jalan Allah", muncul lagi di 2:244 dan di 3:167, namun frasa (الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ, lladziina yuqaatiluunakum), "orang-orang yang memerangi kalian", satu-satunya kemunculannya dalam seluruh mushaf. Perintah memerangi di sini tidak berdiri sendiri sebagai izin umum, melainkan terikat langsung pada objek yang disebut secara eksplisit lewat bentuk kata kerja yang sama, mereka yang lebih dulu memerangi, sebuah keterikatan tata bahasa yang menempatkan tindakan lawan sebagai syarat yang mendahului, bukan sebagai akibat yang menyusul.
Ayat lalu membatasi lewat (وَلَا تَعْتَدُوا, wa-laa ta'taduu), "dan janganlah kalian melampaui batas". Kata kerja ini dari akar yang sama dengan "ta'taduuhaa" di 2:229 tentang batas-batas Allah dalam perceraian, akar yang berarti melampaui atau melanggar batas. Larangan melampaui batas ini disebut dalam napas yang sama dengan izin memerangi, tidak menunggu ayat terpisah, seolah menegaskan bahwa izin dan batasannya harus dipahami sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan sejak awal.
Ayat ini ditutup dengan (إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ, inna llaaha laa yuhibbu l-mu'tadiina), "sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas". Kata (الْمُعْتَدِينَ, al-mu'tadiina), "orang-orang yang melampaui batas", muncul 5 kali di 5 surah, di 2:190, 5:87, 6:119, 7:55, dan 10:74. Salah satu kemunculannya, di 7:55, dipakai dalam konteks yang sama sekali berbeda, "berdoalah kepada Tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara lembut, sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas", tentang melampaui batas dalam cara berdoa, bukan dalam peperangan. Kata yang sama dipakai untuk menandai watak yang sama, melampaui batas yang semestinya, pada dua wilayah kehidupan yang jauh berbeda, medan perang dan ruang doa pribadi.
Formula (اللَّهَ لَا يُحِبُّ, allaaha laa yuhibbu), "Allah tidak mencintai", muncul 10 kali di 8 surah dalam mushaf, menandai berbagai golongan yang disebut secara eksplisit sebagai pihak yang tidak dicintai Allah, misalnya orang-orang kafir di 3:32, orang yang sombong dan membanggakan diri di 4:36, dan para perusak di 28:77. Ayat ini menempatkan orang-orang yang melampaui batas dalam daftar itu, sebuah penegasan yang datang segera sesudah izin berperang diberikan, tanpa jeda satu ayat pun, seolah membangun pagar di titik yang sama saat pintu dibuka.
Tafsiran
Ayat ini menetapkan perang sebagai respons defensif dengan batas yang jelas, izin memerangi terikat langsung pada tindakan pihak yang memerangi terlebih dahulu, dan larangan melampaui batas disebut dalam ayat yang sama, bukan sebagai catatan tambahan yang bisa terlewat. Struktur kalimat ini menolak pembacaan bahwa izin berperang adalah izin tanpa batas begitu pertempuran dimulai, sebab larangan melampaui batas dan izin memerangi lahir dari kalimat yang sama, saling mengikat sejak awal.
Kesamaan kata yang menandai pelanggaran batas dalam ayat ini dengan kata yang dipakai untuk melampaui batas dalam berdoa di 7:55 menyingkap sebuah prinsip yang lebih luas daripada sekadar aturan perang, ada batas kepatutan yang berlaku di setiap wilayah tindakan manusia, entah dalam medan yang penuh kekerasan maupun dalam keheningan doa pribadi, dan melampauinya sama-sama ditandai sebagai sesuatu yang tidak dicintai Allah. Perang, dalam kerangka ayat ini, bukan ruang pengecualian di mana batas-batas biasa boleh diabaikan, melainkan tetap tunduk pada prinsip yang sama yang mengikat wilayah kehidupan lain, kepatutan tidak gugur hanya karena keadaan menjadi genting. Justru pada situasi yang paling mendorong seseorang melampaui batas, ketika nyawa terancam dan emosi memuncak, ayat ini menempatkan peringatan tentang batas tepat di titik itu, bukan menundanya sampai keadaan mereda.
