وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Dan di antara mereka ada yang berkata, “Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِwa-minhum man yaquulu rabbanaa aatinaa fii d-dunyaa hasanatan wa-fii l-aakhirati hasanatan wa-qinaa 'adzaaba n-naaridan di antara mereka ada yang berkata, Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَمِنْهُمْwa-minhumdan di antara mereka
- مَنْmanorang yang
- يَقُولُyaquuluberkata
- رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
- آتِنَاaatinaaberikanlah kepada kami
- فِيfiidi
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- حَسَنَةًhasanatankebaikan
- وَفِيwa-fiidan pada
- الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
- حَسَنَةًhasanatankebaikan
- وَقِنَاwa-qinaadan peliharalah kami
- عَذَابَ'adzaabaazab
- النَّارِn-naariapi
Inti bacaan
Doa yang seimbang, kebaikan dunia dan akhirat sekaligus, model permohonan yang tidak mengorbankan satu dimensi demi yang lain. Konkretnya: mengejar kesuksesan duniawi tidak perlu ditinggalkan demi spiritualitas, dan sebaliknya, doa ini mengajarkan keseimbangan sebagai target eksplisit, bukan pilihan biner antara dunia dan akhirat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمِنْهُمْ, wa-minhum) yang berarti "dan di antara mereka", tersusun dari kata sambung wa, kata depan min, dan ganti orang ketiga jamak hum. Ganti itu tidak menyebut nama siapa pun, sehingga acuannya harus dicari pada himpunan terdekat yang sudah disebut, yaitu (فَمِنَ النَّاسِ, fa-mina n-naasi) yang berarti "maka di antara manusia" pada 2:200. Jadi "mereka" di sini adalah manusia yang sudah disebut di ayat sebelumnya, bukan golongan baru yang diperkenalkan di sini. Cara menunjuk himpunan di ayat ini menyebut ulang kata (النَّاسِ, an-naasi) yang berarti "manusia" lalu diikuti (مَنْ, man) yang berarti "siapa yang". Susunan itu dipakai 11 kali di seluruh mushaf, 5 di antaranya dalam surah ini sendiri, yaitu 2:8, 2:165, 2:200, 2:204, dan 2:207. Ayat ini justru tidak menyebut ulang kata itu, dan menyambung dengan ganti hum saja, sehingga dua ucapan yang diperbandingkan tetap berdiri di dalam satu himpunan yang sama. Rangkaian penuhnya, (وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ, wa-minhum man yaquulu) yang berarti "dan di antara mereka ada yang berkata", dipakai 2 kali di seluruh mushaf, di ayat ini dan di 9:49. Kata kerjanya, (يَقُولُ, yaquulu) yang berarti "ia berkata", berbentuk tunggal, jadi yang dilukiskan bukan seruan serentak sebuah golongan melainkan satu orang yang berkata seperti itu.
Doanya dibuka dengan (رَبَّنَا, rabbanaa) yang berarti "Tuhan kami", dari akar yang berarti memelihara sampai matang, lalu (آتِنَا, aatinaa) yang berarti "berilah kami", kata perintah dari akar yang berarti datang dan mendatangkan. Pada bentuk dasarnya akar ini bermakna "datang", seperti (أَتَىٰ, ataa) yang berarti "telah datang" di 16:1; bentuk berimbuhan yang dipakai di sini mengalihkannya menjadi "mendatangkan kepada", sehingga kata kerja ini menuntut dua sasaran sekaligus, kepada siapa sesuatu didatangkan dan apa yang didatangkan. Sasaran pertama sudah menempel pada kata kerjanya, yaitu naa yang berarti "kami". Sasaran kedua itulah yang membedakan ayat ini dari ayat sebelumnya. Bentuk (آتِنَا, aatinaa) dipakai 5 kali di seluruh mushaf, yaitu di 2:200, 2:201, 3:194, 18:10, dan 18:62. Di 18:62 ia bahkan diucapkan kepada seorang pembantu, (آتِنَا غَدَاءَنَا, aatinaa ghadaa'anaa) yang berarti "bawalah kemari makanan kita", jadi kata ini memang kata perintah biasa untuk menyerahkan sesuatu, bukan kata khusus untuk berdoa. Dari 5 tempat itu hanya 2:200 yang tidak pernah menyebut apa yang diminta: (رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا, rabbanaa aatinaa fii d-dunyaa) yang berarti "Tuhan kami, berilah kami di dunia" menyebut medannya lalu berhenti, sementara 3:194 menyebut apa yang telah dijanjikan, 18:10 menyebut (رَحْمَةً, rahmatan) yang berarti "rahmat", dan ayat ini menyebut kebaikan.
