وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
Dan di antara manusia ada yang perkataannya tentang kehidupan dunia mengagumkanmu, dan ia menjadikan Allah saksi atas apa yang di hatinya, padahal ia penentang yang paling keras.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِwa-mina n-naasi man yu'jibuka qawluhu fii l-hayaati d-dunyaa wa-yusyhidu llaaha 'alaa maa fii qalbihi wa-huwa aladdu l-khishaamidan di antara manusia ada yang perkataannya tentang kehidupan dunia mengagumkanmu, dan ia menjadikan Allah saksi atas apa yang di hatinya, padahal ia penentang yang paling keras
Terjemahan per kata (17 kata)
- وَمِنَwa-minadan dari
- النَّاسِn-naasimanusia
- مَنْmanorang yang
- يُعْجِبُكَyu'jibukamengagumkanmu
- قَوْلُهُqawluhuperkataan-Nya
- فِيfiitentang
- الْحَيَاةِl-hayaatikehidupan
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- وَيُشْهِدُwa-yusyhidudan ia mempersaksikan
- اللَّهَllaahaAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَاmaaapa yang
- فِيfiidi
- قَلْبِهِqalbihihatinya
- وَهُوَwa-huwapadahal ia
- أَلَدُّaladdupaling keras
- الْخِصَامِl-khishaamipertengkaran
Inti bacaan
Peringatan tajam terhadap orang yang perkataannya 'mengagumkan' namun 'penentang paling keras', kefasihan bicara tidak menjamin ketulusan hati, bahkan bisa menyembunyikan permusuhan terdalam. Konkretnya: kewaspadaan terhadap kefasihan retorika yang mengesankan tapi tidak sejalan dengan tindakan/karakter, kekaguman verbal sesaat perlu diuji dengan konsistensi jangka panjang.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمِنَ النَّاسِ مَنْ, wa-mina n-naasi man) yang berarti "dan di antara manusia ada yang". Kata (النَّاسِ, an-naasi) "manusia" berasal dari akar yang berarti manusia, sedangkan (مَنْ, man) di sini bukan kata tanya melainkan kata penghubung yang menunjuk seseorang tanpa menamainya. Susunan itu hadir 10 kali di seluruh mushaf, di 2:8, 2:165, ayat ini, 2:207, 22:3, 22:8, 22:11, 29:10, 31:6, dan 31:20, dan 9 di antaranya berdiri di awal ayatnya. Yang dihitungnya selalu sebagian, bukan keseluruhan. Perbandingan dengan 2:8 memperlihatkan pilihan yang berbeda pada bentuk kata: di sana pembuka yang sama berpindah ke bentuk jamak pada (وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ, wa-maa hum bi-mu'miniina) "padahal mereka bukanlah orang-orang yang beriman", sementara ayat ini bertahan pada bentuk tunggal sampai kata terakhir, yaitu (قَوْلُهُ, qawluhu) "perkataannya", (قَلْبِهِ, qalbihi) "hatinya", dan (وَهُوَ, wa-huwa) "dan dia". Karena itu terjemahannya memakai "ia", bukan "mereka": yang dilukiskan tetap satu orang, bukan daftar sifat sebuah golongan.
Kata kerja (يُعْجِبُكَ, yu'jibuka) "membuatmu kagum" dibentuk dari akar yang berarti heran dan takjub, dan di dalam mushaf ini akar itu bernaung pada rasa heran, bukan pada rasa suka: dari akar yang sama lahir (عَجَبًا, 'ajaban) "hal yang mengherankan" di 10:2, (لَشَيْءٌ عَجِيبٌ, la-syay'un 'ajiibun) "sungguh sesuatu yang mengherankan" di 11:72, dan (لَشَيْءٌ عُجَابٌ, la-syay'un 'ujaabun) di 38:5. Itulah dasar padanan "mengagumkan", yang menyimpan unsur terpukau, alih-alih "menyenangkan", yang hanya menyatakan suka. Bentuk yang dipakai di sini adalah bentuk yang membuat pihak lain kagum, dan bentuk itu hadir di 10 ayat, dengan 11 kemunculan karena 2:221 memakainya 2 kali: ayat ini, 2:221, 5:100, 9:25, 9:55, 9:85, 33:52, 48:29, 57:20, dan 63:4. Pada 8 di antaranya yang dibuat kagum adalah lawan bicara, dan yang mengagumkan selalu sesuatu yang bisa dilihat atau dihitung, seperti (فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ, fa-laa tu'jibka amwaaluhum) "maka janganlah harta mereka mengagumkanmu" di 9:55, (وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ, wa-law a'jabaka katsratu l-khabiitsi) "meski banyaknya yang buruk mengagumkanmu" di 5:100, (وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ, wa-law a'jabaka husnuhunna) "meski kecantikan mereka mengagumkanmu" di 33:52, dan (تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ, tu'jibuka ajsaamuhum) "tubuh mereka mengagumkanmu" di 63:4. Di ayat ini yang mengagumkan bukan harta, jumlah, rupa, atau tubuh, melainkan (قَوْلُهُ, qawluhu), kata benda dari akar yang berarti mengatakan. Akar itu menamai tindakan berkata itu sendiri. Kekaguman pada ucapan pun tidak dengan sendirinya pujian di dalam mushaf ini: 13:5 memakai akar yang sama untuk perkataan yang justru ditolak, (فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ, fa-'ajabun qawluhum) "maka mengherankan perkataan mereka".
