وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Dan apabila ia berpaling, ia berusaha berbuat kerusakan di bumi, dan merusak tanam-tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak mencintai kerusakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَwa-idzaa tawallaa sa'aa fii l-ardhi li-yufsida fiihaa wa-yuhlika l-hartsa wa-n-nasladan apabila ia berpaling, ia berusaha berbuat kerusakan di bumi, dan merusak tanam-tanaman dan keturunan
  2. وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَwa-llaahu laa yuhibbu l-fasaadadan Allah tidak mencintai kerusakan

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. تَوَلَّىٰtawallaaberpaling
  3. سَعَىٰsa'aaia usahakan
  4. فِيfiidi
  5. الْأَرْضِl-ardhibumi
  6. لِيُفْسِدَli-yufsidauntuk berbuat kerusakan
  7. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  8. وَيُهْلِكَwa-yuhlikadan agar Dia membinasakan
  9. الْحَرْثَl-hartsaladang
  10. وَالنَّسْلَwa-n-nasladan keturunan
  11. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  12. لَاlaatidak
  13. يُحِبُّyuhibbumencintai
  14. الْفَسَادَl-fasaadakerusakan

Inti bacaan

Pola orang yang disebut di 2:204: begitu berpaling/berkuasa, langsung merusak tanaman dan ternak, kekuasaan yang disalahgunakan menyerang sumber kehidupan dasar masyarakat. Konkretnya: menilai kepemimpinan bukan dari kata-katanya saat mencari dukungan, tapi dari dampaknya terhadap sumber daya dasar masyarakat (pangan, lingkungan, mata pencaharian) setelah berkuasa.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka (وَإِذَا تَوَلَّىٰ, wa-idzaa tawallaa) "dan apabila ia berpaling", satu-satunya kemunculan rangkaian ini di seluruh mushaf. Kata ganti "ia" tidak diperkenalkan ulang di sini; ia menyambung langsung dari sosok yang digambarkan 2:204, orang yang perkataannya mengagumkan tapi menyimpan permusuhan di hatinya. Berpaling di sini menandai jeda: sesudah kekaguman pada ucapannya reda dan ia kembali kepada dirinya sendiri, barulah tindakan berikutnya tampak.

Tindakannya, (سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ, sa'aa fii l-ardhi) "ia berusaha di bumi", memakai akar yang berarti berusaha dan bergegas, yang dipakai 5 kali di mushaf: di sini, 2:114, 17:19, 53:39, dan 79:35. Di 2:114, ayat lain dalam surah yang sama, akar ini dipakai untuk arah yang serupa, (وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا, wa-sa'aa fii kharaabihaa) "dan berusaha meruntuhkannya", tentang orang yang menghalangi nama Allah disebut di masjid-masjid. Sebaliknya, di 17:19 akar yang sama dipakai untuk arah yang berlawanan total, (وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ, wa-sa'aa lahaa sa'yahaa wa-huwa mu'minun) "dan berusaha untuknya dengan usaha yang sungguh-sungguh, sedang ia beriman", tentang orang yang mengejar akhirat. Usaha itu sendiri bukan kata yang bermuatan satu arah; yang menentukan nilainya adalah ke mana ia diarahkan.

Tujuan usahanya, (لِيُفْسِدَ فِيهَا, li-yufsida fiihaa) "untuk berbuat kerusakan di dalamnya", dan yang dirusaknya disebut rinci, (الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ, al-hartsa wa-n-nasla) "tanaman dan keturunan". (النَّسْلَ, an-nasla) satu-satunya kemunculan katanya di seluruh mushaf. (الْحَرْثَ, al-hartsa) muncul 2 kali, di sini dan di 2:71, tempat lain dalam surah ini yang menyebut sapi betina yang tidak mengairi tanaman, (وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ, wa-laa tasqii l-hartsa). Dua kata yang dipilih, tanaman dan keturunan, sama-sama sesuatu yang tumbuh lewat proses yang butuh waktu dan tidak bisa dipaksa selesai seketika; kerusakan yang disasar bukan kerusakan yang seketika tampak.

