وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan berinfaklah di jalan Allah, dan janganlah kalian jerumuskan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِwa-anfiquu fii sabiili llaahi wa-laa tulquu bi-aydiikum ilaa t-tahlukatidan berinfaklah di jalan Allah, dan janganlah kalian jerumuskan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan
  2. وَأَحْسِنُواwa-ahsinuudan berbuat baiklah
  3. إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَinna llaaha yuhibbu l-muhsiniinasesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَأَنْفِقُواwa-anfiquudan nafkahkanlah kalian
  2. فِيfiidi
  3. سَبِيلِsabiilijalan
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. وَلَاwa-laadan janganlah
  6. تُلْقُواtulquukalian menjatuhkan
  7. بِأَيْدِيكُمْbi-aydiikumdengan tangan kalian
  8. إِلَىilaakepada
  9. التَّهْلُكَةِt-tahlukatikebinasaan
  10. وَأَحْسِنُواwa-ahsinuudan berbuat baiklah kalian
  11. إِنَّinnasesungguhnya
  12. اللَّهَllaahaAllah
  13. يُحِبُّyuhibbumencintai
  14. الْمُحْسِنِينَl-muhsiniinaorang-orang yang berbuat kebaikan

Inti bacaan

Perintah berinfak diikuti larangan 'menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan', dua hal yang tampak terpisah (memberi dan menjaga diri) disatukan, menunjukkan bahwa kedermawanan yang sehat tidak berarti pengorbanan diri tanpa batas. Konkretnya: memberi/berkontribusi untuk kebaikan bersama tidak boleh sampai menghancurkan kemampuan diri sendiri untuk terus memberi, kedermawanan yang bijak menjaga keberlanjutan, bukan menghabiskan diri sekaligus.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini membuka dengan (وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ, wa-anfiquu fii sabiili llaahi), "dan berinfaklah di jalan Allah", sebuah perintah yang muncul tepat sesudah rangkaian ayat tentang peperangan, menempatkan pengorbanan harta berdampingan dengan pengorbanan yang sudah dibahas sebelumnya. Perintah ini lalu diimbangi dengan (وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ, wa-laa tulquu bi-aydiikum ilaa t-tahlukati), "dan janganlah kalian jerumuskan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan". Kata (التَّهْلُكَةِ, at-tahlukati), "kebinasaan", dan susunan (لَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ, laa tulquu bi-aydiikum), "janganlah kalian melemparkan dengan tangan kalian sendiri", sama-sama satu-satunya kemunculannya dalam seluruh mushaf, sebuah citra yang sangat konkret, tangan sendiri yang melemparkan diri sendiri, untuk menggambarkan kecerobohan yang berasal dari diri sendiri, bukan bencana yang datang dari luar.

Ayat ini lalu menutup dengan (وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ, wa-ahsinuu inna llaaha yuhibbu l-muhsiniina), "dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik". Susunan "yuhibbu l-muhsiniina", mencintai orang-orang yang berbuat baik, muncul 5 kali dalam mushaf, di ayat ini, di 3:134, di 3:148, di 5:13, dan di 5:93. Salah satu kemunculannya, di 5:13, menutup ayat tentang memaafkan dan berlapang dada, "fa-'fu anhum wa-shfah, inna llaaha yuhibbu l-muhsiniina", "maka maafkanlah mereka dan berlapang dadalah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik". Kemunculan lain, di 3:134, mendaftar tiga ciri orang yang dicintai Allah ini secara langsung, "alladziina yunfiquuna fii s-sarraa'i wa-d-darraa'i wa-l-kaazhimiina l-ghayzha wa-l-'aafiina ani n-naasi", "orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, yang menahan amarah, dan yang memaafkan manusia", ditutup dengan "wallaahu yuhibbu l-muhsiniina", "dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik".

Kesamaan formula penutup pada ketiga ayat ini menyingkap bahwa "ihsan", berbuat baik, dalam Al-Qur'an bukan konsep abstrak tanpa wujud, melainkan secara berulang diisi dengan tindakan konkret yang sama, berinfak, menahan amarah, dan memaafkan. Ayat ini sendiri memasangkan perintah berinfak dengan perintah berbuat baik dalam satu napas yang sama, sebuah pasangan yang juga muncul di 3:134 lewat susunan yang berbeda namun makna yang sejalan, menunjukkan bahwa berinfak bukan sekadar salah satu contoh dari berbuat baik, melainkan salah satu wujud paling sering disebut dari konsep itu sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menyusul rangkaian instruksi perang dengan pengingat berimbang, pengorbanan material lewat infak, dan menghindari kecerobohan yang membahayakan diri sendiri lewat larangan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Dua perintah yang tampak berlawanan arah ini, mengorbankan harta di satu sisi, menjaga diri dari bahaya di sisi lain, sesungguhnya saling melengkapi, pengorbanan yang benar bukan pengorbanan yang sembarangan atau nekat tanpa perhitungan, melainkan pengorbanan yang tetap memperhitungkan keselamatan, tidak menukar satu bentuk kebaikan dengan kehancuran yang tidak perlu.