Rangkaian (فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, fii l-hayaati d-dunyaa) "dalam kehidupan dunia" menyandingkan (الْحَيَاةِ, al-hayaati) "kehidupan" dari akar yang berarti hidup dengan (الدُّنْيَا, ad-dunyaa) dari akar yang bermakna dekat, sehingga sebutan itu menamai kehidupan yang lebih dekat, bukan kehidupan yang lebih rendah. Rangkaian ini dipakai 19 kali di seluruh mushaf, di antaranya 2:85, ayat ini, 9:55, 18:104, 39:26, 41:31, dan 43:32. Salah satunya, 9:55, mempertemukan dua unsur yang bertemu juga di sini, yaitu kata kerja pembuat kagum dari akar yang berarti heran dan takjub dan sebutan kehidupan dunia, di sana untuk harta dan anak, di sini untuk perkataan. Di ayat ini rangkaian itu berdiri persis di antara (قَوْلُهُ, qawluhu) dan (وَيُشْهِدُ اللَّهَ, wa-yusyhidu llaaha), sehingga ia bisa dibaca menempel pada perkataannya, yaitu perkataan tentang kehidupan dunia, atau menempel pada kekagumannya, yaitu kagum yang terjadi di dalam kehidupan dunia. Teksnya tidak memutuskan yang mana. Terjemahan di atas mengambil bacaan pertama, dan bacaan kedua tidak tertutup olehnya.
Kata kerja (وَيُشْهِدُ اللَّهَ, wa-yusyhidu llaaha) "dan ia menjadikan Allah saksi" berasal dari akar yang berarti menyaksikan, tetapi bukan dalam bentuk yang berarti bersaksi, melainkan dalam bentuk yang berarti membuat pihak lain bersaksi. Bentuk itu dipakai 7 kali di seluruh mushaf, di ayat ini, 2:282, 4:6, 7:172, 11:54, 18:51, dan 65:2, dan ketujuhnya terbagi rapi. 3 di antaranya adalah perintah menghadirkan saksi manusia: (وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ, wa-asyhiduu idzaa tabaaya'tum) "dan hadirkanlah saksi apabila kalian berjual beli" di 2:282, (فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ, fa-asyhiduu 'alayhim) "maka hadirkanlah saksi atas mereka" di 4:6, dan (وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ, wa-asyhiduu dzaway 'adlin minkum) "dan hadirkanlah dua orang saksi yang adil di antara kalian" di 65:2. 2 lainnya menempatkan Allah sebagai pihak yang menjadikan orang lain bersaksi: (وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ, wa-asyhadahum 'alaa anfusihim) "dan Dia menjadikan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri" di 7:172, dan (مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ, maa asyhadtuhum khalqa s-samaawaati) "Aku tidak menghadirkan mereka menyaksikan penciptaan langit" di 18:51. Hanya 2 yang menempatkan Allah sebagai pihak yang dipanggil bersaksi, yaitu ayat ini dan (إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا, innii usyhidu llaaha wa-syhaduu) "sesungguhnya aku menjadikan Allah saksi, dan saksikanlah kalian" di 11:54. Keduanya berbeda pada dua hal sekaligus: di 11:54 pemanggilan itu dirangkap dengan pemanggilan saksi manusia atas sesuatu yang diucapkan terbuka, sedangkan di sini Allah dipanggil sendirian, dan atas (عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ, 'alaa maa fii qalbihi) "atas apa yang di hatinya".
Bentuk (قَلْبِهِ, qalbihi) "hatinya" dari akar yang berarti membalik di sini tunggal dan bermilik satu orang, dan yang diserahkan untuk dipersaksikan adalah isinya. Sebutan tentang apa yang ada di dalam hati dipakai 5 kali di seluruh mushaf, di 3:154, 4:63, 9:64, 33:51, dan 48:18, dan pada kelimanya isi hati adalah sesuatu yang Allah ketahui, uji, atau bukakan: (يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ, ya'lamu llaahu maa fii quluubihim) "Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka" di 4:63, (وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ, wa-llaahu ya'lamu maa fii quluubikum) di 33:51, (فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ, fa-'alima maa fii quluubihim) di 48:18, (وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ, wa-li-yumahhisha maa fii quluubikum) "dan agar Dia membersihkan apa yang ada di dalam hati kalian" di 3:154, dan (تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ, tunabbi'uhum bi-maa fii quluubihim) di 9:64. Berlawanan dengan sebaran itu, di ayat ini isi hati bukan disebut sebagai yang diketahui Allah, melainkan sebagai perkara yang orang itu sendiri ajukan agar Allah mempersaksikannya.
