ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Kemudian bertolaklah kalian dari tempat orang-orang bertolak, dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَtsumma afiidhuu min haytsu afaadha n-naasu wa-staghfiruu llaahakemudian bertolaklah kalian dari tempat orang-orang bertolak, dan mohonlah ampunan kepada Allah
- إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌinna llaaha ghafuurun rahiimunsesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (12 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- أَفِيضُواafiidhuulimpahkanlah kalian
- مِنْmindari
- حَيْثُhaytsudi mana saja
- أَفَاضَafaadhamelimpahkan
- النَّاسُn-naasumanusia
- وَاسْتَغْفِرُواwa-staghfiruudan mohonlah ampun kalian
- اللَّهَllaahaAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Perintah 'bertolak dari tempat orang-orang bertolak' menegaskan kesetaraan dalam ritual, tidak ada kelompok istimewa dengan aturan berbeda, semua mengikuti prosedur yang sama. Konkretnya: kesetaraan prosedural (semua mengikuti aturan yang sama tanpa pengecualian kelas/status) adalah prinsip yang ditegaskan bahkan dalam ritual paling sakral sekalipun, sebuah model melawan privilese berdasarkan status sosial.
Penjelasan pilihan kata
Kata pembuka (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" menyambung perintah ini ke perintah sebelumnya, lalu datang (أَفِيضُوا, afiidhuu) yang berarti "bertolaklah kalian", bentuk perintah kepada orang banyak dari akar yang berarti melimpah meluap. Akar itu dipakai 9 kali di seluruh mushaf, tersebar pada 8 ayat, dan ayat ini satu-satunya yang memuatnya dua kali. Bentuknya yang paling telanjang, tanpa tambahan pembentuk apa pun, muncul 2 kali di seluruh mushaf, yaitu (تَفِيضُ, tafiidhu) di 5:83 dan di 9:92, dan keduanya berbicara tentang mata yang meluap, (تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ, tafiidhu mina d-dam'i), "bercucuran air mata". Gambar dasar akar ini di dalam mushaf karena itu adalah cairan yang melimpah keluar dari wadahnya. Bentuk perintahnya sendiri muncul 2 kali di seluruh mushaf, di ayat ini dan di 7:50, (أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ, afiidhuu 'alaynaa mina l-maa'i), "tuangkanlah kepada kami sedikit air". Di 7:50 yang dituangkan adalah air, sedangkan di ayat ini tidak ada benda lain yang dipindahkan, sebab yang mengalir keluar dari tempatnya adalah orang-orang yang disapa itu sendiri. Karena itu padanannya "bertolaklah", gerak berangkat, bukan "tuangkanlah".
Sumber geraknya ditunjuk lewat (مِنْ حَيْثُ, min haytsu) yang berarti "dari tempat". Korpus morfologi menandai (حَيْثُ, haytsu) di ayat ini sebagai kata benda bergenitif sesudah kata depan (مِنْ, min), yaitu penunjuk tempat atau arah, bukan nama diri. Di sepanjang ayat ini tidak ada satu pun nama tempat, berbeda dengan 2:198 yang menyebut (عَرَفَاتٍ, 'arafaatin) secara terbuka. Karena itu terjemahannya berhenti pada "dari tempat", tanpa menambahkan nama apa pun di dalam kurung: teksnya sendiri tidak menyebutkan tempat mana yang dimaksud, dan tidak ada apa pun di dalam ayat ini yang bisa menentukannya. Rangkaian (مِنْ حَيْثُ, min haytsu) muncul 16 kali di seluruh mushaf, dan 8 di antaranya justru berbentuk penunjuk arah yang tidak diketahui atau tidak disadari oleh yang dikenainya, yaitu di 7:27, 7:182, 16:26, 16:45, 39:25, 59:2, 65:3, dan 68:44, seperti (مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ, min haytsu laa yasy'uruuna) di 16:26 dan (مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ, min haytsu laa yahtasibu) di 65:3. Setengah pemakaiannya menandai sumber yang tersembunyi; ayat ini berlawanan arah, sumbernya justru perkara yang paling terlihat.
