فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Maka jika kalian menyimpang setelah bukti-bukti yang jelas datang kepada kalian, ketahuilah bahwa Allah digdaya lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌfa-in zalaltum min ba'di maa jaa'atkumu l-bayyinaatu fa-'lamuu anna llaaha 'aziizun hakiimunmaka jika kalian menyimpang setelah bukti-bukti yang jelas datang kepada kalian, ketahuilah bahwa Allah digdaya lagi penuh hikmah

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. فَإِنْfa-inmaka jika
  2. زَلَلْتُمْzalaltumkalian tergelincir
  3. مِنْmindari
  4. بَعْدِba'disesudah
  5. مَاmaaapa yang
  6. جَاءَتْكُمُjaa'atkumudatang kepada kalian
  7. الْبَيِّنَاتُl-bayyinaatubukti-bukti nyata
  8. فَاعْلَمُواfa-'lamuumaka ketahuilah kalian
  9. أَنَّannabahwa
  10. اللَّهَllaahaAllah
  11. عَزِيزٌ'aziizunMahaperkasa
  12. حَكِيمٌhakiimunbijaksana

Inti bacaan

Peringatan tentang 'menyimpang setelah bukti nyata sampai', pelanggaran setelah pengetahuan jelas menanggung bobot berbeda dari kesalahan karena ketidaktahuan (tema berulang, lih. 2:75/2:145). Konkretnya: kembali pada pola berulang di surah ini, kejujuran menuntut membedakan kesalahan karena belum tahu dan penyimpangan setelah tahu, terutama saat menilai diri sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Kata (زَلَلْتُمْ, zalaltum) "kalian tergelincir" berakar pada akar yang berarti tergelincir, dipakai 4 kali di mushaf: di sini, 2:36, 3:155, 16:94. Ketiga tempat lain menyebut sesuatu di luar diri yang menggelincirkan. 2:36: (فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ, fa-azallahumaa sy-syaythaanu) "setan menggelincirkan keduanya", kata kerja berawalan yang menyisipkan pelaku penyebab. 3:155: (اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ, istazallahumu sy-syaythaanu) "setan membuat mereka tergelincir", awalan berbeda dengan fungsi serupa. 16:94: yang tergelincir bukan orangnya melainkan anggota badannya, (فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا, fa-tazilla qadamun ba'da tsubuutihaa) "sehingga kaki tergelincir setelah kukuh tegaknya". Di ayat ini kata kerjanya berbentuk dasar tanpa awalan semacam itu, penanda orang kedua jamak menempel langsung padanya: tak ada pelaku luar yang disisipkan morfologi, tak ada anggota badan yang mewakili. "Menyimpang" pada terjemahan ayat ini karena itu dibaca sebagai kehilangan pijakan, bukan pergantian arah yang dipilih sadar.

Patokan waktunya (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ, min ba'di maa jaa'atkumu) "setelah datang kepada kalian". "Kalian" yang disapa kelanjutan seruan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, yaa ayyuhaa lladziina aamanuu) di 2:208, "wahai orang-orang yang beriman". (مَا, maa) bukan penolakan melainkan penghubung penunjuk waktu; dasarnya pola rangkaian itu sendiri, yang di keenam kemunculannya selalu diikuti kata penunjuk waktu, tak sekali pun menegasikan. Rangkaian ini dipakai 6 kali di mushaf: di sini, 2:211, 2:213, 2:253, 4:153, 98:4. 5 di antaranya memasang penanda orang ketiga, seperti 2:211 (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ, min ba'di maa jaa'athu) "setelah datang kepadanya". Hanya di sini penandanya orang kedua: rumus yang di 5 tempat lain berbentuk orang ketiga, di sini menjadi sapaan langsung.

Yang datang disebut (الْبَيِّنَاتُ, al-bayyinaatu) "bukti-bukti yang jelas", jamak bertakrif akar yang berarti jelas dan memisahkan. Akar yang sama baru dipakai satu ayat sebelumnya bukan untuk bukti melainkan lawan: 2:208 menyebut (عَدُوٌّ مُبِينٌ, 'aduwwun mubiinun) "musuh yang nyata", yang dinyatakan terang bukan hanya keterangannya, tapi juga siapa yang memusuhi. Bentuk bertakrif ini sebagai pelaku kalimat terdapat 7 kali di mushaf: di sini, 2:213, 2:253, 3:86, 3:105, 4:153, 40:66. Kata kerja di depannya tak selalu bertanda sama meski pelakunya identik: di sini, 2:213, 2:253, 4:153 ia (جَاءَتْ, jaa'at) bertanda perempuan, sedangkan di 3:86, 3:105, 40:66 ia (جَاءَ, jaa'a) tanpa tanda itu, atas kata benda yang sama persis. Variasi ada pada kata kerjanya, bukan pada kata benda yang didatangkan. Ketakrifannya membedakannya dari 2:211 yang memakai satuan tak bertakrif, (آيَةٍ بَيِّنَةٍ, aayatin bayyinatin) "tanda yang nyata": yang datang di sini keseluruhan yang sudah tertentu, bukan satu tanda lepas.

