وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” kedigdayaannya membawanya kepada dosa. Maka cukuplah baginya Jahannam. Dan sungguh seburuk-buruk tempat.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِwa-idzaa qiila lahu ttaqi llaaha akhadzatsu l-'izzatu bi-l-itsmidan apabila dikatakan kepadanya, bertakwalah kepada Allah, kedigdayaannya membawanya kepada dosa
- فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُfa-hasbuhu jahannamumaka cukuplah baginya Jahannam
- وَلَبِئْسَ الْمِهَادُwa-la-bi'sa l-mihaadudan sungguh seburuk-buruk tempat
Terjemahan per kata (12 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- قِيلَqiiladikatakan
- لَهُlahubaginya
- اتَّقِttaqibertakwalah
- اللَّهَllaahaAllah
- أَخَذَتْهُakhadzatsumenimpanya
- الْعِزَّةُl-'izzatukemuliaan
- بِالْإِثْمِbi-l-itsmidengan dosa
- فَحَسْبُهُfa-hasbuhumaka cukuplah baginya
- جَهَنَّمُjahannamuJahanam
- وَلَبِئْسَwa-la-bi'sadan sungguh buruk sekali
- الْمِهَادُl-mihaaduhamparan
Inti bacaan
Respons terhadap nasihat 'bertakwalah' justru memicu 'kedigdayaan yang menyebabkan berbuat dosa lebih banyak', ego yang tersinggung oleh koreksi malah memperburuk perilaku, bukan memperbaikinya. Konkretnya: waspadai reaksi defensif-agresif terhadap kritik yang jujur, respons yang sehat terhadap teguran adalah refleksi, bukan eskalasi kesombongan yang membenarkan kesalahan lebih jauh.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan kata kerja bentuk pasif (قِيلَ لَهُ, qiila lahu) yang berarti "dikatakan kepadanya", dari akar yang berarti mengatakan, dengan kata ganti tunggal laki-laki. Pasangan kata ini muncul 1 kali di seluruh mushaf, yaitu di ayat ini, sedangkan bentuk jamaknya (وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ, wa-idzaa qiila lahum) yang berarti "dan apabila dikatakan kepada mereka" muncul 23 kali di seluruh mushaf, 5 di antaranya dalam surah ini sendiri, yaitu 2:11, 2:13, 2:59, 2:91, dan 2:170. Karena kata kerjanya pasif, teksnya tidak menyebut siapa yang berkata, dan terjemahan "dikatakan kepadanya" menahan kekosongan itu tanpa menambahkan pelaku. Yang diucapkan berupa perintah kepada satu orang, (اتَّقِ اللَّهَ, ittaqi llaaha) yang berarti "bertakwalah kepada Allah", dari akar yang berarti menjaga dari bahaya. Akar itu menunjuk pada tindakan menjaga diri dari sesuatu yang membahayakan. Bentuk perintah tunggal ini muncul 3 kali di seluruh mushaf, yaitu di ayat ini, di 33:1, dan di 33:37; pada dua yang terakhir ia diucapkan langsung oleh suara ayat kepada lawan bicaranya, sedangkan di sini ia dikutip sebagai ucapan yang sampai kepada seseorang dari mulut yang tak disebut namanya.
Kata kerja (أَخَذَتْهُ, akhadzat-hu) yang berarti "mengambilnya" atau "mencengkeramnya", dari akar yang berarti mengambil, berbentuk lampau perempuan tunggal karena pelakunya kata benda perempuan yang menyusul di belakangnya, sementara objeknya kata ganti tunggal laki-laki, yaitu orang yang baru dinasihati. Bentuk lampau perempuan dari akar ini yang membawa kata ganti objek muncul 13 kali di seluruh mushaf, dan pada 12 di antaranya pelakunya salah satu dari tiga kata benda bencana: (فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ, fa-akhadzat-kumu sh-shaa'iqatu) yang berarti "maka sambaran itu mencengkeram kalian" di 2:55, 4:153, dan 51:44; (فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ, fa-akhadzat-humu r-rajfatu) yang berarti "maka guncangan itu mencengkeram mereka" di 7:78, 7:91, 7:155, dan 29:37; suara menggelegar di 15:73, 15:83, 23:41, dan 29:40; dan (فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ, fa-akhadzat-hum shaa'iqatu l-'adzaabi) yang berarti "maka sambaran azab mencengkeram mereka" di 41:17. Bentuk dengan objek tunggal laki-laki seperti di ayat ini ada 2 kali di seluruh mushaf, di sini dan di 29:40, tempat pelakunya (أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ, akhadzat-hu sh-shayhatu) yang berarti "suara menggelegar mencengkeramnya". Susunan yang sama, pelaku yang berbeda: di 29:40 yang mencengkeram datang dari luar orangnya, di ayat ini pelakunya bukan bencana.
