وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya demi mencari rida Allah. Dan Allah penuh iba kepada hamba-hamba-Nya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِwa-mina n-naasi man yasyrii nafsahu btighaa'a mardhaati llaahidan di antara manusia ada yang menjual dirinya demi mencari rida Allah
- وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِwa-llaahu ra'uufun bi-l-'ibaadidan Allah penuh iba kepada hamba-hamba-Nya
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَمِنَwa-minadan dari
- النَّاسِn-naasimanusia
- مَنْmanorang yang
- يَشْرِيyasyriimenjual
- نَفْسَهُnafsahudirinya
- ابْتِغَاءَbtighaa'amencari
- مَرْضَاتِmardhaatikeridaan
- اللَّهِllaahiAllah
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- رَءُوفٌra'uufunpenyantun
- بِالْعِبَادِbi-l-'ibaadipada para hamba
Inti bacaan
Kontras tajam dengan 2:204-206: ada juga yang 'mengorbankan dirinya untuk mencari rida Allah', pengorbanan tulus tanpa pamrih duniawi. Konkretnya: dua kutub perilaku manusia (retorika-kosong-vs-pengorbanan-tulus) disandingkan untuk perbandingan, introspeksi diri: apakah komitmenku lebih dekat pada kata-kata yang mengesankan, atau tindakan nyata yang berkorban?
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan rumus yang berulang di dalam mushaf, (وَمِنَ النَّاسِ مَنْ, wa mina n-naasi man) yang berarti "dan di antara manusia ada yang". Rumus ini terpakai di 10 ayat: 2:8, 2:165, 2:204, 2:207, 22:3, 22:8, 22:11, 29:10, 31:6, dan 31:20. Kata (مَنْ, man) di dalamnya bentuk tunggal, dan kata kerja yang mengikutinya di sini ditandai korpus sebagai orang ketiga tunggal, jadi yang dibicarakan satu orang, bukan satu golongan. Teksnya tidak menyebutkan nama, asal, maupun waktu; tempat itu dibiarkan diisi kata penghubung saja. Dari 10 ayat tadi, 9 melukiskan perilaku yang dicela oleh ayatnya sendiri, misalnya 2:8 «مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ» yang pengakuannya dibantah pada penutup ayatnya, 22:11 «يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ» yang pengabdiannya di tepi lalu berbalik, dan 31:6 «مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ». Hanya di 2:207 rumus itu memperkenalkan orang yang perbuatannya tidak dicela.
Kata kerjanya (يَشْرِي, yasyrii) berakar pada akar yang berarti menjual dan membeli. Akar ini terpakai 25 kali di 23 ayat, dan 21 dari 25 memakai bentuk berimbuhan, seperti 2:16 «اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ», 9:111 «اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ», dan 31:6 tadi. Bentuk telanjang tanpa imbuhan hanya 4 kali: 2:102, 2:207, 4:74, dan 12:20. Arah pertukarannya tidak ditentukan bentuk itu, melainkan oleh sisi mana yang ditandai sebagai harga dengan awalan huruf ba. Di 12:20 «وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ» yang bertanda adalah (بِثَمَنٍ, bi-tsamanin) yang berarti "dengan harga", yakni yang diterima, jadi yang dinamai sesudah kata kerja lepas dari tangan. Di 4:74 «يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ» yang bertanda adalah (بِالْآخِرَةِ, bi-l-aakhirati) yang berarti "dengan akhirat", yakni yang dibayarkan, jadi yang dinamai sesudah kata kerja masuk ke tangan. Di 2:207 tak ada satu pun kata bertanda begitu sesudah kata kerjanya; tempat harga dibiarkan kosong.
