يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam keberserahan secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagi kalian musuh yang nyata.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِyaa ayyuhaa lladziina aamanuu dkhuluu fii s-silmi kaaffatan wa-laa tattabi'uu khuthuwaati sy-syaythaaniwahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam keberserahan secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan
- إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌinnahu lakum 'aduwwun mubiinunsesungguhnya ia bagi kalian musuh yang nyata
Terjemahan per kata (16 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- ادْخُلُواdkhuluumasuklah kalian
- فِيfiike dalam
- السِّلْمِs-silmiperdamaian
- كَافَّةًkaaffatanseluruhnya
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَتَّبِعُواtattabi'uukalian mengikuti
- خُطُوَاتِkhuthuwaatilangkah-langkah
- الشَّيْطَانِsy-syaythaanisetan
- إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
- لَكُمْlakumbagi kalian
- عَدُوٌّ'aduwwunmusuh
- مُبِينٌmubiinunyang nyata
Inti bacaan
Perintah 'masuklah ke dalam keberserahan secara menyeluruh' menolak keberagamaan yang parsial/sepotong-sepotong. Konkretnya: komitmen spiritual yang setengah-setengah (menjalankan sebagian ajaran yang nyaman, mengabaikan yang sulit) berlawanan dengan seruan 'menyeluruh' di sini, konsistensi total, bukan pilih-pilih sesuai kenyamanan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, yaa ayyuhaa lladziina aamanuu) "wahai orang-orang yang beriman", sapaan yang membuka banyak ayat di surah ini. Perintahnya, (ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ, udkhuluu fii s-silmi) "masuklah ke dalam kepasrahan", memakai (السِّلْمِ, as-silmi), kata yang satu-satunya kemunculannya di seluruh mushaf hanya di sini, dari akar yang berarti selamat dan damai. Akar itu sama dengan akar penyerahan diri secara umum. Kata ini bertakrif dan tanpa padanan lain di mushaf yang bisa dibandingkan langsung; ketiadaan pembanding itu sendiri jadi keterangan, sebab gagasan yang dinamainya tidak pernah dinamai ulang di tempat lain.
Sifat yang melekat padanya, (كَافَّةً, kaaffatan) "secara keseluruhan", muncul 4 kali di mushaf: di sini, 9:36, 9:122, dan 34:28. Tiga kemunculan lain memakainya untuk cakupan berbeda: 9:36 dan 9:122 untuk keseluruhan pasukan yang bergerak bersama, (وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً, wa-qaatilu l-musyrikiina kaaffatan) "dan perangilah kaum musyrik semuanya", dan (وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً, wa-maa kaana l-mu'minuuna li-yanfiruu kaaffatan) "dan tidaklah patut bagi orang-orang beriman untuk pergi semuanya"; 34:28 untuk keseluruhan manusia yang dituju seorang nabi, (وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ, wa-maa arsalnaaka illaa kaaffatan li-n-naasi) "dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali kepada seluruh manusia". Ketiganya menakar keseluruhan sebuah kelompok atau sebuah jangkauan. Di ayat ini, keseluruhan yang ditakar bukan kelompok maupun jangkauan, melainkan diri sendiri: masuk secara utuh, bukan sebagian.
Larangannya, (وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ, wa-laa tattabi'uu khuthuwaati sy-syaythaani) "dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan", diikuti alasan, (إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ, innahu lakum 'aduwwun mubiinun) "sesungguhnya ia bagi kalian musuh yang nyata". Rangkaian persis ini, larangan dan alasannya sekaligus, muncul di 3 ayat mushaf: di sini, 2:168, dan 6:142. Yang membedakan ketiganya bukan penutupnya, melainkan pembukanya. 2:168 dibuka (يَا أَيُّهَا النَّاسُ, yaa ayyuhaa n-naasu) "wahai manusia", ditujukan kepada siapa saja, dan yang diperintahkan sesudahnya makan yang halal dan baik dari bumi, (كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا, kuluu mimmaa fi l-ardhi halaalan thayyiban). 6:142 dibuka dengan penyebutan hewan ternak, lalu perintah serupa, (كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ, kuluu mimmaa razaqakumu llaahu) "makanlah dari apa yang Allah rezekikan kepada kalian". Hanya di ayat ini pembukanya sapaan kepada orang beriman, dan yang diperintahkan bukan makan, melainkan masuk secara utuh ke dalam kepasrahan.
Sebutan "musuh yang nyata" bagi setan bukan pertama kali muncul di ayat-ayat ini. Di 7:22, Allah sendiri memakainya kepada Adam dan istrinya sesudah keduanya tergoda memakan buah terlarang, (إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ, inna sy-syaythaana lakumaa 'aduwwun mubiinun) "sesungguhnya setan bagi kalian berdua musuh yang nyata". Sebutan yang sama, dengan kata ganti yang kini menyapa orang banyak, dipakai lagi di sini.
Tafsiran
Ayat ini berdiri di tengah rangkaian ketentuan haji yang teknis, dan justru di tengah rangkaian itu ia berhenti sejenak untuk menyampaikan sesuatu yang paling umum: bukan cara beribadah tertentu, melainkan cara menyeluruh menjalani penyerahan diri. Perintahnya tidak menambah satu ritual baru; ia menuntut sikap yang meliputi semua ritual yang sudah dan akan disebutkan di sekelilingnya.