Pelaku itu adalah (الْعِزَّةُ, al-'izzatu) yang berarti "kedigdayaan", dari akar yang berarti perkasa dan mulia. Akar itu menunjuk pada keadaan tak tertembus dan tak terkalahkan. Kata ini berdiri dengan kata sandang dan tanpa akhiran pemilik, jadi bunyi harfiahnya "kedigdayaan itu mencengkeramnya", dan terjemahan "kedigdayaannya" mengembalikan pemiliknya dari kata ganti objek yang sudah ada pada kata kerjanya. Bentuk berkata sandang ini muncul 6 kali di seluruh mushaf, yaitu di ayat ini, 4:139, 10:65, 35:10, 37:180, dan 63:8. Pada lima kemunculan selain di sini ia dilekatkan kepada Allah. Contohnya (فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا, fa-inna l-'izzata lillaahi jamii'an) di 4:139 dan (إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا, inna l-'izzata lillaahi jamii'an) di 10:65, keduanya berarti "sesungguhnya kedigdayaan itu seluruhnya milik Allah"; (فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا, fa-lillaahi l-'izzatu jamii'an) di 35:10; (رَبِّ الْعِزَّةِ, rabbi l-'izzati) yang berarti "Tuhan pemilik kedigdayaan" di 37:180; dan (وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ, wa-lillaahi l-'izzatu) di 63:8. Tanpa kata sandang, kata yang sama dipakai untuk keadaan orang yang kufur di 38:2, (فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ, fii 'izzatin wa-syiqaaqin) yang berarti "dalam kedigdayaan dan permusuhan". Padanan "kesombongan" akan menukar nama benda itu dengan penilaian atasnya; kata Arabnya menamai kekuatan, dan yang membuatnya tercela di ayat ini adalah arah yang ditempuhnya.
Arah itu ditandai (بِالْإِثْمِ, bi-l-itsmi), gabungan kata depan bi- dengan (الْإِثْمِ, al-itsmi) yang berarti "dosa", dari akar yang berarti dosa. Gabungan ini muncul 5 kali di seluruh mushaf, yaitu di ayat ini, 2:85, 2:188, 58:8, dan 58:9, dan pada 4 kemunculan selain di sini kata depan itu menandai cara sebuah perbuatan dijalankan, bukan tujuan yang dituju: (تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ, tazhaaharuuna 'alayhim bi-l-itsmi) yang berarti "saling menolong melawan mereka dalam dosa" di 2:85; (لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ, li-ta'kuluu fariiqan min amwaali n-naasi bi-l-itsmi) yang berarti "agar kalian memakan sebagian harta manusia dengan cara berdosa" di 2:188; dan (فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ, fa-laa tatanaajaw bi-l-itsmi) yang berarti "maka janganlah kalian berbisik untuk berbuat dosa" di 58:9, yang mengulang bunyi 58:8. Karena itu bacaan "kedigdayaannya mencengkeramnya lewat dosa" tetap terbuka di samping "membawanya kepada dosa" yang dipakai terjemahan ini; teksnya tidak memuat penanda yang memutuskan salah satunya, dan keduanya mengikat kedigdayaan dan dosa pada satu orang yang sama. Kata benda yang sama dipakai 2 kali dalam satu ayat tiga ayat sebelum ayat ini untuk menyatakan lepasnya beban, (فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ, fa-laa itsma 'alayhi) yang berarti "maka tidak ada dosa baginya" di 2:203, yang di sana dibatasi (لِمَنِ اتَّقَىٰ, li-mani ttaqaa) yang berarti "bagi orang yang bertakwa".
Kata benda (فَحَسْبُهُ, fa-hasbuhu) menggabungkan kata depan penghubung fa- dengan bentuk dari akar yang berarti menghitung dan menyangka. Akar itu menunjuk pada apa yang memadai bagi seseorang, jadi terjemahannya "maka cukuplah baginya". Kata benda ini muncul 11 kali di seluruh mushaf, yaitu di ayat ini, 3:173, 5:104, 8:62, 8:64, 9:59, 9:68, 9:129, 39:38, 58:8, dan 65:3, dan sebarannya terbelah rapi. Pada 7 kemunculan yang memadai itu Allah: (حَسْبُنَا اللَّهُ, hasbunaa llaahu) yang berarti "cukuplah Allah bagi kami" di 3:173 dan 9:59; (حَسْبَكَ اللَّهُ, hasbaka llaahu) yang berarti "cukuplah Allah bagimu" di 8:62 dan 8:64; (حَسْبِيَ اللَّهُ, hasbiya llaahu) yang berarti "cukuplah Allah bagiku" di 9:129 dan 39:38; dan (فَهُوَ حَسْبُهُ, fa-huwa hasbuhu) yang berarti "maka Dia cukup baginya" di 65:3. Pada 3 kemunculan yang memadai itu Jahannam: di ayat ini, (حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ, hasbuhum jahannamu) di 58:8, dan (هِيَ حَسْبُهُمْ, hiya hasbuhum) di 9:68. Sisa satu kemunculan, 5:104, memuat orang yang menyatakan (حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا, hasbunaa maa wajadnaa 'alayhi aabaa'anaa), "cukuplah bagi kami apa yang kami dapati pada nenek moyang kami".