Jawaban syarat dibuka (فَاعْلَمُوا, fa-'lamuu) "maka ketahuilah", perintah orang kedua jamak akar yang berarti mengetahui. Bentuk ini menutup syarat 6 kali di mushaf: di sini, 5:34, 5:92, 8:40, 9:3, 11:14. Syarat yang mendahuluinya di tempat lain adalah berpaling: (فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا, fa-in tawallaytum fa-'lamuu) di 5:92 dan bentuk sama di 9:3, juga bentuk orang ketiga di 8:40, (وَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلَاكُمْ, wa-in tawallaw fa-'lamuu anna llaaha mawlaakum) "jika mereka berpaling, ketahuilah Allah pelindung kalian". Berpaling memilih arah lain; tergelincir kehilangan pijakan pada arah yang sama. Yang diperintahkan diketahui tak selalu sifat Allah: 5:34 (غَفُورٌ رَحِيمٌ) "pengampun lagi pengasih", 8:40 (مَوْلَاكُمْ) "pelindung kalian", 9:3 (غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ) "tidak dapat melemahkan Allah", sementara 5:92 dan 11:14 mengarahkan yang diketahui pada batas tugas penyampaian dan ilmu Allah. Susunan (فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ, fa-'lamuu anna llaaha) yang menempatkan Allah sendiri sebagai pokok hanya di 3 dari 6 tempat: di sini, 5:34, 8:40.

Dua kata penutupnya tanpa kata sandang. Pasangan bertakrif (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, al-'aziizu l-hakiimu) dipakai 29 kali di mushaf (a.l. 3:6, 3:18, 31:9), pasangan tak bertakrif (عَزِيزٌ حَكِيمٌ, 'aziizun hakiimun) dipakai 13 kali: di sini, 2:220, 2:228, 2:240, 2:260, 5:38, 8:10, 8:49, 8:63, 8:67, 9:40, 9:71, 31:27, dan 5 di antaranya berada di surah ini sendiri, letaknya di sini paling awal menurut urutan mushaf. Karena memakai bentuk tak bertakrif, (عَزِيزٌ, 'aziizun) diterjemahkan "digdaya", bukan "Sang Digdaya" yang disediakan untuk pasangan bertakrif. (حَكِيمٌ, hakiimun) diterjemahkan "penuh hikmah"; akarnya juga melahirkan kata kerja memutuskan, seperti (لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ, li-yahkuma bayna n-naasi) di 2:213 "agar ia memutuskan di antara manusia". Yang dipasangkan pada penutup ayat ini bukan kekuatan dengan kelembutan, melainkan kekuatan dengan keputusan yang beralasan.

Tafsiran

Ayat ini paruh kedua sebuah pengandaian yang paruh pertamanya lewat di 2:208, dan letak itu menentukan cara membacanya. Di sana yang diperintahkan masuk ke dalam keberserahan menyeluruh, yang dilarang mengikuti (خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ, khuthuwaati sy-syaythaani), langkah-langkah setan. Ayat ini menangani kemungkinan paling dekat dengan gambaran langkah itu: pijakan yang lepas. Yang diandaikan bukan penolakan terhadap perintahnya, melainkan kegagalan menjaga pijakan sesudah pijakan itu diberikan.

Yang paling menentukan justru apa yang tidak dikatakan sesudah syaratnya. Jawabannya bukan putusan, melainkan perintah untuk mengetahui. Dua ayat sesudah ini, 2:211 memakai patokan waktu sama dan menutupnya dengan (شَدِيدُ الْعِقَابِ, syadiidu l-'iqaabi) "keras hukuman-Nya", teksnya sanggup menyebut akibat ketika hendak menyebutnya. Di sini ia memilih menyebut siapa Allah, bukan apa yang menimpa: hukumannya tak dirinci, bukti-bukti mana yang dimaksud tak dirinci, dan apakah yang tergelincir dimaafkan pun tak dinyatakan; ketiganya dibiarkan terbuka. Sementara itu 2:211 menyebut Bani Israil yang menerima banyak tanda nyata, dan 2:213 menyebut manusia yang kepadanya diutus para nabi dan diturunkan Kitab, keduanya penerima keterangan sejenis di ayat lain, bukan di ayat ini.