Sasaran kata kerjanya adalah (نَفْسَهُ, nafsahu) yang berarti "dirinya", dari akar yang berarti napas dan jiwa. Bentuk telanjang akar yang berarti menjual dan membeli bersanding dengan diri sebagai sasaran hanya 2 kali, di 2:102 dan 2:207. Di 2:102 «وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ» yang lepas dari tangan adalah diri mereka sendiri, dan gantinya disebut buruk. Susunan 2:207 sama pada titik itu dan hanya berlawanan pada nilainya, dan itulah dasar terkuat memilih "menjual" alih-alih "membeli". Kata (نَفْسَهُ, nafsahu) sendiri terpakai di 7 ayat: 2:130, 2:207, 2:231, 3:28, 3:30, 4:110, dan 65:1. Dua di antaranya, 3:28 dan 3:30, memakainya bagi diri Allah dalam rangkaian «وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ». Tinggal 5 yang berbicara tentang diri seorang manusia, dan 4 memasangkannya dengan kata kerja yang merugikan diri itu: (سَفِهَ نَفْسَهُ, safiha nafsahu) yang berarti "memperbodoh dirinya" di 2:130, (ظَلَمَ نَفْسَهُ, zhalama nafsahu) yang berarti "menzalimi dirinya" di 2:231 dan 65:1, serta (يَظْلِمْ نَفْسَهُ, yazhlim nafsahu) di 4:110. Hanya 2:207 memasangkan diri seseorang dengan kata kerja pertukaran, bukan dengan kata kerja perusakan.
Yang menempati tempat harga yang kosong itu bukan barang, melainkan maksud. (ابْتِغَاءَ, ibtighaa'a) yang berarti "demi mencari" adalah bentuk kata benda dari kata kerja berakar pada akar yang berarti melampaui dan mencari, dan korpus menandainya penunjuk maksud, bukan harga. Kata itu terpakai 14 kali di 13 ayat, di antaranya 2:265, 3:7, dan 92:20. Yang dicari disebut (مَرْضَاتِ, mardhaati) yang berarti "kerelaan" atau "rida", juga bentuk kata benda, dari akar yang berarti rela menerima, dan kata ini hanya ada di 5 ayat: 2:207, 2:265, 4:114, 60:1, dan 66:1. Empat yang pertama merangkainya dengan Allah; 66:1 «تَبْتَغِي مَرْضَاتَ» satu-satunya tempat yang dicari bukan rida Allah melainkan rida sesama manusia. Rangkaian penuh «ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ» ada di 3 ayat, 2:207, 2:265, dan 4:114, dan yang diserahkan berbeda di ketiganya: di 2:265 «يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ» yang dikeluarkan harta, di 4:114 «وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ» yang diserahkan perbuatan, dan hanya di 2:207 yang diserahkan adalah diri pelakunya sendiri.
Penutup ayat memakai (رَءُوفٌ, ra'uufun) dari akar yang berarti belas kasih yang lembut, yang ada di 11 ayat dan seluruhnya ditandai korpus tanpa kata sandang, karena itu diterjemahkan huruf kecil, "penuh iba", tanpa awalan "Maha". Sembilan dari 11 memasangkannya dengan (رَحِيمٌ, rahiimun) yang di proyek ini diterjemahkan "pengasih", yaitu 2:143 «لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ», lalu 9:117, 9:128, 16:7, 16:47, 22:65, 24:20, 57:9, dan 59:10. Hanya 2 berdiri tanpa pasangan itu, 2:207 dan 3:30, dan keduanya memakai rangkaian yang sama, «وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ». Karena "pengasih" sudah dipegang (رَحِيمٌ, rahiimun), padanan (رَءُوفٌ, ra'uufun) harus kata lain, dan yang dipilih menyebut rasa, bukan pemberian. Alasannya ada di dalam mushaf sendiri: di 24:2 kata serumpun (رَأْفَةٌ, ra'fatun) digambarkan bisa mencekam orang, «وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ», dan yang bisa mencekam seseorang adalah rasa; di 57:27 «وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً» ia diletakkan di dalam hati dan disebut berdampingan dengan pemberian, jadi keduanya bukan satu hal.