Penutupnya, (وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ, wa-la-bi'sa l-mihaadu), memakai kata kerja celaan (بِئْسَ, bi'sa) yang berarti "seburuk-buruk", didahului lam penegas yang menambahkan kepastian pada celaan itu. Rangkaian (بِئْسَ الْمِهَادُ, bi'sa l-mihaadu) muncul 5 kali di seluruh mushaf, yaitu di ayat ini, 3:12, 3:197, 13:18, dan 38:56, dan hanya di sini ia memakai lam penegas; 3:12, 3:197, dan 13:18 memakai (وَبِئْسَ الْمِهَادُ, wa-bi'sa l-mihaadu) tanpa penegas, sedangkan 38:56 memakai (فَبِئْسَ الْمِهَادُ, fa-bi'sa l-mihaadu). Kata (الْمِهَادُ, al-mihaadu) berakar pada akar yang berarti menghamparkan dan menyiapkan, yang di tempat lain dipakai untuk pembentangan tempat berbaring: (الْأَرْضَ مِهَادًا, al-ardha mihaadan) yang berarti "bumi sebagai hamparan" di 78:6, dan (فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ, fa-li-anfusihim yamhaduuna) yang berarti "maka bagi diri mereka sendiri mereka mempersiapkan tempat" di 30:44. Kata benda itu sendiri muncul 7 kali di seluruh mushaf, yaitu di ayat ini, 3:12, 3:197, 7:41, 13:18, 38:56, dan 78:6, dan pada 6 di antaranya ia melekat pada Jahannam, termasuk (لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ, lahum min jahannama mihaadun) yang berarti "bagi mereka dari Jahannam hamparan" di 7:41. Padanan "tempat" bertahan pada makna umumnya, sementara akarnya menyimpan gambar hamparan yang dibentangkan untuk berbaring; ayat ini tidak menyebutkan sendiri apa yang dihamparkan, dan satu-satunya kata di dekatnya yang bisa menjadi acuannya adalah Jahannam yang baru disebut.
Tafsiran
Ayat ini menutup gambaran satu orang yang dibuka 2:204 dan dilanjutkan 2:205, dan menutupnya dengan memindahkan orang itu dari kedudukan pelaku ke kedudukan yang dikenai. Di 2:205 tiap kata kerja yang menyangkut dirinya menempatkannya sebagai pelaku, ia berpaling, ia berusaha, ia merusak. Di ayat ini ia tidak mengerjakan apa pun: ia disapa, ia dicengkeram, lalu ia diberi sesuatu yang dinyatakan cukup baginya. Tiga kali berturut-turut ia hadir sebagai kata ganti yang dikenai, dan tak sekali pun sebagai pelaku.
Rangkaian 2:204 sampai 2:206 karena itu bergerak dari apa yang terdengar, perkataan yang mengagumkan, ke apa yang dikerjakan saat ia berpaling, kerusakan di bumi, lalu ke apa yang terjadi ketika teguran datang menemuinya. Teguran itu sendiri bukan hal baru dalam surah ini. Tiga ayat sebelumnya, 2:203 menutup rangkaian perintahnya dengan seruan bertakwa kepada Allah dalam bentuk perintah jamak, tanpa menunjuk seseorang tertentu. Yang baru di ayat ini adalah nasib seruan yang sama ketika ia mengenai satu telinga tertentu, dan hasilnya bukan perubahan melainkan pengerasan.
Ayat ini juga menahan diri dari membetulkan anggapan yang tersirat pada orang itu. Ketika 4:139 dan 35:10 menyebut orang yang mencari kedigdayaan di tempat yang salah, keduanya langsung menutup dengan penegasan bahwa kedigdayaan seluruhnya milik Allah. Di sini penegasan itu tidak datang. Yang datang adalah Jahannam sebagai yang dinyatakan mencukupi, lalu hamparan yang dicela. Koreksi terhadap orang ini tidak lagi disampaikan sebagai kalimat yang membantah, melainkan sebagai tempat yang menampung.