Kata itu adalah (حَسَنَةً, hasanatan) yang berarti "kebaikan", dari akar yang berarti baik dan elok, berbentuk tunggal perempuan tanpa kata sandang, dan di sini ia berdiri sendiri sebagai barang yang diminta, bukan sebagai sifat bagi kata lain. Bedanya terbaca di 4:85, (شَفَاعَةً حَسَنَةً, syafaa'atan hasanatan) yang berarti "syafaat yang baik", tempat kata yang sama justru menerangkan kata di depannya. Bentuk ini dipakai pada 7 ayat di seluruh mushaf, yaitu 2:201, 4:40, 4:85, 7:156, 16:41, 16:122, dan 42:23, dan ayat inilah satu-satunya yang memuatnya dua kali, sekali untuk tiap medan: (فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً, fii d-dunyaa hasanatan) yang berarti "kebaikan di dunia", lalu (وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً, wa-fii l-aakhirati hasanatan) yang berarti "dan kebaikan di akhirat". Rangkaian yang pertama dipakai 3 kali di seluruh mushaf, di 2:201, 16:41, dan 16:122, sedangkan (وَفِي الْآخِرَةِ, wa-fii l-aakhirati) dipakai 6 kali, di 2:201, 7:156, 10:64, 14:27, 41:31, dan 57:20. Perbandingan yang paling dekat ada di 7:156, (وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ, wa-ktub lanaa fii haadzihi d-dunyaa hasanatan wa-fii l-aakhirati) yang berarti "dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat": kedua medan disebut berpasangan, tetapi kata yang diminta tidak diulang untuk medan yang kedua. Ayat ini mengulangnya utuh, jadi permintaan untuk akhirat tidak diserahkan kepada pengertian yang tersisa dari paruh pertama. Kata yang sama terbaca sebagai sesuatu yang sudah diberikan di 16:122, (وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً, wa-aataynaahu fii d-dunyaa hasanatan) yang berarti "dan Kami beri dia kebaikan di dunia", memakai akar yang sama dengan kata perintah di ayat ini, kali ini dalam bentuk yang sudah selesai. Teksnya sendiri tidak merinci isi kebaikan itu, tidak menyebut satu benda pun sebagai contohnya, dan tidak mengatakan apakah yang diminta untuk dua medan itu sejenis atau berbeda; kata itu dibiarkan tanpa penentu pada kedua paruh.
Permintaan yang ketiga memakai (وَقِنَا, wa-qinaa) yang berarti "dan lindungilah kami", kata perintah dari akar yang berarti menjaga dari bahaya. Pada bentuk perintah ini huruf pertama akarnya lepas dan huruf terakhirnya luruh, sehingga yang tinggal hanya satu huruf qi ditambah naa yang berarti "kami". Akar ini dipakai 258 kali di seluruh mushaf, dan bentuk yang paling sering adalah bentuk berimbuhan yang menjadi perintah bertakwa, (اتَّقُوا, ittaquu) dan (اتَّقِ, ittaqi), yang muncul 82 kali dan selalu tertuju kepada yang disapa, seperti di 2:203 dan di 2:206. Bentuk telanjang seperti pada ayat ini hanya dipakai 6 kali, yaitu di 2:201, 3:16, 3:191, 40:7, 40:9, dan 66:6; dari keenamnya hanya 66:6, (قُوا أَنْفُسَكُمْ, quu anfusakum) yang berarti "jagalah diri kalian", yang tertuju kepada manusia, sedangkan 5 sisanya diucapkan kepada Allah. Arah perintahnya karena itu berbalik: yang di 2:24 dibebankan kepada pembaca, (فَاتَّقُوا النَّارَ, fa-ttaquu n-naara) yang berarti "maka jagalah diri kalian dari api", di sini justru dimintakan kepada Allah. Dalam rangkaian 2:196 sampai 2:206 akar ini muncul di 5 ayat, yaitu 2:196, 2:197, 2:201, 2:203, dan 2:206; di 4 di antaranya ia dipakai untuk sikap manusia yang menjaga dirinya, termasuk (التَّقْوَىٰ, at-taqwaa) yang berarti "takwa" sebagai bekal di 2:197, dan hanya di ayat ini ia berbentuk permintaan.