Pasangan yang harus diketahui bekerja sebagai dua penutup jalan sekaligus. Sisi kedigdayaan menutup dugaan bahwa tergelincir sesudah terang bisa lewat tanpa perhitungan, dinyatakan lebih terus terang pada syarat sejenis di 9:3. Sisi hikmah menutup dugaan sebaliknya, bahwa perhitungan itu berjalan tanpa dasar.

Perintah dengan pasangan yang sama muncul sekali lagi di surah ini pada keadaan berlawanan. 2:260 menutup permintaan Ibrahim agar hatinya tenang dengan (وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ, wa-'lam anna llaaha 'aziizun hakiimun). Yang di sana menenangkan orang yang meminta kepastian, di sini menegur orang yang kehilangan pijakan. Isi yang harus diketahui tidak berubah; yang berubah hanya keadaan orang yang menerima perintahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ada jarak antara orang yang membelokkan arahnya dan orang yang kakinya lepas dari pijakan, dan ayat ini memilih menyebut yang kedua. Pembaca yang merasa dirinya tidak sedang berpaling ke mana pun karena itu belum berada di luar jangkauan kalimat ini. Justru orang yang masih menghadap arah yang sama, yang tidak berniat pindah, dan yang tetap menyebut dirinya berada di jalan yang benar, adalah orang yang paling mungkin bergeser tanpa merasa telah bergeser. Yang dipersoalkan bukan keputusan untuk berbalik, melainkan pijakan yang tidak dijaga.
  • Kalimat ini tidak mulai menghitung dari saat seseorang belum tahu apa-apa, melainkan dari saat bukti-bukti yang jelas sampai kepadanya. Artinya ada garis dalam hidup pembaca yang, sekali dilewati, tidak bisa dikembalikan: apa yang sudah terang tidak dapat lagi diperlakukan sebagai belum terang. Yang paling berat dari susunan seperti itu bukan apa yang mengancam sesudahnya, melainkan kesadaran bahwa setiap kejelasan yang pernah diterima ikut masuk ke dalam perhitungan atas diri sendiri, dan tidak ada cara memura-murakannya kembali menjadi kabur.
  • Rumus waktu yang sama dipakai di tempat lain untuk menceritakan apa yang terjadi pada orang-orang lain, dan di ayat ini penandanya berubah menjadi orang yang sedang disapa. Perubahan sekecil itu memindahkan pembaca dari bangku penonton ke dalam kalimatnya. Catatan tentang mereka yang berselisih sesudah keterangan datang kepada mereka masih bisa dibaca sebagai perkara pihak lain; kalimat ini tidak menyediakan tempat duduk itu. Yang tersisa hanyalah menanyai diri sendiri keterangan mana yang sudah sampai, lalu menghitung dari titik itu.
  • Sebuah kekeliruan biasanya dijawab dengan hukuman atau dengan penghapusan. Kalimat ini menjawabnya dengan pekerjaan yang lain sama sekali, yaitu mengetahui. Yang tergelincir tidak diberi tahu apa yang akan menimpanya, ia diperintah mengenali siapa yang sedang ia hadapi. Bagi pembaca perbedaannya besar. Rasa bersalah menuntut ia sibuk menakar besar kesalahannya sendiri, sedangkan perintah ini memindahkan perhatian dari dirinya kepada yang disebut sesudahnya. Pemulihan dimulai dari mengenali, bukan dari menimbang seberapa buruk keadaan sudah menjadi.
  • Dua sebutan penutupnya mengarah ke sisi yang berbeda, dan justru karena itu tidak saling meniadakan. Yang pertama menutup pintu bagi harapan bahwa tergelincir sesudah terang akan berlalu begitu saja tanpa dihitung. Yang kedua menutup pintu bagi kecemasan bahwa perhitungan itu berjalan tanpa dasar dan tanpa ukuran. Pembaca yang hanya memegang sebutan pertama akan hidup dalam ketakutan yang membeku, dan yang hanya memegang sebutan kedua akan hidup dalam kelalaian yang merasa aman. Ayat ini tidak menyerahkan pilihan itu, ia menyebut keduanya dalam satu tarikan.
  • Perintah yang menutup ayat ini bukan rumus yang khusus disiapkan bagi orang yang gagal. Isi yang sama diperintahkan pula kepada orang yang justru sedang meminta agar hatinya tenang, di 2:260. Satu perintah, dua keadaan yang berjauhan: yang kehilangan pijakan, dan yang sedang mencari kepastian. Pembaca yang menerima kalimat ini sebagai teguran karena ia baru saja tergelincir, dan pembaca yang menerimanya sebagai penenang karena ia sedang goyah oleh pertanyaannya sendiri, ternyata sedang diberi pengetahuan yang satu dan sama, bukan dua kabar yang berbeda.