لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ
Tidak ada dosa bagi kalian mencari karunia dari Tuhan kalian. Maka apabila kalian bertolak dari Arafat, ingatlah Allah di sisi Masyarilharam. Dan ingatlah Dia sebagaimana Dia telah memberi kalian petunjuk, padahal sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْlaysa 'alaykum junaahun an tabtaghuu fadhlan min rabbikumtidak ada dosa bagi kalian mencari karunia dari Tuhan kalian
- فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِfa-idzaa afadhtum min 'arafaatin fa-dzkuruu llaaha 'inda l-masy'ari l-haraamimaka apabila kalian bertolak dari Arafat, ingatlah Allah di sisi Masyarilharam
- وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَwa-dzkuruuhu ka-maa hadaakum wa-in kuntum min qablihi la-mina dh-dhaalliinadan ingatlah Dia sebagaimana Dia telah memberi kalian petunjuk, padahal sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang-orang yang sesat
Terjemahan per kata (26 kata)
- لَيْسَlaysabukanlah
- عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
- جُنَاحٌjunaahundosa
- أَنْanuntuk
- تَبْتَغُواtabtaghuukalian mencari
- فَضْلًاfadhlankarunia
- مِنْmindari
- رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- أَفَضْتُمْafadhtumkalian bertolak
- مِنْmindari
- عَرَفَاتٍ'arafaatinArafah
- فَاذْكُرُواfa-dzkuruumaka sebutlah kalian
- اللَّهَllaahaAllah
- عِنْدَ'indadi sisi
- الْمَشْعَرِl-masy'ariMasyaril
- الْحَرَامِl-haraamiHaram
- وَاذْكُرُوهُwa-dzkuruuhudan ingatlah Dia
- كَمَاka-maasebagaimana
- هَدَاكُمْhadaakummemberi petunjuk kepada kalian
- وَإِنْwa-indan sesungguhnya
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- مِنْmindari
- قَبْلِهِqablihisebelumnya
- لَمِنَla-minasungguh termasuk
- الضَّالِّينَdh-dhaalliinaorang-orang yang tersesat
Inti bacaan
Mencari 'karunia dari Tuhan' (rezeki/perniagaan) selama haji secara eksplisit bukan dosa, spiritualitas dan aktivitas ekonomi tidak dipisahkan secara kaku. Konkretnya: mengejar penghidupan/rezeki di tengah aktivitas spiritual bukan kontradiksi atau tanda kurang khusyuk, kedua dimensi ini bisa berjalan bersama tanpa saling meniadakan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ, laysa 'alaykum junaahun) "tidak ada dosa atas kalian", rumus yang muncul 6 kali di 4 surah: di sini, 2:282, 4:101, 24:29, 24:61, dan 33:5. Rumus ini selalu mendahului sesuatu yang mungkin disangka terlarang, lalu membukanya. Di sini yang dibuka (أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ, an tabtaghuu fadhlan min rabbikum) "bahwa kalian mencari karunia dari Tuhan kalian". Rangkaian (فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ, fadhlan min rabbikum) hanya ada 2 kali di mushaf, di sini dan di 17:12, tempat siang dijadikan terang justru "agar kalian mencari karunia dari Tuhan kalian" lewat pekerjaan yang lazim, (لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ). Karunia yang dicari di dua ayat ini sama-sama urusan dunia yang biasa, bukan sesuatu yang eksotis.
(أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ, afadhtum min 'arafaatin) "kalian bertolak dari Arafat". (عَرَفَاتٍ, 'arafaatin) satu-satunya kemunculan nama ini di seluruh mushaf. Kata kerjanya dari akar yang berarti melimpah meluap, akar yang sama dengan (أَفِيضُوا, afiidhuu) di 2:199 satu ayat sesudah ini, "bertolaklah kalian dari tempat orang-orang bertolak": ayat ini menamai tempatnya secara terbuka, sedangkan 2:199 sengaja tidak menamainya, dan keduanya berbicara tentang gerak yang sama.
(الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ, al-masy'ari l-haraami) "tempat suci itu" juga satu-satunya kemunculan di seluruh mushaf. Perintah mengingat di sini, (فَاذْكُرُوا اللَّهَ, fadzkuruu llaaha) "maka ingatlah Allah", muncul 4 kali di mushaf: di sini, 2:200, 2:239, dan 4:103. Takarannya (كَمَا هَدَاكُمْ, kamaa hadaakum) "sebagaimana Dia telah memberi kalian petunjuk", menakar ingatan dengan perbuatan Allah, berbeda dari 2:200 yang menakarnya dengan kebiasaan pembaca sendiri, (كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ) "sebagaimana kalian mengingat leluhur kalian".
Penutupnya, (لَمِنَ الضَّالِّينَ, la-mina dh-dhaalliina) "termasuk yang sesat", dari rangkaian (مِنَ الضَّالِّينَ, mina dh-dhaalliina) yang muncul 3 kali di mushaf: di sini, 26:20, dan 26:86. Di 26:20 kata itu diucapkan Musa sendiri tentang dirinya sebelum kenabian, (فَعَلْتُهَا إِذًا وَأَنَا مِنَ الضَّالِّينَ, fa'altuhaa idzan wa-anaa mina dh-dhaalliina) "aku melakukannya ketika itu, sedang aku termasuk yang sesat". Di 26:86 Ibrahim memakainya bagi ayahnya, (وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ, wa-ghfir li-abii innahu kaana mina dh-dhaalliina) "dan ampunilah ayahku, sesungguhnya ia termasuk yang sesat". Ketiga kemunculan berbicara tentang keadaan sebelum petunjuk datang; dua di antaranya diucapkan tentang tokoh yang dihormati, dan di ayat ini rumus yang sama dipakai bagi pembaca sendiri.
Tafsiran
Ayat ini membuka dua langkah gerak yang berurutan di dalam rangkaian haji, keduanya ditandai kata kerja perintah mengingat yang berulang. Langkah pertama menyelesaikan sebuah keraguan sebelum keraguan itu sempat besar: mencari nafkah selagi berhaji sering terasa mengganggu kekhusyukan, dan ayat ini membukanya lebih dulu, sebelum menyebut satu larangan pun terkait gerak berikutnya.
Dua tempat yang disebut ayat ini, Arafat dan Masy'aril Haram, sama-sama hanya disebut sekali di seluruh mushaf, tapi perlakuannya berbeda. Yang pertama disebut sekadar sebagai titik keberangkatan, tanpa perintah apa pun terikat padanya. Yang kedua langsung diikuti perintah mengingat. Geografi ibadah ini karena itu tidak seluruhnya sama pentingnya; sebagian tempat hanya dilewati, sebagian lain menjadi tempat berhenti untuk sesuatu yang lebih.
Takaran ingatan yang diberikan di sini, sebagaimana Dia memberi petunjuk, berbeda dari takaran yang diberikan 2:200, sebagaimana kalian mengingat leluhur. Dua ayat yang berdekatan, dua arah pembanding yang berlawanan: yang satu menoleh ke atas, kepada perbuatan Allah, yang satu menoleh ke dalam, kepada kebiasaan pembaca sendiri. Rangkaian ini tidak memilih salah satu sebagai satu-satunya cara mengukur; keduanya berdiri berdampingan.
Penutup ayat ini menempatkan pembaca di tempat yang sama dengan Musa sebelum kenabiannya dan ayah Ibrahim yang didoakan ampunan di 26:20 dan 26:86. Ketiganya memakai kata yang sama untuk keadaan sebelum petunjuk, dan ayat ini tidak menyembunyikan bahwa pembacanya sendiri pernah berada di keadaan itu. Ingatan yang diminta ayat ini, karena itu, bukan ingatan atas ritual semata, melainkan ingatan atas jarak yang sudah ditempuh dari keadaan yang sama dengan tokoh-tokoh itu.