Sesudahnya 2:207 meletakkan sosok kedua bersebelahan, orang yang menjual dirinya demi mencari rida Allah. Kedua sosok diperkenalkan dengan pembuka yang sama, dan keduanya dikenali dari apa yang mereka pegang sebagai cukup. Yang satu berpegang pada kedigdayaannya dan berakhir pada hamparan yang dicela; yang lain melepaskan dirinya sendiri dan disambut oleh Tuhan yang dinyatakan penuh iba kepada hamba-hamba-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja yang menyampaikan teguran di ayat ini berbentuk pasif, dan tidak seorang pun disebut sebagai yang menegur. Karena tak ada penegur yang bisa diperiksa, tertutup juga jalan keluar yang paling sering dipakai untuk menghindari teguran, yaitu mempersoalkan siapa yang berhak menyampaikannya. Yang tersisa hanya kalimatnya sendiri, bertakwalah kepada Allah, berdiri tanpa pemilik, dan apa yang bergerak di dalam diri pada detik kalimat itu masuk ke telinga. Sesudah membaca ini, teguran yang datang dari mulut yang dianggap tidak pantas pun kehilangan perlindungan yang biasanya diberikan kepada pendengarnya, sebab yang diuji di ayat ini bukan mutu orang yang menegur.
- Ayat ini tidak menggambarkan orang yang menyombongkan diri; yang digambarkan adalah kedigdayaan yang mencengkeramnya, dan ia berada di kedudukan yang dikenai. Kata kerja yang dipakai untuk itu di tempat lain hampir selalu membawa bencana sebagai pelakunya, sesuatu yang datang menimpa dari luar dan tak bisa ditawar. Sesudah membaca ini, apa yang biasanya terasa sebagai kekuatan, punya nama, punya kedudukan, punya alasan untuk tidak dikoreksi, terbaca sebagai sesuatu yang bisa memegang pemiliknya alih-alih dipegang olehnya. Yang tampak sebagai kemerdekaan untuk menolak teguran justru dilukiskan sebagai kehilangan pilihan.
- Kata yang dipakai ayat ini untuk Jahannam adalah kata yang di tempat lain dipakai orang beriman untuk Allah, yaitu yang memadai baginya. Sesudah membaca ini, pertanyaan yang tinggal bukan seberapa besar kesalahan seseorang, melainkan apa yang ia perlakukan sebagai cukup. Ada orang yang merasa memadai dengan pembelaan yang berhasil dan nama yang selamat dari koreksi, dan ayat ini memperlihatkan bahwa kecukupan semacam itu punya bentuk akhirnya sendiri. Apa yang seseorang anggap sudah mencukupi dirinya ternyata gambaran paling ringkas tentang apa yang sebenarnya ia kejar, dan gambaran itu tidak selalu ia pilih dengan sadar.
- Akar kata terakhir ayat ini dipakai di tempat lain untuk bumi yang dibentangkan agar bisa ditinggali, dan untuk orang yang mempersiapkan tempat bagi dirinya sendiri. Karena itu penutup ayat ini tidak berbunyi seperti ancaman yang dilemparkan dari luar, melainkan seperti kabar tentang tempat berbaring yang sudah lama disiapkan. Setiap teguran yang ditolak, dalam gambaran ini, menambah satu lapis pada hamparan itu, dan pekerjaan itu berlangsung tanpa terasa sebagai pekerjaan. Yang dicela di ujung ayat pun bukan orangnya, melainkan tempat yang tumbuh dari kebiasaannya menolak.
- Dosa di ayat ini tidak muncul sebagai keinginan yang tak tertahan, melainkan sebagai harga yang dibayar untuk mempertahankan kedudukan. Ia datang sesudah teguran, bukan sebelumnya, dan urutan itu membalik bayangan yang biasa dipakai orang tentang bagaimana kesalahan bertambah besar. Sesudah membaca ini, teguran yang paling tepat sasaran justru terbaca sebagai saat paling rawan, sebab di situlah pilihan antara mengalah dan mengeraskan diri berlangsung tanpa saksi. Surah yang sama, tiga ayat sebelumnya, menyatakan tidak ada dosa bagi orang yang bertakwa; jarak antara dua keadaan itu ternyata hanya sepanjang satu tanggapan.
- Orang dalam ayat ini tidak diberi nama, tidak diberi tempat, dan tidak diberi zaman, dan pembuka yang memperkenalkannya sama dengan pembuka yang memperkenalkan sosok di 2:207 yang menjual dirinya demi mencari rida Allah. Keduanya berdiri sebagai dua kemungkinan, bukan dua golongan yang bisa ditunjuk dari luar. Sesudah membaca ini, gambaran itu sukar dipakai sebagai label bagi orang lain, sebab satu-satunya keterangan yang diberikan tentang kedua sosok adalah apa yang terjadi pada mereka ketika nama Allah disebut di dekat mereka. Yang tinggal bagi pembaca adalah tanggapannya sendiri, yang hanya ia yang bisa memeriksanya.