Penutupnya, (وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ, wa-llaahu laa yuhibbu l-fasaada) "dan Allah tidak menyukai kerusakan". (الْفَسَادَ, al-fasaada) muncul 4 kali di mushaf: di sini, 28:77, 40:26, dan 89:12. Di 28:77 ia muncul sebagai larangan langsung, (وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ, wa-laa tabghi l-fasaada fii l-ardhi) "dan janganlah kamu mencari kerusakan di bumi". Di 40:26 ia keluar dari mulut Firaun sendiri, tuduhan atas Musa, (أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ, an yuzhira fi l-ardhi l-fasaada) "bahwa ia akan menampakkan kerusakan di bumi", tuduhan yang dilontarkan oleh sosok yang di dalam mushaf sendiri dikenal sebagai perusak. Di 89:12 ia melekat pada kaum yang sudah dibinasakan, (فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ, fa-aktsaruu fiihaa l-fasaada) "lalu mereka memperbanyak kerusakan padanya". Rumus (لَا يُحِبُّ, laa yuhibbu) sendiri dipakai 24 kali di 14 surah, salah satu rumus penutup yang paling sering diulang di seluruh mushaf.

Tafsiran

Ayat ini paruh kedua dari potret yang dibuka 2:204, dan geraknya menandai apa yang terjadi begitu perhatian orang lain berpaling darinya. Kekaguman pada perkataannya berhenti, dan yang tampak berikutnya bukan lagi kata-kata melainkan perbuatan. Susunan ini menempatkan ucapan dan perbuatan sebagai dua babak yang terpisah, dan yang kedua baru terlihat sesudah yang pertama selesai memikat.

Kata untuk usahanya sendiri dipakai di 2:114, ayat lain dalam surah yang sama, untuk arah yang sama persis, meruntuhkan tempat ibadah, dan di 17:19 untuk arah yang justru berlawanan, mengejar akhirat dengan sungguh-sungguh. Ayat ini karena itu tidak sedang mencela usaha sebagai usaha; ia mencela usaha yang diarahkan pada kerusakan. Kesungguhan yang sama bisa menjadi pujian atau tuduhan, tergantung ke mana ia menghadap.

Dua hal yang dirusak, tanaman dan keturunan, sama-sama tidak bisa dirusak dalam sekejap. Keduanya tumbuh lewat proses, dan yang dirusak lewat proses biasanya baru terasa akibatnya lama sesudahnya. 2:204 menutup dengan Allah sebagai saksi atas isi hati orang itu, sesuatu yang tidak kelihatan; ayat ini menutup dengan kerusakan yang juga tidak segera kelihatan, sampai tanaman gagal tumbuh atau keturunan tak lagi berlanjut. Dua bentuk ketersembunyian yang berbeda, keduanya menolak diperiksa seketika.