Kata yang dipakai untuk keseluruhan itu, di tempat lain menakar pasukan yang bergerak bersama atau jangkauan seorang nabi kepada seluruh manusia. Di sini ia menakar sesuatu yang jauh lebih pribadi: bukan berapa banyak orang yang ikut serta, melainkan berapa banyak dari diri sendiri yang benar-benar masuk. Seseorang bisa menjalankan sebagian besar perintah sambil menahan sebagian kecil dirinya di luar, dan kata ini menutup kemungkinan itu.
Larangan yang menyertainya berbagi bunyi penutup persis sama dengan 2:168 dan 6:142, dan keduanya berbicara tentang hal paling mendasar, makanan. Ayat ini satu-satunya yang memakai rumus itu untuk perkara yang jauh lebih besar daripada makanan, yaitu penyerahan diri seutuhnya. Kalau langkah setan bisa menyelinap masuk lewat urusan sekecil apa yang dimakan, ayat ini menyiratkan bahwa langkah yang sama juga bisa menyelinap ke dalam urusan sebesar penyerahan diri, dan kewaspadaan yang sama dituntut di kedua-duanya.
Sebutan musuh yang nyata bagi setan pertama kali diucapkan Allah sendiri kepada Adam dan istrinya di 7:22, tepat sesudah godaan berhasil memasukkan mereka ke dalam kesalahan pertama. Ayat ini mengulang sebutan yang sama kepada pembacanya, bukan sebagai kabar baru, melainkan sebagai pengingat atas kisah yang sudah pernah terjadi. Peringatan yang gagal menahan langkah pertama manusia diulang lagi di sini, kepada keturunan yang sama, dengan harapan hasilnya berbeda.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang menuntut keseluruhan di ayat ini biasanya menakar jumlah orang, sepasukan yang bergerak bersama, seluruh manusia yang dituju seorang nabi. Di sini yang ditakarnya bukan jumlah orang, melainkan bagian dari diri sendiri. Seseorang bisa hadir secara lahir dalam sebuah penyerahan diri sambil diam-diam menahan sebagian kecil untuk dirinya sendiri, sebuah ruang cadangan yang tidak pernah benar-benar diserahkan. Ayat ini menyebut ruang cadangan semacam itu sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan perintahnya, sebab yang diminta bukan kehadiran sebagian besar, melainkan tanpa sisa.
- Sebutan yang dipakai ayat ini untuk setan bukan sebutan baru yang diciptakan untuk pembacanya. Sebutan yang sama pernah diucapkan kepada manusia pertama, tepat sesudah godaan berhasil menjatuhkannya. Peringatan itu tidak berhasil menahan langkah pertama, dan ayat ini mengulanginya lagi, bukan karena peringatan yang lama sudah usang, melainkan karena bahaya yang sama masih berlaku bagi siapa saja yang datang sesudahnya. Pembaca yang menyangka dirinya menghadapi godaan yang sama sekali baru sedang menghadapi sesuatu yang sudah pernah dikenali sejak taman pertama, hanya dengan wajah yang berbeda.
- Peringatan agar tidak mengikuti langkah setan muncul di ayat lain untuk perkara sekecil apa yang boleh dimakan, dan di sini untuk perkara sebesar penyerahan diri seutuhnya. Kesamaan rumus itu membawa satu pesan yang mudah terlewat: bahaya yang sama bisa menyusup lewat urusan yang tampak remeh maupun urusan yang tampak agung, dan kewaspadaan tidak boleh dihemat hanya untuk yang kelihatan besar. Orang yang menjaga diri ketat pada perkara besar tapi longgar pada perkara kecil sedang membuka satu pintu yang, menurut ayat-ayat ini, sama berbahayanya dengan pintu yang ia jaga rapat.
- Kata yang dipakai ayat ini untuk penyerahan diri hanya muncul satu kali di seluruh mushaf, tanpa padanan lain yang bisa dibandingkan langsung. Sesuatu yang begitu penting biasanya disebut berulang kali dengan berbagai nama, dan gagasan ini justru berdiri sendiri, seolah satu penyebutan sudah cukup dan tidak perlu diulang dengan kata yang berbeda-beda. Pembaca yang mencari penjelasan tambahan tentang bentuknya di ayat lain tidak akan menemukannya; yang tersedia hanya satu kalimat pendek yang menuntut segalanya sekaligus.
- Ayat ini bukan satu-satunya tempat larangan mengikuti langkah setan disampaikan, dan pengulangan itu bisa dibaca dua arah yang berlawanan. Salah satunya menganggap pengulangan sebagai tanda kelalaian yang berulang, seolah manusia perlu terus diingatkan karena terus lupa. Arah yang lain melihatnya sebagai bukti bahwa peringatan yang benar tidak kehilangan kegunaannya hanya karena sudah pernah diucapkan. Ayat ini tidak memilih salah satu; ia hanya mengulang, dan pengulangan itu sendiri sudah menjadi keterangan tentang seberapa nyata bahayanya.
- Ayat ini disapakan kepada orang-orang beriman, bukan kepada manusia pada umumnya, padahal rumus peringatannya sama persis dengan ayat yang disapakan kepada semua orang. Orang yang sudah menyatakan keimanannya tidak lantas keluar dari jangkauan bahaya yang sama yang mengancam siapa saja. Pembaca yang menganggap keimanan yang sudah diikrarkan sebagai perlindungan otomatis dari langkah-langkah kecil yang menyesatkan menemukan ayat ini justru menyapanya secara khusus, seolah pengakuan iman bukan garis akhir, melainkan awal dari kewaspadaan yang baru dimulai.