Patokan gerak itu dinyatakan lewat (أَفَاضَ النَّاسُ, afaadha n-naasu) yang berarti "orang-orang bertolak". Korpus menandai (أَفَاضَ, afaadha) sebagai bentuk lampau orang ketiga tunggal, dengan (النَّاسُ, an-naasu), "orang-orang", sebagai pelakunya. Verba perintah dan verba patokan berakar sama, yaitu akar yang berarti melimpah meluap, sehingga yang diminta bukan gerak jenis lain melainkan gerak yang persis sejenis dengan yang sudah terjadi. Dari 16 ayat yang memuat rangkaian tadi, cuma 3 yang mengulang akar perintahnya pada verba sesudahnya, yaitu 2:191 lewat (وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ, wa-akhrijuuhum min haytsu akhrajuukum) pada akar yang berarti keluar, 65:6 lewat (أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ, askinuuhunna min haytsu sakantum) pada akar yang berarti diam dan tenang, dan ayat ini pada akar yang berarti melimpah meluap. Susunan yang lebih ketat lagi, perintah kepada orang banyak yang dipatok oleh verba lampau yang berakar sama dengan kata "manusia" sebagai pelakunya, ada 2 kali di seluruh mushaf, yaitu di 2:13 lewat (آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ, aaminuu kamaa aamana n-naasu), "berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman", dan di ayat ini.
Perintah kedua, (وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ, wa-staghfiruu llaaha) yang berarti "dan mohonlah ampunan kepada Allah", memakai bentuk berimbuhan yang menambahkan makna meminta pada akar yang berarti menutupi dan mengampuni. Bentuk perintah kepada orang banyak dari akar ini muncul 8 kali di seluruh mushaf, yaitu di ayat ini, 11:3, 11:52, 11:61, 11:90, 41:6, 71:10, dan 73:20. Penutup ayat, (غَفُورٌ رَحِيمٌ, ghafuurun rahiimun), "pengampun lagi pengasih", ditandai korpus sebagai dua sebutan tanpa kata sandang, sehingga keduanya ditulis berhuruf kecil dan tanpa penambahan kepastian; bandingkan 46:8 yang memuat pasangan yang sama justru dengan kata sandang, (الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, al-ghafuuru r-rahiimu), dan di sana terjemahannya "Sang Pengampun lagi Sang Pengasih". Keduanya juga bukan satu makna yang diucapkan dua kali, dan 2:286 memperlihatkan itu dengan menjajarkan tiga permintaan berbeda sekaligus, (وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا, wa-'fu 'annaa wa-ghfir lanaa wa-rhamnaa), "dan maafkanlah kami, dan ampunilah kami, dan rahmatilah kami". Perintah memohon ampunan yang langsung disusul (إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ, inna llaaha ghafuurun rahiimun) ada 2 kali di seluruh mushaf, di ayat ini dan di 73:20.
Tafsiran
Ayat ini memasang satu giliran tambahan sesudah giliran yang di 2:198 sudah selesai dikerjakan. Di sepanjang surah ini cuma 6 ayat yang dibuka dengan kata sambung "kemudian", yaitu 2:52, 2:56, 2:64, 2:74, 2:85, dan ayat ini; lima yang pertama semuanya melanjutkan pengisahan atas apa yang sudah terjadi, dan ayat ini satu-satunya yang membuka dengan perintah. Jadi pembukanya tidak sedang menyambung cerita, ia sedang menambah langkah: sesudah bertolak dari tempat yang namanya disebut di 2:198, masih ada bertolak yang lain, dan kali ini sumbernya bukan nama tempat melainkan jejak orang banyak.
Di seluruh rangkaian 2:196 sampai 2:203 yang padat ketentuan, akar yang berarti menutupi dan mengampuni dan akar yang berarti kasih sayang hanya muncul di ayat ini. Nada penutup ayat-ayat di sekelilingnya lain sama sekali: 2:196 mengingatkan kerasnya hukuman, 2:198 menutup dengan kesesatan yang sebelumnya, 2:200 dengan orang yang tak punya bagian di akhirat, 2:202 dengan cepatnya perhitungan. Ayat ini satu-satunya celah di rangkaian itu yang menyebut pengampunan, dan celah itu dibuka bukan sesudah pelanggaran melainkan sesudah perintah bergerak. Teksnya sendiri tidak menyebutkan kesalahan apa pun yang perlu ditutupi.