Ayat ini ditutup dengan (وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ, wa-huwa aladdu l-khishaami) "padahal ia penentang yang paling keras". Kata (أَلَدُّ, aladdu) berasal dari akar yang berarti keras dalam berselisih, dan akar itu dipakai 2 kali di seluruh mushaf, di ayat ini dan pada (قَوْمًا لُدًّا, qawman luddan) "kaum yang membangkang" di 19:97. Bentuknya mengikuti pola tingkat paling, pola yang sama dengan (أَشَدُّ حُبًّا, asyaddu hubban) "lebih kuat cintanya" di 2:165. Yang mengikutinya, (الْخِصَامِ, al-khishaami), adalah bentuk jamak, dan bentuk tunggalnya tampil sebagai (خَصِيمٌ مُبِينٌ, khashiimun mubiinun) "penentang yang nyata" di 16:4 dan 36:77. Karena itu rangkaian penutup ini menamai orang, bukan perbuatan, yaitu yang paling keras di antara para penentang, bukan yang paling keras dalam bertengkar, dan di situlah dasar padanan "penentang yang paling keras". Kata (الْخِصَامِ, al-khishaami) sendiri dipakai 2 kali di seluruh mushaf, di ayat ini dan pada (وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ, wa-huwa fii l-khishaami ghayru mubiinin) "sedangkan ia tidak jelas dalam pertengkaran" di 43:18, dan pada keduanya kata itu didahului kata ganti lepas (وَهُوَ, wa-huwa). Kata kerja dari akar yang sama dipakai 8 kali di seluruh mushaf, di 3:44, 22:19, 26:96, 27:45, 36:49, 38:69, 39:31, dan 50:28, dan pada kedelapannya pelakunya jamak, sebab bertengkar itu saling. Ayat ini memakai akar itu untuk satu orang, dan menempatkannya bukan sebagai kejadian yang sedang berlangsung, melainkan sebagai keterangan tentang siapa dia.
Tafsiran
Ayat ini menyusun satu potret dalam tiga langkah, dan tiap langkah hanya dapat diperiksa oleh pihak yang berbeda. Langkah pertama terbuka bagi siapa saja yang mendengar, sebab perkataan itu sampai ke telinga dan kekagumannya nyata. Langkah kedua tertutup bagi semua kecuali satu, sebab isi hati tidak sampai ke telinga siapa pun, dan justru di sanalah Allah dipanggil bersaksi. Langkah ketiga tidak terjangkau oleh pendengar maupun oleh pemanggilan saksi itu, sebab ia tidak diucapkan dan tidak ditawarkan, melainkan dinyatakan oleh teks sendiri. Pembaca menerima keterangan yang mustahil ia peroleh dari dua langkah sebelumnya, dan di sanalah kerja ayat ini: kekaguman pembaca diletakkan berdampingan dengan keterangan yang tidak tersedia bagi kekaguman itu.
Potret ini tidak berhenti di sini. 2:205 melanjutkannya dengan bentuk tunggal yang sama, yaitu apa yang ia kerjakan ketika berpaling, dan 2:206 menambahkan apa yang terjadi ketika ia diingatkan. Isi hati yang di ayat ini disebut tanpa dirinci sama sekali, di dua ayat berikutnya berganti menjadi perbuatan yang terlihat. Urutannya jelas: yang tak terlihat lebih dulu dinyatakan, jejaknya baru kemudian ditunjukkan, dan yang diberikan kepada pembaca adalah jejaknya, bukan jalan masuk ke hati. Pasangannya datang tak lama sesudah itu. 2:207 memakai pembuka yang persis sama, lalu menempatkan orang yang menyerahkan dirinya demi rida Allah. Dua orang, satu pembuka, dua arah yang berlawanan, dan surah ini menyandingkannya tanpa memberi tanda mana yang lebih sering dijumpai.
Perbandingan dengan 2:8 menerangkan sesuatu yang mudah terlewat. Di sana yang dikutip adalah pengakuan beriman, dan yang dibantah teks adalah pengakuan itu sendiri. Di ayat ini perkataan itu tidak dibantah sama sekali. Yang ditolak bukan isi ucapannya, melainkan gambaran tentang orangnya, sehingga ayat ini tidak sedang melatih pembaca menimbang kalimat, sebab kalimatnya bisa saja benar. Yang diperlihatkannya adalah bahwa kekaguman pada sebuah kalimat bukan keterangan tentang orang yang mengucapkannya. Isyarat sejenis muncul lewat susunan lain di 63:4, ketika lawan bicara ditegur atas tubuh dan tutur yang menawan, dan di 9:55, ketika ia diminta tidak kagum pada harta dan anak. Pada ketiganya yang disasar peringatan bukan yang dikagumi, melainkan yang mengagumi.