Sasaran iba itu (بِالْعِبَادِ, bi-l-'ibaadi) yang berarti "kepada hamba-hamba", dari akar yang berarti mengabdi, dengan kata sandang dan tanpa akhiran kepemilikan. Rangkaian itu ada di 5 ayat, dan 3 memasangkannya bukan dengan iba melainkan dengan (بَصِيرٌ, bashiirun) yang berarti "melihat", yaitu 3:15 «وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ», 3:20, dan 40:44; sisanya 2:207 dan 3:30 dengan iba. Bentuk berakhiran kepemilikan (بِعِبَادِهِ, bi-'ibaadihi) yang berarti "kepada hamba-hamba-Nya" memang ada di mushaf, di 17:30, 17:96, 35:31, 35:45, 42:19, dan 42:27, tetapi bukan itu yang dipakai di sini. Akhiran "-Nya" pada terjemahan Indonesia mengisi apa yang di Arabnya ditandai kata sandang saja, dan teks Arabnya sendiri tidak mempersempit sasaran iba pada golongan mana pun.
Tafsiran
Ayat ini menutup satu rangkaian dengan cara mengulang pembukaannya. Tiga ayat sebelumnya memperkenalkan seseorang dengan kalimat yang sama, 2:204 «وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ», lalu melacak jejaknya sampai 2:206 «فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ». Ketika 2:207 memakai pembukaan yang persis sama untuk orang yang sebaliknya, teks tidak membantah orang pertama dengan bantahan. Ia menaruh orang kedua di sebelahnya, dengan kalimat yang belum bisa dibedakan pada beberapa kata pertamanya, sehingga yang memisahkan keduanya bukan cara mereka diperkenalkan melainkan apa yang menyusul sesudah itu. Yang pertama dikenali dari perkataannya, yang kedua dari apa yang ia lepaskan.
Ada yang sengaja tidak diucapkan di sini. Teksnya tidak menyebutkan harga, tidak menyebutkan siapa yang menerima, dan tidak menyebutkan dalam bentuk apa penyerahan itu dilakukan. Tempat kosong itu diisi di ayat lain: 9:111 menamai penerimanya sekaligus bayarannya, «اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ», bahkan menyebut peristiwanya sebagai jual beli, «فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ». 2:207 menahan seluruh keterangan itu. Yang tersisa hanya maksud pelakunya, dan maksud adalah satu-satunya bagian dari perbuatan yang tidak bisa diperlihatkan kepada orang lain, sehingga rangkaian 2:204 sampai 2:207 berakhir pada perbedaan yang justru tidak bisa dinilai dari luar.
Bagian penutupnya berpindah pokok. Sesudah berbicara tentang seorang manusia, ayat ini beralih kepada Allah, dan yang disebut bukan balasan melainkan sikap. Kedua bagian itu disambung hanya dengan huruf (وَ, wa), tanpa kata sebab, jadi teks tidak menyatakan bahwa iba itu upah atas penyerahan tadi. Rangkaian penutup yang sama dipakai 3:30 sesudah peringatan keras «وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ», jadi ia tidak terikat pada satu jenis perbuatan dan tidak muncul karena dipicu. Yang dijamin ayat ini bukan bahwa penyerahan berbalas, melainkan bahwa yang berada di ujung penyerahan itu bukan penghitung.
Renungan dan Hikmah
- Pembaca yang ingin menimbang untung ruginya lebih dulu akan mendapati tempat itu sengaja dikosongkan. Di tiga tempat lain, kata kerja yang sama selalu menyebut harganya, dan justru di ayat ini harga tidak disebut sama sekali; yang tertulis di tempatnya hanya maksud. Artinya tidak ada nilai tukar yang bisa dihitung sebelum tangan dibuka, dan tidak ada perbandingan yang bisa dipasang antara yang dilepas dan yang diterima. Orang yang bersedia melepas sesuatu hanya setelah imbalannya jelas akan menunggu tanpa ujung pada ayat ini, sebab ayat ini tidak pernah menyebutkan imbalan. Yang tinggal untuk diperiksa bukan angkanya, tetapi arah maksudnya.