Renungan dan Hikmah
- Perintah berperang dibatasi jelas: hanya terhadap 'yang memerangi kalian' dan larangan tegas 'jangan melampaui batas', perang defensif dengan batasan etis eksplisit, bukan agresi terbuka. Perintah memerangi dalam ayat ini terikat langsung pada objek yang disebut secara eksplisit, orang-orang yang memerangi kalian, sebuah frasa yang hanya muncul satu kali dalam seluruh mushaf. Ada keterikatan yang tersingkap dari susunan kalimat ini, izin berperang tidak berdiri sebagai perintah umum yang berlaku pada siapa pun, melainkan terikat pada tindakan pihak lawan yang mendahului, menempatkan agresi lawan sebagai syarat, bukan sebagai pembenaran yang dicari-cari sesudah tindakan sendiri sudah terjadi.
- Larangan melampaui batas disebut dalam ayat yang sama dengan izin memerangi, tidak menunggu ayat terpisah untuk menyusul kemudian. Ada kesatuan yang tersingkap dari susunan ini, batas dan izin tidak dipisahkan seolah satu mendahului yang lain dalam waktu, melainkan hadir bersamaan sejak kalimat pertama dibuka, sebuah cara penyampaian yang menolak kemungkinan izin dipahami tanpa batasnya, bahkan untuk sesaat pun sebelum batasan itu disebutkan.
- Kata yang menandai orang-orang yang melampaui batas dalam ayat ini muncul lagi di 7:55, namun dalam konteks berdoa dengan merendahkan diri dan suara lembut, sama sekali bukan konteks peperangan. Ada kesatuan watak yang tersingkap dari pemakaian kata yang sama pada dua wilayah kehidupan yang jauh berbeda ini, melampaui batas yang semestinya adalah kesalahan yang sama, entah terjadi di medan yang penuh kekerasan maupun dalam keheningan doa pribadi, menunjukkan bahwa kepatutan bukan sesuatu yang berlaku hanya pada situasi tertentu, melainkan prinsip yang menyeluruh.
- Formula tidak mencintai muncul 10 kali di 8 surah dalam mushaf, masing-masing menandai golongan tertentu yang disebut secara eksplisit, seperti orang-orang kafir di 3:32, orang yang sombong di 4:36, dan para perusak di 28:77. Ada penegasan yang tersingkap dari penempatan orang-orang yang melampaui batas ke dalam daftar ini, tepat sesudah izin berperang diberikan tanpa jeda satu ayat pun, sebuah susunan yang membangun pagar tepat pada titik yang sama saat pintu izin dibuka, tidak membiarkan ruang sedikit pun antara pemberian izin dan penegasan batasnya.
- Ayat ini tidak memperlakukan keadaan perang sebagai ruang di mana batas-batas kepatutan biasa boleh diabaikan demi keadaan yang mendesak. Ada prinsip yang tersingkap dari cara larangan melampaui batas disandingkan langsung dengan izin memerangi, kegentingan situasi tidak menggugurkan tuntutan untuk tetap berada dalam batas yang semestinya, sebuah pendirian yang menolak logika bahwa keadaan darurat membenarkan segala cara, bahkan dalam situasi yang secara alami paling rawan mendorong seseorang melampaui batas. Konkretnya: bahkan dalam situasi konflik yang dibenarkan, prinsip proporsionalitas dan batas etis tetap berlaku, membela diri tidak memberi lisensi untuk kekejaman tanpa batas.
- Sebutan bagi yang melampaui batas (الْمُعْتَدِينَ) muncul di lima ayat, yaitu 2:190, 5:87, 6:119, 7:55, dan 10:74. Yang menarik, cuma di sini ia berkaitan dengan peperangan. Di 5:87 ia menyangkut orang yang mengharamkan yang baik-baik bagi dirinya, di 7:55 menyangkut cara berdoa, di 6:119 menyangkut perkara makanan. Jadi sebutan yang sama dipakai untuk medan perang dan untuk ruang doa. Allah tidak menyediakan kosakata khusus yang lebih longgar untuk keadaan perang. Kalau kata yang sama dipakai untuk pelanggaran di medan perang dan untuk pelanggaran dalam berdoa, apa yang sebenarnya diukur? Bukan besar akibatnya, melainkan sikap melewati garis yang sudah ditetapkan, di mana pun garis itu dipasang.