Penutup ayat ini tidak menyebut hukuman, hanya menyebut bahwa Allah tidak menyukai kerusakan itu. Rumus yang sama dipakai berkali-kali di seluruh mushaf untuk berbagai hal, dan salah satu kemunculannya yang lain, di 40:26, datang dari mulut Firaun, sosok yang di ayat lain justru dinyatakan langsung sebagai perusak, (إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ, innahu kaana mina l-mufsidiina) "sesungguhnya ia termasuk golongan perusak" di 28:4, menuduhkan kerusakan kepada nabi yang diutus untuk melawannya. Kata yang sama bisa dipakai secara jujur dan bisa dipakai untuk memutarbalikkan tuduhan; ayat ini sendiri berdiri di sisi yang jujur, sebab yang digambarkannya cocok dengan namanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang dipakai ayat ini untuk usahanya bukan kata yang selalu bermakna buruk. Kata yang sama dipakai di ayat lain untuk orang yang bersungguh-sungguh mengejar akhirat, dan hasilnya disebut layak disyukuri. Kesungguhan itu sendiri, dengan begitu, bukan sesuatu yang bisa dinilai dari kadarnya saja. Seseorang yang bangga pada seberapa keras ia berusaha, tanpa pernah menimbang ke mana usaha itu mengarah, sedang mengukur dirinya dengan alat yang salah. Ayat ini menaruh penilaiannya bukan pada besar-kecilnya usaha, melainkan pada tujuan yang dikejarnya.
  • Dua hal yang disebut rusak dalam ayat ini, tanaman dan keturunan, tidak pernah rusak dalam sekejap. Keduanya tumbuh perlahan, dan kerusakan atasnya baru terlihat jauh sesudah sebabnya terjadi. Seseorang yang mencari bukti kerusakan segera, sesaat sesudah perbuatan dilakukan, tidak akan menemukannya di sini. Yang digambarkan ayat ini adalah kerusakan yang bekerja dengan sabar, menunggu musim tumbuhnya lewat sebelum akibatnya kelihatan, dan itu membuatnya lebih sulit dihentikan tepat pada waktunya, sebab tanda-tandanya baru muncul ketika sudah terlambat menahannya.
  • Ayat sebelumnya berhenti pada kata-kata yang mengagumkan, dan ayat ini baru dimulai ketika perhatian pendengarnya sudah berpaling. Ada jeda di antara keduanya, dan di dalam jeda itulah perbuatan yang sesungguhnya baru tampak. Orang yang menilai seseorang hanya selama diperhatikan sedang menilai babak yang paling mudah dipoles. Ayat ini menaruh ujian yang sebenarnya justru pada babak sesudahnya, ketika tidak ada lagi yang menyaksikan dan tidak ada lagi kekaguman yang perlu dijaga.
  • Kata untuk kerusakan yang dipakai ayat ini juga pernah dipakai oleh seorang penguasa untuk menuduh seorang nabi, tepat ketika penguasa itu sendiri yang sedang melakukannya. Kata yang benar bisa dipinjam oleh pihak yang justru bersalah, dan dipakainya kata itu secara fasih tidak membuktikan apa pun tentang siapa yang sebenarnya menjadi sumber kerusakan. Pembaca yang menilai kebenaran dari kefasihan orang menyebutnya akan mudah tertipu oleh pola ini, sebab kata yang tepat bisa keluar dari mulut yang paling tidak berhak memakainya.
  • Ayat sebelum ini menyimpan rahasianya di dalam hati, sesuatu yang hanya Allah bisa saksikan. Ayat ini memindahkan rahasia itu ke bumi, ke tanaman dan keturunan yang tumbuh perlahan dan rusak perlahan pula. Apa yang tersembunyi tidak selamanya tinggal tersembunyi; ia berjalan keluar dan mengubah sesuatu yang bisa disaksikan orang lain, meski butuh waktu sebelum perubahan itu terlihat. Isi hati yang dianggap urusan pribadi ternyata punya jalan keluar ke dunia yang ditinggali bersama.
  • Ayat ini tidak mengancam dengan hukuman. Ia hanya menyebut bahwa Allah tidak menyukai kerusakan, sebuah kalimat yang bicara tentang perasaan, bukan tentang ganjaran. Rumus yang sama dipakai berkali-kali di seluruh mushaf untuk hal-hal lain yang ditolak. Pembaca yang terbiasa mengukur keseriusan sebuah larangan dari beratnya ancaman mendapati ayat ini tidak menawarkan ukuran itu. Yang ditawarkannya justru lebih sunyi: sebuah pemberitahuan bahwa perbuatan itu berdiri berlawanan dengan apa yang disukai, dan bagi yang benar-benar peduli pada apa yang disukai Tuhannya, itu sudah cukup berat tanpa perlu disebutkan hukumannya.