- Dua orang dalam rangkaian ini diperkenalkan dengan kalimat yang sama, dan pada beberapa kata pertamanya tidak ada satu tanda pun yang memisahkan mereka. Pembaca yang biasa menilai orang dari kesan pertama kehilangan alat kerjanya di sini: yang satu dikenali karena perkataannya mengagumkan, yang lain tidak dikenali dari apa pun yang terdengar. Kalau pembukaannya seragam, maka pembedanya terletak seluruhnya pada yang tak terlihat dari luar. Dan kalau begitu, pembaca juga tidak bisa memastikan ia sedang berdiri di baris yang mana hanya dengan mendengarkan dirinya sendiri berbicara tentang keyakinannya.
- Rumus maksud yang sama dipakai ayat lain untuk harta yang dikeluarkan, dan di sini dipakai untuk diri sendiri. Bedanya bukan soal besar kecilnya. Harta bisa dihitung, bisa disisihkan sebagian, dan yang menyerahkannya masih tinggal sebagai pemilik yang berkurang. Diri tidak punya sebagian, dan tidak menyisakan seseorang yang tetap memegang sesudah penyerahan. Karena itu pembaca yang sudah merasa tenang setelah memberikan bagian dari apa yang dimilikinya masih berhadapan dengan satu pertanyaan yang tidak tersentuh oleh pemberian itu, yaitu apakah yang memberi juga ikut termasuk dalam yang diberikan.
- Bentuk kata (نَفْسَهُ) yang persis sama dipakai di 7 ayat, dan dari 5 yang berbicara tentang manusia, 4 memasangkannya dengan kata kerja yang merugikan dirinya sendiri, diperbodoh atau dizalimi. Sebaran sesempit itu sudah menyimpan gambaran yang tidak nyaman tentang hubungan seseorang dengan dirinya: yang paling sering ia lakukan terhadap dirinya bukan merawat, melainkan mencelakakan. Ayat ini satu-satunya tempat yang keluar dari kebiasaan itu, dan yang membuatnya keluar bukan karena diri itu dijaga lebih rapat, tetapi karena ia dilepaskan. Melepas ternyata terhitung sebagai satu-satunya perlakuan terhadap diri yang tidak disebut kerugian oleh teks.
- Penutup ayat ini tidak menjanjikan apa pun. Ia menyebut satu sifat, dan sifat itu menyangkut rasa, bukan pembayaran. Pembaca yang datang membawa daftar untuk ditukarkan akan mendapati bahwa yang menyambutnya bukan meja hitungan. Rangkaian penutup yang sama juga dipakai sesudah peringatan yang keras di ayat lain, jadi ia bukan hadiah yang lahir karena ada orang yang berkorban lebih dulu. Iba itu sudah ada sebelum penyerahan disebut, dan berdiri sendiri di kalimatnya. Yang berubah karena ayat ini bukan besar balasannya, melainkan siapa yang berada di ujung sana ketika sesuatu diserahkan.
- Sasaran iba di ayat ini ditulis dengan kata sandang, bukan dengan akhiran kepemilikan, padahal bentuk berakhiran itu tersedia dan dipakai di ayat-ayat lain. Perbedaannya kecil di tulisan dan lebar di jangkauan: yang tertulis bukan iba kepada satu golongan, melainkan kepada hamba-hamba tanpa pembatas. Orang yang baru saja disebut menjual dirinya tidak dijadikan pemilik tunggal sifat itu. Pembaca yang merasa tidak termasuk dalam kalimat pertama ayat ini tetap tercakup oleh kalimat keduanya, dan itu berarti pintu tidak ditutup bagi orang yang sampai sekarang belum melepas apa pun.