Renungan dan Hikmah
- Sebelum satu larangan pun disebut mengenai gerak dari Arafat, ayat ini lebih dulu membuka sebuah izin. Mencari nafkah selagi menjalankan ibadah yang menuntut fokus sering dirasakan sebagai gangguan, sesuatu yang mestinya ditahan sampai ibadahnya selesai. Ayat ini tidak memintanya ditahan. Yang dijaga bukan jarak dari dunia, melainkan arah pencarian itu sendiri, karunia dari Tuhan, bukan sekadar keuntungan. Pembaca yang terbiasa memisahkan waktu ibadah dari waktu bekerja mendapati keduanya dianyam bersama di sini, tanpa satu pun dianggap mengganggu yang lain.
- Arafat disebut namanya secara terbuka. Tempat berikutnya, tempat perintah mengingat itu diberikan, disebut hanya dengan sebutan tempat suci, tanpa nama yang bisa dicari di peta oleh siapa pun yang belum tahu. Perbedaan itu memindahkan perhatian dari lokasi ke perbuatan yang terjadi di sana. Pembaca yang mengejar ketepatan tempat sebagai ukuran kesungguhan menemukan bahwa ayat ini menaruh ukurannya bukan pada nama tempat, melainkan pada apa yang dikerjakan begitu sampai di sana.
- Dalam jarak satu ayat, perintah mengingat diberi dua takaran yang berlawanan arah, sekali menoleh kepada petunjuk yang diberikan Allah, sekali menoleh kepada leluhur yang pernah diikuti pembaca. Tidak satu pun dinyatakan lebih utama dari yang lain. Seseorang yang biasa mengukur kesungguhan ibadahnya hanya dari satu arah, entah dari rasa syukur atas anugerah atau dari kesungguhan yang biasa ia berikan pada hal-hal duniawinya sendiri, menemukan ayat ini menuntut keduanya sekaligus, tanpa memberi pilihan untuk berhenti pada satu arah saja.
- Kata yang dipakai ayat ini untuk keadaan pembaca sebelum mendapat petunjuk adalah kata yang sama dengan yang dipakai seorang nabi tentang dirinya sendiri sebelum diutus, dan yang dipakai nabi lain untuk ayahnya. Tidak ada kata yang lebih ringan disediakan bagi pembaca biasa. Yang tersingkap dari situ bukan penghinaan, melainkan sebuah kesamaan yang jarang diakui: jarak dari kesesatan ke petunjuk bukan sesuatu yang membedakan derajat orang, sebab kata yang sama dipakai untuk siapa saja yang pernah menempuhnya, betapa pun tinggi kedudukannya kemudian.
- Rumus yang membuka ayat ini, tidak ada dosa atas kalian, bukan rumus yang hanya sekali dipakai untuk menenangkan sebuah keraguan. Ia muncul lagi bagi pihak yang menuliskan utang, bagi orang yang sedang bepergian, bagi urusan yang jauh dari kesan sakral. Sebuah kitab yang berulang kali berhenti untuk membuka ruang bagi keraguan semacam itu tidak sedang memberi pengecualian langka, ia sedang menunjukkan pola: keraguan tentang boleh-tidaknya sesuatu yang lumrah cukup sering muncul sehingga pantas dijawab berulang, bukan cuma sekali untuk semua keadaan.
- Perintah mengingat di sini ditakar dengan petunjuk yang sudah diberikan, bukan dengan seberapa besar balasan yang masih diharapkan. Ada perbedaan yang halus antara mengingat karena berutang budi dan mengingat karena sesuatu telah sungguh-sungguh mengubah arah seseorang. Yang pertama menuntut penyelesaian, dan bisa dianggap lunas. Yang kedua tidak pernah selesai, sebab arah yang sudah berubah tidak kembali seperti semula, dan mengingatnya lebih terasa seperti gema yang wajar daripada seperti cicilan yang masih harus dibayar.