Yang diminta agar ditangkis disebut (عَذَابَ النَّارِ, 'adzaaba n-naari) yang berarti "azab api", dari akar yang berarti menyiksa dan akar yang berarti cahaya. Padanan "api" dipertahankan, bukan "neraka", karena mushaf memakai beberapa kata yang berlainan untuk hal ini dan ayat ini memilih yang satu itu saja: 40:7 memakai (عَذَابَ الْجَحِيمِ, 'adzaaba l-jahiimi) dan 2:206 memakai (جَهَنَّمُ, jahannamu). Rangkaian (عَذَابَ النَّارِ, 'adzaaba n-naari) dipakai 6 kali di seluruh mushaf, yaitu di 2:201, 3:16, 3:191, 8:14, 32:20, dan 34:42, dan sebarannya terbelah rapi menjadi dua pola yang berlawanan. Pada 3 yang pertama ia menjadi hal yang dimintakan perlindungan, dan pada ketiganya rangkaian itu menutup ayatnya, yaitu (وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, wa-qinaa 'adzaaba n-naari) di 2:201 dan di 3:16, serta (فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, fa-qinaa 'adzaaba n-naari) di 3:191. Pada 3 yang lain ia bukan permintaan lagi melainkan pemberitahuan: 8:14 menyebutnya sebagai yang tersedia bagi orang yang kufur, sedangkan 32:20 dan 34:42 menempatkannya sesudah perintah (ذُوقُوا, dzuuquu) yang berarti "rasakanlah". Satu rangkaian yang sama karena itu berdiri di dua sisi, sebagai yang dimintakan agar dijauhkan sebelum tiba, atau sebagai yang disuruh dirasakan ketika sudah tidak bisa dijauhkan.
Tafsiran
Ayat ini meletakkan satu ucapan berdampingan dengan ucapan lain, lalu membiarkan perbandingannya bekerja sendiri tanpa satu pun kata celaan atau pujian. Yang membelah dua suara itu bukan asal-usul, bukan jumlah, dan bukan tempat berdiri, sebab keduanya diambil dari himpunan yang sama; yang membelah adalah panjang kalimat doanya. Suara pertama di 2:200 berhenti sesudah menyebut medan, dan penilaian yang menyusulnya di ayat itu, bahwa tidak ada bagian apa pun untuknya di akhirat, jatuh pada permintaan yang berhenti, bukan pada dunia yang diminta. Ayat ini membuktikan hal itu dengan cara yang sulit dibantah: suara kedua tetap meminta di dunia, dengan kata dan kata depan yang sama, lalu meneruskannya. Jadi susunannya bukan menyingkirkan dunia dari doa, melainkan menolak doa yang menganggap dunia sudah cukup sebagai seluruh permintaan.
Rangkaian ini juga bergerak dari meminta diberi ke meminta dijauhkan, dan berhenti di sana. Penutup yang sama muncul lagi di 3:16 sesudah pengakuan beriman, dan di 3:191 sesudah perenungan atas penciptaan langit dan bumi; pada ketiganya, permintaan agar dilindungi ditaruh paling akhir, sesudah segala yang lain diucapkan. Di dalam rangkaian ayat ini pun letaknya berbicara. Perintah menjaga diri diucapkan berulang di sekelilingnya, di 2:196, 2:197, 2:203, dan 2:206, sehingga suara yang di sini memohon perlindungan tidak sedang mengganti kewajiban itu, melainkan berdiri di sebelahnya. Lalu 2:202 menjawab dengan bagian dari apa yang diusahakan, persis pada perkara yang 2:200 nyatakan tidak ada, dan menjawabnya dalam bentuk jamak meski dua ucapan sebelumnya dilukiskan dengan bentuk tunggal. Teksnya sendiri tidak menyebutkan nama, jumlah, atau golongan pengucapnya, dan tidak mengabarkan apakah doa ini dikabulkan; yang ditawarkannya hanya bunyi doanya, dan sebuah bagian yang disebut di ayat sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Ucapan yang dibandingkan di 2:200 menyebut kepada siapa ia berbicara, menyebut untuk siapa ia meminta, dan menyebut di medan mana ia ingin dilayani, lalu berhenti sebelum menyebut apa yang sesungguhnya dimintanya. Kalimatnya utuh sebagai kalimat, dan kosong sebagai permintaan. Pembaca yang pernah mendengar dirinya berdoa panjang lalu berdiri tanpa bisa mengulang isi doanya sendiri sedang berhadapan dengan cermin yang tidak menuduh apa pun. Ayat ini tidak menambahkan hardikan; ia hanya menaruh sebuah kalimat lain di sebelahnya, kalimat yang menyebut apa yang diminta, dan selisih di antara keduanya cukup terdengar tanpa perlu dijelaskan.