Renungan dan Hikmah
- Yang lebih dulu disebut ayat ini bukan kesalahan orang itu, melainkan kekaguman yang timbul pada diri pendengarnya. Tidak ada satu kata pun yang menyatakan perkataannya buruk, dangkal, atau salah, dan bahkan tidak ada keterangan tentang isi perkataan itu. Yang tersisa bagi pembaca justru pertanyaan tentang alat ukurnya sendiri: ketika sebuah kalimat terasa mengagumkan, sebenarnya apa yang sedang terukur, mutu orang yang mengucapkannya atau kepekaan telinga yang mendengarnya. Ayat ini tidak menjawabnya, tetapi ia menaruh kekaguman itu pada posisi yang tidak nyaman, yaitu sebagai bagian dari gambaran, bukan sebagai penilaian atas gambaran.
- Saksi yang dipanggil di sini adalah satu-satunya saksi yang tidak dapat diperiksa balik oleh siapa pun, dan yang dipersaksikan adalah satu-satunya hal yang tidak dapat ditengok oleh siapa pun, yakni isi hati. Dua pilihan itu jatuh bersamaan, dan kesejajarannya menerbitkan pertanyaan yang jarang diajukan orang kepada dirinya: mengapa justru perkara yang mustahil diperiksa itu yang paling sering disertai sumpah paling khusyuk. Pembaca yang pernah mempertaruhkan nama Allah untuk meyakinkan orang lain tentang niatnya sendiri akan mengenali bentuk gerakan ini, dan mengenalinya dari dalam, bukan dari kejauhan.
- Kemampuan menangkap kebohongan tidak menolong menghadapi orang seperti yang digambarkan di sini, sebab teksnya tidak pernah menyebut ucapannya bohong. Perkataannya boleh saja benar, tertata, bahkan pantas dikagumi, dan tetap tidak menerangkan apa pun tentang orangnya. Yang tersingkap bukan sebuah pernyataan yang keliru, melainkan jarak antara sebuah pernyataan dan orang yang mengeluarkannya. Pembaca yang biasa memeriksa isi kalimat menemukan dirinya kehilangan pegangan, sebab yang perlu diperiksa bukan lagi kalimatnya, dan cara memeriksa yang bukan kalimat tidak diberikan di ayat ini.
- Apa yang tersimpan di hati orang itu disebut tetapi tidak dirinci, dan ayat ini berhenti tepat di ambang isinya. Yang diberikan sebagai gantinya bukan penglihatan ke dalam hati, melainkan perbuatan yang bisa dilihat pada 2:205 dan sikap yang muncul ketika ia diingatkan pada 2:206. Pembaca yang ingin memastikan siapa yang sedang dibicarakan tidak dibekali kemampuan menembus dada orang lain, dan diamnya teks pada titik itu bukan kekurangan, melainkan batas yang dipasang dengan sengaja. Siapa pun yang memakai ayat ini untuk memutuskan isi hati orang di sekitarnya sedang memakai keterangan yang tidak pernah diberikan kepadanya.
- Penutup ayat ini tidak melaporkan sebuah pertengkaran yang sedang terjadi, melainkan menempatkan orang itu di sebuah kedudukan, yaitu yang paling keras di antara para penentang. Pertengkaran adalah kejadian yang bisa disesali sesudah reda, sedangkan kedudukan bertahan ketika suasana sudah tenang dan tidak ada perselisihan yang tampak. Bagi pembaca, perbedaan itu memindahkan pertanyaan dari peristiwa ke kebiasaan: bukan apakah ia pernah bersitegang, melainkan apakah menentang sudah menjadi tempat berdirinya, sesuatu yang lebih sulit dikenali karena tidak pernah datang sebagai satu kejadian yang bisa ditunjuk tanggalnya.
- Pembuka yang sama, yaitu di antara manusia ada yang, dipakai lagi tiga ayat kemudian untuk orang yang menyerahkan dirinya demi rida Allah pada 2:207. Keduanya diperkenalkan sebagai bagian dari manusia, tanpa nama, tanpa keterangan berapa banyak masing-masing, dan tanpa isyarat mana yang lebih sering ditemui. Pembaca yang mencari kepastian tentang dirinya sendiri di antara dua potret itu tidak menemukan jawaban di dalam kalimatnya, dan susunan yang membiarkan dua kemungkinan berdiri bersebelahan tanpa memihak justru menyerahkan pemilahan itu kepada orang yang sedang membacanya.