Penutup ayat ini, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik, dengan formula yang muncul berulang di 3:134, 3:148, 5:13, dan 5:93, ayat-ayat lain tentang berinfak, menahan amarah, dan memaafkan, menempatkan ayat ini dalam keluarga besar ayat-ayat yang mendefinisikan ihsan lewat tindakan konkret, bukan lewat definisi abstrak. Cinta Allah kepada orang yang berbuat baik bukan pernyataan yang berdiri sendiri tanpa isi, ia berulang kali diisi dengan perbuatan yang sama, sebagian besar berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan hartanya dan bagaimana seseorang menahan diri dari kemarahan serta kesalahan orang lain, menjadikan ihsan sebagai konsep yang bisa dikenali lewat tindakan nyata, bukan sekadar niat baik yang tidak terwujud.

Renungan dan Hikmah

  • Larangan menjerumuskan diri dengan tangan sendiri ke dalam kebinasaan memakai susunan kata yang satu-satunya kemunculannya dalam seluruh mushaf, sebuah citra yang sangat konkret, tangan yang melemparkan diri sendiri. Ada ketegasan yang tersingkap dari pemilihan citra sekonkret ini, bencana yang dimaksud bukan sesuatu yang datang dari luar tanpa bisa dihindari, melainkan kecerobohan yang berasal dari tindakan diri sendiri, sebuah peringatan yang menempatkan tanggung jawab langsung pada pelaku, bukan pada keadaan di luar kendalinya.
  • Formula mencintai orang-orang yang berbuat baik muncul 5 kali dalam mushaf, di ayat ini, di 3:134, di 3:148, di 5:13, dan di 5:93, dan sebagian besar kemunculannya berkaitan dengan berinfak, menahan amarah, dan memaafkan orang lain. Ada pola yang tersingkap dari pengulangan konteks yang serupa ini, konsep berbuat baik dalam Al-Qur'an bukan gagasan abstrak yang dibiarkan tanpa isi, melainkan secara konsisten diisi dengan tindakan konkret yang bisa dikenali dan dilakukan, menjadikan cinta Allah kepada orang yang berbuat baik sebagai sesuatu yang bisa diperjuangkan lewat perbuatan nyata.
  • Perintah berinfak dan larangan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan disebut berdampingan dalam satu ayat yang sama, dua hal yang tampak menarik ke arah berlawanan, mengorbankan harta dan menjaga keselamatan diri. Ada keseimbangan yang tersingkap dari penyandingan ini, pengorbanan yang dianjurkan bukan pengorbanan yang sembarangan atau nekat tanpa perhitungan, melainkan pengorbanan yang tetap memperhitungkan keselamatan, menolak gagasan bahwa semakin besar risiko yang diambil semakin tinggi nilai pengorbanan itu.
  • Ayat ini memasangkan perintah berinfak dengan perintah berbuat baik dalam satu napas yang sama, sebuah pasangan yang juga muncul di 3:134 lewat penyebutan orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit sebagai golongan yang dicintai Allah. Ada penekanan yang tersingkap dari kemunculan berulang pasangan ini, berinfak bukan sekadar salah satu contoh acak dari berbuat baik, melainkan salah satu wujud yang paling sering disebut ketika Al-Qur'an ingin menjelaskan apa sesungguhnya makna berbuat baik itu.
  • Formula mencintai orang-orang yang berbuat baik juga menutup ayat di 5:13, tepat sesudah perintah memaafkan dan berlapang dada, "maka maafkanlah mereka dan berlapang dadalah". Ada cakupan yang tersingkap dari kemunculan formula yang sama pada konteks memaafkan ini, berbuat baik dalam Al-Qur'an tidak terbatas pada tindakan memberi harta semata, melainkan turut mencakup tindakan menahan diri dari membalas kesalahan orang lain, sebuah cakupan yang lebih luas daripada sekadar kedermawanan material yang disebut langsung di ayat ini.
  • Kata untuk kebinasaan itu (التَّهْلُكَةِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya bentuk yang menandai keadaan, bukan peristiwa. Yang dilarang bukan mati melainkan menjatuhkan diri ke dalam sebuah keadaan. Mengapa larangan itu ditaruh tepat sesudah perintah berinfak? Karena keduanya menyangkut tangan yang sama: tangan yang menahan pemberian sedang menjerumuskan pemiliknya, dan Allah menyebut keduanya dalam satu napas supaya tidak dibaca sebagai dua nasihat yang terpisah.