- Yang diminta di sini bukan sebuah benda, sebuah jumlah, atau sebuah nama, melainkan kebaikan, disebut tanpa kata sandang dan tanpa satu contoh pun. Ada dua sikap yang bisa dibawa seseorang ke dalam doa: datang dengan daftar barang yang sudah diputuskan sendiri, atau datang dengan satu kata yang menyerahkan penentuan isinya. Yang kedua lebih sunyi dan lebih berisiko, sebab yang meminta kehilangan hak memilih bentuk pemberiannya. Pembaca yang biasa menyusun daftar keinginannya sampai serinci mungkin mungkin akan merasa doa seperti ini terlalu longgar, dan justru pada kelonggaran itulah terletak kepercayaan yang dituntutnya.
- Kata yang sama diulang untuk dunia dan untuk akhirat, tanpa diganti dengan kata yang lebih tinggi ketika berpindah medan. Banyak orang punya dua kosakata yang terpisah rapi, satu untuk pekerjaan, kesehatan, dan rumah, satu lagi untuk hal-hal yang dianggap suci, dan tidak pernah membiarkan keduanya bertemu dalam satu tarikan napas. Ayat ini memakai satu kata untuk keduanya, dalam satu doa yang tidak dipotong, sehingga apa yang dicari di dua medan itu tidak lagi bisa diperlakukan sebagai dua urusan yang tak berhubungan. Yang berubah bukan daftar keinginannya, melainkan apakah keinginan itu boleh berhenti pada salah satu medan saja.
- Doa ini tidak berhenti pada permintaan agar diberi. Ia menambah satu permintaan lagi, agar dijauhkan dari azab api, dan justru di situlah ia ditutup. Hidup memang lebih sering diukur dengan apa yang datang, sebab yang datang bisa dihitung, disebut, dan diceritakan. Yang tidak datang tidak meninggalkan jejak apa pun, sehingga hampir tidak pernah dihitung sebagai pemberian. Pembaca yang membaca doa ini sampai kata terakhirnya diajak menimbang satu kemungkinan yang tidak nyaman, bahwa sebagian dari yang paling berharga dalam hidupnya adalah hal-hal yang tidak pernah menimpanya, dan bahwa tidak ada catatan tentang itu selain permintaan yang pernah diucapkan.
- Akar yang di sekitar ayat ini berulang kali muncul sebagai perintah kepada manusia untuk menjaga dirinya, di sini muncul dalam bentuk telanjangnya sebagai permintaan kepada Allah agar Dia yang menjaga. Arah kalimatnya berbalik, dan yang berbalik bukan kewajibannya, sebab perintah itu tetap berdiri di ayat-ayat sekelilingnya. Yang bergeser adalah tempat seseorang berdiri saat mengucapkannya: ia tetap diminta berusaha menjaga diri, dan pada saat yang sama mengakui bahwa penjagaannya sendiri bukan yang terakhir menentukan. Pembaca yang merasa cukup dengan kehati-hatiannya sendiri, atau sebaliknya menyerahkan segalanya lalu berhenti berusaha, akan mendapati doa ini menolak kedua kenyamanan itu sekaligus.
- Kedua suara ini diambil dari himpunan yang sama, dan ayat ini menandainya dengan ganti "mereka", bukan dengan nama golongan yang baru. Tidak ada pagar yang bisa dilihat dari luar, tidak ada tanda pada pakaian atau kedudukan, tidak ada urutan yang membuat seseorang otomatis berada di sisi yang benar. Yang membedakan hanya kalimat yang keluar dari mulut masing-masing, dan kalimat itu bisa berubah pada doa berikutnya. Pembaca yang mencari kepastian tentang di mana dirinya berdiri tidak akan menemukannya dalam kelompok tempat ia berada, sebab ayat ini menaruh pembatasnya di tempat yang jauh lebih dekat dan jauh lebih sulit diawasi, yaitu apa yang sedang ia minta.