Patokan berupa "seperti orang banyak" pernah ditolak di dalam surah ini juga. Di 2:13 susunan yang sebangun dipakai, dan jawabannya cemooh, "apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal beriman". Ayat ini memakai susunan itu tanpa menuntut hal yang sama: yang disamakan bukan keyakinan, melainkan titik tolak. Yang berikutnya, 2:200, memakai kata yang sama untuk orang banyak, lalu membelah mereka menurut apa yang mereka minta, sebagian meminta dunia saja dan sebagian meminta dunia serta akhirat di 2:201. Kerumunan yang di ayat ini jadi patokan gerak, di 2:200 tidak lagi jadi patokan permintaan. Dua ayat berdampingan itu memisahkan dua hal yang mudah dikira satu: menempati tempat yang sama dengan orang banyak, dan menghendaki hal yang sama dengan mereka.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini memberi arah tanpa memberi alamat. Yang ditunjuk adalah tempat orang-orang bertolak, dan tempat itu tidak dinamai, padahal ayat sebelumnya, 2:198, menyebut nama tempat secara terbuka. Pembaca yang mencari kepastian koordinat pulang dengan tangan kosong dari ayat ini, sebab yang diberikan bukan titik di peta melainkan sebuah hubungan, yaitu kesamaan titik tolak dengan orang lain. Ada jarak yang lebar antara ingin tahu di mana persisnya dan bersedia mulai dari tempat yang sudah ditinggalkan banyak orang. Yang pertama menuntut nama sebelum bergerak; yang kedua tak memerlukannya sama sekali.
- Yang disamakan ayat ini adalah titik tolak, bukan isi kepala. Orang banyak dipakai sebagai penanda tempat dan tidak dijadikan pemilik penilaian. Pembedaan sehalus itu menutup dua jalan keliru yang saling berlawanan: menyangka kelurusan menuntut pemisahan diri dari semua orang, dan menyangka kebenaran ditentukan oleh jumlah yang menyetujuinya. Ayat ini tidak menawarkan keduanya. Ia menaruh pembaca di dalam arus untuk satu perkara saja, tempat berangkat, sementara 2:13 memperlihatkan bahwa "seperti orang banyak" bahkan bisa dipakai sebagai alasan untuk menolak.
- Kata kerja yang dipakai ayat ini adalah kata kerja cairan, akar yang di 5:83 dan di 9:92 dipakai untuk mata yang meluap oleh air mata. Air yang tumpah tidak punya barisan depan dan tidak menyimpan nama pesertanya. Pembaca yang biasa mengukur dirinya dari letaknya dalam barisan menemukan bahwa gambaran ini tak menyediakan tempat untuk ukuran itu, bukan karena kedudukan dilarang, melainkan karena bentuk gerak yang diperintahkan tak punya rongga yang bisa menampung kedudukan. Yang bertahan menonjol di tengah arus sebenarnya sedang tidak ikut mengalir.
- Permohonan ampunan diletakkan tepat sesudah perintah bergerak, dan tidak ada satu pun kesalahan yang dirinci sebagai sebabnya. Tak ada pelanggaran yang disebut, tak ada hitungan yang harus dilunasi lebih dulu. Yang tersisa bagi pembaca adalah kemungkinan yang jarang terpikir: permintaan agar ditudungi bisa melekat pada langkah yang justru sedang dikerjakan menurut perintah, bukan cuma pada langkah yang keliru. Orang yang merasa perlu memohon ampunan hanya ketika ada yang tercatat salah kehilangan seluruh bunyi susunan ini.
- Rangkaian yang sama untuk menunjuk sumber dipakai di banyak ayat lain justru bagi arah yang tak terlihat, seperti di 16:26 dan 65:3 yang berbicara tentang arah yang tidak disadari. Di ayat ini arahnya yang paling terbuka: tempat yang sudah ramai, yang bisa dilihat siapa saja. Bagi pembaca, itu menutup satu pintu yang sering dibuka, anggapan bahwa yang bernilai selalu yang tersembunyi dan hanya terbuka bagi sedikit orang. Di sini yang diperintahkan berangkat dari tempat paling umum, dan tak ada isyarat bahwa ada jalur lain yang lebih terhormat.
- Ayat ini dibuka dengan kata yang berarti kemudian, dan yang menyusul bukan keterangan tambahan melainkan perintah baru. Sesuatu yang sudah selesai dikerjakan di 2:198 ternyata belum menutup rangkaiannya. Pembaca yang mengukur ibadah dengan daftar yang bisa dicentang akan terus bertemu kata itu: masih ada kemudian. Bukan karena yang tadi kurang, melainkan karena bentuk perkaranya bersambung, dan sambungan terakhirnya berhenti bukan pada satu pencapaian yang bisa dihitung, melainkan pada permohonan agar ditudungi.